
Fuji terus tersenyum sambil melompat bahagia. "Ah... kenapa aku sebahagia ini—"
Krekkk... namun tiba-tiba aksi lompat bahagianya terhenti saat melihat pintu kamarnya kembali terbuka dan membuatnya mati kutu di tempatnya karena sosok yang membuka pintu.
"Aku sepertinya melupakan ponselku di sini," ucap sosok itu seraya masuk ke dalam kamar dan berjalan ke arah Fuji.
"Apa yang kau lakukan di atas sana?" tanyanya heran melihat Fuji masih berdiri di atas ranjang.
"Ck, Melody... tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk?" balas Fuji saat tersadar dari lamunannya. Ia lekas turun dari ranjang dan mendudukkan tubuhnya menatap Melody kesal.
"Hahaha... kalau aku mengetuk pintu, aku tidak akan melihatmu yang melompat kegirangan di atas ranjang seperti mendapatkan lotre." Melody tertawa kecil saat membayangkan wajah bahagia Fuji yang seketika terkejut hanya karena kehadirannya.
"Jangan tertawa kau! Cepat ambil ponselmu yang tertinggal, lalu keluar dari sini!" pinta Fuji dengan wajah yang memerah malu. Ia sudah tidak bisa mengontrol ekspresinya karena sudah ketahuan oleh sahabatnya itu.
"Ah, siapa bilang aku ketinggalan ponselku?" ucap Melody seraya mengetuk dagunya.
"Bukankah kau yang bilang?" Fuji mengerutkan keningnya seraya berfikir.
"Yah, aku memang bilang sepertinya aku melupakan ponselku di sini. Tapi setelah kuingat-ingat lagi, ternyata ponselku masih berada di sakuku. Hehehe... " jawab Melody seraya menampilkan deretan gigi putihnya.
Melihat Melody cengir, membuat Fuji nampak semakin kesal. Dengan gerakan cepat, Fuji melangkah mendekati Melody. Menarik leher Fuji dan menguncinya dengan tangannya. "Kau ingin mati yah!" ancam Fuji seraya menyodorkan belatinya dengan cepat ke leher Melody.
Melody yang mendapat serangan dadakan, tidak dapat bergerak. Bahkan sekarang ia nampak ketakutan saat melihat belati sudah di lehernya. "Jangan main-main dengan belati itu, Ji. Aku ke sini memang hanya ingin melihat keadaanmu setelah memastikan pria itu keluar dari kamarmu ini," ungkap Melody mengatakan tujuannya yang sebenarnya. Ia menyentuh belati Fuji dengan tangannya seraya menjauhkan belati itu secara perlahan dari lehernya.
Fuji mengikuti pergerakan tangan Melody, karena ia memang tidak bermaksud menyakiti sahabatnya itu. Ia hanya ingin menakut-nakuti saja agar Melody mengungkapkan tujuan utamanya. "Jangan sekali-sekali bermain-main denganku. Kau tau maksudku kan?" ucap Fuji seraya menjauh dari tubuh Melody dan mendudukkan tubuhnya di ranjang.
Melody lantas mengikuti Fuji dengan duduk di samping sahabatnya yang hampir saja membunuhnya itu. "Kau ini tidak pernah berubah," ucapnya. Tangannya tiba-tiba menunjuk belati yang ada ditangan Fuji. "Tapi ngomong-ngomong, bagaimana bisa belati itu ada di tanganmu? Bukankah itu belati milik Leo?" sambung Melody bertanya dengan penuh penasaran. Ini memang pertama kalinya ia melihat belati itu lagi. Dan yang mengejutkannya adalah belati yang ia ketahui milik Leonard, bisa berada di tangan Fuji.
"Leo memberikannya untukku," jawab Fuji singkat. Kenyataannya memang seperti itu. Dan ia sadar dengan keterkejutan Melody. Apalagi ia dan Melody memang sangat jarang bertemu akhir-akhir ini, karena kesibukan dokter ahli bedah itu.
"Aku baru melihatnya di tanganmu. Berikan padaku sebentar. Aku ingin menyentuhnya," ungkap Melody seraya merebut belati itu dari tangan Fuji. Sementara Fuji membiarkan Melody melihat belati itu dengan seksama.
"Tentu saja kau baru melihatnya. Aku sangat jarang bertemu denganmu. Dan kalaupun kita bertemu, aku tidak mungkin menyodorkan belati padamu bukan?" balas Fuji memperhatikan gerakan Melody.
"Bagaimana mungkin, Leo memberikan belati kesayangannya padamu. Ah... mungkinkah ini alasan Tuan Atshusi meminta Leo untuk pergi meninggalkan rumah?" gumam Melody mengungkapkan pemikirannya. Namun gumaman itu masih mampu ditangkap oleh pendengaran Fuji. Apalagi suasana kamarnya yang mendadak hening setelah mereka terdiam.
"Apa maksudmu, Ayah mengusir Kakak?" tanya Fuji dengan kening yang berkerut.
