
Di sebuah kamar bernuansa biru, sedang duduk seorang wanita cantik dengan gaun pengantin yang melekat di tubuh indahnya. Ia adalah Fuji yang baru saja usai di dandani oleh para MUA yang di datangkan khusus untuk hari pernikahannya.
Fuji memang sangat cantik dengan rambut pirangnya yang kini disanggul bagaikan ratu bermahkotakan berlian. Tidak ada raut bahagia di wajah cantiknya. Hanya ada pandangan dingin mematikan yang kini ia layangkan pada pria paruh baya di depannya yang juga menatapnya dengan raut tak terbaca.
"Mau apa kau ke sini, Eiji?" ucap Fuji tanpa embel-embel kata 'Ayah' untuk memanggil Eiji.
"Tentu saja untuk menjemputmu pergi ke altar," jawab Eiji dengan nada tak suka. Ia merasa ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Ia tak suka putrinya memanggilnya seperti itu. Ini pertama kalinya ia mendengar putrinya memanggilnya dengan nama saja.
"Kau tak perlu repot-repot menjemputku, Eiji. Ah... aku lupa. Sekarang aku hanya ingin memanggilmu nama saja. Kau tau kenapa? Tentu saja karena bagiku, sekarang kau bukan lagi ayahku. Lagipula, aku lebih senang memanggilmu seperti itu dari pada biasanya. Kau tidak masalah kan?" sanggah Fuji dengan senyum remeh saat melihat tatapan kebingungan di wajah tua Eiji saat ia mulai membuka suara.
Eiji membeku di tempatnya. Namun hal itu hanya sebentar sebelum ia sadar saat mendengar kembali ucapan Fuji yang makin menusuknya.
"Tidak ada seorang Ayah yang menjual putrinya hanya untuk harta," ucap Fuji tersenyum kecut saat menyadari nasibnya yang tak akan pernah mendapatkan kasih sayang ayahnya. Kini ia malah dinikahkan hanya untuk sebuah harta yang ditinggalkan Alice untuknya.
"Salahmu karena terlahir sebagai perempuan. Seandainya kau seorang pria, maka kau tidak perlu memenuhi syarat menikah dulu hanya untuk mendapatkan hak atas harta peninggalan Alice. Kau bisa saja menjadi pewarisku sepenuhnya dengan mengakuisisi perusahan Orochi Group," tutur Eiji dengan tajam seraya memandang wajah Fuji yang sangat cantik. Benar-benar perpaduan antara dirinya dan juga Alice. Meski begitu, ia selalu menampik kenyataan tentang Fuji yang merupakan putri kandungnya.
"Ha-ha... kau lucu sekali, Eiji. Apakah kau pikir, aku bisa memilih untuk menjadi seperti apa saat lahir? Seharusnya kau menyalahkan dirimu sendiri yang tidak pandai membuatku terlahir sebagai pria," sarkas Fuji tertawa hambar yang malah membuat tangan Eiji mengepal.
Sejujurnya hati Fuji kembali sakit saat mendengar penuturan Eiji tentang dirinya yang terlahir sebagai perempuan. Hal ini mengingatkannya tentang kejadian dimasa lalu. Saat-saat ia melihat Alice mati di depan matanya.
"Sayang, kenapa lama sekali?" teriak Ayumi di balik pintu yang tertutup rapat.
"Ah... ternyata parasit itu juga ikut menjemputku. Sungguh, kau dan dia sangat cocok, Eiji. Sama-sama parasit—"
"Aku tidak ingin membuang waktu. Sebaliknya ikut denganku segera. Karena calon suamimu sudah menunggu di altar," putus Eiji yang langsung berbalik dan berjalan ke arah pintu tanpa menghiraukan putrinya lagi. Ia membuka pintu hingga nampak wajah Ayumi yang kesal karena menunggu terlalu lama.
"Kenapa ke sini? Seharusnya kau istirahat saja, Sayang. Kau baru saja sadar setelah pingsan. Jangan memaksakan diri untuk ikut," ucap Eiji dengan lembut pada Ayumi. Ia sudah mengetahui tentang Ayumi yang pingsan dari para pengawal dan pelayan.
