Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 42 : ENOAC



Fuji mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Melody. "Lalu, bagaimana kau bisa berada di sini? Jika Rey menjadi pengawal, maka peran apa yang sedang kau mainkan? Kau tidak mungkin menjadi pengawal wanita di kapal ini kan?" tanyanya penasaran sekaligus untuk mengalihkan pertanyaan Melody yang mempertanyakan keberadaannya. Bukankah lebih baik, jika ia yang mengintrogasi Melodi agar mudah membalikkan keadaan.


Melody menatap Fuji dengan intens sebelum membuka suara. "Aku diajak oleh Dokter Steven untuk menjadi partnernya dalam bertugas di kapal ini," ungkap Melody yang seketika membuat Fuji melotot terkejut.


"Aku tidak salah dengar? Kau bilang, bersama dengan Dokter gila itu?" seru Fuji menyebut Steven dengan kata gila. Ia memang merasa Steven adalah pria gila yang baru ia temui. Bagaimana mungkin pria itu dengan mudahnya membongkar rahasia milik tuannya sendiri? Apalagi setiap tindakan Steven membuat Fuji muak melihatnya.


"Ssshh... jangan menyebutnya seperti itu, Ji. Kau tau, dia itu sangat berwibawa dan sangat menyeramkan." Wajah Melody tiba-tiba berekspresi takut saat membayangkan Steven yang menyeramkan.


"Menyeramkan apanya? Bagiku, dia hanya pria gila yang terlihat sangat konyol—"


"Kau ini bicara apa tentang Dokter Steven? Kau tidak tau tentang pria yang sedang kita bicarakan itu," potong Melody dengan wajah sedikit tegang.


"Oh... jadi maksudmu, aku tidak tau tentang pria gila itu. Sedangkan kau tau banyak tentangnya? Begitu?"


"Bukan begitu juga," ucap Melody terlihat lemas menghilangkan wajah tegangnya.


"Lalu?" tanya Fuji yang mulai merasa penasaran saat melihat wajah sahabatnya itu berubah-ubah ekspresi saat membicarakan tentang Steven.


Melody mengangkat wajahnya menatap Fuji dengan serius. Lalu dengan gerakan cepat ia membisikkan sesuatu ke telinga Fuji. "Steven itu seorang psikopat," bisiknya dengan memberi efek seram pada suaranya.


Sementara Fuji yang mendengarkan dengan seksama, tiba-tiba tersentak dengan mulut menganga.


"Itu tidak mungkin," ucap Fuji sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.


"Tapi kenyataannya memang begitu. Dokter Steven adalah psikopat gila yang berprofesi sebagai dokter. Jika kau berfikir dia menjengkelkan, maka itu artinya— kau masih aman. Tapi jika kau merasa dia menyenangkan, maka selamat—mungkin kau adalah target selanjutnya," tutur Melody dengan begitu dramatis.


Fuji mendengarkan dengan kening berkerut sambil berfikir. "Bagiku dia sosok yang menjengkelkan," ucapnya.


"Baguslah," singkat Melody yang seketika merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Bagaimana denganmu? Kau bilang, dia mengajakmu ke sini untuk menjadi partnernya. Bukankah itu berarti dia menyenangkan untukmu? Ah... jangan bilang, kau target Steven selanjutnya—Awhh... " rintih Fuji di akhir kalimatnya saat mendapati Melody yang mencubit lengannya.


"Sakit, tau!" ucap Fuji tidak terima.


"Makanya jangan asal bicara," sanggah Melody.


"Kau ingin bertarung denganku yah?" ucap Fuji tidak Terima diperlakukan seperti itu oleh sahabatnya.


"Oh, tidak perlu. Bisa-bisa, aku yang mati duluan di hajar Leo." Melody dengan entengnya, membawa-bawa nama Leo.


"Apa hubungannya?" tanya Fuji dengan bingung. Tapi tiba-tiba ia menggelengkan kepala sebelum berkata, "Lalu apa yang benar? Tidak mungkin kan, kalau Steven menjadikanmu partnernya hanya karena menyukaimu?" Melody yang mendengarnya, tiba-tiba melongo. Padahal Fuji hanya mengungkapkan pemikiran asal yang ternyata tepat sasaran.


"Wah... tapi tidak heran, jika jawabanmu benar." Melody mendudukkan tubuhnya dan menghadap ke arah Fuji.


