
"Siapa dalangnya?" tanya Alan datar. Ia sebenarnya sudah bisa menebak siapa musuh yang berani melawannya dalam keadaan di tengah laut seperti ini. Ini memang keadaan yang sangat menguntungkan musuh untuk melawannya. Dan itulah juga yang menjadi alasan kenapa ia menentang pelayaran ini sebelumnya.
"Dia—"
"Hachim! Hachim!" bersin Fuji di balik selimutnya yang mampu menghentikan ucapan Eiden.
Alan melirik sekilas ke arah Fuji sebelum menghela nafas dengan kasar saat menyadari keadaan Fuji. "Pergilah dulu, Eid. Siapapun dalangnya, aku yakin kita akan bisa menanganinya. Kita bicarakan lagi rencananya nanti. Biarkan aku istirahat dulu," ucap Alan beranjak dari duduknya. Ia berjalan ke arah ranjang, meninggalkan Eiden yang ikut berdiri.
"Baiklah... kita bicarakan lagi nanti," jawab Eiden menganggukkan kepalanya seraya memutar tubuhnya ke arah pintu. Namun langkahnya terhenti saat Alan kembali berkata dengan panjang lebar. "Tutup pintunya, Eid. Dan jangan menungguku untuk makan siang. Makanlah lebih dulu bersama Steven, Rojer dan lainnya. Jangan makan sendiri. Ingat itu! Dan oh iya, siapkan pelayan yang siap di depan pintu. Agar saat aku sudah bangun, kami berdua bisa langsung makan siang." Alan merebahkan tubuhnya ke ranjang seraya menatap Eiden yang masih mematung di depan pintu setelah mendengar perintahnya. Ia tersenyum miring menatap punggung Eiden, seolah tengah memikirkan sesuatu.
Sementara Eiden hanya menghela nafas mendengar perintah tuannya. Entah mengapa, ia sedikit keberatan dengan perintah makan bersama itu. Tapi ia tidak bisa membantah, karena sudah tugasnya memenuhi setiap perintah Alan sesuai dengan janjinya.
"Baiklah, sudah tidak ada lagi kan? Aku pergi," balas Eiden berbalik sebentar melihat Alan yang langsung masuk ke dalam selimut bersama Fuji.
"Hm... pergilah!" ucap Alan cepat dengan tangan yang bergerak ke nakas. Mengambil remot AC dan mengatur suhu ruangannya. Setelahnya, ia mendekatkan tubuhnya ke balik punggung Fuji. Lalu memeluk Fuji setelah melihat Eiden menutup pintu kamarnya dengan rapat.
Tangan kirinya melingkar di perut Fuji. Sedangkan tangan kanannya, ia gunakan untuk mengelus rambut Fuji yang terurai indah. Entah mengapa ia merasa sangat menyukai hal ini. "Apakah kau sudah bangun?" bisik Alan di telinga Fuji. Wajahnya ia dekatkan di ceruk leher Fuji. Menghirup aroma lavender yang membuatnya menjadi candu.
Sementara Fuji tidak menjawab pertanyaan Alan. Ia hanya diam dengan badan kaku, saat merasakan pelukan Alan. Niat hati ingin melanjutkan tidur pura-puranya, malah gagal karena gemuruh yang di ciptakan Alan lewat sentuhannya.
"Sudah, tidak usah berpura-pura tidur lagi. Aku sudah tau kau sadari tadi menguping pembicaraanku dengan Eiden," ungkap Alan seraya mengelus lembut perut Fuji. Tangannya bergerak melakukan hal itu. Hingga membuatnya sedikit berfikir sesuatu. Namun ia rasa, belum saatnya membicarakan hal itu. Apalagi kondisi mereka yang tadinya memanas karena perkelahian adu mulut di ruang jacuzzi.
Fuji yang mendengar ungkapan Alan, mendelik karena merasa ketahuan. Ia memang sedari tadi menguping. Dan ia sadar, kalau sudah ketahuan setelah mengalami bersin dadakan. Padahal jika seandainya ia tidak bersin sama sekali, Alan dan Eiden akan meneruskan ucapannya. Ia tidak akan ketahuan kalau sedang berpura-pura tidur dan ia juga pasti akan tau siapa dalang yang dimaksud Eiden. "Bersin sialan!" umpatnya dalam hati.
"Kau mendengar semuanya?" bisik Alan lagi dengan gerakan yang masih setia memberikan sentuhan pada Fuji.
Fuji tidak menjawab. Ia masih ingin meneruskan kepura-puraannya. Bukankah ia paling jago dalam berakting? Lalu kenapa ia harus menyerah hanya karena bersin. Belum tentu yang dikatakan Alan itu benar. Mungkin saja Alan hanya berusaha memancingnya agar mengungkapkan tingkahnya secara langsung. "Kau memang anak orang kaya yang terlatih dan sangat pandai menjebak, maka kau harus tahu siapa aku. Aku, Fuji Chisako tidak pernah terjebak dua kali," batinnya seraya merilekskan tubuhnya yang sempat kaku.
