Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 49 : ENOAC (Bioskop)



"Eiden... kau dan mereka pergilah lebih dulu ke aula bioskop. Aku akan menyusul tidak lama," perintah Alan setelah selesai menyantap makanannya.


Bahkan semua orang sudah selesai makan. Mendengar perintah Alan, Eiden segera bergerak hingga semua orang juga mulai mengikuti. Mereka mulai berjalan ke aula bioskop. Orang-orang berjalan lebih dahulu meninggalkan Alan dan Fuji berdua sesuai perintah Alan.


Fuji menatap kepergian semua orang. Bahkan Stella juga ikut di sana. "Apakah kita tidak ikut mereka?" tanyanya mengalihkan tatapannya ke arah Alan.


Alan melihat ruangan sudah kosong dan hanya tersisa dirinya dan Fuji saja setelah ia memberi kode mata pada pelayan dan pengawal di sana untuk ikut meninggalkannya. "Kita akan berangkat. Tapi sebelum itu, kau harus memberiku sesuatu." Alan mengikis jarak antara dirinya dengan Fuji.


"Sesuatu apa?" tanya Fuji bingung.


"Kau harus bayar utang dulu," jawab Alan dengan santainya.


Fuji bengong mendengar jawaban Alan. Ia pun ingin menunjukkan aksi protes. "Aku merasa tidak punya utang padam—"


Cup!


"Emm... " gumam Fuji saat Alan memotong ucapannya dengan sebuah ciuman. Bahkan Alan tidak kini menyentuh tengkuknya untuk memperdalam ciuman itu.


Fuji terdiam menikmati sentuhan yang selama tiga hari ini tidak ia rasakan. Ia sadar kalau merindukan perlakuan Alan yang satu ini. Matanya bahkan perlahan tertutup, menikmati ******* Alan pada bibir ranumnya. Ia juga tidak tinggal diam. Tangannya ia lingkaran di leher Alan dan membalas ciuman itu tidak kalah buasnya.


Lama bibir mereka saling bertaut dan berbagi saliva, Fuji lebih dulu menarik diri karena merasa kehabisan nafas. Ia dengan cepat menghirup udara dengan begitu dalam seraya menepuk kecil dadanya. "Kau ingin membunuhku yah!" cecarnya saat merasa pasokan udaranya sudah terisi.


Alan menipiskan senyumnya mendengar omelan wanita yang bibirnya baru saja ia raup. "Bukankah kau juga menikmatinya," balasnya karena tidak bisa menampik rasa bahagianya saat Fuji membalas ciumannya. Ia merasa rindunya tersalurkan dengan baik.


"Sialan kau!" umpat Fuji.


"Kau mengumpatku? Aku hanya membantumu untuk membayar utangmu. Maka dari itu aku menagihnya," balas Alan.


"Ciuman ini yang kau anggap utang?" tanya Fuji yang langsung mendapat anggukan Alan. "Kapan aku berutang ciuman seperti itu padamu?" tanyanya lagi heran. Karena merasa selama tiga hari ini saja, ia tak pernah bertemu dengan Alan. Lalu bagaimana ia bisa berutang hal seperti itu?


"Kau berutang. Karena selama tiga hari ini, aku sudah membebaskanmu," jawab Alan membuat Fuji mendelik tidak suka.


"Membebaskan kau bilang!" seru Fuji seraya bangkit dari duduknya.


"Tentu saja. Kau bebas melakukan apapun selama tiga hari tanpaku kan?" jawab Alan dengan tersenyum tipis. Ia menatap Fuji yang mulai berdiri di depannya.


Sementara Fuji menatap Alan dengan intens. Ingin rasanya ia berteriak berkata tidak pada Alan. Tapi ia tidak mungkin melakukan hal itu. Bagaimana mungkin ia mengaku kalau selama tiga hari yang ia pikirkan hanya Alan.


Fuji menarik nafas dalam untuk mengontrol perasaannya. Ia kemudian menghembuskannya dengan kasar. "Sudahlah... sebaiknya kita menyusul mereka. Aku tidak ingin terlambat menonton hanya karena kehabisan nafas membayar utang," sindir Fuji seraya berbalik. Baru saja ia ingin melangkah, namun Alan lebih dulu menautkan tangannya hingga saling genggam.


"Aku tau, kau merindukanku selama tiga hari ini. Jadi jangan ragu untuk menyentuhku," bisik Alan seraya mencium tangan Fuji yang ia genggam.


Fuji menahan nafas merasakan sensasi yang baru-baru ini sering ia rasakan. Tentunya kecuali dalam tiga hari ini. Jujur ia memang merindukan semuanya. Jadi ia hanya diam tanpa ingin menimpali ucapan Alan. Kakinya mulai melangkah bersama dengan Alan di sampingnya.


