Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 38 : ENOAC



Setelah berhenti tersedak makanan, Fuji kembali melanjutkan makanannya karena masih merasa sangat lapar. Ia terus makan, tanpa memperdulikan Alan yang sedari tadi selalu menatapnya penuh arti.


Sementara Alan terus menatap Fuji dengan tatapan sulit. Ia merasa asing dengan Fuji. Tapi tidak dengan sikap dan tingkah Fuji. Dan saat ini, ia sedang menyusun skema apa yang sebenarnya ia alami. Tiba-tiba mendapatkan ingatan tak asing saat berhadapan dengan Fuji, membuatnya berfikir keras. "Apakah aku pernah bertemu denganmu sebelumnya?" ucap Alan tanpa sadar.


Fuji yang menikmati makanannya, seketika berhenti. Kemudian menatap Alan dengan kerutan di keningnya. Ia menatap dengan penuh tanya sebelum menjawab, "Bukankah kita hanya orang asing yang baru bertemu tadi malam?" Fuji kembali menatap makanannya dan menyantapnya.


"Ah, tidak! Aku pasti salah!" ucap Alan yang tiba-tiba beranjak dari duduknya menuju ruang ganti pakaian.


Tingkah Alan tidak lepas dari Fuji. Bahkan Fuji yang melanjutkan makanannya, kini menatap heran kepergian Alan. "Aneh. Tapi yang lebih aneh adalah aroma tubuhnya. Aroma wanita, dan itu bukan aroma milikku," gumamnya tidak suka.


Sebenarnya, Fuji sudah menyadari aroma berbeda di tubuh Alan sedari tadi sejak mereka berciuman Hanya saja, ia memilih diam karena menurutnya itu bukan hal yang penting untuk ditanyakan. Apalagi ia sangat lapar dan harus membahas tentang kemungkinan kehamilannya. Bertambah lagi pembahasan penting saat ia mengungkapkan informasi rahasia milik Alan yang ia ketahui. Hal itu membuat kepalanya pusing. Haruskah ia mengatakan semuanya? Ataukah hanya mengatakan seperlunya dan membahas yang lainnya dilain waktu.


Dalam berbagai pemikiran, Fuji menghela nafas berat sebelum melanjutkan kembali santapannya. Sementara Alan yang sedang berada di ruang ganti pakaian, sedang mencari sesuatu di sana. Tangannya bergerak membuka laci dan mengambil sebuah pistol Smith and Wesson 500 Magnum (S&W 500M) di sana.



Pistol ini merupakan produk dari Amerika Serikat yang sudah diperkenalkan sejak tahun 2003. Pistol Smith and Wesson 500 Magnum atau disingkat S&W 500M, memiliki peluru yang bisa menembus serta meledakkan objeknya jik ditembakkan. Bahkan akurasinya paling baik dibandingkan pistol lainnya.


S&W 500M juga digunakan oleh para pemburu di AS. Produsen memasarkannya dengan dua varian panjang laras yani 10,2 dan 21,3 cm. Semakin panjang laras tentunya meningkatkan akurasi tembakan. Kelebihan pistol S&W 500M terdapat pada larasnya yang panjang sehingga meningkatkan akurasi serta melonarkan peluru dengan kecepatan 112 kilometer per jam.


Alan melihat pistol yang sudah berada di tangannya seraya menutup kembali laci. "Melihat kedatangan Stella, sepertinya aku harus lebih waspada terhadap penyerangan yang mungkin akan digerakkan lebih cepat," batinnya seraya memasukkan pistol yang memang selalu ia bawa kemana saja. Pistol itu bisa berada di laci, juga karena dirinya yang tadi pagi menyimpannya di sana—saat ia membereskan kekacauan kamarnya karena pakaiannya yang berantakan bekas percintaannya.


Alan menyimpan pistol itu dibalik celananya. Ia memang sudah mengenakan celana panjang dan kemeja yang rapi saat keluar dari kamarnya tadi. (Jadi jangan membayangkan Alan masih mengenakan boxer yah 😜)


Setelah selesai, Alan kembali keluar dari ruang ganti pakaian. Ia kini berjalan ke arah Fuji yang nampak sudah selesai menikmati makanannya. Bahkan Fuji terlihat menyandarkan tubuhnya di sofa seraya mengusap pelan perutnya. Tingkah Fuji membuat Alan gemas dan merasa aneh dengan dirinya sendiri.


"Sudah selesai makannya?" tanya Alan basa-basi seraya mendudukkan tubuhnya ke sofa di samping Fuji.


"Hm," jawab Fuji singkat. Ia merasa enggan menjawab pertanyaan Alan. Apalagi ia merasa semakin kesal saat aroma wanita menyapu indra penciumannya.


Alan menghela nafas melihat Fuji yang sepertinya enggan menjawabnya. Tapi ia mengerti, karena kemungkinan Fuji sekarang sedang kekenyangan. "Sekarang kau sudah kenyang kan? Kalau begitu, katakan semuanya! Jangan banyak menunda dan mencari alasan," ucapnya tegas karena tidak ingin Fuji mencari alasan lagi untuk bicara.


Fuji yang mendengar ucapan Alan yang tegas di sebelahnya, akhirnya menegakkan tubuhnya. Menghadap ke arah Alan seraya menatap mata abu-abu yang menurutnya sangat indah. Namun ia hanya mampu mengungkapkan hal itu dalam hati dan pikirannya. Karena sungguh memalukan mengakui kenyataan jika Alan berhasil membuatnya terpesona.


