Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 46 : ENOAC



"Penyerangan perkenalan?" gumam Melody seraya melanjutkan kegiatannya menangani korban yang mendapat serangan.


"Hm... Melody... " panggil Steven membuat Melody langsung menghadap ke arah Steven seraya menaikkan alisnya seolah bertanya.


"Untuk apa kau berada di kamar wanita itu?" tanya Steven yang mengungkapkan keinginannya yang sedari tadi ia pendam saat menemukan sosok yang ia cari berada di kamar wanita yang baru ia kenal sebagai wanitanya Alan..


Mendengar pertanyaan itu, membuat Melody mengerutkan keningnya. Dalam hati ia berkata, "Apakah pria psikopat ini penasaran dengan apa yang kulakukan di kamar Fuji. Ah... dia mengenal Fuji... mungkinkah aku bisa mengorek informasi keberadaan Fuji darinya? Apalagi sedari tadi aku bertanya pada Fuji, selalu saja ada kendala."


"Kenapa tidak menjawab dan malah melamun?" tanya Steven membuat perhatian Melody kembali pada ucapan Steven.


"Oh, maaf. Aku hanya tidak menyangka kalau dokter seperti Anda, sangat penasaran dengan keberadaanku di kamar itu. Sampai repot-repot bertanya seperti ini," ucap Melody seraya tersenyum tipis.


Steven mendelik mendengar ucapan Melody. Tapi ia merasa tidak harus tersinggung. Karena memang kenyataannya, ia penasaran dengan hal itu. Sambil membalut kasa pada luka yang sudah ia jahit, Steven mengalihkan tatapannya dari Melody dan kembali Fokus. "Aku hanya bertanya. Apa salahnya bertanya? Apalagi aku melihat kau sangat akrab dengan wanita itu. Mungkinkah kalian memang kenal?" tuturnya tanpa berniat kembali menatap Melody. Bahkan ia kembali melangkah ke pasien yang lainnya setelah selesai membalut kasa pada luka pasien di depannya.


"Kenapa kau bilang aku mengenalnya? Tidak semua yang kau pikirkan itu, benar—"


Takkk! Steven tiba-tiba menghentakkan pisau bedah yang ia ambil di atas nakas hingga membuat ucapan Melody terhenti. Bahkan jantung Melody berdetak kencang saat melihat Steven mulai duduk di samping pasien dengan pisau bedah yang diketukan. "Bisakah kau jawab saja pertanyaanku tanpa harus melantur kemana-mana?" ucap Steven sedikit terdengar mencekam di telinga Melody.


Meski Steven tidak menatapnya, tapi ia sangat yakin kalau tatapan Steven pasti sangat tajam. Melody menghela nafas melihat tingkah Steven yang tiba-tiba memutar-mutar pisau bedah saat berada di samping pasien yang tengah tertidur dengan luka ditusukan di perut. Ia sedikit takut kalau saja Steven tiba-tiba melempar pisau itu dan menjadikannya target yang akan dicincang jika terlalu lama membuat Steven kesal terlalu lama menjawab rasa penasaran Steven.


Meski Melody tau rahasia besar Steven, ia tetap berusaha bungkam seolah tidak tau apa apa. Tapi masih bisakah ia tetap bungkam, saat melihat Steven bertingkah seperti psikopat secara tiba-tiba? Melihat Steven mencincang korbannya secara tidak sengaja saja, membuat Melody merasa sangat mual. Apalagi harus melihat secara langsung dengan jarak sedekat ini.


"Aku hanya sedang menyapa teman lama," jawab Melody yang memilih jujur, meski?mungkin selanjutnya ia akan membumbui dengan sedikit kebohongan. Bukankah setiap makanan butuh penyedap rasa seperti micin? Maka kejujuran juga sama bukan? Itulah prinsipnya yang selalu ia tanam.


Setelah mengucapkan itu, Melody melihat Steven yang tiba-tiba berhenti menggerakkan tangan. Dan kini, ia bisa melihat Steven menatapnya tajam dan dingin.


"Teman lama?" ucapnya singkat.


"Ya... teman lama yang jarang bertemu. Apalagi aku juga sedikit terkejut dengan kehadirannya di sini. Hm... apa kau tau, kenapa dia bisa berada di sini?" tanya Melody yang sekalian mengorek informasi keberadaan Fuji dari Steven. Apalagi ia sedikit curiga melihat pemilik kapal menyempatkan waktu berduaan di kamar dengan Fuji.


