Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 48 : ENOAC (Raja dan Ratu)



Setelah perdebatan kecil itu, mereka mulai makan dengan tenang tanpa ada sanggahan sedikitpun. Seolah mereka sudah mengerti tentang peraturan di meja makan. Bahkan Rey yang biasanya berdiri di samping Fuji, kini menghilang entah kemana. Bahkan Fuji tidak menyadari hal itu.


Fuji menarik tangannya dari genggaman Alan di bawah meja. Namun Alan justru mengeratkan genggaman tangannya seolah tak ingin melepaskan tangan Fuji. Bahkan Alan belum menyentuh makanan yang ada di depan mejanya.


Fuji melirik ke arah kanannya, dimana ia bisa melihat orang-orang sudah menikmati makanannya masing-masing setelah mendapat kode dari Eiden yang sudah diberikan kode mata dari Alan terlebih dahulu. Hal itu membuat Fuji meneguk salivanya. Ia merasa sudah sangat lapar. Meski tadi sempat kehilangan selera makan. Tangan kanannya yang tidak digenggam Alan, ia gunakan untuk mengambil makanan tanpa menghiraukan tatapan Alan yang sedari tadi tak lepas darinya. Bahkan ia mulai mengabaikan tangan kirinya yang digenggam tangan Alan dengan erat di bawah meja.


"Sekalian, ambilkan untukku juga." Alan sedikit meremas tangan yang menggenggam tangan Fuji setelah berkata demikian. Tangan kirinya menyodorkan piring kosong yang masih ada di depannya.


"Ck, lepaskan tanganku! Kau membuatku kesulitan mengambil makanan!" ketus Fuji mendengus kesal saat mendengar perintah Alan. Ia menggerakkan tangannya hingga Alan menyerah dan melepaskan tangannya.


"Kalau begitu, ambilkan makanan untukku. Aku sudah melepaskamu," ucap Alan yang diakhir kalimatnya sedikit berbisik karena melihat oeang-orang yang makan di depannya mulai mencuri pandang melihat interaksinya.


"Cerewet..." gumam Fuji menghela nafas seraya meletakkan piringnya di depannya yang sudah terisi penuh dengan makanan. Lalu mengambil piring Alan dan mulai mengisi piring Alan dengan beberapa hidangan. Tingkahnya membuat Alan menarik bibirnya tersenyum tipis.


Ingin rasanya Fuji memberikan Alan makanan yang porsinya hanya untuk semut saja. Tapi ia mengurungkan niatnya saat menyadari tempat mereka makan. Meski kesal, ia tetap mengambilkan Alan banyak makanan di atas piring. Karena baginya, sekarang bukan waktunya mengerjai Alan. Mungkin ia bisa merealisasikan recananya dilain waktu.


Fuji menyodorkan piring Alan yang sudah ia isi penuh dengan berbagai macam makanan. "Makanlah yang banyak, Paduka Raja. Ini makanan Anda," bisik Fuji dengan nada mengejek.


Alan mengambil piring Fuji dengan senyuman tipis. Tanpa ia sadari kalau semua orang yang ada di meja makan kini menatapnya. Wajahnya mendekat ke telinga fuji seraya berbisik dengan begitu suara lembut menggoda, "Terimakasih, Ratuku."


Deg!


Jantung Fuji bergemuruh mendengar bisikan Alan tepat di telinganya. Ia menjadi salah tingkah karena hal ini. Bagaimana mungkin Alan memanggilnya seperti itu dihadapan banyak orang. Meskipun ia yakin kalau bisikan Alan hanya terdengar olehnya saja. Namun wajahnya yang tiba-tiba memerah karena malu, menjadi perhatian orang di meja makan. Ia melirik ke arah Melody yang tiba-tiba memalingkan wajah saat mata mereka bertemu.


Sementara Alan mulai menyantap makanannya tanpa perasaan bersalah karena membuat Fuji berada di posisi seperti itu. Ia malah menipiskan senyuman saat melihat wajah Fuji memerah malu. Namun tatapan tajam ia layangkan pada orang-orang di meja makan sebagai kode peringatan agar tidak memperhatikan dirinya dan Fuji.


Meski begitu, tatapan peringatan itu tidak berlaku bagi Stella yang sedari tadi tidak makan karena memusatkan perhatian pada Alan dan Fuji. Bahkan kedua tangannya sedari tadi mengepal kuat menahan amarah. "Bagaimana mungkin mereka tampak mesra saat aku ada di sini?" batinnya bertanya dengan penuh amarah.