Sambil menghela nafas, ia mulai buka suara. "Kau ingin aku bicara yang mana dulu?"


"Semuanya," jawabnya singkat.


"Ck, aku tau semuanya. Hanya saja, yang mana yang lebih dulu ingin kau ketahui?"


"Hm, baiklah. Katakan padaku, bagaimana kau mengetahui kalau akan mengidap penyakit OCD?" tanya Alan. Ia memang sangat penasaran dan sedikit curiga karena Fuji mampu mengetahui rahasia yang hanya sebagian orang yang tau.


"Huh, baiklah. Ternyata rahasia itu lebih penting dari pada—"


"Dari pada apa? Kau bisa mengatakan yang lainnya setelah mengatakan dari mana kau tau rahasiaku itu. Jadi cepat katakan! Aku sudah menunggu sedari tadi," potong Alan sedikit mengeluh dan tidak sabar. Apalagi saat melihat raut wajah Fuji yang berubah lebih lemas. Ia merasa sangat banyak hal penting yang di sembunyikan oleh wanita di depannya ini. Bahkan ia mulai merasa kalau Fuji berharap agar dia mengetahui hal penting lainnya sebelum masalah rahasia itu.


"Ck, dasar tidak sabaran!" gerutu Fuji seraya menyadarkan kembali tubuhnya ke sofa. Ia merasa tidak harus menegakkan tubuh dan berhadapan pada Alan hanya untuk berbicara. Sementara Alan hanya diam menatap tingkah Fuji.


"Aku mengetahui kau mengidap OCD dari sahabat doktermu itu. Siapa namanya?" ucap Fuji menjeda seraya tangan kanannya menyentuh dagu. Ia mengingat-ingat nama Steven yang ia dengar hanya sekilas saja.


"Setivi? Sate? atau Setempe yah? Oh entahlah siapa namanya, aku tidak ingat dan tidak mau ingat juga," sambungnya menyebutkan nama Steven tidak benar dan dengan nada jengah. seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hahaha..." Alan tertawa mendengarnya. Untuk pertama kalinya ia tidak bisa menahan tawanya. Ia merasa sangat lucu saat melihat ekspresi dan mendengar ucapan Fuji menyebut nama Steven.


"Hei, kenapa kau tertawa?! Kau mengejekku?!" seru Fuji seraya menurunkan kembali tangannya dari dagu. Lalu menatap wajah Alan yang semakin tampan. Ia seketika terdiam menikmati pemandangan menakjubkan di depan matanya itu dengan mata tak berkedip.


"Oh... maaf. Aku tidak bermaksud menertawakanmu. Aku hanya merasa lucu saat kau menyebutkan nama Steven," ucap Alan setelah menghentikan tawanya. Sebenarnya ia marah pada nama yang akan disebutkan oleh Fuji nantinya. Namun karena Fuji yang mengucapkannya begitu lucu, malah membuatnya tertawa dan menyurutkan amarahnya.


Sementara Alan yang melihat itu, seketika menyunggingkan senyum tipis seraya memajukan tangannya ke pipi berlesung milik Fuji. "Kau mengagumiku sampai tidak berkedip. Apakah aku setampan itu?" godanya yang menyadarkan Fuji.


Fuji langsung salah tingkah dibuatnya. Wajahnya memerah malu. Ia menggerakkan kepalanya agar tidak menghadap Alan. sungguh memalukan saat tengah terciduk mengagumi ciptaan Tuhan. "Aku tidak mengagumimu. Aku hanya sedang melihat sambel di gigimu," balasnya asal.


"Kalau tidak mau mengakuinya, tak apa. Lagipula, mana ada sambel di gigiku. Aku kan belum makan setelah pertempuran kedua kita," jawab Alan dengan entengnya.


Setelah mengatakan itu, Alan terdiam menatap Fuji. Begitupun dengan Fuji. Suasana ruangan mendadak hening tak bersuara.


Fuji tampan berfikir dalam keheningan ynag menguasai keduanya. Hingga ia tiba-tiba menarik nafas dalam. "Mungkin ini waktu yang pas untuk mengatakan tentang kemungkinan kehamilanku padanya," batinnya seraya berbalik kembali menghadap dan menatap Alan.


"Al, aku ingin bilang sesuatu."


"Hm, katakanlah! Aku akan mendengarkan," balas Alan saat melihat wajah Fuji yang nampak sangat serius. Apakah Fuji masih akan membahas tentang Steven? Entahlah ia tidak mau berfikir ke sana dulu. Karena setelah ia keluar, ia akan memberi pelajaran pada sepupu sekaligus sahabatnya itu.


Fuji yang mendapat respon balik dari Alan, akhirnya memutuskan untuk tidak menunda mengatakan kemungkinan kehamilannya. Tangannya perlahan mengusap perutnya dan ia tau kalau Alan memperhatikan setiap gerakannya.


Fuji menatap sekilas perutnya sebelum mendongak dan berkata, "Al, bagaimana jika nanti aku ha—"


BRAK!!! Pintu kamar Alan terbuka lebar secara paksa hingga membuat Fuji menghentikan ucapannya dan menatap ke arah pintu.


.


.


.


.


.


.


.


Luka dan Obat


Sediakah pundakmu menjadi sandaran kala hatiku gunda karena luka?


Nyatanya, luka itu juga berasal darimu.


Jadi haruskah aku berharap kau menjadi obatnya?


Tidak! Karena yang melukai, tak akan pernah tau cara mengobati.


.


.


.


.


.


Maaf kemarin gak up, karena tidak enak badan. Lah author malah curhat.