
Alan menatap tajam, wanita yang saat ini tengah duduk dengan senyuman mengembang lebar di depannya. Entah bagaimana wanita di depannya ini bisa tau keberadaannya. Bahkan dengan nekad mengikutinya sampai di kapal yang masih berada di laut lepas. Keheningan mendominasi ruangan. Bahkan Steven yang juga berada di ruangan itu, memilih diam.
Steven yang juga duduk di sana, menarik nafas dalam. Ia tau kalau dirinya saat ini tengah berada dalam posisi yang tidak baik. Menjadi penengah antara wanita yang tiba-tiba muncul dan juga Alan. Apalagi ia sangat tau kalau Alan tidak mengharapkan kehadiran wanita itu.
Setelah keheningan di antara mereka, Alan akhirnya angkat bicara dengan menekan setiap ucapannya. "Sebaiknya kau pergi dari sini!" perintah Alan dengan nada datar dan tajam.
Wanita yang mendengar perintah dari Alan, hanya tersenyum manis. "Aku sudah jauh-jauh datang ke sini hingga meminta ayah untuk meminjamkan helikopternya agar bisa menyusulmu. Jadi kenapa aku harus pergi?"
"Kau!—" bentak Alan terhenti saat melihat Eiden masuk dalam ruangan yang memang menjadi ruangan rahasia di kapal miliknya.
"Kenapa? Bukankah bagus, jika aku berada di sini? Aku akan menemanimu biar tidak bosan," ucap wanita itu dengan entengnya seraya melihat ke kuku jari tangannya.
"Jangan memancing emosiku, Stella!" tekan Alan dengan tatapan tajam.
Wanita yang bernama Stella itu, kini menatap balik ke arah pria yang sangat ia cintai. Ia berfikir sepertinya ia benar-benar sudah membuat Alan sangat marah. Tapi salahkah dia? Menyusul Alan agar bisa lebih kembali dekat seperti dulu? Stella menarik nafas dalam sebelum berkata dengan lirih, "Apa kau belum memaafkanku, Al?" Stella menunduk perlahan dengan wajah sendu. Ia sangat berharap pria di depannya itu sudah memaafkannya. Tapi bagaimana jika tidak?
"Sebaiknya kau pergi dari sini. Karena kehadiranmu di sini tidak di perlukan!" jawab Alan yang justru tidak menjawab pertanyaannya Stella.
"Tapi, Al—"
"Eiden, bawa wanita ini keluar. Kalau perlu, seret dia kembali pulang ke tempatnya!" potong Alan yang malah memberi perintah pada asistennya.
"Baik, Tuan." Eiden menjawab dengan tubuh yang masih berdiri tepat di depan Alan. Ia baru saja masuk dalam ruangan itu, tapi sudah harus keluar lagi untuk membawa wanita yang duduk dengan wajah sendu itu untuk keluar.
"Tunggu, Eid!" seru Steven kala melihat Eiden mulai menarik tangan Stella.
"Ada apa denganmu? Jangan bilang, kau ingin menentang perintahku, Stev?" sahut Alan yang melihat Steven menghentikan dan bahkan melepaskan tangan Eiden dari tarikan Eiden.
"Bukan begitu, Al. Tapi—" jeda Steven sebentar seraya menatap wajah cantik Stella yang kini berdiri tepat di sampingnya dengan tangan yang sudah memegang tangan Stella.
Sementara Alan tampak diam, menunggu penjelasan dari sahabat sekaligus sepupunya itu. Matanya memicing tajam hingga membuat Steven hanya bisa menelan salivanya dengan kesusahan.
Steven menguatkan tekatnya untuk melanjutkan ucapannya. "Stella sudah berada di sini, Al. Jadi kita tidak seharusnya mengusirnya. Kau ingin membawanya pulang menggunakan apa? Helikopter? Helikopter yang dia pakai untuk sampai ke sini, langsung pergi setelah menurunkan Stella. Kita tidak mungkin menggunakan helikopter kita. Karena kita membutuhkan helikopter itu untuk berjaga di saat—"
"Kalau begitu, kau urus wanita itu. Jangan sampai mendekatiku!" potong Alan segera berdiri karena sudah paham maksud dari Steven. Ia paham kalau persediaan mereka di kapal semuanya untuk berjaga saat serangan dari musuhnya mulai di lancarkan. 1 helikopternya pergi, akan mengundang musuh lebih cepat bergerak tanpa diduga.
