
Alan lekas berdiri dan maju ke depan ruangan saat film yang di putar sudah selesai. Ia mengambil posisi di depan mereka semua hingga membuat mereka heran dengan maksud Alan. Bahkan Fuji sedari tadi tidak melepaskan tatapannya dari Alan setelah merasa kehangatan pelukan Alan mulai hilang.
"Nontonnya sudah kan?" singkat Alan. Ia menatap semua orang dengan datar. Kemudian melanjutkan ucapannya tanpa mendengar jawaban mereka. "Aku mengumpulkan kalian ke sini sebenarnya bukan untuk menonton sebuah film. Aku ingin memberitahu kalian semua tentang sesuatu. Maka dari itu, ku mohon dengarkan ucapanku nanti. Dan bangunkan orang-orang yang sekiranya tengah tertidur," perintah Alan karena melihat sebagian dari mereka ada yang tertidur. Seperti Melody, Chuzi dan Naomi. Entah mengapa ketiga wanita itu malah tertidur. Padahal mereka yang paling antusias untuk nonton film bersama dengan Fuji?
Ketiga wanita itupun akhirnya dibangunkan. Rojer yang segera membangunkan istri dan adik iparnya. Sementara Steven segera pergi mendekati Melody untuk membangunkannya.
"Dokter Melody, kuharap kau segera bangun. Atau aku akan membedah tubuhmu di sini," bisik Steven pada Melody agar segera bangun.
Melody yang mendengarnya pun, langsung bangun dengan terkejut. Ia bahkan memunculkan wajah ketakutan melihat Steven.
"Syukurlah kau cepat bangun dengan sedikit candaanku. Lihatlah ke depan dan dengarkan!" ucap Steven memilih duduk di samping Melody dan tidak beranjak lagi ke tempatnya semula.
Sementara Melody masih mengumpulkan nyawanya yang serasa lenyap seketika. Ia menatap Steven dengan tatapan sulit di artikan. "Dia bilang hanya candaan? Tidak taukah, kalau aku sungguh ketakutan dengan candaan psikopat gila sepertinya?" batinnya seraya menatap ke depan sesuai perintah Steven tadi.
"Khm..." dehem Alan yang membuat atensi mereka semua langsung fokus pada wajah datar itu.
"Aku harap kalian bisa berhati-hati mulai sekarang. Beberapa hari ini, terjadi penyerangan tersembunyi —"
"Apa? Penyerangan tersembunyi!" potong Fuji seraya berteriak karena sakin terkejutnya. Membuat semua orang langsung mengalihkan keterkejutannya ke arah Fuji.
Tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatian mereka. Jari telunjuk Fuji seolah menunjuk ke arah lain. Membuat semua orang fokus ke arah tersebut.
Alan yang melihat arah tunjuk segera menghampiri Fuji seraya berteriak, "Fuji!"
Tiba-tiba suasana langsung menjadi riuh. Ternyata itu sebuah bom yang tersimpan di balik kursi samping Fuji yang saat ini mulai berbunyi. Menandakan bahwa bom itu baru saja di aktifkan. Tidak ada yang sadar akan keberadaan bom itu setelah Fuji menyadari asal suara itu.
Fuji hanya bisa menatap Alan dengan wajah sendu. Ia terdiam tak bisa bergerak karena terdapat ranjau di dekatnya yang jika ia salah mengambil langkah, maka tamatlah sudah riwayatnya. Bagaimana bisa ia akan mati di kapal ini. Apalagi bom itu sangat dekat dengannya.
Sementara Alan yang ingin mendekati Fuji tiba-tiba ditarik Steven untuk tidak mendekat. Bahkan Eiden menahan Alan untuk mendekati bom itu termasuk Fuji. "Semuanya! Secepatnya keluar dari sini! Keadaan darurat!" teriak Eiden membuat semua orang segera berlari keluar meninggalkan Fuji yang masih diam di tempatnya.
"Stev! Lepaskan aku!" teriak Alan minta di lepaskan oleh Steven.
"Kau ini bodoh! Bom itu sedang aktif! Kita harus mencari tempat aman!" balas Steven.
"Tapi Fuji ada di dalam!" bentak Alan.
"Dia hanya wanita malam yang kau temukan! Tidak ada yang spesial dari dia, Al. Kau bisa menemukan yang lebih baik lagi. Jadi lebih baik lepaskan—"
"Buukkk..." Steven terjatuh setelah mendapatkan bogeman mentah dari Alan. Ia memegang bibirnya yang berdarah sambil tersenyum misterius.
"Lebih baik tutup mulutmu itu! Sialan!" Alan segera melangkah kembali ke arah ruangan bioskop yang di dalamnya terdapat Fuji.
