Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 18 : ENOAC



Fuji membaca dengan teliti isi surat perjanjian itu. Namanya di sana hanya Fuji. Dan itupun di tulis tangan. Ia pun berinisial menuliskan namanya dengan benar meski tanpa nama keluarga ayahnya.


Setelah dipikir-pikir, surat ini baru saja di buat oleh Alan. Fuji mendengus kesal menyadari hal itu. Ia masih terus membaca poin per poin. Isi surat ini memang memiliki keuntungan untuknya. Tapi apa ini?! Pihak Alan jelas sekali mendapatkan banyak keuntungan. Dan astaga! Ingin rasanya Fuji berteriak membaca kalimat demi kalimat yang tertera di sana.


...Surat Perjanjian...


Pihak Pertama : Alan Aprilio Domenico


Pihak Kedua : Fuji Chisako


Surat perjanjian ini menyatakan beberapa hal mengenai kesepakatan kedua belah pihak terkhusus untuk pihak kedua yang telah memasuki kawasan milik pihak pertama. Dan Hal ini mengenai apa yang diharuskan untuk pihak pertama lakukan, guna bisa terbebas dari beberapa tuntutan seperti dikeluarkan secara paksa ataupun keputusan sepenuhnya di pegang oleh pihak pertama. Berikut adalah beberapa hal tersebut, antara lain:



Pihak pertama memegang penuh kuasa untuk surat perjanjian ini.


Pihak kedua mengikuti semua kemauan pihak pertama, terutama segala kebutuhannya.


Pihak kedua harus bersikap mesra pada pihak pertama. Terutama jika ada pihak lain yang melihat.


Pihak kedua selalu berada di samping pihak pertama. Kecuali sudah mendapatkan izin.


Pihak pertama akan memberikan tunjangan sebanyak USD 500 juta sesuai harga pembelian kapal milik pihak pertama.


Perjanjian ini berlaku selama pelayaran kapal yang berkemungkinan hingga 11 malam atau lebih.


Adapun perubahannya tergantung pihak pertama.



Konsekuensi jika melanggar perjanjian ini adalah sesuai poin awal dan penjelasan awal surat ini dibuat. Demikian surat ini dibuat untuk kenyamanan bersama dan diputuskan dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan.


...Tertanda...


Pihak pertama Pihak kedua


Alan Aprilio Domenico Fuji Chisako


Siapa yang tidak emosi, jika di surat perjanjian ini dituliskan bahwa Fuji secara sadar dan tidak terpaksa untuk menyetujui perjanjian ini. Padahal kenyataannya, ia benar-benar merasa terancam hingga terpaksa karena tidak memiliki pilihan lagi. Bahkan ia sudah berkali-kali menghela nafas kasar sakin kesalnya.


Sementara Alan dengan santainya, menyerahkan pulpen yang sudah ia sediakan. "Ini pulpennya. Tanda tangan!" perintah Alan. Ia sudah mendudukkan dirinya di sofa samping Fuji. Jadi sekarang jarak mereka kembali dekat setelah Fuji menyetujui adanya surat yang ia buat.


Fuji mengambil pulpen itu. Lalu membubuhkan tanda tangannya ke kertas yang berisi surat perjanjian. "Sekarang giliranmu," ucapnya menyerahkan kembali pulpen dan surat perjanjian itu pada Alan.


Alan mengambil pulpen dan surat perjanjian yang Fuji berikan. Ia dengan cepat menandatanganinya sebagai pihak pertama. Ia tersenyum tipis melihat surat perjanjian yang sudah di genggamannya. Surat yang ia buat secepat kilat saat Fuji masih tertidur lelap.


Semuanya sudah Alan rencanakan saat terbangun dari tidurnya dan mendapati sebuah gaun pengantin dengan segala dalaman wanita. Apalagi saat ia merasa semakin tertarik hanya karena identitas wanita ini yang tidak bisa ia ketahui.


Bagaimana mungkin, seorang keturunan Domenico tidak mampu melacak identitas seseorang? Namun ia tidak menyerah. Hingga akhirnya ia mendapatkan informasi dari Rojer dan beberapa pengawal yang menjaga keamanan pintu masuk kapal, yang membuatnya mampu menganalisis keadaan dengan benar. Dari sanalah ia bisa menyimpulkan kalau Fuji ternyata adalah calon pengantin wanita Max yang kabur.


Semua hal itu membuat Alan semakin tertarik. Hingga ia merasa tidak rela jika hanya menghabiskan satu malam dengan wanita asing yang bersembunyi ditempatnya. Maka ia buatlah surat perjanjian itu untuk menjerat Fuji. Setidaknya, Alan bisa menikmati pelayaran sebelas malam yang awalnya sangat membosankan menurutnya.


Alan yang anti terhadap wanita, harus mengakui kalau ia sudah terbuai dengan kenikmatan yang ditawarkan Fuji padanya. Dan ia akan menikmati semuanya selama masih mungkin.


"Kemana rute kapal ini berlayar selama sebelas malam?" tanya Fuji memecahkan kesunyian.


"Singapura," jawab Alan singkat.


"Langsung ke sana atau singgah?" tanyanya lagi.