Fuji mulai memainkan perannya. Ia menarik nafas dalam sebelum melakukan sesuatu yang membuat Alan percaya kalau ia tidak menguping ataupun pura-pura tertidur.
Fuji tiba-tiba menyentuh dadanya sendiri. "Aahh... Al... ahh... lebih ce—ahh... " des@hnya tiba-tiba membuat Alan sedikit terperanjat di tempatnya.
Baru saja Alan akan menarik tangannya dari perut Fuji. Tapi Fuji lebih cepat menarik tangan Alan ke dadanya hingga tubuh Alan semakin rapat dengannya. "Al... " ucap Fuji dengan suara dibuat serak. Ia ingin membuat Alan menyangka kalau dirinya hanya bermimpi saja.
Alan meninggikan sedikit tubuhnya. Melihat wajah Fuji dengan mata yang masih tertutup. Sekilas Alan mengingat kejadian saat ia mengambil kesempatan menggerayangi Fuji saat masih tidur tadi pagi. "Apakah ia memimpikan percintaan kami?" gumamnya pelan saat hanya pikiran itu yang masuk dalam otaknya. Ia tentu saja percaya jika Fuji mengalami mimpi bercinta dengannya. Karena ia sudah pernah menggerayangi Fuji saat masih tidur. Dan ia mulai paham dan menarik kesimpulan jika usai Fuji bercinta dengannya, kelelahan mampu membuat Fuji tertidur nyenyak hingga melupakan sekitar.
Berbeda dengan Alan yang masih dalam pikirannya, Fuji yang masih mampu menangkap gumaman Alan, bersorak hore salam hati saat tau pikiran Alan, sesuai dengan yang ia inginkan. "Ternyata dia percaya. Ah, sebaiknya aku sudahi dramaku ini. Aku memang untuk cocok mendapatkan Piala Oscar," batinnya.
Fuji segera menyentak tubuhnya seolah kaget karena tersadar dari mimpi tidurnya. Ia terduduk hingga membuat Alan juga mengikutinya. "Egh... akh... " lenguhnya dan langsung berpura-pura seolah baru membuka mata. Mengucek kedua matanya dengan nafas yang sedikit dibuat kesulitan bernafas.
Alan yang melihat Fuji mulai tersadar dari mimpinya, segera mengambilkan air yang ada di atas nakas untuk Fuji. Karena melihat wanita itu kesulitan bernafas. "Minumlah," ucap Alan hingga membuat Fuji merasa malu sendiri.
Fuji menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. Lalu mengambil air dan meminumnya. Entah kenapa, hatinya teresa hangat mendapatkan perhatian kecil dari Alan. Padahal sekarang, ia sedang menipu Alan lewat pura-pura mimpinya.
"Udah enakan?" tanya Alan dengan kening berkerut.
"Hm," jawab Fuji singkat. Mulutnya terkunci dengan wajah yang bersemu merah. Ia seolah kehabisan kata hanya karena perhatian kecil dari Alan. Mengapa ia malah jadi salah tingkah. "Aaa... ingin sekali aku berteriak. Kenapa pria ini membuatku seperti ini," batinnya.
Alan mengambil air yang sudah diminum Fuji dan menyimpannya kembali ke tempatnya. "Tidurlah kembali. Kau pasti kelelahan," ucap Alan seraya mendorong pelan tubuh Fuji untuk tidur kembali.
Fuji yang memang merasa meleleh dengan perhatian Alan, begitu pasrah menerima perlakuan Alan. Apalagi saat Alan kembali mengelus rambutnya. Tidak taukah Alan, kalau dirinya saat ini sedang mengontrol jantungnya yang malah berdetak kencang. Saat ini ia tidak berakting, tapi sepertinya aktingnya saat ini begitu sempurna karena reaksi naturalnya.
Alan merapatkan tubuhnya memeluk Fuji setelah masuk dalam selimut. "Tidurlah dengan tenang. Jangan terlalu memikirkan percintaan kita. Aku tidak akan memintanya sekarang. Jadi istirahatlah... sepertinya kau terkena flu karena bercinta denganku di kolam tadi," tutur Alan lembut. Inilah alasan kenapa ia tidak menuruti napsunya tadi saat mengira Fuji bermimpi. Karena ia sadar kalau Fuji kemungkinan sedang flu saat mengingat wanita itu bersin-bersin.
"Maaf," lirih Fuji seraya menutup matanya kembali. Pelukan Alan benar-benar membuatnya merasa nyaman sekaligus sedikit was-was. "Akting memang berhasil. Tapi kenapa, aku merasa jika aku sudah terjebak dalam permainanku sendiri?" batinnya.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komentar. Yah, biar author sadar kalau ada yang nungguin cerita ini buat up. 🙂Dukungannya ☕🌹🍹😘