
Bukh! Fuji berhenti berjalan dan tanpa sadar membentur punggung kekar milik Alan—saat pria itu berhenti mendadak setelah membuka pintu kamar.
"Bisakah kau berjalan dengan benar?" tanya Alan sinis setelah membalikkan tubuhnya menghadap Fuji.
Fuji menatapnya kesal. Ia memperbaiki posisi kacamatanya sebelum berkata, "Seharusnya kau yang berjalan dengan benar. Bukannya berhenti mendadak seperti ini!"
"Aku memang berhenti. Tapi bukan berarti, kau harus menabrakku kan? Kau bisa saja ikut berhenti. Hm... kecuali... memang kau sangat ingin bersentuhan lagi dengan tubuhku," ucap Alan yang membuat Fuji semakin mengerut.
"Mana ada begitu! Aku hanya tidak sengaja menabrakmu karena kau berhenti mendadak!" seru Fuji tidak terima.
"Katakan saja kalau memang ingin menyentuh tubuhku. Aku akan berbaik hati untuk kembali ke kamar," ejek Alan yang malah mendapati wajah Fuji yang mulai memerah.
"Alan! Kau—" Fuji baru saja mau memarahi Alan habis-habisan dan memukulnya kalau bisa. Tapi suara seseorang di balik pintu menghentikannya.
"Kau—wanita? Benarkah ini Eiden?!" serunya berdiri. Mulutnya ternganga karena terkejut seraya menunjuk Fuji.
"Turunkan tangan kotormu itu, Steven. Kalau tidak mau aku patahkan," ucap Alan dengan tajam dan dingin. Melihat Steven, membuatnya mengingat kejadian dimana Steven muntah di pakaiannya.
"Oh... maaf, Al. Aku hanya sedikit terkejut melihat ada seorang wanita keluar dari kamarmu," jawab Alan cepat dan menurunkan tangannya.
"Memangnya kenapa? Ini bukan urusanmu. Jadi menyingkirlah dari hadapanku!" tegas Alan seraya melihat ke arah Eiden yang masih duduk di depannya.
"Hei, kau beneran seorang wanita? Kau siapanya Alan?" tanya Steven mengabaikan perintah Alan. Ia lebih tertarik pada wanita yang berpenampilan cupu di belakang Alan.
"Tentu saja aku seorang wanita. Kau pikir aku waria?!" ketus Fuji karena tidak suka dipandang menyelidik oleh Steven.
"Steven! Sekali lagi aku peringatkan kau—"
"Oh ayolah, Al. Aku hanya terkejut dan ingin tau siapa dia," potong Steven memelas. Sepertinya memang tidak ada yang bisa mengalahkan sikap lancang dari Steven.
"Bagaimana mungkin, seorang Alan benar-benar menyembunyikan seorang wanita di dalam kamarnya. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, wanita itu berpenampilan seperti i—ni?" ejek Steven menilai. Ia menatap Fuji dari ujung kepala hingga ujung kaki sambil menggeleng tidak percaya.
"Kurang ajar kau, Ste—"
"Memangnya kenapa? Kalau penampilanku seperti ini? Apa itu mengganggumu, Tuan?" potong Fuji yang melangkah lebih dekat dengan Steven.
"Tidak. Hanya saja, ini sedikit aneh. Tidak mungkin jika selera Alan ternyata yang seperti ini," ceplos Steven yang benar-benar diluar kendali.
Jawaban Steven membuat Fuji serasa ingin menjambak rambut pria itu. Lalu memotong leharnya dengan belati yang Ia simpan di saku celananya. Tapi ia tidak mungkin melakukannya. Terlebih saat melihat sifat berani Steven pada Alan. "Aku akan membuatnya menutup mulutnya. Sial! Pria ini sangat mengesalkan!" batinnya mengumpat Steven.
Fuji mengaitkan kedua tangannya menyentuh punggung tangan Alan yang berada di sampingnya. Mengelusnya dengan lembut. Namun matanya menatap tajam Steven di balik kacamata tebalnya. "Kalau selera Alan memang sepertiku, apakah ada masalah denganmu?" tanya Fuji ketus.
"Bukan begitu, hanya—" Steven baru saja ingin kembali menyanggah. Tapi Fuji dengan cepat memotong ucapannya. Hingga ia tidak bisa lagi berkata-kata karena sakin terkejutnya.
"Alan tentu tau cara memilih lawan main yang memuaskannya di atas ranjang. Benarkan, Sayang?" ucap Fuji seraya menatap Alan. Tapi Alan hanya bergeming. Ia sedikit terkejut dengan ucapan Fuji yang langsung membongkar alasan Alan tetap memilih Fuji meski penampilannya ternyata sangat cupu. Apalagi Fuji memanggilnya sayang di depan Steven dan Eiden.
"Al? Benarkah itu?" Bukan Fuji ataupun Steven yang bertanya. Tapi sosok yang sedari tadi diam dan duduk menyaksikan. Eiden berdiri mencari pembenaran.
Karena takut Alan tidak mengiyakan ucapannya, ia segera lebih dulu angkat bicara. "Sudahlah, Sayang. Sebaiknya kau tidak perlu membenarkan ucapanku tadi. Lagipula mereka tidak perlu tau lebih dalam tentang hubungan kita di dalam kamar kan?" Fuji segera memeluk lengan kekar Alan. Bisa hancur harga dirinya kalau Alan menyangkal semua yang ia katakan tadi.
"Kuharap kau tidak mengganggunya, Steven." Alan justru menatap Steven bertambah dingin.
"Hei, Al. Aku ini dokter pribadimu. Jadi aku harus tau tentang dirimu. Apalagi ini menyangkut tentang wanita. Kau kan—" ucap Steven terhenti karena Alan menyela dengan sebuah ancaman.
"Sekali lagi kau berucap sembarangan, aku tidak segan segan meminta Eiden melemparmu ke laut!" ancam Alan. Ia sangat tau kalau Steven hampir saja mengatakan tentang penyakitnya. Penyakit yang hanya diketahui para sahabatnya.
"Baiklah... aku akan diam. Tapi aku butuh penjelasan untuk masalah wanita ini nanti," putus Steven menyerah karena mulai merasa kalau Alan tidak main-main dengan ucapannya kali ini.
Sementara Fuji, memandang Steven dengan menyelidik. Fuji bisa melihat kalau Steven menyembunyikan sesuatu yang penting tentang Alan. Apalagi saat ia tau kalau Steven merupakan dokter pribadi Alan. Ia pun akan bertekad untuk mencari tau nanti. Kemungkinan informasi yang ia temukan nanti, mampu membuatnya lepas dari jeratan surat perjanjian.
"Kenapa kau melamun?" ucap Alan yang membuyarkan pikiran Fuji.
"Hah? Aku melamun? Tidak, aku tidak melamun." Fuji menjawab dengan cepat.
"Kau melamun sambil menatap Steven. Sedari tadi aku menatapmu," ungkap Alan dengan nada tak suka.
"Mana ada seperti itu. Lagian, untuk apa aku menatap pria menyebalkan itu!" ketua Fuji.
"Kalau begitu, jangan menatap pria lain selain aku!" perintah Alan yang malah membuat Fuji tergagap.
"Itu—"
"Ayo kita pergi! Apa kau tidak ingin melihat pemandangan di luar kapal?" potong Alan seraya menarik tangan Fuji.
Fuji yang ditarik, menahan tangannya hingga membuat Alan heran. "Tunggu sebentar. Aku harus memberikan sesuatu untuk sahabatmu ini," ucap Fuji menjelaskan maksudnya pada Alan.
"Tidak perlu. Sebaiknya kita pergi dari sini!" perintahnya lagi. Tapi Fuji mengabaikan perintahnya dan malah memilih menatap Steven dengan seringai di bibirnya sebelum menginjak kaki Steven dengan keras.
"Aaaa... kau!" ucap Steven seraya mendesis kesakitan di kakinya.
"Itu hadiah perkenalan. Sampai jumpa," ucap Fuji seraya berlari ke arah Alan. Dan menggenggam tangan Alan dengan erat. Mereka berdua akhirnya berjalan sambil berpegangan tangan.
Sementara Steven masih menahan sakit di kakinya. "Sialan wanita cupu itu! Ck, bagaimana mungkin wanita seperti dia yang mampu membuat milik Alan berdiri!" umpat Steven terlihat kesal.
Bukh!
"Akh... " rintih Steven lagi karena Eiden melemparinya dengan kursi plastik yang tadi dipakainya duduk.
"Eiden! Tega sekali kau padaku!" seru Steven sambil mengelus kepalanya yang terkena hantaman kursi.
"Kau pantas mendapatkannya! Lain kali, sebaiknya tutup mulutmu itu! Kau hampir saja mengatakan rahasia terbesar Tuan Alan," ucap Eiden dingin dan tegas seraya meninggalkan Steven yang masih merintih kesakitan.
"Aku tidak bermaksud mengatakan rahasianya. Aku tadi hanya terkejut sesaat," batin Steven seraya berjalan dengan menahan sakit.