Steven kembali melanjutkan pekerjaannya setelah mendapatkan jawaban. Tapi ia tetap mendengar pertanyaan Melody. Hingga ia berkata, "Alan yang menempatkan wanita itu di sini. Aku juga tidak tau, kenapa wanita itu bisa tiba-tiba dekat dengan Alan."


Melody sedikit terkejut karena jawaban Steven sama dengan kecurigaannya. Ia menarik nafas dalam sebelum melanjutkan pekerjaannya. Apalagi melihat Steven yang kembali fokus dan diam setelah menjawab pertanyaannya. Mungkin ia akan memikirkan hal lain tentang Fuji nanti. Karena saat ini, ia harus menangani tiga pasien lagi dari ketujuh pasien yang merupakan pengawal di kapal itu.


.


.


.


.


.


.


"Kenapa kau memanggilku? Kau tau kan kita di mana? Bersikaplah tidak mengenalku, Rex. Kau bisa membuat orang curiga denganku," ucap Stella pada pria yang ia sebut Rex.


"Aku hanya ingin bertanya tentang tugasmu. Apakah sudah selesai?" tanya Rex.


"Menyingkirlah... kau tidak perlu khawatir, aku akan berkhianat. Aku tidak akan melakukan itu. Sejauh ini, aku menjalankan tugasku dengan baik kan? Jadi berhentilah mengintaiku," jawab Stella sambil menyilangkan tangan di depan dada.


Saat ini Stella memang berada di belakang kapal yang sangat jarang ada orang. Bahkan ia sudah menebak kalau Rex akan menyusulnya. Itulah yang ia inginkan. Sengaja berada di ruang yang jauh dari pantauan orang yang akan curiga dengan percakapannya. Ia sedikit risih melihat tatapan mengintai dari Rex hingga ia memutuskan untuk berbicara secara langsung.


Stella menatap tajam ke arah Rex. Tidak serta merta ia memilih belakang kapal untuk berkomunikasi secara bebas pada Rex. Ia sangat tau kalau kapal milik Alan sangat minim CCTV, karena ia sudah menghafal denah kapal sebelum berada di sini. Hanya ruangan tertentu yang memiliki CCTV. Tapi tak ada yang tau kalau dinding punya telinga kan?


"Baiklah, Stella. Aku akan berhenti mengintaimu. Tapi kau harus mulai waspada karena penyerangan pertama sudah diluncurkan," tutur Rex yang seketika membuat wajah Stella memucat.


"Penyerangan pertama? Kenapa aku tidak tau?" gumam Stella yang masih di dengar oleh Rex.


"Entahlah... mungkin mereka berusaha menyembunyikan penyerangan itu, agar penghuni kapal tidak panik. Itu hanya analisaku saja," jawab Rex seraya berbalik. Ia merasa sudah tidak ada yang harus ia sampaikan pada Stella. Apalagi ia sudah berkata kalau tidak akan mengintai Stella lagi.


"Hm... yah itu mungkin saja." Stella melihat Rex yang berbalik, malah berhenti dan tidak melangkah. Bukankah seharusnya Rex meninggalkannya? Pembicaraan mereka sudah selesai bukan?


"Usahakan agar setiap tingkahmu tidak mencurigakan. Sejauh aku memantau dan mengintaimu, kau terlihat lebih fokus pada masalah percintaanmu ketimbang tugas kita di sini," tekan Rex menyindir Stella. "Ingatlah, tujuan sebenarnya kau bisa berada di sini. Stella!" lanjutnya seraya melangkah meninggalkan Stella yang mematung.


Ditinggalkan sendiri oleh Rex, membuat Stella kembali mengingat tujuan awalnya berada di sini. "Aku sudah melangkah sampai sejauh ini, maka aku tidak boleh mundur. Maaf Alan... tapi semua aku lakukan agar kita bisa bersama untuk selamanya," batinnya seraya meninggalkan tempatnya berdiri tadi dari arah berlawanan dengan Rex.


Tanpa mereka berdua ketahui, sebuah cahaya kerlap kerlip berada dibalik kotak-kotak yang disusun di belakang kapal itu. Entah cahaya apa itu, tapi yang pasti Stella dan Rex tidak menyadari hal itu.


.


.


.


.


.


.