
Fuji dan Alan sekarang sudah berada di luar kapal yang memiliki pembatas. Mereka masih berdiri dengan tangan Fuji yang berpegangan pada pembatas.
Fuji mengedarkan pandangannya ke segala arah kapal yang mewah ini. "Aku mau naik ke sana, Al!" seru Fuji sambil menunjuk menara yang paling tinggi di kapal itu.
"Kenapa tidak di sini saja? Ayo kita nikmati suasana di bawah sini saja," ucap Alan.
"Aku tidak mau. Aku mau di atas sana," tolak Fuji sambil menggelengkan kepalanya lucu.
"Tapi di sana anginnya sangat kencang. Kau ingin dihempaskan oleh angin dan malah jatuh ke laut?" ucap Alan menakut-nakuti.
"Eh... mana bisa, seperti itu. Aku hanya ingin melihat pemandangan lebih luas," kekeh Fuji tidak menghiraukan ucapan Alan.
"Di sini saja. Kau juga bisa melihat pemandangan di sini dengan baik," balas Alan lagi seraya merapatkan tubuhnya pada Fuji.
"Tapi lebih seru jika di atas sana, Al. Aku akan melihat pemandangan di bawah sini jika naik ke atas sana," tutur Fuji mendengus kesal membuat Alan gemas. Hingga tangan Alan langsung melingkar di perut Fuji.
Alan memeluk Fuji dengan erat dari belakang Fuji. Ia merasa sangat nyaman dengan pelukan itu. Sementara Fuji yang dipeluk oleh Alan, hanya bisa pasrah saat merasakan tubuh Alan yang kian mendekat dengan tangan yang melingkar di perutnya.
Fuji sebenernya nyaman dengan posisi ini. Tapi ia tidak mau terlalu terbuai dengan rasa yang timbul di hatinya hanya dalam dua belas malam bersama. "Bisakah kau melepaskan tanganmu? Tidak perlu memelukku seperti ini," ucap Fuji sambil memegang tangan Alan yang melingkar di perutnya.
Alan yang mendengar perkataan Fuji, malah semakin mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh leher jenjang Fuji. "Aku lebih suka begini. Kenapa? Kau menolak pelukanku? Hm?" bisik Alan di telinga Fuji. Membuat Fuji merinding dan membisu di tempatnya.
Bahkan perlahan bibir Alan sudah mulai mencium leher jenjang Fuji. Hingga Fuji mampu merasakan seperti tersengat listrik.
"Egh... eh... " erang Fuji tanpa sadar.
"Jangan mengerang seperti itu, kau membuatku ingin membalikanmu ke kamar." Alan semakin mencumbu leher Fuji.
"Sialan! Aku tadi tidak sadar! Sebaiknya lepaskan aku. Kau membuatku kesulitan bernafas," ucap Fuji yang mulai memberontak dalam pelukan erat Alan.
"Kau kesulitan bernafas yah? Kan tadi kau bilang, separuh nafasmu ada padaku. Jadi wajar saja kalau kau kesulitan bernafas," balas Alan yang semakin melancarkan aksinya.
"Ck, lepaskan aku. Atau kau ingin ku lempar sampai ke dalam laut sana?
"Diam saja! Kau lupa dengan surat perjanjian kita yah," ucap Alan sambil terkekeh mendengar ancaman Fuji. Bukannya takut, ia malah merasa semakin gemas. Tapi Alan menghentikan aksinya mencium Fuji dengan tangan yang masih setia memeluk tubuh Fuji.
"Kau harus menuruti semua keinginanku," tambah Alan menjelaskan poin di dalam surat perjanjian mereka.
Sementara Fuji mengerucut bibirnya saat menyadari kalau ia benar-benar terjebak dalam permainan Alan. "Ya... ya... ya... Aku akan menuruti keinginanmu, Tuan Alan yang terhormat. Mohon maafkan kesalahan saya tadi, Tuan. Saya lupa kalau Anda adalah rajanya di sini," balas Fuji dengan nada mengejek. Ia bahkan menggerutu di dalam hatinya, "Si Alan ini belum tau aku siapa. Kalau aku tidak terjebak dalam surat sialan itu, aku pasti sudah membunuh pria ini dengan belatiku."
"Tidak perlu bersikap formal begitu padaku. Aku lebih suka saat kau lebih bebas menyebut namaku," ucap Alan karena mendengar Fuji seolah mengejeknya. Ia sedikit mengendurkan pelukannya.
