
"Egh..." erang Fuji meregangkan kedua tangannya. Ia mendudukkan dirinya di atas ranjang dengan matanya masih tertutup. Ini memang menjadi kebiasaan Fuji saat bangun. Tapi ia merasa ada yang mengganjal.
"Ahh... aku tidak bermimpi buruk seperti biasanya. Aw... tapi kenapa anuku sakit," keluh Fuji seraya membuka kedua matanya.
Alangkah terkejutnya Fuji saat menyadari situasinya saat ini. Apalagi saat matanya langsung bertatapan dengan mata abu-abu yang menatapnya tajam.
Fuji beringsut mundur. Tangannya dengan cepat menarik selimut saat menyadari tubuhnya polos tanpa pakaian. "Ternyata kejadian semalam bukan mimpi," batinnya.
"Makanlah!" perintah Alan yang duduk di sofa seraya menatap makanan yang ia taruh di atas meja dekat sofa.
"Hm... itu... " ucap Fuji ragu. Apalagi melihat Alan yang berdiri dan berjalan ke arahnya.
"Kenapa?" Alan mendudukkan dirinya di sisi ranjang.
"Aku rasa, aku kesulitan ke sana. Bisa minta tolong, bawakan makanannya kesini? Aku memang lapar," ungkap Fuji mengeratkan pegangan selimutnya.
"Kenapa bisa kesulitan? Kau tinggal berjalan ke sana. Apa susahnya? Kakimu masih lengkap," selorohnya menjawab seraya menyentuh kaki Fuji.
Fuji merasakan getaran aneh saat pria itu menyentuh kakinya. Ia mengumpat dalam hati, "kau yang membuatku tidak bisa berjalan sialan!"
"Kau mengumpatku?" tanya Alan seraya menaikkan tangannya lebih ke atas hingga ke paha Fuji.
"Hah?" beo Fuji terkejut saat Alan mengetahui isi pikirannya. Apalagi sentuhan Alan membuat sesuatu berdenyut.
"Aku tidak membaca pikiranmu. Hanya saja, ekspresimu sangat nampak." Alan menjawab kebingungan Fuji.
"Meski kakiku masih lengkap, tapi anuku masih sakit karena perbuatanmu semalam," ungkap Fuji dengan wajah memerah malu. Ia tidak menyangka akan mengungkit kejadian semalam.
"Memangnya, apa yang kulakukan semalam?" goda Alan dengan menarik senyumnya. Sungguh ia sangat menyukai moment ini. Ia sangat senang melihat wanita di depannya membahas penyatuan mereka dengan wajah malu, membuatnya ingin kembali merengkuh wanita itu.
"Kau!" ucap Fuji saat sudah merasakan tangan kekar itu menyentuh intinya. "Ah... ada apa denganku. Saat ini aku tidak dalam pengaruh obat. Tapi kenapa otakku menginginkan percintaan semalam terulang lagi?" batinnya yang mulai resah.
"Ap—apa yang ka—u lakukan?" tanya Fuji.
"Kau sudah basah?" Alan menarik selimut yang menutupi tubuh polos Fuji. Ia semakin melebarkan senyumnya saat mengetahui wanita di depannya sudah bergairah hanya karena sentuhannya.
"Itu—" wajah Fuji semakin memerah saat ketahuan sedang bergairah.
"Aku hanya ingin memeriksanya saja. Dan memberikan salep," potong Alan seraya memperlihatkan salep dari tangan kirinya.
"Lebarkan," perintah Alan.
"Tapi—"
"Tenanglah... aku benar-benar hanya ingin melihat seberapa kuat aku melukainya semalam. Sekaligus hanya ingin mengobatinya saja," potongnya lagi yang menyadari kekhawatiran wanita di depannya.
Fuji akhirnya menuruti keinginan Alan. Sementara Alan melihat dengan seksama. Tiba-tiba tangannya terhenti menyentuh inti yang basah itu. "Mandilah dulu. Setelah itu, aku akan memakaikan salepnya."
"Tidak. Biar aku saja yang memakai salep itu," sanggah Fuji seraya merampas salep yang di pegang Alan.
"Aku akan menggendongmu ke kamar mandi," ucap Alan menghiraukan sanggahan Fuji. Bahkan ia dengan cepat mengambil kembali salep yang sempat direbut Fuji. Lalu ia menggendong Fuji yang masih dalam keadaan polos.
"Bisakah kau menggunakan selimut saat menggendongku?" tanya Fuji saat merasakan kulitnya langsung bersentuhan dengan tangan kekar milik Alan.
"Aku sudah melihat semuanya semalam. Apa sekarang kau malu?" tanya Alan menaikkan satu alisnya.
"Tentu saja aku malu... " lirihnya.
