
Tok! Tok! Tok! Setelah tiga kali ketukan pintu, pengawal yang diperintahkan untuk membawa makanan dengan bantuan pelayan, segera membuka handel pintu. Setelah pintu terbuka lebar, mereka bisa melihat tuannya sedang bercumbu dengan wanita yang sebenarnya masih mereka pertanyakan.
Mereka sebenarnya tidak ingin mengganggu, namun bukankah mereka sudah diperintahkan untuk membawa makanan? Mereka saling lirik satu sama lain. Hingga salah satu dari mereka memberanikan diri untuk buka suara. "Maaf, Tuan. Ini makanan anda," ucapnya yang berhasil membuat Fuji kembali pada kesadarannya.
Fuji membuka kedua matanya seraya menatap para pelayan dan pengawal dari balik punggung Alan. "Hmmm... Al—" ucapnya tertahan karena Alan tidak membiarkannya lepas. Bahkan Alan semakin memperdalam ciumannya.
Alhasil, Fuji kesulitan bernafas. Hingga memukul punggung Alan dengan keras untuk melepaskan diri. Karena Alan tidak menghiraukan pukulannya, ia pun akhirnya memilih untuk menggigit bibir Alan hingga mengeluarkan sedikit darah.
"Akh... " ringis Alan seraya melepaskan tautan bibirnya dengan Fuji. Ia mengusap bibirnya yang sepertinya robek karena gigitan wanita itu.
"Al... lepas—ah, kau ini!" ucap Fuji setelah berhasil melepaskan diri. Ia bahkan sedikit memberi jarak agar tidak kena terkam lagi. Apalagi ia tidak ingin jika para mengawal dan pelayan melihat aksi mereka. Bagaimana kalau para bawahan itu menyebarkan informasi ini sampai ke telinga Rey? Dia tidak bisa membiarkan itu terjadi.
"Kau itu jadi wanita, kasar sekali!" keluh Alan kesal. Karena sudah beberapa kali mendapatkan tindakan tidak terduga dari wanita yang membuatnya mulai candu.
"Ish... kenapa memangnya? Kalau aku tak kasar, kau akan menerkamku bagai singa kelaparan. Lihatlah di sana! Makananku sudah datang. Aku sudah sangat lapar! Biarkan mereka membawa makanan itu ke sini," balas Fuji panjang lebar seraya menunjuk ke arah pintu yang di depannya sudah berdiri beberapa pengawal dan pelayan yang membawa makanan.
Alan menggerakkan tubuhnya menatap ke arah telunjuk Fuji. Di sana memang sudah ada beberapa orang yang ia minta membawa makanan. "Ck, mengganggu saja!" batinnya karena merasa terganggu saat sedang meneguk manisnya bibir milik Fuji.
"Segera bawa makanan itu ke sini!" perintah Alan dengan raut wajah menahan kesal seraya menunjuk ke arah meja.
Mereka yang mendengar perintah tuannya pun, segera menata makanan di atas meja. Setelah itu, mereka hendak pamit sesegera mungkin. Apalagi mereka sudah merasakan atmosfir yang tidak mengenakkan dari pandangan tuannya. Mereka sadar kalau sudah sangat mengganggu kesenangan tuannya. Karena itu mereka segera beranjak dari sana. Namun langkah mereka terhenti saat mendengar suara wanita yang bersama tuannya memanggil.
"Tunggu!" panggil Fuji.
"Ada apa lagi? Apakah makanan di depanmu ini tidak cukup? Biarkan mereka keluar," ucap Alan karena sudah merasa jengah terhadap kedatangan bawahannya yang membawa makanan.
"Ish... kau ini! Bukan karena makanannya. Tapi aku ingin mengatakan sesuatu pada mereka semua!" balas Fuji mulai tampak kesal dengan tingkah Alan. Bahkan bibirnya mengerucut ke depan.
"Lalu kenapa kau menghentikan mereka? Ingin mengatakan apa?" serbu Alan dengan pertanyaan.
"Ck, aku cuma mau bilang agar mereka menutup mata dan telinga tentang apa yang mereka lihat tadi!" jawab Fuji dengan menekan setiap ucapannya. Ia tidak ingin Rey sampai mengetahui apa yang ia lakukan di dalam kamar. Ia benar-benar belum siap sama sekali.
Alan yang mendengar itu sedikit tidak suka. "Memangnya kenapa kalau mereka tau?"
