Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 45 : ENOAC



"Itu—"


"Ternyata kau di sini!"


ucapan Fuji terhenti. Ia melihat pintu yang ternyata masih terbuka lebar sejak Melody memasuki kamarnya. "Steven... " ucapnya bersamaan dengan Melody. Mereka berdua menatap Steven yang muncul di balik pintu kamar Fuji dengan pandangan yang berbeda.


Jika Fuji memandang dengan perasaan lega, karena Steven tiba-tiba datang menjadi penyelamat. Maka Melody menatap Steven dengan terkejut karena melihat sosok Steven setelah kejadian terakhir di tempat gym.


"Kenapa Dokter, datang ke sini?" bukan Fuji yang berkata, namun Melody yang dengan cepat angkat bicara. Meskipun ia tau kalau Steven adalah seorang psikopat, ia tetap bersikap seolah tidak tau apa-apa. Itulah Melody, wanita yang berprofesi sebagai dokter bedah ini sudah dilatih bersama dengan Fuji sedari kecil. Jadi ia bisa menempatkan diri, meskipun ia mengetahui rahasia besar seseorang.


Mendengar nada bicara Melody yang terdengar berani dan tidak takut seperti saat membicarakan Steven, membuat Fuji mengernyit heran. "Bukankah tadi dia bersikap seperti kucing yang ketakutan saat membicarakan Steven, kenapa sekarang dia malah bersikap seperti singa betina?" batinnya menatap Melody dan Steven secara bergantian.


"Aku ke sini mencarimu. Sebaiknya kau ikut denganku. Ada hal penting yang ingin aku katakan," jawab Steven yang tiba-tiba berjalan dan menarik tangan Melody. Sementara Melody tampak pasrah ditarik oleh Steven.


Fuji menatap kepergian Steven yang menarik tangan Melody. "Jangan lupa tutup pintunya, jika kalian keluar!" ucap Fuji setelah sedari tadi memilih diam.


Steven berhenti dan berbalik menatap Fuji. "Aku tidak menyangka, Alan akan menempatkanmu di tempat ini. Ck, selamat bersenang-senang dengan kamar barumu. Sepertinya kehadiran Stella benar-benar membawa perubahan rencana," ucap Steven di selingi tawa yang justru terlihat menyeramkan di mata Melody. Namun terdengar mengejek di telinga Fuji. Setelah mengatakan itu, Steven melanjutkan langkahnya keluar dari pintu membawa serta tangan Melody yang belum lepas dari tangannya. Menutup pintu rapat sesuai keinginan pemilik kamar.


Fuji termenung melihat pintu yang tertutup rapat setelah kepergian Steven. Ia masih terngiang ucapan Steven barusan yang membuatnya merasa aneh. Bagaimana mungkin ucapan Steven mempengaruhi dirinya? Hanya karena mendengar nama Stella disebut, ia jadi merasa tak menentu. Ia tidak habis pikir kenapa bisa begini. Kepalanya menggeleng-geleng seraya menarik nafas dalam. "Aku tidak boleh terbawa suasana hanya karena ucapan Steven. Bukankah Alan sudah menjelaskan semuanya padaku. Huh, sebaiknya aku tidur," gumamnya seraya menidurkan tubuhnya di ranjang.


Baru saja ia merasa bahagia karena Alan dengan sendirinya datang menjelaskan agar ia tidak salah paham. Tapi Steven malah mengacaukan suasana hatinya. "Sial! Dokter gila itu benar-benar mengacau!" umpatnya seraya mengambil guling dan memeluknya. Menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan perlahan menutup matanya untuk menggapai mimpi.


.


.


.


.


.


.


.


"Anda mau membawaku ke mana, Dokter?" ucap Melody dengan formal pada Steven saat melihat pria itu membawanya ke ruangan asing. Ia memang selalu memanggil Steven dengan formal dan menggunakan embel-embel dokter. Karena bagi Melody, ia tidak harus berbicara akrab pada seseorang yang asing untuknya.


"Kau akan tau nanti," jawab Steven seraya menarik tangan Melody masuk ke ruangan yang sangat gelap itu.


Steven menutup pintu dengan cepat hingga menimbulkan bunyi. Hal itu membuat perasaan berani Melody seketika menciut. Bahkan Melody mulai merasa ketakutan saat mendapati dirinya di bawa ke ruangan yang sangat gelap. "Apakah ini akhir hidupku?" batinnya berfikir akan benar-benar menjadi target Steven yang selanjutnya. Apakah benar yang dikatakan Fuji, jika ia sebenarnya adalah target Steven. Bukannya sosok yang dicintai Steven.