"Apa aku perlu memandikan tubuhmu juga?" ucap Alan seraya menurunkan Fuji ke dalam bathtub yang sudah ia siapkan tanpa mempedulikan ucapan Fuji. Karena baginya, ia sangat menyukai wajah malu wanita itu.
"Tidak perlu. Aku bisa mandi sendiri," jawab Fuji cepat seraya menunduk dan menikmati air hangat yang menyentuh tubuhnya.
"Air hangat akan meredakan sakit dan pegal-pegalmu. Berendamlah... jika sudah, panggil saja aku untuk menggendongmu kembali. Kau masih ingat namaku kan?"
"Bagus. Kau mengingat namaku. Jadi katakan padaku, siapa namamu?"
"Fuji... namaku Fuji," ucap Fuji memperkenalkan namanya.
Alan tersenyum mendengarnya. Kemudian tangannya bergerak menyentuh pucuk kepala Fuji seraya berkata, "nama yang indah, Fuji."
Setelah mengatakan itu, Alan pergi. Ia meninggalkan Fuji yang berada di dalam bathtub dengan jantung berdetak kencang. "Ck... memalukan! Bodoh! Kenapa aku bisa seperti ini. Sial! Sikap pria itu benar-benar mematikan. Aku berharap semuanya cepat berlalu. Ah... jantungku, ada apa ini?" batinnya merutuki kebodohannya yang terbuai dengan sikap pria yang baru ia kenal. Bahkan hanya mengetahui namanya 'Al' saja.
Fuji merendamkan tubuhnya dan menikmati sensasi hangat yang memang benar membuat tubuhnya lebih membaik dari pada tadi. Perlahan senyuman terbit di bibirnya saat menyadari kalau air ini bahkan disiapkan khusus untuknya oleh Alan.
.
.
.
.
.
.
"Sebenarnya ada apa di dalam kamar Al? Aku sangat penasaran," ucap Steven di depan pintu kamar Alan.
"Bisakah kau diam? Sedari tadi kau sangat berisik. Atau kau ingin merasakan tinjuku lagi?" Eiden menatap Steven penuh ancaman.
Steven pun menciut. Ia sudah mendapatkan pukulan di pipi kirinya hanya karena mengejek Eiden saat di ruang gym. Dia tidak ingin melakukan lagi.
"Aku hanya penasaran. Santai saja, Eid. Aku hanya curiga kalau saja ada wanita di dalam sana yang mencoba disembunyikan Alan," ucap Steven.
"Ups... kuharap kau tidak panas saat aku mengatakan ini. Jangan cemburu... lagipula ucapanku belum pasti kebenarannya," ejek Steven lagi yang seolah lupa jika sempat menciut ketakutan dengan ancaman Eiden.
Eiden menghela nafas kasar. Berdebat dengan Steven tidak ada gunanya. Yang ada hanya menguras emosinya. Padahal ia sedari tadi memang santai menyikapi sikap tuannya yang baru keluar dari kamar dan hanya meminta padanya sarapan dua porsi.
Tapi keberadaan Steven sepertinya memang pemicu emosinya. Meski apa yang diucapkan Steven hanya bualan untuk mengejeknya, tetap saja itu memicu emosinya. Apalagi sedari tadi ia menyadari sepasang mata yang tengah menatap dan menguping pembicaraannya.
"Dia keluar hanya meminta sarapan. Bahkan dia meminta dua porsi, Eid. Oh astaga... fix sih ini pasti ada wanita di dalam sana," sahut Steven memikirkan kembali kemungkinan yang ia pikirkan.
"Bisakah kau diam Steven?!" ucap Eiden dengan tajam. "Aku tidak akan berfikir panjang untuk memotong lidahmu itu, jika masih bicara sembarangan!"
"Maafkan aku, Eid. Oh ayolah... aku hanya bercanda," ucap Steven.
"Sebaiknya kau pergi dari sini, Steven. Tuan tidak membutuhkanmu," ucap Eiden menatap remeh ke arah Steven.
"Hei! Tentu saja Alan membutuhkanku. Jadi, aku tidak akan pergi! Aku akan menunggu Alan keluar dan memastikan keadaannya. Kau lupa siapa aku, Eiden. Aku ini dokter pribadinya. Lagipula aku di sini juga untuk memastikan dugaanku benar atau salah," tolak Steven yang membuat Eiden jengah.
Mereka berdua akhirnya memilih duduk di depan pintu kamar Alan dengan bermodalkan kursi plastik yang sudah disiapkan pengawal. Menunggu Alan keluar dan memastikan dugaan mereka. Eiden tidak lagi mempedulikan apapun yang diucapkan Steven. Karena saat ini yang ada dipikirannya malahan adalah seorang wanita cantik yang sedang mengintipnya sedari tadi di balik tembok.
.
.
.
.
.
.
.