Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 10 : ENOAC



"Sampai kapan ini berakhir?" tanya Alan yang mulai jengah.


"Bentar lagi kapal akan berlayar, Al. Kau tenang saja. Bersenang-senanglah ini perayaan ulang tahunmu," seru Steven di sebelahnya yang sudah nampak mabuk berat.


"Benar kata Stev, Tuan. Kapal ini sebentar lagi akan berlayar," timpal Eiden membenarkan ucapan orang mabuk seperti Steven.


"Kenapa lama sekali?" gerutu Alan sambil menyesap satu gelas wine di tangannya.


"Apa saya perlu menghentikannya sekarang, Tuan?" tanya Eiden yang malah mendapat tatapan tajam dari Alan.


"Sudah tau, malah nanya. Cih," jawab Alan yang memang sangat risih dengan hal-hal yang berbau keramaian kecuali memang penting. Apalagi sedari tadi, sudah banyak pasang mata yang menatapnya dengan berbagai pandangan. Terlebih para wanita yang selalu mengincarnya hanya karena ia seorang pewaris kekayaan tahta kerajaan bisnis nomor di dunia.


"Kenapa sedari tadi wajahmu cemberut, Al. Oh ayolah, ini pestamu. Jadi seharusnya kau menikmatinya," sahut Steven.


"Mana Rojer? Aku tidak melihatnya sedari tadi," ucap Alan saat menyadari hanya ada Eiden dan Steven di sekitarnya.


"Mungkin sendang memadu kasih dengan istrinya di ranjang. Rojer kan seorang pria beristri? Jadi kalau dia tidak ada di sini, sudah pasti ada di ranjang bukan?" celetuk Steven.


"Tidak. Yang kau ucapkan salah, bodoh! Rojer saat ini tengah menangani masalah di bagian kabin kapal. Katanya ada penyusup," jawab Eiden menepuk kepala Steven seraya meralat kebenaran tentang Rojer.


Alan yang mendengar itu sedikit mengernyitkan keningnya. Tapi pergerakan Steven yang tiba-tiba ke arahnya, justru malah membuatnya terkejut.


"Huek..." muntah Steven yang mengenai sedikit lengan baju Alan. "Ini menjijikkan," ucapnya. Untung saja Alan hanya terkena muntahan sedikit saja karena ia bergerak sedikit lebih cepat. Tapi tetap saja ini membuat emosinya memuncak.


"Kau urus dia, Eiden. Karena kalau tidak, aku akan membunuhnya langsung di sini!" ucap Alan dengan menatap tajam ke arah Steven yang kini terlungkai lemas karena mabuk berat..


"Baik, Tuan."


"Ini sepenuhnya bukan salahku Al. Ini karena Eiden memukul kepalaku. Jangan membunuhku," timpal Steven dengan cepat.


"Bubarkan mereka semua dan panggil Rojer untuk meminta awak kapal menyiapkan pelayaran kita! Aku sudah muak dengan ini semua. Aku akan kembali ke kamarku. Jika ada sesuatu yang terjadi, cepat bereskan. Jangan temui dan ganggu aku sampai aku sendiri yang keluar dari kamar," perintah Alan mengabaikan ucapan Steven. Ia segera berbalik meninggalkan Eiden yang kini memapah tubuh Steven.


Alan berjalan dengan cepat kearah kamarnya. Ia merasa, alkohol sudah hampir menguasainya. Sekarang yang ia butuhkan hanya air hangat dan berendam di sana. Ia juga butuh membersihkan tubuhnya dari muntah menjijikan itu.


Melihat kepergian Alan, membuat Eiden harus memapah tubuh Steven sampai ke kamarnya.


"Kau ini, kenapa bisa mabuk seperti ini. Aku bahkan tak melihat wanita yang kau bawa itu, Stev. Kemana dia?" tanya Eiden pada orang mabuk itu.


Steven yang masih setengah sadar berkata, "wanita itu mengunci dirinya di kamar. Ck, wanita itu benar-benar mengesalkan."


"Jadi kau mabuk seperti ini hanya karena wanita?" tanya Eiden yang langsung menghempaskan Steven ke sofa.


"Hm... ternyata dia tidak mau ke pesta denganku karena kekasihnya adalah salah satu kolega bisnisnya Alan," racau Steven yang mulai tidak jelas.


"Kalau begitu, istirahatlah. Aku tidak mengerti masalahmu. Jadi, cepatlah istirahat dan sadar. Lalu selesaikan masalahmu sendiri tanpa merepotkan orang lain," ucap Eiden yang segera membalikkan badannya meninggalkan Steven di kamarnya.


.


.


.


.


.


Alan sudah berada di depan pintu kamarnya. Saat hendak membuka pintu kamarnya, seseorang menahan tangannya.


