Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 11 : ENOAC (Gairah Si Terong)



Blam! Suara pintu dari luar yang sangat kencang itu, membuat mata seorang wanita yang tengah berendam di dalam bathtub terbuka.


Fuji meregangkan tubuhnya dan segera mendudukkan dirinya. "Akh... apakah pemilik kamar ini yang datang? Aku harap dia bisa membantuku keluar dari masalahku saat ini. Siapapun dia, aku akan memohon padanya. Aku sudah tidak kuat lagi. Air dingin ini hanya sedikit membantuku," monolognya.


Wajah Fuji terlihat memerah karena kabut gairah. Ia berusaha berdiri dengan sekuat tenaga. "Sial! Sepertinya pria sialan itu ingin memberi dosis tinggi untuk kekasihnya," gerutunya saat mengingat kejadian saat ia salah meminum minumannya. Dan akhirnya menjerumuskannya dalam masalah karena cairan perangsang yang seharusnya tidak tertuju padanya.


Dengan langkah sangat pelan, Fuji berjalan ke pintu bathroom yang mewah ini. Ia merasa kalau seseorang sudah berada di luar sana. Penampilannya masih polos. Ia tidak berfikir untuk menutup tubuh polosnya karena merasa sangat gerah. Dan tanpa pikir panjang, ia membuka pintu bathroom dengan lebar saat sudah berada di depan pintu itu.


Krekkk! "Ahh... " desah Fuji sedikit lirih saat melihat seorang pria dengan tubuh kekar dan juga tanpa pakaian, ternyata berdiri di depannya.


"Sial! Gairahku bertambah karena melihat pria ini," batinnya yang merasa tambah basah di bagian intinya. Ingin sekali ia mendesah lebih kencang dari ini.


Pria itu adalah Alan yang saat ini, juga menatap Fuji dengan intens. "Ka—kau," ucapnya terbata-bata yang malah membuat otak Fuji melalang buana membayangkan sebuah adegan erotis.


"Suara pria ini begitu serak dan wanginya... begitu maskulin. Ah... tubuhnya bahkan sangat kekar. Oh, Tuhan... apakah kau mengirimkan pangeran berkuda putih untuk menolongku? Gairahku semakin memuncak melihatnya," batin Fuji menatap Alan dengan wajah berkabut gairah.


Jantung Fuji berdetak semakin kencang dengan inti yang semakin basah. Sama halnya dengan Alan yang kejantanan sudah berdiri siap berperang.


Saat mata Alan menatap ke bawah tubuhnya, Fuji mengikuti pandangannya juga. "Sial! Si terong malah bangun," ucap Alan yang membuat Fuji segera berjongkok di depannya.


"Lupakan harga diri. Saat ini, aku hanya menginginkan benda panjang milik pria itu. Persetan dengan kehormatan yang selama ini ku jaga! Ini semua gara-gara cairan afrodisiak sialan ini," ucap Fuji dalam hati karena sedang berperang dengan pikiran dan hatinya.


Sementara Alan yang melihat Fuji berjongkok di depannya, segera berjalan mundur. "Siapa kau?! Kenapa bisa masuk ke kamarku?!" pekik Alan dengan cepat.


"Tolong aku... " lirih Fuji menatap Alan dengan mata berkaca-kaca bercampur gairah.


"Aku tidak kuat," tambahnya.


"Apa maksudmu? Pergi dari kamarku! Wanita sialan! Kamu pasti ingin merangkak naik ke atas ranjangku dengan berpenampilan seperti ini di dalam kamarku kan? Cih... dasar, wanita rendahan!" cerca Alan menatap sinis Fuji yang masih berjongkok. Ia mengesampingkan gairah yang sebenarnya juga ia rasakan hanya karena melihat tubuh polos Fuji. Menganggap Fuji sama dengan wanita yang selalu gencar untuk mendekatinya meski hatinya berkata lain.


"Tidak. Tolong jangan salah paham. Aku hanya butuh bantuan darimu. Bukan berniat hal buruk. Tolong bantu aku. Aku sudah tidak tahan," pinta Fuji menatap sendu pada Alan. Bahkan air matanya sudah mulai menetes.


Melihat tatapan mata Fuji, membuat Alan merasa sesuatu yang berbeda. Ia merasa ada sebuah magnet yang membuatnya tertarik dengan wanita itu. Bahkan ia perlahan berjalan ke depan mendekati Fuji.


"Jangan membuatku kasihan dengan menangis di depanku," ucap Alan yang berhasil menghentikan tangisan Fuji.


"Katakan, apa yang bisa kulakukan untuk membantumu," tambah Alan.


Fuji mendongak menatap Alan. Lantas ia berdiri dan mensejajarkan tubuhnya ke depan tubuh kekar Alan yang lebih tinggi darinya.


"Aku butuh sentuhanmu. Bisakah kau membantuku?" ucap Fuji seraya bergerak maju tanpa menunggu jawaban dari Alan. Ia bahkan mengalungkan tangannya ke leher Alan.