Fuji menarik nafas dalam, sebelum kembali menatap makanannya. Ia memilih untuk memakan makanan di piringnya dengan segera tanpa memerhatikan Alan. Matanya tiba-tiba ingin melirik ke arah Stella. Entah kenapa ia melupakan wanita itu setelah berada di samping Alan. Dengan menyuapi dirinya makanan, ia melirik ke arah Stella yang berwajah masam. Bisa ia lihat kalau Stella tiba-tiba menatapnya tajam. Entah mengapa ia merasa bahagia. Senyumnya mengembang senyuman mengejek ke arah Stella. "Sepertinya sangat menyenangkan membuat Stella berwajah masam seperti itu," batinnya seraya kembali menatap makanannya dan menyantapnya dengan lahap.


Stella berdecak kesal saat melihat senyum mengejek Fuji. Apalagi saat Fuji kembali melanjutkan makanannya. Karena sakin kesalnya, ia mengetukkan tangannya yang mengepal ke atas meja hingga menimbulkan suara.


Brak! Semua mata menatap Stella dengan pandangan tidak suka karena mengganggu makan malam mereka.


"Maaf," ucap Stella saat menyadari tatapan semua orang ke arahnya.


"Kalau kau ingin membuat keributan, sebaiknya jangan di ruang makan. Kau bisa membuat Alan mengamuk," suara itu penuh peringatan berasal dari Steven yang duduk di samping Stella.


"Iya," jawab Stella lirih. Seraya melanjutkan makan malamnya.


"Lanjutkan makan kalian! Setelah itu, kita akan berkumpul di aula bioskop," ucap Alan mengintrupsi.


Namun hal itu membuat semua orang bukannya melanjutkan makan, mereka malah berhenti dan salin menatap satu sama lain.


"Apakah kita akan menonton film bersama? Wah itu sangat romantis dan menyenangkan," celetuk Chizu— istri Rojer.


"Benar kak. Aku juga sudah lama ingin ke sana. Tapi kakak ipar selalu melarang," timpal Naomi dengan wajah yang ceria.


"Ussshh!" Rojer memperingati istri dan adik iparnya itu. Bahkan kakinya sedikit menyenggol kaki istrinya. Membuat kedua wanita itu langsung terdiam.


Alan yang melihatnya, baru saja akan menjelaskan dan melanjutkan ucapannya tadi. Namun seruan Fuji yang tiba-tiba menimpali ucapan kedua kakak beradik itu, membuat Alan mengurungkan niatnya.


"Aku juga sudah lama tidak menonton film. Sepertinya memang menyenangkan, menonton film bersama. Sungguh membosankan di kapal ini selama tiga hari dan hanya melakukan aktivasi yang sama," timpal Fuji dengan wajah berbinar saat mendengar percakapan Chizu di sampingnya. "Makan, tidur, dan jalan-jalan di area kapal. Begitu terus hingga membuat bosan," lanjutnya menggerutu.


Melihat Fuji yang menjawab seperti itu, semua orang menatapnya dengan pandangan berbeda-beda. Bahkan Eiden bersiap menimpali ucapan Fuji karena ia tau tujuan tuannya mengumpulkan mereka ke aula bioskop bukan untuk menonton. Tapi untuk kepentingan lain yang tentunya sedikit mendesak. "Maaf, Nona... tapi kita tidak akan menonton di—"


"Kita memang akan menonton di sana. Jadi cepatlah makan malam. Agar kita juga bisa secepatnya menonton film," potong Alan seraya menatap Eiden yang kini menatapnya dengan tatapan tidak setuju. Ia menganggukkan sedikit kepalanya sebagai tanda agar Eiden menyetujui ucapannya yang tidak sesuai dengan kesepakatan mereka.


"Wah... kalau baiklah. Kalau begitu, aku akan makan yang banyak dulu. Supaya saat menonton film tidak kelaparan," tutur Fuji seraya melanjutkan makanannya. Bahkan yang lain juga ikut mengangguk membenarkan ucapan Fuji dan mulai melanjutkan makanannya. Kecuali Stella yang masih menyantap makannya sedari tadi dengan menatap semua kegiatan di meja makan itu dengan tatapan tidak suka karena merasa Fuji mendominasi ruang makan itu.


Sementara tatapan Eiden sangat jelas mengungkapkan ketidaksetujuan. Tangannya bergerak kembali untuk menyantap makanannya. Namun tatapannya sedikit melirik ke arah Fuji. "Bagaimana mungkin rencana langsung berubah hanya karena wanita ini," batinnya. Ia tau jelas kalau tuannya mendadak merubah rencana hanya karena mendengar ucapan wanita itu yang bosan di kapal dan ingin menonton. Padahal ia tau jelas kalau Alan mengumpulkan mereka untuk mengatakan alasan kesibukan Alan selama tiga hari belakangan ini.


.


.


.


.


.


.


.