"BOOOMMM!"
Alan terdiam, langkahnya terhenti saat mendengar suara bom meledak dari arah lain.
"Kapal ini sudah terdeteksi banyak bom!" teriak salah satu penjaga.
"Sial! Bagaimana bisa seperti ini!?" teriak Alan kesal mendengar teriakan itu.
Steven yang melihat Alan terdiam, segera menghampirinya. "Sebaiknya kita cari tempat aman dulu. Ingat! Kau adalah seorang penerus! Lupakan wanita itu untuk sementara! Aku janji setelah menyelamatkanmu, aku akan akan segera menyelamatkan wanitamu itu!" bujuk Steven menarik Alan kembali menjauh. Namun Alan melepaskan tarikannya
"Kau harus menyelamatkannya, Stev! Lepaskan aku! Aku bisa pergi sendiri! Jadi selamatkan Fuji sekarang!" perintah Alan membuat Steven mengangguk.
"Baiklah," jawab Steven segera berjalan ke arah pintu ruangan bioskop. Lalu melihat ke belakang dimana Alan sudah berlari menjauh dari tempatnya.
"Wanita itu memang seharusnya pergi dari hidupmu maupun dunia ini," gumamnya seraya tersenyum misterius khas psikopatnya.
Steven berbalik arah meninggalkan ruangan itu. Tanpa menyadari seorang Melody yang dari tadi memperhatikannya dari jauh.
Melody berjalan ke arah pintu bioskop. Ia dengan cepat membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya "Aku tidak tau apa yang kau sembunyikan! Tapi aku saat ini harus menyelamatkan, Tuan dan sahabatku. Seorang psikopat akan tetap menjadi pembunuh," batinnya seraya mencari keberadaan Fuji.
"Apa yang kau lakukan di situ? Cepatlah hentikan bom itu bodoh!" ucap Melody kesal dengan berkacak pinggang.
"Ck, aku hanya berakting. Apakah kondisi di sini aman?" dengus Fuji dengan santainya. Wajah panik yang sedari tadi ia perlihatkan menghilang.
"Bahkan mereka mengorbankanmu!" jawab Melody.
"Ck, sungguh menyedihkan. Aku mendengar suara bom meledak," ucap Fuji seraya bergerak kearah bom untuk menghentikan bom itu.
"Kapal ini sudah dipasang banyak bom. Kita harus pergi dari sini segera! Jadi selesaikan itu cepat!" balas Melody.
"Kau berani memerintahku?!"
"Oh ayolah, kita sudah tidak punya banyak waktu."
"Sudah," ucap Fuji menepuk-nepuk tangannya. "Hap..." lompat Fuji dari kursi satu ke kursi yang lain.
Melody pun segera menghampirinya. "Sebelum kapal ini hancur, ayo pergi! Rey sudah menunggu kita," ucap Melody seraya menarik tangan Fuji.
"Mereka semua di mana?" tanya Fuji yang penasaran di mana Alan berada.
"BOOMM! BOOMMM! BOOMMMM!" Suara bom kembali menggema membuat Melody mendengus.
"Kau masih mencari pria itu? Tentu saja mereka menyelamatkan diri mereka masing-masing!" jawab Melody kesal.
"Lepaskan tanganku! Aku bisa berlari sendiri!"
Mereka pun berlari hingga seseorang menghadang mereka. " Lewat sini, Nona."
Fuji hanya tersenyum melihat Rey yang kini ada di hadapannya. Ia mengikuti instruksi Rey beserta beberapa orang yang seperti pengawal. Ternyata Rey sudah mempersiapkan hal ini. Tapi kenapa? Itu yang saat ini menjadi pertanyaannya.
"Hitungan ketiga, kita semua harus menyelam!" perintah Rey saat sudah tiba di ujung kapal yang tidak terlihat karena sudah malam.
"Satu... Dua... —"
"Byurrr..." Fuji langsung melompat membuat mereka semua juga ikut melompat.
Fuji menyelam ke bawah bersama yang lain hingga kapal selam menghampiri mereka. Kapal selam itu memang sudah di persiapkan Rey. Mereka semua masuk ke dalam dan membawa kapal selam itu menjauh dari kapal mewah milik Alan.
Dan tidak lama setelah itu, suara bergerumuh terdengar.
"BOOMM! BOOMMM! BOOMMMM!" kapal itu akhirnya hancur meninggalkan banyak kenangan bagi Fuji.
Fuji hanya bisa menutup mata mendengar suara itu sambil menarik nafas dalam. "Aku tidak menyangka, akhirnya kita berpisah dengan cara seperti ini." Air mata Fuji menetes, namun dengan segera ia hapus.
.
.
.
.
.
.
End