Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 31: ENOAC



"Al... " panggil Steven setelah membuka pintu ruang jacuzzi. Ia bisa melihat wajah Alan yang tampak memerah, duduk di kursi panjang. "Apakah mereka berdua habis bertengkar setelah bercinta? Ha?" batinnya.


"Mau apa kau ke sini?" tanya Alan tajam. Sudah cukup Fuji membuatnya kesal sedari tadi. Sekarang jangan sampai ia membunuh sahabatnya sendiri karena juga membuatnya kesal.


"Khm... boleh aku masuk dulu?" tanya Steven dengan wajah bodohnya.


"Bukankah kau dari tadi sudah masuk, bodoh! Keluar saja jika kau hanya ingin membuatku naik darah. Aku tidak segan membunuhmu meski kau sahabat sekaligus sepupuku," ungkap Alan tegas dengan tatapan pembunuh.


Gleg! Steven menelan saliva. Sepertinya Alan sedang berada dalam mode marah besar. Karena tidak seperti biasanya, Alan menyebutnya sepupu. "Bisa-bisa, aku akan dijadikan kambing guling. Jika aku beritahu kalau wanita itu mengetahui penyakitnya karena mulutku," batinnya sambil. memukul pelan bibirnya.


"Kenapa kau diam! Keluar sana!" bentak Alan dengan tangan yang menunjuk ke arah pintu.


"I—iya... iya, aku keluar. Ka—u tenangkan diri dulu. Setelah it—u, kita bi—bicara lagi," jawab Steven gugup dan segera keluar dari ruangan yang menurutnya sudah seperti kandang singa.


Sementara Alan meraup wajahnya kasar seraya berdiri. Ia mengambil pakaian yang memang sudah di sediakan Eiden untuknya di ruangan jacuzzi. Sekarang perasaannya sangat kesal. Tapi ia harus tetap menemui Fuji. Jangan sampai wanita itu kabur dan ia kehilangan wanita itu setelah membuatnya meradang dalam kemarahan.


Alan dengan cepat beranjak keluar dan menuju ke arah kamarnya. Setelah sampai di kamar, ia tanpa mengetuk, langsung bergegas memutar knop pintu dan membuka pintu. Berjalan masuk ke dalam dengan gerakan tergesa. Namun saat melihat seorang wanita tampak tertidur dengan damai di ranjangnya, ia memelankan langkahnya. Berjalan ke sisi kiri ranjang, hingga berhadapan dengan wajah Fuji yang ternyata tertidur dengan di balut selimut.


Alan merasa kekesalannya sirna seketika saat melihat wajah damai wanita yang membuatnya memerah hari ini sedang tertidur. Ia menghembuskan nafas seraya mengarahkan tangan kanannya menyentuh rambut Fuji. Sedikit berjongkok di depan wajah Fuji. Ia mengelus rambut Fuji dan menatapnya dengan penuh perasaan. "Kau sungguh wanita ajaib. Membuatku kesal dalam sekejap dan mampu membuatku tenang seketika. Hah, tapi di sisi lain, aku mulai merasa jika kau sama dengan wanita di luar sana yang menjajakan tubuhnya setelah—" gumamnya berhenti saat melihat dari arah pintu, ada Eiden berdiri dengan membungkuk hormat.


"Tuan, boleh saya bicara dengan Anda?" ucap Eiden di seberang sana. Alan yang melihatnya, hanya menggerakkan salah satu tangannya untuk memberi kode agar Eiden menunggunya di sofa.


Eiden yang mengerti hal itu, segera menutup rapat pintu dan berjalan ke sofa sambil memperhatikan sikap tuannya yang masih mengelus rambut Fuji.


Alan mendekatkan wajahnya ke arah kening Fuji tanpa mempedulikan tatapan keterangan milik Eiden padanya. Ia mengecup dalam kening Fuji lembut seraya berucap dalam batinnya untuk melanjutkan gumamnya tadi. "Yah, setelah kau berkata bahwa kejadian yang kita lakukan semalam hanyalah kesalahan. Bukankah itu berarti, kau tidak menganggapku sama sekali. Ck, aku akan bicara dengan Eiden dulu. Setelah itu, aku akan menghukummu lagi. Karena aku belum puas." Alan memang lebih memilih melanjutkan gumamnya dalam hati, karena ia tidak ingin Eiden mendengar ucapan konyolnya. Apalagi ia tau jika Eiden memiliki pendengaran yang terlatih.


