
"Aku ingin buang air besar," ucap Fuji singkat yang membuat pengawal yang duduk di samping supir segera menoleh ke arahnya.
"Perutku sangat sakit dari tadi. Sepertinya ada seseorang yang memasuki obat pencahar di makananku tadi siang," tambah Fuji sambil memegang perutnya dengan sedikit merintih. "Semoga aktingku tidak ketahuan," batinnya seraya memberikan tatapan mengiba pada pengawal itu.
"Akh... sakit sekali. Sepertinya gaunku akan kotor," rintihan Fuji yang malah membuat pengawal tersebut panik dan segera meminta supir untuk berhenti di salah satu bangunan yang kemungkinan terdapat toilet.
"Kau bisa berhentikan mobil ini di depan Masjid itu saja yah. Itu Masjid Miraha yang cukup terkenal sebagai tempat ibadah kaum Muslim di daerah ini. Biasanya kalau tempat ibadah, pasti punya toilet yang bersih kan? Aku suka tempat yang bersih," ucap Fuji dengan sedikit melemahkan suaranya seolah benar-benar sedang menahan sakit. Namun ucapannya masih terdengar. Ia pun menunjuk ke arah Masjid Mihara di sebelah kiri mereka.
Fuji benar-benar memainkan aktingnya dengan baik. Bahkan pemilihan tempat untuk melancarkan aksinya, sudah ia pikirkan saat melihat jalan yang mereka lalui akan melewati Masjid Miraha.
Di Jepang memang jarang ada Masjid karena penduduknya minoritas muslim. Tapi bukan berarti tidak ada. Karena kebetulan sekali mobil yang ditumpangi Fuji melewati area tersebut membuatnya mendapatkan ide berlian.
Masjid Miraha adalah salah satu dari tiga buah masjid yang ada di Prefecture Hiroshima. Masjid ini cukup popular di lingkungan masyarakat muslim Indonesia yang ke Jepang. Masjid ini juga menjadi 'meeting point' komunitas muslim indonesia di wilayah Hiroshima bahkan area Chugoku, Jepang Barat.
Meskipun Fuji bukan seorang muslim, namun ia memiliki banyak pengetahuan. Apalagi tempat pelarian yang akan ia tujuan nantinya adalah tempat dengan mayoritas muslim. Ia hanya berharap semoga Tuhan memberkati rencananya untuk tidak menikah dengan pria tua bangka mesum seperti Tuan Max.
"Baik, Nona. Berhenti di depan sana," perintah pengawal tersebut pada sang Supir.
Tak lama kemudian, akhirnya mobil berhenti di depan Masjid Miraha yang nampak sudah ramai. Apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 15:10 yang berarti waktu ibadah sholat asar bagi kaum Muslim.
"Ayo, Nona. Saya akan mengantar Anda masuk," ucap pengawal tersebut sembari membukakan pintu untuk Fuji.
"Tidak perlu. Kau tunggu saja di depan sini bersama dengan para pengawal yang ada di mobil lainnya," perintah Fuji sembari keluar dari mobil itu. Bisa kacau rencananya jika ia harus dikawal saat pergi ke toilet. Apalagi ia sudah mencium bau kemenangan saat keluar dari mobil itu.
"Tapi, Non—"
"Wanita dan pria di tempat ibadah ini tidak boleh bersatu. Apa kau bodoh? Sampai melupakan di mana kita sekarang? Jaga sikapmu! Aku sedang tidak ada waktu untuk berdebat denganmu! Kalau aku sedang tidak sakit perut, mungkin aku akan mencolok matamu itu," potong Fuji dengan cepat. Ia melayangkan tatapan tajam sembari masih memegang perutnya membuat pengawal itu menciut.
"Ada apa ini? Kenapa berhenti di sini?" sahut pengawal lainnya yang keluar dari mobil berbeda.
"Jelaskan padanya! Aku sudah sangat tidak tahan," perintah Fuji pada pria di depannya itu. Ia mulai melangkah ke depan.
Namun tiba-tiba ia berhenti dengan sedikit merintih menahan sakit. Hal itu membuat mereka panik.
Fuji hanya mengangkat satu tangan kirinya ke depan dan lantas berucap pada mereka semua, "ingat! Jangan membuatku malu memiliki kalian sebagai pengawal hanya karena tidak mengetahui aturan di tempat ibadah ini."
"Baik, Nona." Para pengawal berucap tanpa mengerti maksud Nona mereka kecuali pengawal yang satu mobil dengan Fuji.
