Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 40 : ENOAC



"Waktumu belum cukup, Fuji. Sebelas malam belum kita lewati," bisiknya yang berhasil membuat Fuji menegang di tempatnya.


Fuji merasa aliran darahnya terhenti seketika. Namun gerakan Stella yang tiba-tiba berada di tengah-tengah mereka, membuat suasana jadi berubah. Ia perlahan mengontrol perasaannya seraya menarik nafas berat.


"Ada apa, Al? Kenapa kau menahan dia pergi. Lepaskan saja," ucap Stella seraya melepaskan tautan tangan Alan dan Fuji.


Alan menatap tajam Stella hingga membuat Stella merasa menciut. Awalnya ia sangat berani, tapi setelah melihat tatapan tidak suka Alan padanya membuatnya jadi takut.


"Kau yang seharusnya pergi. Bukan dia!" tekan Alan dengan nada perintah pada Stella.


Fuji tampak diam memperhatikan interaksi Alan dan Stella di depannya. Ia saat ini tengah berfikir kemungkinan yang akan terjadi kedepannya setelah kedatangan wanita yang mengaku sebagai kekasih Alan.


"Tapi, Al—"


"Bukankah sudah ku katakan untuk menjauh dariku? Jadi sebaiknya kau pergi! Sebelum aku melakukan kekerasan padamu!" potong Alan membuat Stella segera merangkul tangan Alan untuk membujuknya. Namun bukannya terbujuk, yang ada malah ia terhempas hingga jatuh ke lantai.


"Al..." lirih Stella menampilkan wajah sendu. Ia tidak menyangka kalau pria yang dulu mencintainya, sekarang malah berbuat kasar padanya. Padahal selama ini meski ia sudah melakukan kesalahan, tapi Alan tidak pernah berlaku kasar padanya.


"Al, kau ini kasar sekali." Fuji akhirnya angkat bicara setelah lama terdiam hanya untuk menyaksikan saja. Ia bergerak membantu Stella berdiri. Tapi niat baiknya malah ditolak mentah-mentah oleh Stella dengan menghempaskan tangannya.


"Aku tidak butuh pembelaanmu!" ketus Stella pada Fuji seraya berdiri dan kembali menatap Alan dengan sendu. Ia mulai tidak menyukai keberadaan Fuji. Sepertinya Fuji bukanlah seseorang yang bisa diajak berteman. Karena untuk pertama kalinya, ia merasa Alan berubah hanya karena keberadaan wanita itu.


Fuji yang melihatnya hanya mendengus sebal dengan sikap Stella. "Syukur-syukur, aku sudah membantunya. Ck, dasar tidak tau diri!" gerutunya pelan tak terdengar oleh Stella. Namun tidak dengan Alan yang memiliki pendengaran yang tajam. Pria itu malah menatap Fuji intens tanpa mempedulikan Stella yang sedari tadi menatapnya sendu seolah meminta perhatian.


Fuji menyadari tatapan Alan, membalas tatapan itu tak kalah tajamnya. "Entah kenapa aku merasa sangat kesal dengan pria ini," batinnya.


"Kau tau pintu keluarnya kan? Jadi sekarang pergilah!" ucap Alan beralih menatap Stella.


"Tapi, Al... dengarkan aku dulu! Aku ingin bicara berdua dengan mu!" balas Stella dengan meninggikan suaranya karena beberapa pengawal sudah mulai ingin menariknya.


"Aku rasa, tidak ada yang perlu kita bicarakan. Membiarkanmu masih berada di sini saja, itu sudah keberuntungan untukmu Jadi sebaiknya kau pergi!" ucap Alan seraya mengangkat salah satu tangannya memberi kode pada anak buahnya. "Kalian! Bawa dia keluar dari kamar ku," perintahnya seraya berbalik memunggungi Stella yang perlahan mulai di tahan oleh beberapa pengawal.


"Kau tidak bisa memperlakukan aku begini, Al! Aku perlu bicara hal penting padamu! Apakah kau tidak ingin dengar tentang Leonard?" pekik Stella yang berhasil membuat Alan mengurungkan niatnya untuk berjalan ke arah sofa.


