
Alan yang sedang berada di dalam bathroom, berusaha untuk menetralkan kembali ekspresinya yang memanas karena malu. "Wanita itu... bisa-bisanya, dia membalasku dengan berbalik menggodaku. Ck... aku tidak menyangka dia akan melakukan hal seperti tadi. Bagaimana mungkin wanita itu malah menjadi semakin menarik," gumam Alan di depan cermin. Ia menatap wajahnya yang memerah malu. Bibirnya terangkat membentuk senyuman meski hatinya sedikit kesal.
Alan membayangkan kembali kejadian sebelum ia berakhir di kamar mandi. "Apa tadi dia bilang? Separuh nafasnya adalah aku? Astaga... dan aku memerah karena mendengar ucapannya itu. Bahkan jantungku berdetak kencang. Sial! Sepertinya aku mulai tidak waras," ucapnya senyum-senyum sendiri menatap wajahnya hingga telinga yang merah seperti kepiting rebus.
"Sepertinya Fuji berbeda dari wanita yang sering aku jumpai. Yah... Fuji... aku baru ingat, dia belum mengenakan pakaian. Tidak mungkin dia ikut keluar denganku hanya menggunakan handuk kimono kan?" gumamnya berfikir sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Jika dia pakai handuk saja, aku lebih baik menyembunyikannya seharian di kamarku. Tunggu, aku ingat ucapan Steven waktu itu—"
"Mungkin saja, saat ini Fuji sedang mengambil pakaianku untuk dia kenakan. Sepertinya itu tidak buruk," ucapnya sambil membayangkan bentuk tubuh Fuji yang akan mengenakan pakaiannya. Ya, ia mengingat ucapan ngawur Steven yang mengatakan padanya tentang apa yang akan dikenakan wanita jika berada di dalam kamar pria tanpa pakaian. "Kau tau, Al. Wanita sangat cantik dan seksi saat memakai kemeja kita yang kebesaran. Biasanya itu terjadi saat mereka usai bercinta," ucap Steven kala itu saat membeli kemeja dan kebetulan bertemu dengan Alan.
"Ada apa denganku? Pikiranku selalu berkelana ke tubuh wanita itu. Ck, lebih baik aku segera keluar untuk melihat wanita itu. Tidak mungkin jika aku harus berlama-lama di dalam sini. Wanita itu akan semakin bangga dan mengejekku," gumamnya sambil menyalakan kerang air dan membasuh wajahnya dengan air.
"Lagipula, aku harus melihat penampilan seksinya saat ini." Alan mengusap wajahnya dengan handuk yang tersampir di sana. Kemudian berjalan membuka pintu.
Saat Alan membuka pintu, ia sudah disuguhkan oleh pemandangan wanita yang sedang berada di depan cermin. Namun kening Alan mengerut melihat penampilan wanita itu yang tidak sesuai ekspektasinya.
"Kau berpenampilan begitu?" tanya Alan sambil berjalan keluar dari bathroom. Ia menatap Fuji dari atas ke bawah yang hanya mengenakan kemejanya yang kebesaran dan tambahan celana panjang yang memiliki banyak saku.
"Memangnya kenapa?" tanya Fuji sambil memperhatikan penampilannya di cermin.
"Kau yakin berpenampilan seperti itu saat kita keluar? Di luar sangat banyak orang. Mereka akan menilai penampilanmu ini," jawab Alan berjalan mendekati Fuji. Hingga ia kini berada tepat di belakang Fuji yang sedang bercermin. Entah kenapa, ia mau mengucapkan kalimat yang panjang dan seolah peduli pendapat orang lain pada Fuji. Ini benar-benar bukan dirinya. Tapi sebenarnya itu hanya alasannya. Karena bagaimanapun, ia sedikit kecewa menjumpai Fuji yang mengenakan pakaian yang tidak sesuai bayangannya.
"Menurutku, ini sopan untuk dipakai keluar. Lagian, aku tidak punya pakaian selain gaun pengantin dan celana ini. Jadi maaf jika aku mengambil kemejamu untuk aku kenakan," tutur Fuji berfikir kalau Alan enggan untuk meminjamkan bajunya. Sebenarnya tidak ada masalah dengan penampilannya. Karena baginya, ia lebih suka berpakaian tertutup jika keluar kamar.