Tidak ada yang berani mengatakan alasan mengapa Ayumi pingsan karena takut dengan ancaman Fuji. Apalagi para pengawal dan pelayan telah melihat bagaimana menakutkannya Fuji saat memegang katana.
"Tidak. Aku tetap akan ikut. Aku sudah sehat, kok. Aku tidak ingin melewatkan acara bahagia anak kita," balas Ayumi dengan tak kalah lembutnya.
Fuji yang mendengar kata 'anak kita' rasanya ingin sekali muntah. "Benar-benar parasit bermuka dua!" batinnya mengumpat Ayumi.
"Baiklah, Sayang. Sebaiknya kita segera pergi ke mobil yang akan membawa kita ke tempat pernikahan. Aku sudah mendapat kabar kalau Tuan Max sudah menunggu di sana," tutur Eiji seraya tersenyum lembut pada istrinya. Padahal tadi ia sungguh sangat emosi dengan tingkah Fuji. Bahkan Fuji mampu membuatnya goyah karena membayangkan wajah wanita yang dulu sangat ia cintai—Alice.
"Ayo. Aku akan berdiri di sebelahmu," ucap Ayumi.
"Iya. Dan kau! Ikuti aku," seru Eiji ke arah Fuji dengan tajam sebelum mengalihkan tatapannya ke arah beberapa pengawal.
"Kalian! Awasi wanita ini dari belakang. Jangan sampai wanita ini kabur dari acara pernikahannya," perintah Eiji dan dijawab hormat oleh para pengawal.
Fuji hanya bisa menghela nafas dengan kasar. Kini ia tak punya jalan lain untuk kabur. Ia pikir akan berhasil kabur setelah memecahkan jendela. Tapi ternyata tidak bisa juga, karena di luar mansion ini penuh dengan pengawal. Ia bahkan heran pada awalnya kenapa bisa menemukan mata-mata di balik jendelanya. Dan ternyata semuanya sudah terjawab. Mata-mata itu berasal dari Tuan Max yang hanya ingin memastikan calon pengantinnya. "Oh, Astaga... bagaimana mungkin rencanaku untuk kabur dari pernikahan ini akan berhasil jika seperti ini. Ck... Bahkan Tuan Max si bren-sek itu ikut andil mengerahkan pasukannya untuk mengawasiku. Haruskah aku menyerah saja dan menikah dengan Tuan Max? Ah... tidak!" batinnya bergejolak hingga membuat kedua alisnya menyatu karena terlalu berpikir keras.
Bahkan Fuji tidak sadar kalau ia sudah sampai di depan mobil yang akan membawanya ke tempat pernikahannya.
"Sayang, apa kita satu mobil dengan Fuji?" tanya Ayumi ragu pada Eiji. Tangannya sedikit bergetar membayangkan kejadian beberapa jam yang lalu.
"Kenapa, Sayang? Kau tidak mau?" tanya Eiji heran.
"Ah... tidak. Tentu saja aku mau. Hanya saja, saat ini aku ingin merebahkan badanku di mobil saat perjalanan nanti. Tubuhku masih terasa lemah karena sempat pingsan. Apakah tidak masalah, jika kita satu mobil? Dan biarkan Fuji sendiri saja? Aku lebih membutuhkanmu saat ini dari pada dia," pinta Ayumi dengan manja sambil mengeratkan pelukannya di punggung tangan Eiji.
"Tapi, Sayang. Fuji—"
"Kau tidak kasihan padaku, Sayang? Lagipula Fuji bisa bersama beberapa pengawal lainnya. Kita tidak perlu mengerahkan pengawal sebanyak ini untuknya. Ck, dia bukan seorang ratu yang harus dikawal sebanyak ini. Seharusnya yang diperlakukan seperti itu adalah aku. Karena aku adalah istrimu," ketus Ayumi karena Eiji yang tak mengiyakan permintaannya. Ia juga sedikit iri dengan perlakuan Eiji pada Fuji. Terlintas ucapan Fuji tadi siang yang berbangga diri seolah ratu yang sangat dijaga.
