
Fuji menatap ke segala arah. Kini ia tengah duduk di kursi depan meja makan dengan wajah sedikit tidak bersemangat. Sudah tiga hari ia melakukan rutinitas yang sama. Tidur, makan, dan jalan-jalan di sekitar kapal. Dan selama tiga hari, ia tidak pernah bertegur sapa dengan Alan. Meski berjumpa, Alan seolah menghindar darinya dalam beberapa hari ini. Bahkan saat makan bersama, ia tidak melihat Alan di meja makan. Dan yang membuatnya semakin tidak suka adalah saat tidak mendapati Stella juga dalam beberapa hari ini. Mungkinkah Alan tengah menghabiskan waktu selama tiga hari ini secara penuh dengan Stella? Karena semenjak penjelasan Alan tentang Stella di kamarnya, Alan seolah menghilang dari pandangannya.
Fuji menatap banyak hidangan yang begitu menggugah selera. Ia hanya sedang berfikir, apakah makan malam kali ini akan tetap sama seperti biasanya? Kali ini ia sangat ingin berteriak menyuarakan rasa bosan yang kini ia alami selama tiga hari tidak berjumpa dengan Alan. Ia malu mengakui kalau Alan memang membawa perubahan dalam dirinya hanya dalam sehari. Tapi secara mendadak, wajah yang awalnya tampak bosan dan tidak bersemangat itu seketika berubah saat melihat rombongan Eiden, Steven, Rojer, dan para wanita datang ke arah meja makan. Memang sudah menjadi kebiasaan tiga sekawan yang merupakan Eiden, Steven, Rojer akan datang dengan partner mereka masing-masing akan makan di ruang makan. Kecuali Eiden yang tentunya tidak memiliki pasangan. Karena dalam tiga hari ini, Alan yang biasanya selalu di sampingnya, kini menghilang entah ke mana.
Tapi kali ini berbeda. Saat Fuji melihat di belakang rombongan itu, ternyata nampak Alan yang tengah berjalan dengan tegap dan gagahnya. "Lama tak melihatnya, mengapa ak merasa dia semakin mempesona. Akh... tidak! Apa yang ku pikirkan," batinnya seraya menepuk kecil kepalanya. Ia sedikit menipiskan senyum saat melihat Alan. Namun senyuman itu memudar tak kala melihat ada Stella yang ternyata berada di belakang Alan.
"Huh, sial! Wanita itu juga hadir bersamaan dengan Alan," umpatnya bergumam pelan menatap tajam ke arah Alan dan Stella secara bergantian. Tidak ada yang mendengar ucapannya karena rombongan Alan masih berjarak 10 meter darinya, kecuali Rey yang selalu berada di sampingnya dalam tiga hari ini, entah bagaimana caranya.
"Kau tidak seharusnya mengumpat seperti itu. Apakah kau tengah menunjukkan kecemburuanmu itu lewat tatapan matamu?" ucap Rey setengah berbisik membuat Fuji hanya mendengus kesal.
Fuji tidak menjawab ucapan Rey. Ia sebenarnya heran dengan keberadaan Rey yang begitu leluasa berada di sampingnya. Tapi sampai sekarangpun, pria itu seolah tak mau memberikannya jawaban. Ia memilih mengalihkan tatapannya ke arah hidangan makan malam dari pada menatap Alan dan Stella yang malah membuat darahnya mendidih.
"Selama tiga hari ini, kau nampak berbeda, Nona. Sikapmu itu menguatkan dugaanku kalau kau tengah menyimpan rasa dengan pemilik kapal ini," tambah Rey karena tidak mendapatkan respon dari Fuji. Ia tengah berdiri di samping Fuji yang duduk di kursi meja makan. Selama tiga hari, ia setia berada di samping Fuji. Dan tentunya keberadaannya di samping fuji, sudah mendapat persetujuan dari Alan. Karena sebenarnya, Alan yang memerintahkannya untuk menjaga Fuji. Awalnya ia juga heran dengan perintah Alan. Terlebih pria itu tidak ingin Fuji mengetahui kalau dirinya diperintahkan. Tapi ia tetap menjalankan perintah karena perannya sekarang adalah seorang pengawal. Apalagi perintah itu menyangkut tentang adik angkat tuannya.
"Sebaiknya kau diam, Rey. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Apalagi mendengar ocehanmu itu," jawab Fuji.
