Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 50: ENOAC



Alan menatap Fuji yang sudah duduk dengan popcorn di tangan dan minuman yang di simpan di pegangan kursi. Ia berjalan ke arah Fuji dan langsung duduk di samping Fuji. Ia menatap Fuji yang fokus pada layar besar di depan yang belum menampilkan film. Ia teringat niatannya malam ini mengumpulkan mereka ke aula bioskop bukan untuk menonton film. Tapi untuk memberitahu mereka ke mana dia dan apa yang terjadi selama tiga hari ini.


Namun Alan malah merubah niatannya karena ia tidak ingin membuat Fuji yang sepertinya terlihat bosan selama tiga hari ini. Bahkan Eiden sepertinya marah karena sikapnya yang berubah. Tapi biarlah, ia masih bisa membicarakan hal penting itu nanti bukan? Bukankah mereka harus menikmati kesenangan dulu, lalu mendengarkan kabar yang tidak menyenangkan ini?


"Kau sepertinya sangat menikmati duduk di kursi paling belakang," ucap Alan yang duduk di samping Fuji.


Aula bioskop di kapal pesiar itu tidak terlalu luas. Tapi didesain seperti bioskop pada umumnya. Terkesan mewah untuk nonton sekeluarga. Lampu aula bioskop pun sudah dimatikan sedari Alan masuk. Hingga tiba-tiba layar besar di depan mereka menampilkan cuplikan film.


Alan mengalihkan tatapannya ke layar lebar di depannya. Karena merasa Fuji begitu antusias menatap layar tanpa mempedulikannya yang sudah duduk di samping gadis itu. Entah film apa yang sedang dinyalakan oleh Steven di bawah sana bersama dengan Eiden. Tapi terlihat jelas kalau pemain wanita di film itu sepertinya akan membuka baju.


Fuji yang menatap intens layar lebar itu, sampai membuka mulutnya sakin terkejut melihatnya. Matanya semakin fokus menatap kelanjutan dari film itu. Dan saat pemain wanita di film itu sudah hampir membuka baju, layar langsung berubah buram. Dan justru menampilkan film lain.


"Yasshh..." desah Fuji tidak senang. Padahal ia sangat penasaran kelanjutannya. Karena menduga film itu seperti dirinya saat berada di kamar Alan waktu itu. Ups, bukankah itu berarti film yang tadi adalah cuplikan film biru?


"Oh astaga... aku tidak pernah menonton film begituan. Tapi aku malah sudah merasakan dan melakukan adegan di film itu," batinnya seraya menggelengkan kepalanya cepat untuk menghilangkan bayangan erotis yang muncul di kepalanya.


"Film seperti apa yang sebenarnya mereka putar. Kenapa harus menampilkan iklan film ranjang seperti itu. Untung iklannya tidak sampai ke permainan inti," gumam Alan yang menganggap film singkat yang diputar Steven adalah sebuah iklan saja. Ia kembali melihat ke arah Fuji yang tengah menggelengkan kepala.


Alan menyandarkan tubuhnya ke belakang. Lalu sedikit mencondongkan wajahnya ke samping. Hingga dekat dengan telinga Fuji. "Mengapa kau menggelengkan kepala seperti itu, saat melihat filmnya sudah diputar? Apa kau tengah membayangkan adegan lanjutan dari iklan film ranjang tadi?" ucapnya yang berhasil membuat Fuji mendelik ke arahnya.


"Mana ada seperti itu," kilah Fuji seraya mengambil minumannya. "Aku hanya tidak menyangka kalau para pria di bawah sana, akan memutar film seperti itu untuk kita semua di sini. Itu sungguh menggelikan," tambahnya seraya meminum minumannya setelah memindahkan popcorn ke tangan kirinya.


Alan tersenyum tipis saat menemukan sebuah ide. Ia lantas berkata, "Jika kau ingin melihat kelanjutan iklan ranjang tadi, kita bisa menontonnya bersama di kamarmu. Nanti, setelah kita keluar dari aula bioskop ini."


"Eh... mana bisa begitu!" pekik Fuji tiba-tiba segera berhenti meminum minumannya. Bahkan orang-orang di bawah sana, kini menatap ke belakang. Hingga membuat Fuji merasa kikuk di tempatnya.


"Fokuslah pada filmnya! Atau aku tidak akan membiarkan kalian menonton film. Dan sudah pasti, aku akan mengusir kalian dari sini!" tekan Alan memerintahkan mereka yang menatap ke belakang untuk tetap menghadap ke depan. Ucapannya tentu saja langsung dipatuhi oleh mereka semua. Hingga tidak ada yang berani menengok ke belakang lagi.


