Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 30 : ENOAC



Sementara Fuji dan Alan sedang mengejar kenikmatan bersama-sama hingga mencapai pelepasan yang memuaskan.


"Akh... " lenguh Fuji dan Alan bersamaan. Alan segera melepaskan diri dari tautan tubuhnya dengan Fuji. Memandang tubuh polos Fuji dengan begitu intens.


"Sudah... jangan menyentuhku lagi. Aku lelah dengan gaya kolam kayak gini," keluh Fuji seraya keluar dari kolam setelah berhasil lepas dari Alan. Sungguh ia tidak menyangka kalau akan melakukan itu di dalam kolam jacuzzi ini.


"Lelah tapi menikmatinya kan?" ucap Alan seraya tersenyum. Ia mendudukkan dirinya di atas pinggiran kolam. Dan matanya tidak lepas dari gerakan Fuji yang keluar dari kolam dengan keadaan masih polos dan bercak merah di tubuh karena kelakuannya.


"Ck, bagaimana mungkin kau melakukan ini padaku. Lihatlah, aku akan keluar pakai apa kalau bajuku saja sudah tidak berbentuk seperti ini." Fuji memperlihatkan kemeja yang sudah tak berbentuk karena aksi Akan. Bahkan celananya kini juga sudah basah. Lalu bagaimana keluar jika tak pakai pakaian?


"Tunggulah di situ. Aku akan meminta Roger untuk membawakan kau pakaian yang lebih layak," balas Alan seraya ikut keluar dari kolam yang menjadi bekas percintaannya. Sungguh sensasi yang baru ia rasakan saat melakukan hubungan di dalam kolam. Bahkan suara air dan tepukan intinya yang menyatu, selalu terngiang di otaknya.


"Siapa Rojer?" tanya Fuji penasaran. Karena ia memang belum tau semua tentang Alan. Ia hanya tau tentang dokter yang mengesalkan dan tanpa sadar membongkar rahasia Alan. Hah, rasanya Fuji ingin tertawa membayangkan kejadian Steven yang dengan bodohnya mengungkapkan sebuah rahasia padanya.


"Rojer adalah orang kepercayaanku. Sama seperti Eiden dan paman Lucas," jawab Alan seraya mengambil dua handuk kimono. Lalu ia melemparkan satu handuk kimono ke arah Fuji. "Pakailah dulu," perintahnya seraya berjalan ke kursi dan meja yang tersedia di sana. Ia mengambil ponselnya di atas meja. Lalu menghubungi seseorang lewat sana.


Sementara Fuji segera memakai handuk kimono yang sudah ia tangkap dengan cepat untuk menutupi tubuhnya. "Ah... sekarang aku merasa terlihat sangat murahan," batinnya mengeluh saat melihat banyaknya bercak merah di tubuhnya melalui cermin.


"Duduklah di sini," ucap Alan tiba-tiba pada Fuji, setelah mematikan sambungan teleponnya. Ia menyimpan kembali ponselnya, lalu menepuk kursi panjang yang ia duduki agar Fuji duduk di sana.


Fuji hanya bisa menghela nafas kasar. Lalu memaksakan kakinya untuk duduk di samping Alan. "Kau tidak bermaksud melakukan hal tadi lagi kan?" tanya Fuji sebelum duduk di samping Alan. Ia sedikit mengambil jarak antara dirinya dengan Alan.


"Tidak. Ayo mendekatlah. Lagipula, aku sudah sangat puas tadi. Tapi jika kau masih mau, yah aku akan memberikannya dengan senang hati," jawab Alan tidak tau diri. Sungguh ia sudah membuang harga dirinya saat ini.


"Dasar, tidak tau diri!" umpat Fuji sinis.


"Kau tidak boleh mengumpat begitu, kau seharusnya bersyukur. Karena surat perjanjian itu malah membuatmu merasakan kenikmatan bersamaku," balas Alan tersenyum miring. Entah apa yang saat ini ia pikirkan. Tapi Fuji malah menatap Alan seolah meremehkannya. Dan Fuji tidak suka itu.


"Aku tidak merasa beruntung hingga harus bersyukur. Justru aku merasa soal bertemu dan terjebak denganmu," ucap Fuji ketus.


"Aku kaya, tampan, dan banyak wanita yang ingin naik ke ranjangku. Tapi dari sekian banyaknya wanita, aku hanya memilihmu. Jadi kau itu harus bersyukur," balas Alan lagi dengan arogannya.