Sedangkan Alan, seperti tersengat sesuatu saat merasakan tubuh polos Fuji, kini menempel di tubuhnya yang juga polos tanpa pakaian. Ia menatap mata indah milih wanita cantik di depannya itu.


Untuk pertama kalinya, Alan tidak mampu menghempaskan tubuh seorang wanita yang menempel di tubuhnya. Bahkan ia merasa ingin merengkuhnya. Ia benar-benar terhipnotis oleh pesona wanita di depannya. Dan tanpa sadar, tangan Alan juga bergerak memeluk pinggang wanita itu.


Fuji yang merasakan sebuah tangan kekar memeluk pinggangnya, seketika memajukan tubuhnya semakin dalam. Ia menggerakkan wajahnya dan sedikit berjinjit. Hingga jarak wajahnya dengan Alan hanya berjarak satu senti meter saja.


Tanpa meminta persetujuan, Fuji segera mencium bibir yang sudah sangat ia idamkan sedari tadi. Tapi ia hanya menempelkan bibirnya. Karena sesungguhnya, ia tidak tau cara berciuman yang benar.


Alan yang mendapat serangan seperti itu, membeku di tempatnya. Namun itu hanya sebentar karena ia merasa ada yang kurang dalam penyatuan bibirnya dengan Fuji. Ia menginginkan lebih dari ini. Sedangkan Fuji hanya diam dengan penyatuan bibir mereka.


Alan melepaskan bibirnya karena merasa tidak puas dan lantas berkata, "Apakah kau tidak bisa berciuman dengan benar?"


Mendengar jawaban itu, Alan menghela nafas dengan kasar. Tapi entah kenapa, jawab dari Fuji membuatnya ingin mengetahui lebih dalam tentang wanita itu.


"Kalau begitu lepaskan aku! Aku tidak punya banyak waktu dengan wanita amatiran seperti dirimu!" sarkas Alan meremehkan wanita itu. Ia segera melepaskan diri dari Fuji dan berjalan mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai. Namun tangannya berhenti saat menemukan gaun pengantin di balik pakaiannya.


Baru saja Alan ingin menyentuh gaun itu, tangannya lebih dulu di tarik ke atas dan tubuhnya di jatuhkan di atas ranjang. Ia tentu saja terkejut dengan gerakan cepat itu. Dan lebih tidak menyangka, kalau yang melakukan itu adalah wanita yang tadi minta tolong untuk disentuh olehnya.


Fuji merasakan sengatan saat mendengar ucapan menusuk dari pria yang ia tidak kenal itu. Baginya, diremehkan bukanlah dirinya. Ia tidak suka diremehkan. Bahkan ia mampu membuat Ayumi pingsan hanya karena sudah meremehkan dirinya.


Dengan emosi bercampur gairah, Fuji berjalan ke arah Alan yang sedang memunguti pakaiannya. Ia akan membuktikan siapa dirinya yang sebenarnya pada Alan.


Tangan Fuji dengan cepat menarik tangan Alan hingga berdiri dan mendorong tubuh Alan ke ranjang. Ia bisa melihat keterkejutan di mata Alan. Tapi ia mengabaikannya dan memilih menaiki tubuh kekar itu. Tangannya mulai bergerak menyentuh pusaka Alan. Mengelusnya hingga membuat Alan mengeluarkan suara *******.


Fuji mulai mencium rahang kokoh milik pria yang sebenarnya tidak ia kenal itu. Ia sedikit mengarahkan bibirnya ke telinga Alan. Menjilatinya agar mampu memberikan sensasi menggoda. Dan lantas berbisik, "Aku masih perawan. Bukankah seharusnya, pria lebih dominan jika menyangkut soal ranjang? Apakah kau benar-benar akan pergi meninggalkanku tanpa ingin mencicipi nikmatnya rasa perawan?"


Deg! Jantung Alan berdetak semakin kencang. Belum reda sensasi kenikmatan yang di berikan tangan Fuji, kini ia malah mendapatkan serangan mematikan di telinganya.


Ucapan Fuji benar-benar berhasil memantik api gairah dalam tubuh Alan. Dengan gerakan cepat, ia segera menarik tangan Fuji dan menukar posisi mereka.


Kini Alan berada di atas Fuji. Ia menatap wajah cantik yang di miliki Fuji. Sangat cantik, hingga membuatnya ingin memakan habis wanita ini.


Alan memajukan wajahnya dan mulai menyesap bibir merah yang sebenarnya sedari tadi sangat ingin ia rasakan. "Aku tidak akan melepaskanmu," ucap Alan di sela ciumannya.


"Ahh... yah... jangan lepaskan aku," balas Fuji yang tidak menyadari ucapannya sendiri. Karena saat ini, otaknya sedang di kuasai oleh cairan afrodisiak sialan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.