Bahkan Melody yang sempat bersembunyi dari Fuji, semakin menundukkan wajahnya. Ia tau kalau Fuji tadi sempat mencarinya untuk duduk bersama. Tapi ia malah bersembunyi, karena tidak ingin mengganggu Fuji dan Alan. Bagaimanapun, ia sudah mengerti suasana saat di meja makan tadi. Baginya, mengganggu Fuji dan Alan hanya akan menambah masalahnya saja.


Sementara Fuji kini menghadap ke layar. Menatap film yang sedang diputar dengan begitu fokus. Ia mengabaikan Alan yang berada di sampingnya. Bahkan ia bisa merasa kalau kini Alan tengah merapatkan wajah ke lehernya.


"Fuji... aku lama tidak memanggilmu," gumam Alan yang bisa didengar oleh Fuji. Sebab telinga Fuji sangat dekat dengan wajah Alan.


Fuji merasa remang. Tapi sebisa mungkin, ia tetap fokus pada layar dan mengacuhkan setiap kelakuan Alan padanya.


"Sepertinya kau sangat menyukai film. Hingga mengabaikanku begini," gerutu Alan seraya menjauhkan wajahnya dari leher Fuji.


"Apakah lebih seru dari pada bertemu denganku setelah tiga hari tidak bertemu?" tanya Alan.


Ucapan Alan berhasil membuat Fuji mengalihkan tatapannya yang fokus pada layar. Padahal Fuji masih ingin menonton film aksi yang sedang diputar itu. Adegan saling hantam, perkelahian, dan aksi menegangkan lainnya, memang adalah kesukaan Fuji. Tapi mengingat selama tiga hari ini ia penasaran ke mana perginya Alan dan kenapa ia diabaikan saat tidak sengaja bertemu, membuatnya kali ini menatap Alan.


"Kau mengabaikanku selama tiga hari ini, saat kita tidak sengaja bertemu. Jadi menurutku, film itu lebih seru dari pada bertemu denganmu." Fuji menjawab seraya kembali menatap layar. Ia berfikir tidak boleh langsung mengaku kalau ia sebenarnya lebih penasaran dengan keberadaan Alan selama tiga hari ini, karena itu akan menurunkan harga dirinya dan sekaligus ia malu. Meskipun sebenarnya harga dirinya sepertinya sudah turun sejak ia menyodorkan diri hanya karena obat perangsang yang ia minum.


"Hahaha... jadi kau merasa diabaikan? Utututu... kasihan sekali," ejek Alan merasa geli dengan tingkah Fuji.


"Eh... bukan begitu yah," sergah Fuji tidak Terima diejek seperti itu.


"Lalu?"


"Aku hanya—"


"Aku mengerti, tidak perlu diteruskan." Alan memotong ucapan Fuji seraya merangkul pundak Fuji. Membawa tubuh Fuji ke dalam dekapannya. Ia mengerti, kalau Fuji pasti malu mengakui semua yang berhubungan tentangnya. Maka dari itu, ia lebih memilih menyudahi percakapan mereka.


"Lepaskan aku! Kenapa kau malah bersikap begini," ucap Fuji setengah berbisik. Sebenarnya ia sungguh tidak ingin lepas dari dekapan Alan. Apalagi saat menghirup aroma maskulin yang selama tiga hari ini ia rindukan. Tapi bagaimanapun, mereka tidak boleh bersikap romantis seperti ini. Apalagi mereka berada di ruangan yang banyak orang. Meskipun ia berada di kursi paling belakang dan penerangan juga sedikit gelap.


"Diamlah... aku tau kau merindukanku. Sama seperti aku yang merindukanmu," balas Alan lembut seraya mengikis jarak di antara mereka. Ia menaikkan pembatas kursinya dan Fuji. Mengambil minuman dan popcorn Fuji, lalu menyimpannya di pembatas kursi yang lain.


Fuji terdiam setelah mendengar ucapan lembut dari Alan. Benar yang dikatakan Alan. Ia memang merindukan Alan. Maka dari itu, ia memilih menikmati hangatnya berada di dalam dada pria yang selama tiga hari ini menghilang darinya. "Sudahlah... biarkan kali ini aku menikmati kehangatan pelukannya. Toh, aku memang merindukannya. Meskipun lebih dominan rasa kesal sih," batinnya seraya melanjutkan tatapannya menonton film di layar.


.


.


.


.


.


.


.