"Apa? Jadi Steven benar-benar menyukaimu?"


"Yah... begitulah yang aku bisa simpulkan selama beberapa hari ini. Awalnya, dia itu sangat menyebalkan juga untukku. Tapi tiba-tiba mendadak baik dengan mengajakku seperti ini. Jadi, bisa ku tarik kesimpulan... kalau Steven memang naksir denganku," tutur Melody seraya menghempaskan rambutnya ke belakang. "Tidak heran sih, kalau psikopat itu menyukaiku. Aku ini kan seorang dokter ahli bedah yang cantik, lembut, pintar, dan disukai banyak orang. Hihihi," sambungnya dengan bangga diselingi tawa kecil.


"Ish, kau ini kepedean sekali." Fuji melempar bantal ke arah wajah Melody dengan kesal.


"Sirik? Bilang bos," balas Melody dengan senyum mengembang.


"Ah, sudahlah. Jangan bahas ini lagi. Sekarang kita bahas tentangmu saja. Bagaimana?" Melody tiba-tiba penasaran dengan kehadiran Fuji di sini. Apalagi mendapatkan fasilitas kamar yang terbilang lebih mewah dari kamar tempatnya tinggal.


"Tentangku?" Fuji memutar otaknya. Ia harus berfikir dengan cepat untuk mengalihkan pembicaraan. Atau ia harus pasrah dengan sahabatnya dan membicarakan kebenarannya.


"Katakan dengan jujur! Bagaimana kau bisa berada di sini?" tanya Melody dengan tegas seraya mengelus dagunya sendiri.


Fuji menghela nafas kasar. Sepertinya tidak ada gunanya mencari alasan. Mengungkapkan yang sebenarnya pada sahabatnya lebih baik. Setidaknya, ia sangat percaya kalau sahabatnya itu tidak akan melapor pada Ayah angkatnya. "Aku terjebak di sini," jawabnya singkat.


"Sesingkat itu?" tanya Melody melongo dengan jawaban singkat Fuji. Bagaimana mungkin, jawaban Fuji hanya sesingkat itu. Ia tidak habis pikir. Jika terjebak, kenapa itu bisa terjadi? Bagaimana dan mengapa? Bukankah banyak pertanyaan yang akan muncul dari jawaban sesingkat itu.


Sementara Fuji menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Ceritanya panjang," jawab Fuji singkat lagi dengan menghembuskan nafas berat saat mengingat kejadian hingga ia bisa berada di kapal itu.


"Kalau begitu, ceritakan selengkapnya padaku. Aku punya banyak waktu untuk mendengarnya," ungkap Melody penasaran.


"Jika kau punya waktu, maka aku yang tidak punya waktu untuk menceritakannya. Karena aku ingin pergi menemui seseorang saat ini," ucap Fuji yang tiba-tiba beranjak berdiri dari tempatnya. Ia berjalan ke luar pintu untuk menghindari pembicaraan dengan Melody. Lagipula ia baru ingat kalau harus mengambil barangnya yang ketinggalan di kamar Alan.


Melihat Fuji yang tiba-tiba beranjak, membuat Melody dengan cepat mencekal lengannya. "Kau mau kemana?" tanyanya.


"Aku harus pergi ke kamar pemilik kapal ini," jawab Fuji.


"Untuk apa?" tanya Melody lagi.


"Untuk menyatakan cinta. Sudah sana! Menyingkirlah... aku mau pergi dulu," ucap Fuji seraya melepaskan cekalan tangan Melody darinya. Ia dengan cepat melangkah ke arah pintu dan bersiap membukanya.


Krekk... saat pintu terbuka lebar, Fuji dikejutkan dengan seseorang yang sudah berdiri di depan pintu dengan tangan yang siap mengetuk.


"Kau?" ucap Fuji terkejut.


"Yah ini aku."


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Fuji.


"Bukankah seharusnya aku yang bertanya? Apa yang kau lakukan di kamar barumu ini? Bersama wanita itu?" tunjuk sosok di depan pintu itu ke arah belakang Fuji yang terdapat Melody.


Fuji terdiam seraya menatap ke arah yang ditunjuk. Ia dan Melody seolah berbicara lewat batin dengan mata yang berkedip-kedip. Hingga akhirnya ia tiba-tiba menyingkir dari pintu dan membiarkan sosok itu masuk ke dalam kamarnya.


.


.


.


.


.


.