Mereka berdua beranjak dari ruang makan menuju aula bioskop, tanpa menyadari kalau sedari tadi ada sosok di balik dinding yang melihat apa yang mereka berdua lakukan. Sosok itu terus menatap keduanya dengan intens. Ia mulai berbalik saat melihat Fuji dan Alan sudah pergi. "Aku tidak yakin, kalian berdua akan bisa bersama. Karena penyerangan yang akan datang nanti, juga akan menjadi menjadi boomerang untuk cinta kalian. Ck, aku bahkan tidak yakin kalau mereka saling mencintai. Meski aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, cara mereka berinteraksi. Huh, tapi ku harap kalian bisa melewati semuanya. Tentunya tidak akan mudah," batinnya seraya menyeringai meninggalkan tempat itu.


.


.


.


.


.


.


"Putar filmnya, Stev!" perintah Alan dengan tangan yang menunjuk ke arah pemutaran film. Tangan Alan dan Fuji sudah lepas saat memasuki aula. Jadi tidak ada yang melihat mereka saling menggenggam tangan, kecuali para pengawal yang tentunya sudah dibungkam oleh Alan.


"Aku akan mengambil tempat duduk yang nyaman," ucap Fuji seraya berjalan mendahului Alan untuk mencari tempat duduk. Ia juga mengambil popcorn dan minuman dari pelayan. Sementara Alan hanya melirik menatap Fuji seraya berjalan ke arah Steven dan Eiden.


"So, kita mau putar film apa?" tanya Steven yang mulai mengetik di bagian pemutaran film. Ia menolehkan kepalanya menatap di sampingnya yang berdiri Alan dan Eiden.


"Tanyakan saja pada sepupumu itu," ucap Eiden yang sepertinya masih marah dengan keputusan Alan yang mengubah rencana.


Steven melirik Alan sambil menaik turunkan kedua alisnya. Sementara Alan menghela nafas saat mendengar nada bicara Eiden yang sangat ia mengerti. Lalu ia membalas tatapan sepupunya itu. "Putar film apa saja yang menurutmu keren, Stev." Lantas ia menatap ke arah Eiden. "Aku hanya ingin menghibur mereka dengan menonton film sebelum mengatakan hal yang akan membuat mereka panik. Jadi, aku harap kalian mengerti keputusanku. Nikmatilah filmnya," tambahnya seraya menepuk pundak Eiden sebelum ia meninggalkan Eiden dan Steven yang masih di sana.


Alan berjalan naik ke deretan kursi dan berhenti tepat di kursi paling belakang. Ia bisa melihat kalau Fuji sudah duduk nyaman di sana. Bahkan pura-pura tidak melihatnya.


Berbeda dengan Alan yang sudah mencari kursinya untuk duduk yang dipastikan akan duduk di samping Fuji, Steven kali ini tengah memutar otaknya. Film apa yang ia suka dan harus ia putar kali ini. Ia menatap Eiden seolah bertanya. Namun Eiden malah membuang muka ke samping.


"Putarlah yang menurutmu bagus," saran Eiden.


Steven berfikir keras, film apa yang menurutnya bagus. Ia sedikit kesulitan saat diminta menentukan film yang bagus itu seperti apa. Karena baginya, ia hanya menyukai film cincang-cincang daging. Yang sudah pasti, itu daging manusia. Bukankah itu menakjubkan kan? Itu film yang bagus bukan? Iya sedikit menyeringai saat membayangkan film kesukaannya. Tapi seketika seringaiannya memudar. Ia baru sadar kalau film yang menurutnya bagus, tentunya itu pasti akan sangat menyeramkan bagi orang lain. Ia pun menghela nafas saat menyadari itu.


Tapi seiring ia berfikir dan mengetik di alat pemutaran film, ia tiba-tiba menatap Eiden saat menemukan sebuah film yang sepertinya bagus. "Eiden!" panggilnya.


"Hm... kau sudah menemukan film yang bagus?"


"Yah... aku sudah menemukannya," jawab Steven dengan senyuman konyol di wajahnya.


"Benarkah? Kalau begitu, katakan film apa itu? Lalu kita putar," balas Eiden menatap Steven menunggu jawaban apa yang akan keluar dari sahabat konyol yang ternyata psikopat itu.


"Film biru? Kalau aku putar Film buru, bagus tidak?" tanya Steven dengan bodohnya sambil tersenyum lebar. Hal itu membuat Eiden segera memukul kepalanya.


"Bodoh! Seharusnya Alan tidak mempercayakan sebuah film pada dokter gila sepertimu. Menyingkirlah... biar aku saja yang cari filmnya," umpat Eiden yang segera menyingkirkan Steven dari sana untuk mematikan pemutaran yang syukurnya belum sampai ke inti cerita.


"Coba kau saja yang bertindak dari tadi, Eiden. Kau membuatku berfikir keras," gerutu Steven seraya menyingkirkan dan duduk di bangku paling depan. Ia menatap layar besar di depannya sambil menunggu film apa yang akan di putar oleh Eiden.


Steven hanya duduk sendiri, karena Melody sudah lebih dulu mencari tempat duduk di belakang. Mungkin berjarak satu kursi di depan Fuji.


.


.


.


.


.


.


.