Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 8 : ENOAC



"Cukup awasi saja sampai mana dia akan kabur. Sepertinya dia ingin sedikit bermain-main denganku sebelum bermain di ranjang, hahaha... " ucap pria berusia empat puluh lima tahun itu sembari tertawa pada seseorang yang sedang menghubunginya.


Baju pengantin yang dikenakan pria tua itu, menggambarkan sosok yang saat ini sedang menantikan calon istrinya. Ia adalah Tuan Max.


"Tuan, sepertinya Nona pergi ke arah stasiun kereta api," ucap seseorang di seberang telepon.


"Awasi terus dan kabarkan padaku apapun yang ia lakukan. Dia wanitaku yang nakal. Sepertinya aku harus melepaskannya sebentar dulu sebelum aku mengurungnya di ranjangku siang dan malam," balas Tuan Max yang pikirannya hanya tentang soal ranjang saja. Kemudian ia memutuskan teleponnya setelah orang di seberang sana mengiyakan perintahnya.


Wajah Tuan Max tidak terlihat kekhawatiran karena mengetahui calon istrinya kabur. Bahkan ia menganggap ini sebuah kesenangan. Meski begitu, ia tetap menyiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.


"Lucy, siapkan pesawat pribadiku. Kita pergi ke Nagasaki untuk menjemput calon istriku di sana," perintah Tuan Max pada asisten pribadinya yang bernama Lucy.


"Baik, Tuan." Lucy segera pergi untuk menjalankan perintah dari Tuan Max.


"Nagasaki ya? Nagasaki... hm... sepertinya akan ada hal menarik di sana," gumam Tuan Max berulang ulang membaca nama kota yang tertulis di keterangan pemesanan tiket kereta api pada layar ponselnya.


Tuan Max menyeringai sembari menyesap kembali minumannya yang sempat ia lepaskan saat menerima telepon dari pengawal yang ia perintahkan untuk mengawasi Fuji dari jarak jauh


.


.


.


.


.


***


Fuji sudah berada di dalam kereta api dengan menggunakan jaket yang membungkus gaun pengantinnya. Jaket itu merupakan pemberian dari supir yang mengantarkannya tadi. Ia tidak memiliki banyak waktu untuk membeli pakaian dan mengganti pakaiannya. Karena saat ini ia sedang berkejaran dengan waktu.


Sesungguhnya Fuji menyadari beberapa orang yang mengawasinya dari jauh sedari tadi. Itulah mengapa ia segera masuk ke dalam kereta api meski dengan penampilan kacau seperti ini.


"Syukurlah Tuhan masih berpihak padaku. Hingga aku bisa tepat waktu berada di kereta ini," batinnya bersyukur karena tepat saat ia menaiki kereta, nahkoda juga memulai melajukan kereta api tersebut menuju kota Nagasaki.


Perjalanan memakan waktu lima jam. Bahkan langit sudah nampak gelap saat Fuji keluar dari kereta tersebut. Ia menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit.


Dengan hanya bermodalkan uang dan ponsel, Fuji segera memesan taksi. "Akhirnya aku sampai juga. Halo, Nagasaki. Aku sudah datang," ucapnya sembari tersenyum menatap pemandangan malam kota Nagasaki di balik jendela taksi.


Creeeeetttt!!! Suara decitan mobil beradu dengan aspal. Taksi berhenti tiba-tiba karena aksi dari supir yang rem mendadak. Hal ini membuat Fuji terjerembab ke depan.


Dengan kesal Fuji berkata, "Bisa bawa mobil yang bener gak sih, Pak? Kening saya kejedot nih. Sakit tau!"


"Maaf, Nona. Tapi mobil di depan menghalangi jalan kita," jawab Supir itu seraya menunjuk ke arah mobil hitam yang saat ini berada di depan taksinya.


"Apa?" ucap Fuji kaget seraya menata orang-orang berbadan besar yang keluar dari mobil hitam itu. Ada sekitar tujuh orang berpakaian hitam di sana. Bahkan tanpa diberitahu pun, Fuji sudah tau kalau itu adalah kiriman Tuan Max karena melihat logo kecil di seragam hitam mereka.