Bahkan Fuji tersingkap di tempatnya saat mendengar nama itu disebutkan. Ia menatap Stella dengan kening berkerut. Sedari tadi ia hanya memperhatikan keadaan. Tapi kenapa semakin lama, ia merasa hubungan antara Alan dan Stella sangat rumit.


Alan membalikkan tubuhnya menatap Stella. Lalu beralih ke Fuji sebelum berkata, "Bisa kau tinggalkan kami berdua dulu? Aku harus bicara berdua dengan Stella dulu," pinta Alan lembut pada Fuji.


Sementara Fuji malah mendengus kesal mendengar permintaan Alan. Baru saja ia merasa dipertahankan, eh sekarang malah dia yang diusir. Meski terdengar lembut, tapi entah kenapa ia malah tidak suka. Kenapa ia harus diusir? Bukankah tidak masalah jika ia mendengar pembicaraan mereka? Apalagi ini menyangkut Leonard. Ia jadi penasaran dengan pembahasan itu. Kira-kira apa yang akan mereka bahas? Entahlah, tapi ia hanya bisa pasrah sambil menghela nafas kasar. "Baiklah. Lagipula sedari tadi, aku memang mau keluar. Kau saja yang menahanku," ucapnya menyindir seraya berjalan ke arah pintu.


Fuji menatap pintu yang tertutup rapat seraya mendengus. Lalu tangannya perlahan menyentuh dadanya. "Ck, ada apa denganku? Sepertinya ada yang aneh dengan hatiku. Kenapa aku merasa panas melihat Alan dan Stella? Aku tidak mungkin cemburu kan? Ah tidak! Ya kali... jatuh cinta dan cemburu dalam waktu 15 jam saja. Itu mustahil," batinnya seraya berbalik dan perlahan mengayunkan kakinya untuk melangkah pergi dari sana. "Sudahlah, sebaiknya aku tidak memikirkan hal itu. Kalaupun benar, aku sudah jatuh cinta dengan pria itu... maka aku harus segera menguburnya," tambahnya lagi dalam hati.


Fuji berjalan ke luar kapal. Ia menatap teriknya matahari di tengah lautan ini. Ada banyak pengawal yang memakai baju hitam. Bahkan ia sebenarnya sudah menyadari tatapan Rey dari jauh tengah mengawasinya. Ia berhenti di pembatas kapal. Memegangnya dengan erat seraya menatap lautan yang luas.


"Sebelas malam yah? Hah, hanya sebatas itu. Lalu kenapa aku harus mengatakan tentang kemungkinan kehamilanku? Sepertinya itu tidak perlu. Karena pria itu hanya menganggapku seperti seorang wanita jal@ng dan hanya untuk sebelas malam," gumamnya pelan. Entah kenapa, ia merasa hatinya diremas kuat saat mengatakan hal itu. Bahkan matanya sudah terasa panas dan memerah. Matanya kian berkaca. Namun ia tetap menatap birunya lautan meski ekspresinya sudah berubah sendu.


"Yah... aku harus bertahan untuk sebelas malam. Setelah itu, aku bisa bebas. Huh, kenapa aku merasa sangat sedih... " lirihnya dan tanpa ia sadari air matanya mulai menetes.


Sementara Rey yang sedari tadi memperhatikan Fuji, segera menghampiri wanita itu saat melihat gelagat aneh dan ekspresi yang jarang ia liat.


Fuji yang menyadari langkah kaki Rey, segera mengusap wajahnya kasar. Apalagi ia mulai tersadar jika sudah menangis.


"Sebenarnya, apa yang terjadi denganmu?" ucap Rey setelah berada tepat di belakang Fuji.


Fuji masih memunggungi Rey dan tak berniat berbalik. "Aku baik-baik saja selama kau tidak mengatakan apapun pada Ayah," jawabnya.


"Kita sudah hidup lama bersama. Aku tidak mudah kau bohongi dan bodohi," balas Rey.


"Aku tau itu. Maka dari itu, tetaplah diam sampai saat aku membutuhkanmu. Saat itu, tepatilah janjimu untuk membawaku kabur dari tempat ini." Fuji manarik senyum miris. Entah kenapa ia merasa enggan untuk kabur, tapi ia tidak boleh menuruti perasaannya. Ia harus kembali ke rencana awal untuk menghindari semua kemungkinan buruk yang justru menghancurkan masa depannya.


.


.


.


.


.


.


.


.