"Serahkan padaku!" jawab Steven tegas untuk meyakinkan Alan.
Sementara Alan yang mendengar jawaban Steven, meneruskan langkahnya meninggalkan ruangan itu dengan perasaan tak menentu di hatinya. Ia menarik nafas dalam untuk menetralkan gemuruh di dadanya. Bagaimana ia akan menikmati perjalanan di kapal ini? Jika dua wanita malah ikut menemaninya? Padahal ia sangat membenci wanita.
"Ck, sebaiknya aku menemui Fuji. Melihat Stella membuatku merasa semakin aneh. Perasaan macam apa ini?" batinnya. Melihat wanita yang pernah mengisi hari-harinya kini berada di tempat dimana ia menemukan wanita baru, malah membuat perasaannya tak karuan. Ia sungguh tidak mengharapkan keberadaan Stella di sini. Hingga ia merasa tidak akan mampu membayangkan kejadian kedepannya.
.
.
.
.
.
"Haruskah aku melaporkan kelakuanmu ini pa—"
"Hentikan ucapanmu, Rey!" teriak Fuji dengan kesal hingga sedikit membalikkan tubuhnya ke samping untuk memberi tatapan tajam peringatan pada Rey.
"Hei! Mengapa kau berteriak? Kau bisa membuat pengawal lainnya curiga dengan kita," bisik Rey seraya menundukkan kepala seolah sedang memberi hormat. Ia melakukan ini supaya terlihat sedang di marahi oleh atasan. Dan membuat mata para pengawal yang mulai melihat ke arahnya tidak curiga sama sekali.
Fuji memicingkan matanya seraya menelisik ke seluruh arah. Mereka masih berada di depan pintu kamar Alan yang sudah pasti memiliki banyak penjagaan setelah ia berhasil menyusup masuk ke kamar Alan semalam. Ia baru menyadari ini. Sepertinya Alan berupaya agar tidak ada penyusup lain yang masuk ke kamar selain dirinya. Apalagi pria itu sudah pernah kecolongan hingga membuat mereka berakhir dengan permainan panas di ranjang.
Fuji seketika terdiam membayangkan kenyataan dirinya yang sudah tidak tersegel lagi. Lalu ia menatap Rey dengan tatapan tidak terbaca. Bagaimana jika Rey mengetahui hal ini dan malah mengatakan pada Ayah angkatnya? Dia tidak bisa memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Akankah ayahnya akan mengusirnya dan membuangnya karena sudah berbuat hal memalukan seperti ini. Ayah angkatnya pasti kecewa dengannya.
Wajah Fuji mendadak menjadi sendu, membuat Rey mengerutkan keningnya heran. Baru saja ia melihat Fuji hampir mengamuk karena ucapannya, kenapa sekarang wajah itu jadi sendu seperti ini. Ia sangat jarang melihat wajah sendu Fuji kecuali saat melihat tuannya di pindahkan dari mansion utama.
"Ada apa denganmu? Melihat sikapmu sekarang, justru membuatku curiga. Apakah mungkin, kau melakukan sesuatu yang salah di dalam kamar itu?" tanya Rey dengan tatapan curiga.
Mendengar pertanyaan Rey yang curiga, membuat Fuji mengubah raut wajahnya kembali seperti semula. Ia sedikit gelagapan karena Rey hampir menebak dengan sempurna. "Mana Ada seperti itu! Kau jangan asal bicara!" elak Fuji dengan nada sedikit tinggi.
"Maka, jawab pertanyaanku. Apa yang kau lakukan di dalam kamar pemilik kapal ini?" tanya Rey lagi.
"Aku tidak melakukan apapun. Sudahlah Rey, sebaiknya kau pergi dari sini. Jangan mendekatiku seperti perintahku sebelumnya. Dan yang paling penting, jangan melaporkan apapun pada Ayah. Saat kau berhasil membawaku keluar dari kapal ini, aku akan mengatakan sendiri pada Ayah—"
"Ayah? Siapa, Ayah? Apa yang kau bicarakan pada pengawal itu?" potong seseorang yang muncul dari depan mereka.
.
.
.
.
.
.
Okey, jangan lupa Di like dan komentar 🍹
Siapa tuh yang muncul? Yah pasti udah bisa tebak dong 🙄 Eh tapi kalian tau Stella gak, duhh jadi Stella itu sebenernya—Tiiiittt
Aduh iklan dulu deh 😂