"Kau ingin membuat kehebohan di kapalmu ini?" jawab Fuji dengan sedikit memajukan wajahnya ke arah telinga Alan. Karena merasa jika Alan sepertinya sengaja ingin mengumbar kemesraan dengannya, entah untuk alasan apa. Maka ia merasa tidak ada cara lain selain menggunakan kartu As yang ia pegang.
"Sebaiknya, kau perintahkan mereka untuk tidak menutup mulut mereka. Jangan sampai orang lain tau tentang hubungan ini. Jika orang di luar sana tau, kalau kau berciuman dengan wanita. Bagaimana kalau mereka semakin berusaha mendekatimu. Bukankah kau alergi sentuhan? Kau tidak ingin penyakit OCD mu itu kambuh bukan?" bisik Fuji yang malah membuat Alan membeku.
Alan tampak terkejut mendengar wanita yang baru saja ia kenal tidak sampai satu hari ini, bahkan sudah mengetahui rahasianya. Bagaimana mungkin? Tapi ia berusaha kembali menetralkan ekspresinya. Ia menatap tajam ke arah Fuji setelah wanita itu kembali menjauhkan dan memberi jarak antara mereka. Ia mulai curiga dengan Fuji. Tapi pertama-tama yang harus ia lakukan adalah menuruti keinginan Fuji. Maka ia dengan cepat berkata pada bawahannya, "Keluarlah! Dan setelah kalian keluar dari sini, anggap kalian tidak pernah melihat apapun. Jika kalian bersikeras membongkar apa yang kalian liat, maka nyawa kalian menjadi taruhannya."
"Baik, Tuan. Maafkan kelancangan kami," ucap salah satu dari bawahan milik Alan seraya membungkuk. Mereka mulai keluar dari kamar itu dengan perasaan takut.
Sementara Alan, kembali menatap tajam ke arah Fuji setelah pintu kamarnya tertutup dengan rapat.
"Jelaskan semuanya padaku sekarang!" ucap Alan tegas dan penuh tekanan. Ia sudah tidak bisa menunggu hingga Fuji selesai makan. Apalagi ia sudah tau kalau Fuji mengetahui tentang penyakitnya.
"Ck, aku lapar! Mau makan dulu," keluh Fuji saat merasa Alan dalam mode serius. Ia memang benar-benar lapar. Apalagi mereka sudah berolahraga panas di kolam sebelum ia tidur. Itu sungguh menguras tenaganya.
"Aku tidak bisa menunggu lebih lama. Kau bahkan mengetahui tentang penyakitku. Siapa kau sebenarnya?!"
Alan yang mendengar jawaban Fuji, menghela nafas. Benar yang dikatakan Fuji, kalau tidak seharusnya ia mendesak wanita itu untuk bicara. Padahal wanita itu sedang sangat kelaparan juga karena dirinya.
"Baiklah... makanlah dulu. Tapi setelah kau selesai makan, aku ingin kau menjelaskan semuanya padaku!" pinta Alan seraya menyandarkan punggung ke sandaran sofa. Matanya tidak lepas dari Fuji yang saat ini sedang menikmati makanan dengan cepat. M
"Makannya pelan-pelan saja. Aku tidak akan merebut makananmu itu," ucap Alan tiba-tiba dengan suara yang lebih lembut—tidak seperti barusan.
Dengan mulut yang masih terisi penuh dengan makanan, Fuji menatap Alan seraya berkata, "Bukannya kau tidak bisa menunggu? Jadi aku makan cepat saja. Uhuk... uhuk...." Fuji terbatuk-batuk hingga matanya berair.
"Ck, aku sudah bilang. Makanlah dengan pelan. Minumlah cepat... kau ini selalu saja begitu," ucap Alan seraya menyodorkan segelas air dan menepuk punggung Fuji.
Setelah mengatakan hal itu, Alan merasa ada yang aneh pada dirinya. Ia merasa mendapatkan potongan ingatan yang tampak sangat buram. Tapi itu hanya sebentar dan entah kenapa, hal itu membuat merasa tidak asing dengan kejadian ini. Ada apa ini? Apakah mungkin, ia pernah mengalami kejadian ini sebelumnya? Tapi mengapa ia tidak ingat?
.
.
.
.
.
.
.
Kenangan
Bukankah kau yang memberi air pada mawar yang layu?
Lalu mengapa kau pula yang mencabutnya saat mawar telah mekar kembali?
Kenapa melakukannya, jika engkau tau... mawar itu melukaimu dengan durinya.
~Amma~
.
.
.
.
.
Jangan lupa komen plus likenya. Nonton iklan juga boleh dong untuk dukung penulis hehehee...