Fuji yang merasakan pelukan itu mengendur, segera melepaskan diri dengan cepat. Ia berbalik menghadap Alan. Memberi jarak sedikit sebelum berkata, "Baguslah kalau kau tidak suka. Maka mulai sekarang, aku akan memanggilmu 'Tuan Alan'. Yah... Tuan Alan, Tuan Alan, Tuan Alan... " Fuji langsung berlari sebelum Alan berhasil menangkapnya. Ia bahkan sudah memasuki area belakang kapal yang akan membawanya ke atas menara.
"Hei, kau!" teriak Alan memanggil Fuji yang meninggalkannya.
Alan menggeleng melihat tingkah Fuji. Bahkan ia tidak sadar kalau sudut bibirnya sudah menerbitkan senyum bahagia.
"Aku akan menangkapmu! Tunggu saja di sana!" teriak Alan pada Fuji seraya berlari mengejar Fuji. "Ck, dia merepotkan sekali. Tapi kenapa aku malah tersenyum? Sepertinya, aku memang sudah tidak waras di buat wanita itu," gerutunya pelan.
"Setelah menangkapmu... aku tidak akan melepaskanmu," ucap Alan dalam hati.
Alan dan Fuji akhirnya kejar-kejaran hingga sampai di ujung menara kapal yang paling tinggi. Mereka begitu asik dengan tingkah mereka masing-masing hingga menghiraukan orang-orang yang menatapnya heran, penuh tanda tanya, bahkan ada yang hampir berteriak karena merasa melihat adegan romantis.
"Aaaa... aku ingin berteriak kencang, Rojer. Ah... kenapa aku seolah melihat adegan film romantis," ucap Chizu sedikit kencang pada suaminya saat tidak sengaja melihat Tuan Alan saat mereka ingin menikmati udara laut.
untungnya suara Chizu tidak sampai ke atas menara. Hanya beberapa orang saja yang mendengarnya. Tapi Rojer tidak enak dengan tingkah istrinya, apalagi ada Steven dan Eiden juga di sana.
"Pelankan sedikit suaramu, Chi. Tuan Alan bisa saja mendengar kita dan bisa-bisa, aku yang akan mendapatkan hukuman. Kau tidak ingin kita ditenggelamkan di laut ini kan?" tegur Rojer pelan di telinga Chizu.
Mendapat teguran dari suaminya, Chizu segera menutup mulutnya. Namun Steven lebih dulu menyambar pembicaraan mereka. "Kau benar, Kakak Ipar. Mereka sudah seperti sepasang kekasih," ucap Steven membenarkan ucapan Chizu tadi.
"Kenapa kau menyebut istriku sebagai Kakak Iparmu? Oh... atau kau ingin dekat dengan adikku? Ck, aku tidak akan menyetujui kau bersama dengan Naomi," balas Rojer sambil memberikan tatapan mematikan pada Steven.
Baru saja Steven mau menjelaskan maksudnya, Eiden lebih dulu menyela perdebatan mereka. "Sebaiknya kalian pergi dari sini. Bukankah ini kabar yang bagus? Dengan begini, Tuan akan menikmati perjalanan berlayar yang kalian usulkan. Tidak selalu mencecarku lagi karena keinginan kalian ini," ucap Eiden tiba-tiba. Sebenarnya ia juga sedikit heran dengan tingkah Alan. Namun ia mencoba tidak mengeluarkan sanggahannya yang berujung pada perdebatan panjang dengan sahabatnya. Apalagi sekarang, ia sedikit merasa tidak nyaman dengan alur pembicaraan Rojer dan Steven.
"Eh... kau liat tadi, Eid. Tuan kita mencium wanita itu," heboh Steven yang malah kembali fokus pada adegan yang tadi ia nonton menghiraukan ucapan Eiden yang meminta mereka pergi.
"Yah... benar. Mereka so sweet sekali kan, Stev?" ucap Chizu membenarkan. Seolah mendapatkan teman gosipan yang sesuai. Ia merasa cocok saat berbicara dengan Steven yang memang kadang sangat menjengkelkan.
"Hentikan pembicaraan kalian. Rojer, kau urus istrimu. Biar aku bawa dokter gila ini ke tempatnya yang sebenarnya," timpal Eiden jengah. Ia menarik kerah baju Steven dan menjauh meninggalkan pasangan suami istri itu.
"Eiden. Astaga... lepaskan aku sialan!" pekik Steven tidak terima tapi tetap mengikuti langkah Eiden.
Sementara Rojer, kini menatap istrinya dengan intens seraya merangkulnya. "Ayo kita ke kamar saja. Aku juga bisa berbuat romantis padamu," bisik Rojer seraya membawa Chuzi pergi dari tempat mereka berdiri tadi.
.
.
.
.
.
.
Habis revisi. Semoga tak ada salah lagi di bagian ini 🙏