"Arogan!"


"Kenyataannya memang begitu," jawab Alan.


"Cih, wanita itu bukan aku," tukas Fuji.


"Bagiku, kau dan mereka sama. Sama-sama wanita bukan?" balas Alan yang malah menguat kening Fuji mengernyit mengartikan ucapan Alan.


"Jadi maksudnya, kau menyamakan aku dengan mereka? Kau menganggapku wanita murahan yang akhirnya berhasil merangkak ke ranjangmu? Begitu?" seru Fuji tidak terima. Ia berdiri dari duduknya dan menatap marah ke arah Alan.


"Tuan, ini saya antarkan pesanan Anda," ucap Rojer.


"Berikan pada wanita itu," perintah Alan pada Rojer.


Fuji yang langsung mengerti kondisi saat ini, segera mengambil paper bag itu.


"Terimakasih," ucapnya dengan segera menutup pintu kembali. Lalu Fuji lekas mengeluarkan isi paper bag yang merupakan pakaian wanita. Ia pun segera memakainya tanpa menghiraukan Alan yang kini menatapnya intens.


"Kau begitu—"


"Sudahi ucapanmu itu, Tuan. Aku akan keluar. Dan kau harus ingat perkataanku ini, aku memang wanita yang seperti kau pikirkan itu. Maka dari itu, cepatlah lepaskan aku. Dan begitupun bagiku, kau juga pria brensek yang muncul dalam hidupku. Maka dari itu, aku akan selalu menganggap pertemuan kita sebagai kesalahan," potong Fuji tajam setelah memakai pakaiannya. Ia tidak ingin lagi mendengar kata makian tidak sengaja yang diucapkan oleh Alan. Baginya sangat sakit dianggap sebagai wanita murahan.


"Eh kenapa kau berkata—"


"Saya permisi. Saya harap permintaan Anda kedepannya, tidak berurusan dengan percintaan seperti tadi. Saya memang murahan karena memberi tubuh saya pada Anda. Tapi Anda lebih brensek karena menikmati tubuh saya, lalu mengatai saya. Saya harap ini pergulatan panas kita yang terakhir," potong Fuji lagi seraya membuka pintu dan keluar meninggalkan Alan yang membeku di tempatnya.


Alan hanya memandang pintu yang di lewati Fuji. Baginya, ada sesuatu yang terasa sesak di dadanya saat mendengar ucapan Fuji. Apakah ia sudah salah? Ia memang mulai menganggap Fuji sama seperti wanita di luar sana setelah mendengar ungkapan Fuji yang menganggap kejadian semalam hanya kesalahan. Itu berarti, kejadian semalam tidaklah berarti sama sekali untuk Fuji. "Padahal aku mengatakan itu semua agar dia meralat kembali ucapannya yang mengatakan kesalahan. Tapi kenapa masalahnya semakin runyam seperti ini," batinnya sambil mengusap kasar wajahnya.


.


.


.


.


.


.


Fuji berjalan dengan tergesa-gesa dan wajah yang menyiratkan kekesalan. Penampilannya saat ini sangat berbeda dari pada tadi. Karena kacamatanya sudah rusak setelah dilempar oleh Alan, jadi sekarang ia tidak memakai kacamata. Pakaian wanita yang anggun di bawah lutut. Ia mengurai rambutnya yang basah, membuatnya terlihat sangat cantik.


"Wah... siapa ini, kau kah itu, Cupu?" sahut Steven tiba-tiba saat melihat Fuji yang tampil berbeda setelah keluar dari ruangan jacuzzi. Yah, sedari tadi ia memang mengawasi ruangan itu dari jauh. Tanpa beranjak dari tempatnya. Hingga ia beranjak setelah melihat wanita yang masuk jadi cupu, keluar malah jadi ratu.


"Aku tidak percaya kalau ini kau, Cupu. Kau cantik sekali," puji Steven jujur. Ia terus mengikuti langkah kesal Fuji yang bahkan mengabaikan ucapannya.


"Berisik. Jangan menggangguku," ucap Fuji singkat seraya berjalan semakin cepat hingga menjauh dari Steven. Sementara Steven hanya bisa menatap punggungnya dari jauh.


"Apa yang terjadi setelah pergulatan panas antara mereka yah. Biar aku pastikan dulu, l" batin Steven penasaran. Ia segera berbalik dan pergi ke dalam ruangan jacuzzi yang ia duga masih ada Alan di dalam sana.