
Rey menatap punggung Fuji dengan tatapan tak terbaca. Entah apa yang ia pikirkan saat ini, karena tiba-tiba saja tangannya bergerak dan lalu menarik tangan Fuji ke arah dinding yang tidak terlihat oleh pengawal yang berjaga.
"Rey!" pekik Fuji kaget. Tapi Rey dengan cepat membungkam mulut Fuji dengan tangannya yang mengenakan kaos tangan kulit.
"Kecilkan suaramu!" tegas Rey seraya melepaskan tangannya.
"Kenapa kau menarik ku tiba-tiba?" tanya Fuji yang mulai mengecilkan suaranya. Lalu matanya melirik ke sana ke mari. "Kau tidak lihat? Di luar sana sangat banyak pengawal yang melihatmu denganku," tambahnya seraya menunjuk ke arah dinding yang menutupi tubuh mereka.
Rey hanya diam hingga membuat Fuji mulai kesal. "Lalu kenapa kau menarikku, bodoh! Mereka akan curiga melihatmu menarikku!" ucap Fuji lagi, tapi kali ini ia memperlihatkan kekesalannya.
"Itu tidak akan terjadi, karena saat aku menarikmu ke sini, perhatian para ppengawal itu udah dialihkan lebih dulu oleh orang-orang ku." Rey tadi memang menggerakkan tangannya sebagai kode pada bawahannya untuk mengalihkan perhatian pengawal milik Alan.
"What? Jadi kau tidak sendiri?" ucap Fuji kaget. Ia bahkan menutup mulutnya sendiri untuk meminimalisir suara terkejutnya.
"Tentu saja aku tidak sendiri dalam mengembang misi. Kau tau itu kan? Kami selalu bekerja dalam bentuk kelompok," ungkap Rey santai dengan suara yang hanya didengar oleh Fuji.
Setelah mendengar pernyataan itu, Fuji mendadak berfikir. Tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya membuat Rey mengerutkan keningnya. "Tidak. Rey! Katakan padaku! Sebenernya kalian punya misi apa?" tanya Fuji dengan nada menuntut.
"Kau tidak perlu tau—"
"Kau harus memberitahu aku! Jangan bilang, kalau kalian ingin menyerang kapal ini dari dalam! Kalian dalang dibalik ini semua?" potong Fuji cepat. Meski penuh penekanan, ia tetap mengatur agar suaranya mengecil dan tidak terdengar oleh orang luar.
"Kau ini bicara apa? Sebaiknya kau jaga bicaramu itu! Jangan sampai ada yang mendengar! Ck... sudahlah, ambil ini. Kau pasti membutuhkannya. Aku tidak tau sebenarnya apa masalahmu. Yang terpenting jaga dirimu baik-baik," ucap Rey seraya memberikan kota kecil yang ia ambil dari dalam saku celananya.
Sebuah kotak kecil diterima Fuji. Lalu Rey pergi meninggalkan Fuji begitu saja. Sementara Fuji langsung memperhatikan kepergian Rey dan bergantian dengan kotak itu seksama. "Ah, sebenarnya misi apa yang diberikan Kakak pada Rey? Apakah mungkin, Kakak adalah dalang yang dibicarakan Alan dan asistennya itu?" batinnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Dan mengapa, Stella—" ucap Fuji menghentikan ucapannya saat mengingat wajah wanita yang membuat hatinya memanas.
"Entah apa yang mereka bicarakan tentang Leo. Tapi kuharap, semuanya tidak sesuai dugaan burukku." Fuji pergi meninggalkan tempat itu. Ia terus berjalan hingga bertemu dengan Eiden yang tiba-tiba membungkuk di depannya.
"Nona bisa ikut dengan saya. Saya akan menunjukkan kamar anda," ucap Eiden yang malah membuat Fuji terkejut.
Ada rasa aneh yang muncul saat mendengar penuturan Eiden. Tapi ia berusaha menampik perasaan itu. Bukankah ia tidur di kamar Alan? Lalu kenapa sekarang ia malah tidur di tempat lain? Bukannya ini belum sebelas malam? Mungkinkah karena Alan ingin tidur dengan kekasihnya? Itu sudah pasti bukan? Pikir Fuji seraya menghela nafas. Ia berjalan mengikuti langkah Eiden.