"Tuan, kapal pesiar sudah akan berlayar. Angin malam akan sangat menusuk malam ini. Bukankah Anda butuh kehangatan?" ucap seorang wanita dengan pakaian seksinya.


"Nama saya Shintia, Tuan. Saya sangat bersedia menjadi penghangat Anda malam ini," ucap wanita yang bernama Shintia itu dengan nada mendayu.


Alan menatapnya semakin dingin dan menusuk tajam. Membuat Shintia segera menggoda Alan dengan mendekatkan dirinya pada Alan.


"Menjauh dariku!" bentak Alan saat merasakan sentuhan wanita itu.


"Saya hanya ingin menemani malam Anda selama berlayar, Tuan." Shintia yang dibentak begitu, malah semakin mendekatkan dirinya.


Kesabaran Alan habis. Ia sangat membenci wanita penggoda. Tangannya dengan kasar menghempaskan Shintia hingga tersungkur ke lantai.


"Sekali lagi aku melihatmu di depanku. Aku tidak akan segan untuk membunuhmu," tekan Alan dengan menatap tajam lawan bicaranya.


"Tinggalkan kapal ku. Pergilah dari sini! Karena jika aku menemukanmu ikut berlayar denganku, maka aku akan melemparmu ke laut tanpa pikir panjang. Mengerti?!" tambah Alan seraya membuka pintu kamarnya dan berjalan masuk tanpa mempedulikan jawaban Shintia.


Blam! Pintu kamar Alan tertutup dengan sangat kencang. Alan benar-benar menutup pintu dengan penuh emosi.


Sedangkan Shintia sangat ketakutan. Ia merasakan sakit di bokongnya hanya karena hempasan tangan dari pria yang hendak ia goda. Ia bahkan tidak menyangka kalau pria itu begitu menyeramkan. Ia memilih pergi sebelum kapal itu berlayar. Keinginan hidupnya masih tinggi dari pada harus memiliki pria tampan yang kaya raya. Awalnya ia memang hendak menggoda Alan agar bisa kaya secara instan. Tapi ternyata menggoda Alan tidaklah sama dengan menggoda pria yang biasa tidur dengannya.


Setelah menutup pintu kamarnya dengan emosi, Alan segera melepaskan seluruh pakaiannya. Ia melepaskan satu persatu pakaiannya dan melemparnya ke sembarangan arah. Bahkan tanpa sadar, pakaian Alan kini menutupi sesuatu yang berbentuk seperti kain yang tergeletak di lantai samping ranjang.


"Kenapa malam ini aku sial sekali. Begitu banyak hal menjijikkan. Akh... aku harus berendam lebih lama. Ini sungguh menjijikkan," ucap Alan wajah memerah menahan emosi. Apalagi tadi ia sudah banyak minum alkohol. Jadi wajah tampannya makin memerah karena emosi.


Alan berjalan ke arah bathroom dengan tubuh polosnya. Ia sudah begitu gerah dan ingin membersihkan diri di sana. Sepertinya ia membatalkan niat untuk berendam air hangat. Mungkin air dingin lebih baik untuk keadaannya saat ini.


Langkahnya perlahan namun pasti. Tatapannya hanya berfokus ke depan. Namun saat hendak membuka pintu bathroom, sesuatu di kakinya membuatnya berhenti berjalan.


Alan mengambil barang yang menghalangi jalannya. Mengangkat barang itu ke depan matanya sambil bergumam, "ini... ****** ***** wanita."


Deg! Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Matanya membulat sempurna melihat barang yang ternyata adalah ****** ***** yang sangat tipis.


Sekarang Alan merasa otaknya tidak bisa bekerja hanya karena barang yang baru pertama kali ia pegang seumur hidupnya. Bahkan tubuhnya membeku di depan pintu bathroom. Ia benar-benar melupakan niatnya untuk berendam.


Belum sempat Alan sadar, ia kembali dikejutkan dengan pintu bathroom yang kini terbuka lebar.


Alan menyingkirkan ****** ***** yang ia pegang di depan matanya itu dengan sedikit bergetar. Ia menatap ke arah pintu bathroom yang terbuka lebar. Mulutnya seketika terbuka dengan mata yang makin melebar. Kini ia dengan jelas melihat sosok di depannya.


"Ka—kau," ucap Alan terbata-bata melihat pahatan tubuh polos wanita yang sangat indah dan sialnya, saat ini tengah berdiri di depannya.


Alan menatap dengan intens ke atas dan ke bawah. Ini pertama kalinya bagi Alan melihat tubuh yang indah seperti ini. Hingga membuat tubuhnya makin gerah. Bahkan jantungnya juga semakin berdetak kencang. Ia merasa aliran darahnya terhenti dan ada yang bangkit.


Alan menatap ke bawah tubuhnya dan berkata dengan frustasi, "sial! Si terong malah bangun."


.


.


.


.


.


.


.