
"Ucapanku benar kan? Lagipula, aku menganggap kejadian semalam hanya sebuah kesalahan. Dan setelah perjanjian kita selesai—"
"Apa maksudmu kesalahan?" potong Alan memandang tidak suka. Sekarang wajah merahnya malah bercampur kekesalan setelah mendengar ucapan Fuji.
"Kenapa wajahmu seperti itu? Bukankah yang ku katakan benar? Semalam hanyalah sebuah kesalahan," ucap Fuji memperjelas.
Alan menatapnya semakin tajam. Entah kenapa ada rasa panas dalam tubuhnya. Bukan karena gairahnya yang bertambah. Tapi ini karena tidak sukanya jika wanita yang menghabiskan malam dengannya malah mengatakan semua itu kesalahan. Itu berarti, semuanya tidak berarti bagi bagi Fuji. Sedangkan Alan merasa kalau kejadian semalam adalah kenangan yang akan selalu terkenang untuknya. Bahkan ia berharap bisa turus mengulangnya dengan mengatasnamakan surat perjanjian.
"Jangan menatapku seperti itu, Al. Kau seolah ingin memakanku saja," celetuk Fuji merinding hanya dengan tatapan tajam dari netra abu-abu Alan.
"Cih, ternyata kau—"
"Aku kenapa?" ucap Fuji cepat memotong ucapan Alan karena tidak suka dengan tatapan Alan yang sepertinya meremehkannya.
Alan tersenyum sinis dan mulai memajukan kembali tubuhnya ke arah Fuji. Kini rasa kesalnya sudah bercampur gairah. Ia menatap remeh pada Fuji.
Fuji yang melihat Alan maju, memilih mundur. Meski tidak suka dengan tatapan dan senyum milik Alan, tapi Fuji merasa sedikit terancam. Ia terus mundur hingga punggungnya menyentuh pembatas kolam dan Alan sudah berhasil menghempitnya. Tidak ada jarak lagi antara mereka.
"Kau mau a—pa?" tanya Fuji sedikit gugup. Ia sebenarnya sudah tau kalau sedari tadi Alan sedang menahan gairahnya. Ia bisa melihat kabut gairah di mata Alan yang wajahnya kian memerah. Itulah sebabnya ia mengalihkan pembicaraan ke arah surat perjanjian dan kesalahan, agar kejadian yang ia anggap kesalahan, tidak terjadi lagi di kolam.
"Aku mau apa? Bukankah kau sudah tau mau ku apa?" jawab Alan memajukan bibirnya ke leher jenjang Fuji.
"Eghh... " lenguh Fuji saat bibir Alan mulai menyentuh leher jenjangnya. Bagai di sengat listrik, ia merasa kedua kakinya melemah dan lunglai.
"Jangan la—lakukan itu. Bu—bukankah aku sudah katakan kalau semalam itu kesalahan? Kenapa kau seperti ini?" ucap Fuji terbata-bata karena Alan berhasil membangkitkan hasratnya hanya dengan sentuhan bibir di leher jenjangnya.
Bukannya berhenti, Alan justru semakin menggebu-gebu. Menyesap dan menggigit leher jenjang Fuji hingga menyisakan bercak kemerahan.
"Awh, Al. Sakit tau," keluh Fuji sambil tangannya memukul pundak Alan.
Alan menghentikan aksinya. Dan langsung mendekatkan bibirnya kembali ke daun telinga Fuji. "Kau sudah tiga kali mengulang perkataanmu itu. Maka aku akan menghukummu dengan mengulang kesalahan yang kau maksud itu," bisik Alan dengan tegas dan suara serak menahan gairah. Masa bodo dengan harga dirinya saat ini. Kali ini, ia ingin membuat wanita di depannya berfikir dua kali sebelum berucap.
"Aaa tidak! Lepaskan aku!" pekik Fuji sambil memukul pundak Alan.
Alan tidak tinggal diam. Ia segera mengambil kedua tangan Fuji dan menguncinya dengan tangan kanannya.
Alan menggerakkan tangan kirinya menyentuh bibir seksual milik Fuji. Mengusapnya lembut seraya berkata, "Sepertinya aku terlalu baik padamu. Hingga kau tidak bisa menjaga mulutmu ketika berbicara. Jadi biar aku beri pelajaran pada mulutmu ini." Alan dengan cepat memajukan wajahnya dan membungkam bibir Fuji cepat.
Deg! Fuji sekarang merasa benar-benar lemas. Jantungnya berdetak kencang. Bahkan intinya sekarang sudah berdenyut menahan gairah. Haruskah ia menerima perlakuan Alan secara sadar seperti ini?