"Ck, sial. Mengapa mereka bisa ada di sini. Sebenarnya, sebesar apa kekuasaan yang di miliki pria tua itu hingga sangat mudah menemukanku seperti ini. Tapi aku tidak boleh tertangkap oleh mereka. Bagaimanapun, aku sudah lari sampai sejauh ini. Tidak mungkin aku menyerah begitu saja. Baiklah, aku akan menghadapi mereka. Kita lihat siapa yang akan menang," gumam Fuji yang nampak panik melihat orang-orang itu mulai berjalan ke taksi yang ditumpanginya. Kali ini ia bertekad tak akan menyerah begitu saja. Bahkan jika nyawanya menjadi taruhannya.


"Tidak mungkin, Nona. Itu tindakan kriminal," jawab Pak Supir yang nampak ragu untuk melakukan perintah Fuji.


"Kalau kita tidak melakukan tindakan kriminal pada mereka. Maka kita yang akan mati di sini karena tindakan kriminal mereka. Bapak mau mati di sini? Saya sih tidak! Jadi kalau Bapak punya nyali, sebaiknya keluar dan hadapi mereka. Biar saya yang jalankan mobil ini dan menabrak mereka semua," tutur Fuji dengan wajah memerah menahan kesal karena sikap Pak Supir ini.


"Tidak, Nona. Jangan lakukan itu. Sebaiknya Anda diam saja di sini. Saya akan bernegosiasi pada mereka semua untuk membiarkan kita lewat," ucap Pak Supir yang juga nampak panik tapi memilih memberanikan diri untuk keluar. Ia keluar dan segera menutup pintu taksi tanpa menyadari kalau ia melupakan untuk menarik kunci taksinya.


"Cih, bodoh!" umpat Fuji saat melihat Pak Supir yang nampak sudah tua itu pergi mengantarkan mautnya.


Fuji menggeser ke samping. Ia duduk di depan kemudi taksi itu. Perlahan senyum terbit saat melihat kunci mobil masih tersampir di sana.


Sedangkan Pak Supir mendatangi seorang pria yang paling dekat dengan taksinya. Ia lantas berkata, "boleh persilahkan kami lewat? Mobil kalian menghalangi jalan kami."


"Kami menginginkan wanita yang kau antar itu," jawabnya singkat.


"Tapi Tuan, untuk apa?" tanya Pak Supir bingung.


"Serahkan dia, atau nyawamu yang akan melayang!"


"Tapi, Tuan—"


Bughh! Pak Supir tersungkur ke lantai karena pukulan yang dilayangkan pria itu padanya hingga memotong ucapannya.


Baru saja Pak Supir berdiri dan akan bertanya kenapa ia sampai dipukul seperti ini, tiba-tiba taksinya sudah melaju kencang dan menabrak pria yang memukulnya tadi.


Fuji benar-benar mengendarai mobilnya bagai kesetanan. Ia bahkan menabrak pria yang memukul Supir Taksi itu dengan ganas hingga membuat pria itu terpental kebelakang.


Kemudian Fuji membuka pintu sampingnya dengan cepat seraya berteriak, "cepat naik, Pak!"


Pak Supir memilih naik ke bangku penumpang dan membiarkan Fuji membawa taksinya ugal-ugalan. Sebagian orang-orang suruhan Tuan Max yang masih ada di sana dan berhasil menghindar dari tabrakan Fuji, segera mengejar taksi itu.


Fuji memberhentikan taksi saat sudah dekat dengan area pelabuhan. "Terimakasih untuk tumpangannya, Pak. Ini bayaran Bapak," ucap Fuji seraya menyerahkan beberapa lembar yen (mata uang Jepang).


"Terimakasih," ucap Pak Supir mengambil uang itu. Sejujurnya ia sedikit takut sekarang dengan perempuan di depannya itu. Setelah kejadian beberapa menit yang lalu. Ia benar-benar hampir tewas hanya karena menerima pesanan taksi di jam malam.


Fuji segera berlari masuk ke dalam pelabuhan. Ia sudah melihat kalau mobil pengawal Tuan Max juga sudah berada di sana. Saat ini Fuji sangat ingin berteriak karena ketangkasan dan kemampuan yang dimiliki pengawal Tuan Max. Sejujurnya ia bisa saja melumpuhkan mereka semua. Namun saat ini kekuatan fisiknya sedang tidak baik karena tadi, ia telah meminum cairan afrodisiak saat duduk di halte sembari menunggu taksinya datang.


.


.


.


.


.


Note : (Percakapan Fuji menggunakan bahasa Jepang sedangkan Percakapan Alan menggunakan bahasa Indonesia)