Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 29 : ENOAC



"Kau ngapain di situ?" seru Eiden saat melihat gelagat mencurigakan sahabatnya yang sedang merapatkan telinga ke pintu ruangan jacuzzi.


"Ah—aku—aku hanya melihat-lihat," asal Steven terbata-bata sambil menunjuk dirinya sendiri. Ia segera menyingkir dari pintu dan meluruskan tubuhnya.


"Kenapa kau menguping seperti pencuri di dekat pintu itu?" tanya Eiden tegas dengan sorotan mata tajamnya.


"Tidak, aku hanya melihat-lihat saja. Lihat ini, ukuran pintu ruangan jacuzzi ini sangat unik yah. Betapa mahalnya rancangan kapal ini," jawab Steven seraya meraba-raba ukiran kecil di pintu itu.


"Jangan ngasal. Sebaiknya katakan yang sebenarnya," balas Eiden kembali.


"Sungguh... aku hanya melihat-lihat saja. Ah... sebaiknya aku pergi. Aku masih ada urusan—"


"Apakah Tuan Alan ada di dalam?" potong Eiden sambil memicingkan matanya menatap Steven. Seperti ada yang disembunyikan pria di depannya ini. Karena ia sangat paham dengan watak Steven.


"Ah, iya. Alan ada di dalam? Kenapa? Apa kau ingin menemuinya? Kalau begitu, ayo aku temani," jawab Steven seolah mendapatkan sebuah ide untuk masuk dalam ruangan yang sedari tadi membuatnya penasaran. Ia ingin tau apa yang dilakukan Fuji di dalam sana. Apakah Fuji akan melaporkan tentang kebocoran mulutnya yang sudah mengungkap rahasia Alan atau tidak. Karena sesungguhnya ia sudah menyadari kebodohannya setelah lama terdiam mencerna ucapan Fuji.


"Aku memang ingin menemui Tuan. Tapi dengan siapa dia di dalam?" ucap Eiden bertanya.


"Memangnya kenapa kau bertanya dia dengan siapa? Kita bisa langsung masuk dan melihatnya bukan?" jawab Steven menutup informasi tentang keberadaan Fuji di dalam sana. Ia tidak boleh gagal masuk. Karena sadari tadi, ia gagal untuk mencuri dengar dari balik pintu. Ia lupa kalau pintu ini kedap suara.


"Kalau Tuan bersama dengan wanita itu, aku akan urungkan niatku untuk masuk—"


"Mana bisa begitu. Aku yakin kau punya berita yang sangat penting untuk Alan kan? Menurutku wanita itu tidak lebih penting dari berita yang kau bawa. Jadi sebaiknya kita masuk. Aku juga sudah sangat ingin membahas tentang penyakit Alan," bujuk Steven.


Eiden menghembuskan nafas. Merasa jengah menghadapi sikap sahabatnya ini. Tapi memeng benar yang di katakan sahabatnya itu. Ia harus melaporkan berita penting pada Alan. Apalagi ia merasa selama kapal berlayar, ia seolah tak punya waktu untuk berbicara pada Alan.


"Baiklah kita masuk," putus Eiden seraya dengan pelan membuka pintu ruang jacuzzi. Bersama dengan Steven di belakangnya. Namun belum sampai mereka masuk ke dalam, suara erangan dan ******* wanita dan pria menghentikan kaki mereka.


"Akhh... enak, Sayang. Nikmat seka—li ahh... " balas Alan lantang dengan penuh semangat.


"Ahh... sepertinya aku akan melihat live streaming si Alan jika memaksa menerobos masuk," batin Steven. Eiden menatap Steven seolah sedang berkomunikasi lewat batin. "Lebih baik pergi. Jika mengganggu Tuan, maka hidup kita yang di ambang kematian." Mereka langsung menunduk dan mengurungkan niat untuk melebarkan pintu yang sudah di buka Eiden.


Eiden yang cepat tanggap, segera berjalan mundur dan menutup kembali pintunya dengan pelan. Agar kelakuan mereka tidak tercium oleh dua insan yang sedang memadu kasih di dalam kolam. Yah itu yang mereka berdua bayangkan.


Bahkan wajah keduanya sudah memerah membayangkan apa yang terjadi di dalam sana. Steven dan Eiden memutuskan berpisah dan pergi berlawanan arah. Mencoba melupakan pikiran kotor yang terkontaminasi di otaknya setelah mendengar ******* nikmat tuannya.


.


.


.


.


.


.


.


Komen dong. Author suka baca komenan 🤨 Jangan lupa dukung terus yah 🥰