"Siapa namamu? Kau asisten pribadi pria itu kan?" tanya Fuji basa-basi. Sebenarnya ia sudah tau nama pria itu saat menguping percakapan antara Alan dan Eiden. Tapi ia hanya ingin menilai karakter Eiden saja, makanya ia bertanya basa-basi.
"Eiden, Nona. Tuan meminta saya untuk mengantarkan Nona ke kamar yang akan Anda tempati selama berada di kapal ini. Di kamar itu juga sudah ada segala kebutuhan Anda seperti pakaian dan lainnya," jawab Eiden sekaligus menjelaskan maksud dan tujuannya. Eiden tetap berjalan menunjukkan arah, tanpa menatap wajah Fuji. Mereka berjalan dengan bersebelahan.
Sementara Fuji yang mendengar jawaban Eiden, mulai mengangguk-anggukkan kepalanya berfikir. "Sangat terperinci. Dia membuatku tidak bisa bertanya basa-basi lagi," batinnya dan mulai memilih diam hingga mereka sampai ke ruang kamar yang ditunjukkan Eiden.
"Ini kamar Anda, Nona. Saya permisi," ucap Eiden seraya membungkuk. Ia langsung melangkah menjauh dari tempatnya berdiri dan meninggalkan Fuji yang menatap ruangan kamar yang akan ia pakai selama berada di kapal ini.
"Apa apa, Eide—n?" ucap Fuji terputus saat melihat sosok yang menepuk pundaknya ternyata bukan Eiden melainkan sosok wanita yang sangat ia kenal.
"Kau! Bagaimana mungkin, kau di sini?" ucap Fuji terkejut. Ia merasa dalam sehari ia akan menjadi tua hanya karena kejutan yang muncul tiba-tiba.
"Aku pikir kau melupakanku," jawab sosok wanita cantik yang mengenakan hoodie dan celana panjang. Ia lantas memeluk Fuji dengan erat.
"Melody, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Fuji lagi seraya membalas pelukan Melody yang begitu erat.
"Ah, sebaiknya kita bicara di dalam. Aku pikir, tadi aku salah lihat. Tapi ternyata ini benar-benar dirimu, Ji!" ucap Melody dengan nada bahagia dan senyuman yang mengembang. Ia melepaskan pelukannya seraya berjalan masuk ke kamar Fuji. Lalu Fuji menutup rapat pintu kamar agar ucapan mereka tidak terdengar. Ia sedikit bersyukur karena Alan memberinya kamar pribadi meskipun ia sedikit kesal tadinya.
"Jadi katakan padaku! Kenapa kau bisa berada di sini, Melody? Bukankah kau seharusnya ada di rumah sakit?" tanya Fuji saat melihat Melody sudah mendudukkan tubuhnya di kasur dengan santai. Ia sangat terkejut melihat keberadaan Melody yang merupakan anak dari dokter pribadi keluarga angkatnya sekaligus sahabatnya bisa berada di sini.
"Hihihi, bukannya kau sudah tau yah? Rey sudah menjelaskannya tadi, bukan?" ucap Melody seraya menutup mulutnya yang tertawa kecil.
"Hah, jadi kalian satu tim? Tapi bagaimana mungkin?" ucap Fuji sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau bisa berada di tempat ini?" tanya Melody seraya menatap penuh curiga pada Fuji. Hingga Fuji langsung tak bisa berkutik di tempatnya.
"Kau tadi bilang, kalau kau berfikir salah lihat kan?Jadi katakan padaku, bagaimana kau bisa yakin kalau ini aku?" ucap Fuji dengan bodohnya untuk mengalihkan pembicaraan. Ia langsung mendudukkan diri di samping Melody dengan wajah penasaran.
Mendengar pertanyaan Fuji, Melody segera menarik nafas dalam. "Tentu saja aku yakin! Tadinya aku memang berfikir salah melihatmu. Tapi setelah aku mengikutimu, aku melihat Rey berada di belakangmu. Aku ingin menemuimu saat Rey sudah pergi. Tapi tiba-tiba, Eiden mendatangimu lebih dulu. Jadi aku ikuti saja, sampai akhirnya aku berada di depan matamu sekarang," tutur Melody menjelaskan. Ia benar-benar mudah dikecoh oleh pertanyaan Fuji. Bahkan ia lupa dengan pertanyaannya yang mencurigai keberadaan Fuji di sini.
.
.
.
.
.
.
.
.