Tak lama kemudian, mereka sampai di meja makan. Fuji bisa melihat Alan mengambil tempat di ujung yang memang tersedia kursi yang selalu kosong selama tiga hari Fuji makan di meja makan panjang itu. Eiden berada di sebelah kanan Alan dan di depannya duduk Naomi. Di samping Naomi ada kakaknya dengan Rojer yang berada di depanya. Begitupun dengan Steven yang duduk di samping Rojer dengan Melody yang berada di depannya.
Sementara Fuji yang berada di samping Melody mendengus kesal saat harus berhadapan dengan Stella. Padahal kursi di depannya sudah lama kosong. Matanya dan Stella saling bersinggungan. Mereka berdua menatap tajam satu sama lain. Terlihat jelas ketidak sukaan di wajah ke dua wanita itu. Bahkan orang orang di meja makan mampu menyadari tatapan permusuhan antara Fuji dan Stella. "Tidak bisakah Rey saja yang duduk di depanku, dari pada wanita ini. Mengganggu nafsu makan saja," batinnya.
Berbeda dengan Stella yang tiba-tiba tersenyum sinis ke arah Fuji. "Aku baru menyadari kalau selama tiga hari ini, tidak duduk makan bersama di sini. Begitupun dengan Alan. Pantas saja tatapannya seperti itu padaku. Tapi, dari mana dia belajar tatapan mematikan seperti itu? Aku merasa tengah di makan hidup-hidup," batinnya saat merasa tatapan Fuji membuatnya merinding. sejujurnya ia ketakutan, namun ia menutupinya dengan senyuman. Meski sempat membalas tatapan Fuji dengan tajam, tapi ia merasa kalau lewat tatapan saja ia kalah dari wanita di depannya itu.
Melody yang menyadari hal itu, menyikut punggung tangan Fuji. "Berhentilah menatap wanita itu seperti itu. Kau lupa dengan tatapan mematikanmu itu mampu membuat seseorang merasa dicabik-cabik?" bisik Melody tepat di telinga Fuji. Ia memperingatkan Fuji saat sadar dengan sikap Fuji yang dominan karena dari dulu di latih oleh seorang Yakusa atau mafia terkuat di jepang. Namun ucapannya tidak di hiraukan Fuji. Hingga membuat Melody semakin heran, karena tidak biasanya Fuji mengabaikannya.
"Aku akan makan di kamar saja," ucap Fuji tiba-tiba setelah lama terdiam dengan pikirannya. Ia berucap seraya berdiri dari duduknya dengan tatapan yang tidak lepas dari Stella. Bahkan ia tidak sedikit pun melirik ke arah Alan yang sedari tadi memperhatikannya.
"Duduklah di sini," perintah Alan yang akhirnya angkat bicara seraya menunjuk kursi yang di duduki Naomi. Sementara Naomi yang langsung paham memilih bangkit dari duduknya, apalagi mendapat kode dari kaka iparnya untuk pindah.
"Duduklah di sebelah kananku. Aku tidak terbiasa duduk dengan wanita asing," ucap Alan memperjelas perintahnya.
Naomi sudah berada tepat di belakang Fuji. "Bisakah kau pergi ke sana segera? Aku ingi duduk di kursi agar bisa segera makan. Aku sudah sangat lapar," ketusnya seraya menggeser tubuh Fuji sedikit dan duduk di kursi yang di duduki Fuji tadi. Naomi nampak kesal karena harus pindah dari tempat duduknya. Tapi ia harus pasrah, apalagi yang memberi perintah adalah pemilik kapal. Bisa-bisa, ia akan di tendang jika menentang perintah Alan.
Fuji mulai melangkah ke kursi yang tadi di tempati Naomi. Mendudukkan tubuhnya di sana dengan Eiden yang berada di depannya. Ia menatap Alan yang tiba-tiba menautkan tangan kirinya di bawah meja. Genggaman tangan Alan membuat perasaan Fuji kali ini tidak menentu. Dalam hati ia berkata, "Dia berkata wanita asing, seolah aku adalah wanita yang sangat ia kenal. Padahal aku juga hanyalah wanita asing."
Setelah perdebatan kecil itu, mereka mulai makan dengan tenang tanpa ada sanggahan sedikitpun. Seolah mereka sudah mengerti tentang peraturan di meja makan. Bahkan Rey yang biasanya berdiri di samping Fuji, kini menghilang entah kemana. Bahkan Fuji tidak menyadari hal itu.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf kemarin gak up karena ngurus berkas sampai ketiduran pas magrib sampai rumah.