"Ah... sepertinya, kau—kau salah dengar." Melody mendadak gugup karena sadar sudah keceplosan bicara. Bisa-bisa, ia akan dihukum mati oleh Tuan Atshusi jika ia ketahuan mengungkapkan kebenaran tentang kepergian Leo dari Mansion utama. Meskipun semua yang ia ucapkan itu hanyalah kemungkinan yang ia pikirkan. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau hal yang ia pikirkan itu benar.
"Aku tidak mungkin salah dengar, Melody. Aku dengar sendiri kalau kau mengatakan 'Leo memberikan belati kesayangannya padamu. Ah... mungkinkah ini alasan Tuan Atshusi meminta Leo untuk pergi meninggalkan rumah?' jadi jelaskan padaku, apa maksud ucapanmu itu?" tutur Fuji menirukan ucapan Melody yang ia dengar.
"Kau tau, aku hanya asal bicara. Pikirkanlah baik-baik. Apa hubungannya, belati dengan alasan Tuan Atshusi? Kau pintar kan? Tidak mungkin kau gagal menganalisa ucapanku yang asal bicara tadi," balas Melody yang sedikit menyentil kemampuan Fuji. Ia tidak akan mengungkapkan maksud dari ucapannya. Apalagi ia belum tau kebenarannya. "Biarkan dia berfikir sendiri. Tapi sungguh, aku tidak menyangka kalau ternyata Leo mencintai adik angkatnya. Pantas saja Tuan besar memisahkan mereka," batinnya.
Fuji terdiam seraya menatap tajam Melody dengan penuh curiga. "Sudah lima tahun, Leo meninggalkan mansion. Ayah bilang, Leo hanya pergi untuk mengatasi bisnis di kota lain. Dan sebelum Leo pergi meninggalkan mansion, dia memberiku belati ini. Katanya sebagai kenang-kenangan agar aku tak menangis lagi karena kepergiannya," tutur Fuji menceritakan kenangan lima tahun lalu ketika Leonard pergi dengan meninggalkan belati di tangannya. Lamunannya kembali pada masa itu.
Flashback
"Ji... apakah kau tidak bosan berlatih memanah?" ucap Leo yang tiba-tiba muncul di belakang Fuji yang tengah fokus membidik anak panah.
"Bisakah kau datang, tanpa mengejutkan ku? Lihatlah... aku gagal melesatkan anak panahku," ucap Fuji seraya berjalan ke belakang yang mana terdapat tempat untuknya duduk dan bersandar.
Sementara Leo mengikuti Fuji duduk. "Aku hanya ingin melihat wajah adik tersayangku ini. Sebelum aku pergi meninggalkannya," ucap Leo seraya mencubit kedua pipi Fuji yang bibirnya masih mengerucut karena cemberut.
"Ck, bisakah kau batalkan aksimu itu? Aku akan membujuk Ayah agar menyuruh orang lain untuk mengerjakan masalah di kota itu," balas Fuji yang tiba-tiba merasa sedih kembali. Sesungguhnya ia bermain panah hanya karena ingin melupakan kesedihannya karena Leo yang akan pergi.
"Tidak bisa Adikku sayang. Kakakmu ini tetap harus pergi," ucap Leo seraya menangkup rahang Fuji dengan kedua tangannya. Bahkan perlahan ia melihat wajah Fuji meneteskan air mata. Ia dengan segera menghapusnya.
"Jangan menangis. Ambillah ini," Leo tiba-tiba memberikan sebuah belati yang ia ambil dari saku belakangnya pada Fuji.
"Kenapa kau memberikannya padaku?" ucap Fuji mengambil belati itu. Ia sangat tau betapa berharganya barang yang sekarang ia pegang itu.
"Aku ingin belati ini menjagamu saat aku tidak berada di sampingmu untuk menjagamu. Jadi kumohon, jangan menangis..." pinta Leo membuat Fuji menatap serius belati itu. Ia memang sudah menginginkan belati itu. Tapi selalu saja tidak berhasil membujuk Leo untuk memberikannya. Tapi kenapa ia harus mendapatkan belati itu sebagai salam perpisahan?
"Selamat ulang tahun, adikku." Peluk Leo membuat Fuji membalas pelukan itu dengan erat.
Fuji tidak pernah menyangka kalau di umurnya yang ke 17 tahun, ia malah mendapatkan hadiah kepergian kakak angkat yang sangat ia sayangi. Tanpa ia ketahui kalau kepergian Leo sebenarnya karena rencana Tuan Atshusi untuk memisahkan anak kandungnya dan anak angkatnya.
Flashback Off
"Eh... kau melamun apa?" ucap Melody yang membuyarkan lamunan Fuji.
"Ah... aku hanya mengingat Leo," jawab Fuji yang mendadak lemas.
"Dari pada kau memikirkan Leo, sebaiknya katakan padaku. Apa yang kau bicarakan dengan Tuan Alan hingga membuatmu sampai melompat kegirangan seperti menang lotre?" tanya Melody yang tiba-tiba kembali ke topik utama membuat Fuji mendadak kesusahan menelan salivanya.
Fuji menarik nafas panjang sebelum mengatakan yang sebenarnya pada Melody. Mungkin memang seharusnya ia tidak merahasiakan hal ini pada sahabatnya itu. "Itu—"
"Ternyata kau di sini!"
.
.
.
.
.
.
.
.