Steven terus menarik tangan Melody hingga tiba-tiba ia berhenti di sebuah dinding. Ia memencet sesuatu di sana hingga ruangan berubah menjadi terang.


"Itu—mereka," ucap Melody terbata-bata dengan wajah pucat menahan ketakutan.


Steven tiba-tiba mengernyitkan keningnya menatap Melody tajam, sebelum ia memajukan wajahnya mendekat ke telinga Melody. "Kau kaget melihat luka mereka? Maka kau harus segera siap, karena kau target selanjutnya... " bisik Steven lirih membuat bulu kuduk Melody seketika meremang ketakutan.


Target selanjutnya? Jangan gila, Melody mendadak tidak bisa berfikir. Ia ketakutan. Kenapa ia berada di posisi seperti ini. Ingin rasanya ia berlari, namun kakinya mendadak lemas mengetahui ia adalah target yang akan menyusul ke alam baka. "Dokter, bisakah kau pikirkan lagi? Aku tidak mungkin target—" ucapnya terpotong saat menyadari sebuah kesalahan.


"Tunggu dulu, bukannya mereka pengawal di kapal ini?" sambungnya menatap intens wajah-wajah yang memiliki banyak luka dan darah ditubuhnya. Ia baru menyadari wajah salah satu pengawal yang tadi ia alihkan perhatian, saat mendapat kode perintah dari Rey.


"Yah... mereka memang pengawal di kapal ini. Tapi aku lebih penasaran dengan ucapanmu yang tidak kau teruskan itu," balas Steven yang merasa curiga saat melihat wajah pucat ketakutan Melody tadi. Tapi mendapati Melody yang tiba-tiba terdiam di tempatnya membuat Steven tidak beranjak menjauh dari Melody.


"Sebenarnya apa maksud perkataanmu tadi, Dokter Melody? Mengapa kau ketakutan seperti itu? Apa kau tahu sesuatu, Dokter Melody?" tekan Steven dengan menatap Melody tajam.


"Ah... aku tadi hanya asal bicara. Bisakah kita melupakan ucapan asalku itu? Dan jelaskan tugasku di sini serta maksud bisikanmu tadi. Bisikanmu tadi itulah yang membuatku asal bicara dan ketakutan," ungkap Melody dengan wajah memelas memohon.


"Ck, baiklah. Aku mengajakmu ke sini, tentu saja untuk mengobati mereka. Maksud bisikanku tadi adalah kau target selanjutnya yang akan menangani luka mereka bersamaku," jawab Steven santai memutuskan untuk melupakan kecurigaannya saat melihat wajah Melody yang terkesan menggemaskan di matanya. Ia memilih menjauh dan mendekati para pengawal yang terlihat memiliki banyak luka dan darah di sekujur tubuh.


"Sebenarnya, apa yang terjadi di sini? Mengapa mereka bisa mendapatkan luka berat seperti ini?" tanya Melody seraya memeriksa luka di dada salah satu pengawal. "Darahnya masih segar. Luka ini masih sangat baru. Apakah tadi terjadi penyerangan?" sambungnya setelah meneliti darah yang ia sempat sentuh.


Steven menatap Melody dengan serius seraya menghela nafas. "Hanya penyerangan kecil. Mereka menyebutnya sebagai penyerangan perkenalan," jawab Steven seraya menggerakkan tangannya untuk menjahit luka pengawal yang menjadi pasiennya.


"Penyerangan perkenalan? Kapan terjadi? Bukankah kalau ada penyerangan, kita semua akan tau? Perasaan, tadi tidak ada kehebohan?" ucap Melody mengungkapkan pemikirannya seraya mengambil kasa dan alkohol untuk membersihkan luka pengawal yang ia tangani.


"Mereka mendapat serangan mendadak. Itupun, kami menemukan mereka saat sudah tergeletak tidak berdaya. Aku rasa, ada penyusup di dalam kapal ini... " jelas Steven seraya membalut kain kasa pada luka yang sudah ia jahit rapi.


"Kita tidak tau akan menjadi apa penyerangan yang dilakukan oleh musuh si Alan. Tapi kita harus mulai waspada. Karena musuh sudah mulai bergerak," tambah Steven saat membayangkan kejadian dimana ia menemukan sekitar 7 pengawal terjatuh tidak sadarkan diri dengan persimbah darah. Ia dan Rojer segera membawa ketujuh pengawal itu ke ruang perawatan rahasia tanpa diketahui yang lain, agar tidak menimbulkan rasa panik. Hingga sampailah ia mencari Melody untuk membantunya menangani ketujuh pengawal ini.


.


.


.


.


.


.


.