Melihat tingkah istrinya, membuat Eiji terpaksa mengiyakan keinginan istrinya itu. "Baiklah. Kita akan satu mobil. Dan Fuji akan satu mobil dengan beberapa pengawal. Kalian—" Eiji memutus ucapannya seraya menatap tajam dua pengawal di belakangnya.
"Ikut di mobil yang akan membawa Fuji ke tempat pernikahannya. Kalian berdua harus menjaganya dengan baik. Aku dan istriku akan pergi lebih dulu dengan mobil yang sama," perintah Eiji seraya memasuki mobil yang sudah ada Ayumi di sampingnya.
"Baik, Tuan." Para pengawal memberi hormat pada Eiji.
Mobil yang membawa Eiji dan Ayumi perlahan pergi, di susul datangnya mobil baru yang muncul di depan dua pengawal yang tadi diperintahkan Eiji untuk menjaga Fuji.
Pengawal satunya segera masuk ke pintu depan di samping supir. Sedangkan yang satunya membukakan Fuji pintu belakang.
"Silahkan naik, Nona." Pengawal itu bingung karena Fuji nampak melamun dan menghiraukan ucapannya.
"Nona," panggil pengawal itu sedikit menepuk punggung Fuji.
Fuji yang mendengar dan merasakan tangan seseorang menyentuh punggungnya, langsung menatap tajam orang tersebut yang merupakan pengawal milik Eiji.
Pengawal tersebut merinding dan merasa ketakutan hanya dengan tatapan dari anak tuannya itu. "Anak sama Ayah, benar-benar mirip. Mereka sama-sama menyeramkan," batinnya menilai Eiji dan Fuji. Apalagi tadi ia sudah melihat luka yang ditimbulkan Fuji pada sosok mata-mata milik Tuan Max.
"Maaf, Nona. Silahkan masuk, Nona. Kita akan segera berangkat ke tempat pernikahan Anda. Tuan dan Nyonya sudah lebih dulu berangkat dan akan menunggu Anda di sana," tuturnya yang kembali melebarkan pintu belakang mobil.
"Apa? Jadi aku berangkat sendiri?" tanya Fuji pada pengawal itu yang mendapat pembenaran.
"Iya, Nona." Fuji menatap ke kanan dan ke kiri. Tampak hanya sedikit pengawal yang menjaganya.
"Kemana pengawal yang lain?" tanya Fuji heran.
"Sebagian pengawal mengikuti mobil Tuan dan Nyonya, Nona."
Fuji seketika tersenyum tipis saat mendengar jawaban dari pengawalnya. Otak cantiknya mulai bekerja dengan baik. Lantas ia bertanya lagi, "Jadi yang menjagaku hanya kalian berdua?"
"Ada satu mobil lagi di belakang yang akan menjaga Nona. Jadi sebaiknya kita segera pergi, Nona."
Fuji masuk kedalam mobil sebelum berkata ketus, "Kau tidak bermaksud untuk duduk di sampingku kan? Aku tidak biasa duduk bersama orang rendahan sepertimu."
"Baiklah, Nona. Saya akan menjaga anda bersama pengawal yang lain dari belakang. Anda tenang saja, saya akan menaiki mobil yang lain." Sebenarnya awalnya ia memang berniat duduk di samping sang Nona yang nampak sangat cantik dengan balutan gaun pengantin. Tapi yang di ucapkan sang Nona memang benar. Ia terlalu rendah untuk duduk bersebelahan dengan seorang Tuan Putri.
"Bagus!" Fuji mulai menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan melihat pengawal itu mulai menutup pintu mobilnya.
Katakan saja Fuji memang terlihat jahat karena tingkahnya sekarang. Tapi sebenarnya, ia tidak bermaksud merendahkan seseorang. Ini semua ia lakukan sebagai cara agar bisa mempertahankan dirinya sendiri.
"Ayo... jalan," perintah Fuji dengan tegas.
Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang. Sedangkan Fuji saat ini tengah menyusun rencana pelarian yang ia harap direstui oleh Tuhan. "Dua puluh satu menit... aku harus memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin," batinnya seraya menatap jendela bergantian dengan jam tangannya.
.
.
.
.
.