Alan menyesap dan mengeluarkan lidahnya. Memaksa bibir Fuji terbuka dan menelisik mulut Fuji dengan lidahnya. Bahkan tanpa sadar, tangan kanannya mengendur dan berpindah ke tengkuk Fuji. Ia semakin memperdalam ciumannya. Menunggu Fuji membalas ciumannya.
Sementara Fuji yang mulai terbuai, mulai mengalunkan kedua tangannya di leher milik Alan. "Persetan dengan kesalahan semalam! Sepertinya pria ini berhasil membuatku kecanduan," batinnya seraya menggerakkan bibirnya mulai membalas ciuman Alan. Ia bahkan tidak sadar kalau yang batinnya ucapkan sekarang itu hampir sama dengan batin Alan.
Tangan Alan tidak diam saja. Tangan kanannya menahan tengkuk Fuji dan tangan kirinya perlahan turun ke bawah. Ia mulai menyentuh dada Fuji. Meremas buah yang ia rasa memberikannya nutrisi sangat besar semalam.
"Egh... ahh... Al... " lirih Fuji dengan bibir yang masih bertaut dengan bibir Alan. Ia merasakan sensasi nikmat. Bahkan ia merasa intinya sudah sangat basah sekarang. Tangannya yang merangkul leher Alan, perlahan naik ke atas. Menjambak rambut Alan dengan lembut.
Alan melepaskan tautan bibirnya dan langsung menyesap bongkahan buah yang sudah tangannya keluarkan dari pembungkusnya.
Fuji semakin terbuai dan menjambak rambut Alan hingga membuat Alan semakin dalam menyesap dadanya. Ia sungguh tidak menyangka kalau kejadian yang semalam ia lakukan akan senikmat ini jika ia dalam keadaan sadar.
Alan mengerang di sela-sela cumbuannya. Merasakan terongnya sudah sangat mengeras. Tapi itu tidak membuatnya menghentikan aksinya. Bahkan satu tangannya kini meremas salah satu buah yang tidak ia makan tanpa henti hingga membuat Fuji mendesah.
"Al... " lirih Fuji dengan suara yang semakin meningkatkan gairah Alan.
Alan tidak menjawab. Tapi tangan kirinya dengan segera menarik tangan kanan Fuji yang menjambak lembut rambutnya. Ia menuntun tangan Fuji ke arah miliknya yang sudah menyembul di balik celana boxer yang ia gunakan.
"Al... ini... " Fuji merasa semakin lemas dibuatnya.
"Sentuhlah..." ucap Alan di sela-sela aksinya pada buah milik Fuji. Ia memasukkan tangan Fuji ke dalam celana boxernya. Lalu mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas pembatas kolam.
"Tapi—" ucap Fuji ragu. Apalagi saat Alan sudah mengarahkan tangannya menyentuh barang Alan. Ia bisa merasakan kalau barang itu sekarang sangat keras dan tegak. Tapi ini pertama kalinya ia menyentuh barang seperti ini secara sadar. Apakah ia sanggup?
"Jangan ragu, aku tau kalau kau juga sudah bergairah kan? Maka, mari kita bercinta. Kau puaskan aku, dan aku akan memuaskanmu... " ungkap Alan setelah melepas diri dari buah kesayangannya. Ia tau kalau Fuji ragu, tapi ia juga tidak bisa menghentikan aksinya setelah berhasil menurunkan harga dirinya.
Fuji hanya bisa menghembuskan nafas dalam sebelum melakukan apa yang dikatakan oleh Alan. Ia mulai menyentuh dan meremas barang Alan hingga Alan mengerang nikmat.
Alan kembali pada aksinya tadi yang menyesap habis buah kesayangannya. "Ternyata terongku juga menyukai tangannya," batinnya dan terus melakukan aksinya.
Mereka berdua pun mengulang kejadian semalam di dalam ruangan jacuzzi. Bahkan suara permainan mereka beradu dengan air yang mereka pakai berendam. Kolam yang seharusnya menjadi tempat rileksasi, kini menjadi tempat menyalurkan hasrat. Entah mereka akan menganggapnya kesalahan atau bukan setelah ini, tapi yang pasti mereka melupakan semua beban dan penat yang mengganggu batin mereka hanya dengan pertempuran mereka di dalam kolam ini. Benar-benar rileks luar biasa.
.
.
.
.
.
Vote senin yok ke ENOAC biar author semangat upnya. Eh jan lupa komen yang banyak, soalnya kadang lupa nulis kalau habis anuan 🤣