Fuji mengangguk dan lantas berlari ke arah papan yang bertuliskan 'women restroom' dengan tangan yang masih setia menyentuh perutnya seolah menahan kesakitan. Aktingnya harus benar-benar maksimal dan meyakinkan agar ia bisa kabur dari mereka semua.
"Sebenarnya ada apa ini?" suara tanya yang sedari tadi terpendam, akhirnya bisa keluar juga dari mulut salah satu pengawal.
"Nona sakit perut dan ingin buang air besar. Ada yang memasukkan obat pencahar di makanan Nona. Hingga membuatnya seperti ini," jawab pria yang satu mobil dengan Fuji—menjelaskan keadaan Fuji saat ini. Padahal Fuji hanya berkata kemungkinan hanya untuk mengecoh pengawal ini. Tapi siapa yang menyangka kalau pengawal ini malah membenarkan ucapan Fuji. Ini merupakan keuntungan besar buat Fuji.
"Lalu kenapa kita hanya menunggu di sini. Kenapa kita tidak menunggu di dalam saja?"
"Apa kau bodoh? Kita sedang ada di tempat ibadah kaum Muslim. Mereka melarang wanita dan pria berada di satu tempat yang sama. Seperti yang diucapkan Nona tadi, sebaiknya kita diam dari pada membuatnya malu." Akhirnya kelima pengawal itu terdiam di tempat masing-masing dan memilih menunggu sang Nona. Mereka semua berharap Nona segera sembuh dari sakitnya dan bisa segera pergi dari tempat ini.
***
"Bodoh! Tapi aku suka," ucap Fuji seraya menyingkap gaun pengantinnya ke atas karena terlalu mengganggu. Apalagi saat ini ia akan melakukan aksi berbahaya yaitu melompati beberapa pembatas.
"Kalau mereka tidak bodoh. Rencanaku tidak akan sukses. Hap," ucapnya lagi seraya melompat. Ia mendarat dengan mulus tanpa lecet. Jelas itu akan terjadi karena dia bukan wanita sembarangan.
"Sebenarnya ini semua karena aktingku juga yang terlalu meyakinkan. Sayang sekali jika aku tidak menjadi artis," guraunya dengan diri sendiri seraya meraba saku celananya yang ada di balik gaun pengantin yang ia kenakan.
Fuji masih menyingkap gaunnya ke atas. Mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia memang sudah merencanakan untuk memakai celana panjang dengan banyak saku dalam misi pelariannya. Dan di dalam sakunya juga terdapat barang-barang yang ia butuhkan seperti ponsel, dompet, dan lain-lain. Meskipun pelariannya sempat tertunda karena banyaknya pengawal, tapi ia tetap memakai celananya agar sewaktu-waktu bisa kabur saat mendapatkan celah.
Fuji mengetikkan sesuatu di ponselnya. Tak lama kemudian, sebuah mobil putih yang nampak sangat sederhana berhenti tepat ke arahnya. Ia segera masuk tanpa berpikir panjang. Ia sangat yakin kalau mobil ini memang adalah mobil yang ia pesan lewat ponsel canggihnya.
"Seharusnya Anda tidak memesan mobil sederhana ini untuk menjemput Anda. Saya rasa Anda dengan penampilan Anda yang seperti ini, seharusnya Anda memesan mobil yang lebih mewah," ucap pria yang merupakan supir mobil yang ditumpangi Fuji.
"Itu akan menarik perhatian. Aku tidak suka," balasnya singkat.
"Apa benar Anda yakin akan mengambil jalur kereta api, Nona?" tanya Supir tersebut.
"Iya. Aku sudah memesan tiketnya. Lagipula aku tidak bisa mengambil jalur penerbangan. Naik pesawat membuatku mabuk udara," jawab Fuji seadanya sembari melihat sedikit ke kaca jendela mobil.
Saat mobil melewati tempat parkir para pengawalnya tadi, Fuji nampak menghela nafas lega saat melihat para pengawal masih betah menunggunya. Ia tersenyum penuh kemenangan karena akhirnya berhasil menghindari pernikahannya dengan pria yang tua itu.
"Tunggu aku, Nagasaki. Aku kembali... " gumam Fuji lirih sembari menyandarkan tubuhnya dan menutup mata.
Mobil putih sederhana itu melaju menuju stasiun kereta api. Sedangkan Fuji masih menutup mata dengan pemikiran cantiknya tanpa menghiraukan kekacauan yang akan terjadi ke depannya. Ia benar-benar berfikir telah berhasil kabur. Padahal sedari tadi, ada mobil hitam yang mengintainya dari jauh.