"Singgah di Bangkok hanya sehari atau dua hari," jawab Alan yang mulai menaikkan salah satu alisnya.


"Jangan berfikir bisa kabur saat kapal ini singgah!" tambah Alan penuh peringatan.


"Fuji Chisako?" ucap Alan tiba-tiba.


"Ha? Iya, kenapa?" tanya Fuji mengiyakan panggilan Alan.


"Kau menulis tambahan namamu di sini. Apakah Chisako adalah nama keluargamu?" tanya Alan sambil menunjuk surat perjanjian yang ia pegang.


Fuji terdiam sejenak seraya menatap kertas yang baru saja ia tanda tangani. "Aku tidak punya keluarga. Sejak kecil aku hidup di jalan," ungkap Fuji yang tidak ingin membahas soal ayahnya apalagi keluarganya. Karena baginya, ia sudah sebatang kara sejak ibunya meninggal karena dibunuh dan saat ia kabur dari mansion milik ayahnya—Eiji Orochi.


Mendengar jawaban Fuji membuat Alan sedikit tersingkap. Ia bahkan menatap Fuji semakin lekat. Lantas dalam hati berkata, "*Pantas saja identitasnya tidak berhasil aku lacak sedari tadi, ternyata dia hanya wanita sebatang kara yang tidak punya keluarga*."


"Ternyata selera Max, si tua bangka itu... seperti ini," ucap Alan asal karena sempat terdiam. Namun nada bicaranya justru terdengar mengejek.


"Memangnya kenapa?" jawab Fuji tak suka.


Alan seketika tersadar dengan ucapannya sendiri. Sebenarnya ia tidak bermaksud. Tapi sudahlah, karena ucapannya sudah terlanjur keluar dari mulutnya. Lantas ia kembali berkata, "Tidak apa. Hanya saja, aku sedikit kasihan pada Max si tua bangka itu."


"Kenapa mesti kasihan? Dia itu hanya penjahat kelamin yang tidak tau umur!" balas Fuji menggebu-gebu. Namun ia tersingkap saat Alan memajukan wajah hingga ke telinganya.


Lantas Alan berbisik, "tentu saja aku kasian padanya. Karena seleranya, sekarang malah jadi seleraku."


Blush! Fuji tidak bisa berkata-kata. Wajahnya memerah malu. Bagaimana mungkin Alan menggodanya dengan gombalan seperti itu.


"Apa apaan kau ini!" sahut Fuji seraya menjauhkan dirinya. Ia lantas berdiri dan menghadap Alan. Tangannya mengepal untuk mengontrol perasaan hatinya.


"Kenapa? Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya," jawab Alan.


Fuji terdiam. Ia memikirkan sesuatu saat jantungnya berdetak sangat kencang tidak seperti biasanya. "Ya Tuhan kalau seperti ini terus... aku akan benar-benar jatuh dalam pesona pria ini," batinnya.


"Kenapa menjauh?" tanya Alan yang menyusul ke arah Fuji berdiri.


"Jangan mendekat!" seru Fuji.


"Kenapa?" tanya Alan lagi.


"Kau membuatku susah bernafas," jawab Fuji sambil menyentuh dadanya dengan wajah memelas. Sepertinya ia harus menggunakan keahliannya di depan Alan. Agar pria itu sadar dengan siapa dia berurusan.


"Kau sesak? Sebentar... aku ambilkan air," ucap Alan sedikit panik segera mengambil air di atas meja.


"Tidak perlu!" sahut Fuji membuat Alan mengernyit heran.


"Memangnya kenapa? Bukannya kau bilang kesulitan bernafas?" tanya Alan karena heran apalagi melihat Fuji berjalan semakin dekat dengannya.


Fuji merangkul leher Alan sambil membelai mesra rahang kekar Alan. Tingkahnya ini membuat Alan membeku di tempat.


Bahkan Fuji lantas mendekatkan wajahnya hingga tepat berada di telinga Alan. "Bagaimana mungkin aku tidak kesulitan bernafas? Kalau separuh nafasku bersamamu," bisik Fuji.


Deg! Blush! Sasaran mendarat dengan mulus. Fuji berhasil membalas Alan dengan gombalan yang sama.


"Kau malu? Wajahmu memerah seperti perempuan yang malu-malu," ejek Fuji hingga membuat Alan melepaskan rangkulannya.


"Tidak. Aku hanya ingin buang air," jawab Alan asal seraya melangkah ke arah bathroom untuk menutupi ekspresinya saat ini.


Entah apa yang akan Alan lakukan di sana. Tapi sekarang, Fuji nampak tertawa bahagia. "Rasakan itu Alan Aprilio Domenico. Kau tidak tau saja, kalau Fuji Chisako Orichi memiliki prinsip untuk membalas setiap perlakuan seseorang sesuai dan setimpal. Kau baik, maka aku akan baik. Kau jahat, maka aku akan lebih jahat. Aku seharusnya memenangkan penghargaan karena membuat orang berkuasa keturunan Domenico bersikap memalukan," batinnya bersorak gembira saat mengingat wajah Alan memerah sama sepertinya tadi.


...****************...


Dokumen: