
Alan memandangi wajah cantik milik wanita yang saat ini tengah memeluknya dengan erat. Ia tidak menyangka akan melalui malam panas yang sangat nikmat bersama wanita yang bahkan ia tidak ketahui namanya.
"Kau sangat cantik. Siapa dirimu sebenarnya? Wajahmu mirip orang Jepang. Tapi bahasa yang kau gunakan adalah bahasa Indonesia. Kau ini blesteran yah?" tanya Alan sedikit tersenyum. Ia sadar jika tak akan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Wanita yang saat ini dalam keadaan polos di pelukannya, masih tertidur karena kelelahan meladeninya. Ia menarik senyum tipis di bibirnya hingga semakin mengembang saat membayangkan betapa ganasnya ia menikmati tubuh wanita ini.
Fuji memang menggunakan bahasa Indonesia saat bercinta dengan Alan karena Fuji pandai menempatkan posisi dan bahasanya. Fuji yang terlatih, akan dengan mudah menguasai keadaan seperti saat ia pertama kali mendengar ucapan Alan yang berbahasa Indonesia. Makanya Fuji menggunakan bahasa Indonesia sejak saat itu.
"Aku akan mencari tau tentang dirimu nanti. Ck, sungguh memalukan! Bagaimana mungkin, aku meniduri wanita tanpa tau namanya sama sekali. Tidak mungkin aku memanggilnya dengan kata Sayang terus kan? Karena bercinta dan kenikmatan yang ditawarkannya, membuatku lupa untuk bertanya namanya. Dan bahkan dengan mudahnya aku memanggilnya Sayang," gumamnya dengan wajah memerah menahan malu.
"Entah apa yang akan mereka katakan. Jika mengetahui tentang wanita ini," gumamnya lagi seraya mencoba melepaskan diri dari pelukan wanita yang masih dalam keadaan polos di balik selimutnya. Ia berniat untuk membersihkan tubuhnya. Apalagi ia baru sadar kalau belum membersihkan diri setelah mendapatkan muntah dari sahabatnya.
"Engh... " erang wanita itu saat merasakan sesuatu yang ia peluk dengan nyaman, berusaha terlepas.
Mendengar erangan itu, membuat Alan menggeram frustasi. Ia merasakan gairah kembali. Sedangkan ia tidak mungkin melampiaskannya kembali pada wanita itu setelah menggempurnya berjam-jam.
"Sial! Wanita ini membuatku gila," umpatnya pelan. Akhirnya ia memilih merapatkan kembali tubuhnya. Dan mencuri kesempatan untuk membenamkan miliknya ke dalam kenikmatan yang sudah ia rasakan tadi.
"Ahh... " desah Fuji disela tidurnya. Ia sedikit terganggu. Namun rasa lelahnya membuatnya tak ingin membuka mata.
"Kau sangat nikmat, Sayang." Alan menggerakkan miliknya untuk mencari kepuasan sendiri. Karena saat ini, lawan mainnya sedang tertidur karena kelelahan. Ia sudah tidak peduli jika Fuji bangun. Justru ia akan lebih melancarkan aksinya jika berhasil membangunkan wanita itu.
Niat hati ingin bangun dan membersihkan tubuhnya, malah sekarang berbelok dengan menggerayangi wanita itu lagi.
.
.
.
.
Di tempat gym yang tersedia di kapal pesiar, tiga orang pria sedang berolahraga dengan hanya mengenakan celana tanpa atasan seraya berbincang sesekali.
"Kenapa Alan tidak keluar juga dari kamarnya?" tanya Steven pada Eiden.
"Aku juga tidak tau," jawab Eiden seraya mengangkat dumbbell seberat 6 kg.
"Memangnya, apa yang dikatakan Alan semalam?" timpal Rojer yang sedang berlari menggunakan treadmill.
"Aku akan kembali ke kamarku. Jika ada sesuatu yang terjadi, cepat bereskan. Jangan temui dan ganggu aku sampai aku sendiri yang keluar dari kamar," ucap Steven menirukan perkataan Alan semalam. Meski dalam keadaan mabuk, tapi ia sedikit sadar setelah memuntahkan isi perutnya.
Eiden menyeringai sebelum berkata, "ternyata kau mengingat ucapan Tuan dengan jelas. Meski dalam keadaan mabuk. Apa kau juga ingat telah melakukan apa padanya?"
Gleg! Steven meneguk salivanya saat menyadari kesalahan yang sudah ia lakukan kemarin malam.
"Kau tau apa hukumannya kan? Jadi siapkan mentalmu untuk menerima hukuman itu," tutur Eiden memperingati.
"Sial! Mati aku!" umpat Steven sedikit pelan.
"Eh sebenarnya apa yang terjadi semalam?" tanya Rojer yang tidak mengetahui kejadian apa yang dimaksud.
"Aaa... aku membuat pulau berbau di baju sang Raja!" pekik Steven ke arah Rojer hingga membuat Rojer berhenti menggunakan treadmill.
"Pulau apa yang kau maksud?"
"Aku membuat pulau dengan mulutku ini. Sial! Mulut sialan ini malah muntah di baju si Alan. Aaaa... selamatkan aku Rojer." Steven tiba-tiba memeluk tubuh Rojer karena panik.
"Lepaskan aku, Bodoh! Ck... menjijikan!" seru Rojer mencoba menghempaskan tubuh Steven dari tubuhnya.
Namun yang terjadi tak sesuai harapan Rojer. Bukannya lepas, mereka berdua malah terjatuh di atas matras dengan posisi Rojer yang berada di atas Steven.
Keduanya terdiam seolah tidak menyadari posisi intim mereka berdua. Mata Rojer bahkan menatap tajam sahabatnya itu. Sementara Steven hanya tersenyum garing saat melihat tatapan mematikan dari Rojer. Hingga suara wanita menyadarkan keduanya.
"Oh... jadi kau bermain api dengan sahabatmu sendiri!" pekik Chuzi—istri Rojer—dengan begitu dramatis.
"Tega sekali kau menyakiti hati dan calon anak kita," ucap Chuzi seraya mengelus perutnya dan menunjuk bagian dadanya.
"Sayang... " ucap Rojer dengan panik. Ia segera melepaskan dirinya dari Steven dan mendekati istrinya yang saat ini sedang memarahinya.
"Jangan sentuh aku!" seru Chuzi.
Namun Rojer tetap menyentuh bahkan memeluk tubuh istrinya itu. "Jangan sentuh aku! Aku jijik, jijik, jijik!" Chuzy mencoba lepas dari pelukan Rojer. Ia sebenarnya tidak marah karena melihat suaminya dengan posisi seperti tadi. Hanya saja, ia ingin mengerjai suaminya itu sebagai wujud balas dendamnya. "Yah, setelah kejadian di hotel karena mulut ember Naomi, aku harus terkurung di kamar. Maka sekarang aku akan membalasnya meskipun tidak akan terlalu berpengaruh padanya," batinnya.
"Ck,ck,ck... drama sekali kalian ini," ucap Naomi yang berdiri di sisi kiri Kakaknya itu.
"Kau! Jangan ikut campur! Kalau tidak, aku akan membuangmu ke laut meski kau adalah adikku!" ancam Chuzi menatap tajam Naomi.
Naomi langsung menciut dan menutup mulutnya setelah mendengar ancaman Kakaknya itu.
"Untuk apa kalian semua ke sini?" tanya Eiden yang mulai terusik dengan keributan di depan matanya.
"Memangnya kenapa? Tidak boleh?" jawab Naomi yang malah menatap Eiden dengan ekspresi menantang.
"Naomi! Yang sopan pada Tuan Eiden," sanggah Chuzi untuk menyadarkan adiknya itu.
"Apa lagi, Kak. Untuk apa aku sopan padanya," ucap Naomi menatap tajam seolah memiliki dendam pada Eiden.
"Maafkan Adikku, Tuan Eiden. Hm... sebenarnya dia ke sini hanya untuk menemaniku menemui suamiku," kilah Chuzi yang diam dalam pelukan suaminya. Ia berbohong agar tidak mengungkapkan tujuan mereka bertiga yang datang hanya untuk melihat tubuh para lelaki di tempat gym, terutama untuk melihat tubuh indah Tuan Alan tentunya.
Steven yang mendengarnya, menaikkan salah satu alisnya. Kemudian ia menatap wanita di sisi kanan Chuzi yang sedari tadi hanya diam. "Kau juga datang ke sini, untuk menemani Istri Rojer? Atau kau ingin menemuiku?" sahutnya yang membuat Maudy mengalihkan tatapan ke arahnya.
"Eh itu... "
"Tentu saja menemaniku juga. Iya kan Maudy?" potong Chuzi berusaha agar Maudy tak mengucapkan maksud kedatangan mereka. Karena sejujurnya, ia yang tadi begitu heboh ingin ke tempat gym hingga menarik Maudy dan Naomi.
"Oh... begitu. Aku pikir—" Steven baru saja ingin menyanggah. Tapi Chuzi lebih dulu berkata, "karena aku sudah bertemu suamiku, jadi sebaiknya kita pergi."
"Dan oh iya, aku tidak ingin melihat Steven menyentuhmu lagi, Sayang. Jadi sebaiknya kau pergi mandi. Karena aku tidak ingin menyentuh bekas pria lain," ketus Chuzi memberikan tatapan tajam.
"Ayo!" seru Chuzi seraya menarik tangan Naomi dan Maudy.
Ketiga pria yang ada di tempat gym itu menghela nafas panjang setelah kepergian wanita-wanita itu. "Wanita memang merepotkan. Pantas saja jika Tuan tidak menyukainya," gumam Eiden yang masih mampu di tangkap oleh pendengaran Steven.
"Yah... mereka memang merepotkan. Tapi kau jangan sampai jatuh cinta dengan Alan. Karena itu lebih merepotkan," timpal Steven sebelum lari menjauh dari Eiden.
"Sialan kau Steven!" teriak Eiden yang melemparkan sebuah bantal penyanggah ke arah Steven. Namun Steven yang lebih dulu lari, membuatnya berhasil lolos dari amukan Eiden.
Sementara Rojer memilih pergi menyusul istrinya ke kamar. Setidaknya meskipun merepotkan, tapi kalau itu istrinya, ia akan senang direpotkan.
.
.
.
.
.
.