Alan melepaskan kecupannya, seraya beranjak dari tempatnya. Ia berjalan ke araf sofa yang sudah di duduki Eiden. Sejujurnya ia akan mengusir Eiden tadi saat masuk ke dalam kamarnya. Tapi karena melihat wajah serius Eiden yang menyiratkan sesuatu yang serius, ia akhirnya mengijinkan Eiden masuk.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Alan cepat. Ia tidak ingin berbasa-basi, apalagi saat ini ia merasa membutuhkan waktu untuk berbaring dan tertidur di samping wanita yang saat ini tertidur di ranjangnya.


"Saya ingin menyampaikan hal penting, Tuan. Tapi sebelum itu, apakah tidak masalah jika saya menyampaikan berita ini di sini?" tutur Eiden sedikit ragu dengan mata yang melirik sekilas pada wanita di bawah selimut.


"Jangan berani meliriknya, Eid. Sebaiknya kau tidak membuang waktuku. Aku juga ingin tidur saat ini. Jadi katakan, berita penting apa yang membawamu sampai ke sini?" Alan mengerutkan alisnya menatap tajam bawahan sekaligus sahabatnya itu.


"Huh, saya anggap Anda tidak tidak mempermasalahkan saya mengatakan ini di kamar ini. Dimana tidak hanya ada kita berdua di sini," ucap Eiden lagi dengan menghembuskan nafas.


"Duduklah lagi, Al. Maaf, jika aku membuang waktumu." Eiden menghilangkan ke formalan antara dirinya dan Alan setelah merasa kalau Alan sudah sangat tidak sabar untuk mengusirnya.


Alan yang tadinya akan beranjak pergi ke ranjang, akhirnya mengurungkan niatnya dan duduk di sofa kembali. "Jika kau mengatakan hal yang tidak penting, jangan salahkan aku jika kau nanti akan ku kirim ke Jepang kembali untuk mengurus perusahan di sana, setelah kita sampai ke Jakarta!" ancam Alan.


Eiden yang memang sebelas dua belas dengan sifat datar Alan, hanya menimpali dengan senyuman kecil. Meski sebenarnya ia sedikit takut dengan ancaman itu. Bagaimanapun, Alan yang paling tau rahasia dan ketakutannya saat ini.


"Saya hanya ingin mengatakan kalau pelayaran kita menuju Bangkok, sepertinya akan sedikit terkendala. Mungkin kita akan sampai ke bangkok tiga hari lagi. Dan di sana, kita tidak bisa menghabiskan waktu hanya dalam waktu dua hari saja."


"Maksudnya? Katakan yang lebih detail, Eid. Jangan terlalu bertele-tele," ucap Alan setelah mendengar ungkapan Eiden yang sejenak berhenti untuk mendapatkan responnya.


"Perjalanan kita di Bangkok tiga hari kedepan, kemungkinan akan mengalami serangan dadakan yang tidak bisa kita taksir kapan—"


"Bagaimana mungkin?!" pekik Alan terkejut dan memotong ucapan Eiden. Ia menegaskan kembali tubuhnya yang duduk di sofa, seraya menatap tajam dan serius ke arah Eiden untuk meminta penjelasan lebih.


"Okey, lanjutkan."


"Serangan dadakan ini tidak bisa kita taksir kapan akan terjadi. Jadi kemungkinan jika kita berhasil menghalau serangan tersebut, kita kemungkinan akan menghabiskan waktu di Bangkok selama beberapa malam untuk memulihkan keadaan di sana," ucap Eiden dengan datar namun menyiratkan sedikit kekhawatiran. Dan Alan tau, apa yang sedang ada dalam benak Eiden.


"Siapa dalangnya?" tanya Alan datar. Ia sebenarnya sudah bisa menebak siapa musuh yang berani melawannya dalam keadaan di tengah laut seperti ini. Ini memang keadaan yang sangat menguntungkan musuh untuk melawannya. Dan itulah juga yang menjadi alasan kenapa ia menentang pelayaran ini sebelumnya.


"Dia—"


.


.


.


.


.