"Tidak masalah jika kau memakai kemejaku. Tapi celana ini—" ucap Alan terputus.
"Oh... aku mengerti kemana arah pembicaraanmu sekarang," timpal Fuji cepat seraya berbalik dan menatap penuh intimidasi pada Alan.
"Memangnya kemana arah pembicaraanku?" tanya Alan sedikit gugup karena ketahuan.
"Kau ingin aku hanya memakai kemejamu yang kebesaran ini tanpa celana kan?" selidik Fuji.
"Mana ada kayak gitu," jawab Alan yang lekas menjauh dari Fuji.
"Ck, aku sering membaca adegan novel seperti keadaan kita saat ini. Setelah mereka melakukan stand one night, wanitanya akan memakai kemeja pria tanpa memakai celana. Oh astaga... jangan bilang, kau juga membaca novel percintaan? Dan ingin aku berpenampilan seperti itu juga?!" seru Fuji sambil menutup mulutnya seolah terkejut. Bersikap sangat dramatis dengan nada mengejek.
Alan kesal melihat tingkah Fuji. Bagaimana mungkin wanita ini selalu berhasil membaca situasi secepat kilat dan menganalisanya dengan tepat dan benar. "Hei! Kenapa dengan ekspresimu itu. Aku tidak pernah berfikir seperti itu," kilah Alan.
"Kalau kau tidak berfikir begitu, kenapa aku melihat wajahmu sedikit kecewa melihat ke arah celanaku terus? Aku melihatmu di cermin, tau!" sahut Fuji seraya mendudukkan tubuhnya di kursi depan cermin.
"Mana bisa begitu... celanaku ini keren tau! Lihat saja... dengan celana ini, aku bisa membawa barang penting yang sangat berguna," balas Fuji seraya merogoh isi sakunya dan memperlihatkan isinya pada Alan. "Ini ponselku, dompet, kacamata, ikat rambut dan—"
"Belati?" potong Alan terkejut. Bagaimana mungkin seorang wanita memiliki sebuah belati. Dan itu bukan belati sembarangan yang bisa dimiliki sembarang orang.
"Yah... ini belati. Bukan pisau dapur yah... " jawab Fuji sambil tersenyum dan memainkan belatinya. Orang yang terlatih, pasti akan tau belati yang ia pegang ini memiliki fungsi apa. Belati dengan sarung yang memiliki corak berwarna hitam yang indah.
"Di mana kau mendapatkan belati itu?" tanya Alan heran. Orang yang memiliki belati itu hanya ada satu orang.
"Kau mengetahui tentang belati ini?" balas Fuji yang malah berbalik bertanya. Hanya karena belati, pembicaraan mereka tentang pakaian malah kemana-mana.
"Tentu saja aku tau itu belati milik siapa. Itu hanya di miliki oleh Leonard—mafia yang sangat terkenal di dunia bawah. Jadi katakan padaku di mana kau mendapatkan belati itu?" tanya Alan yang mulai menekan setiap ucapannya.
"Aku mencurinya," jawab Fuji yang malah membalas tatapan Alan dengan tersenyum manis.
"Mencuri?" beo Alan tidak percaya.
"Iya, aku mencurinya. Kenapa memangnya? Lagipula, jika bukan mencuri, bagaimana lagi aku mendapatkan belati ini?" tanya Fuji sambil menaik turunkan alisnya.
"Itu tidak mungkin! Aku sangat kenal bagaimana Leonard sangat menyayangi belati itu," tukas Alan.
"Kau kenal baik dengan Leo?" ceplos Fuji yang malah membuat Alan menatapnya curiga karena Fuji memanggil Leonard dengan sangat akrab.
"Siapa kau sebenarnya?!" tekan Alan menatap tajam Fuji.
Fuji yang mengerti maksud Alan, segera berdiri dan menghampiri Alan. "Hei! Tenanglah... bukankah aku sudah mengatakan padamu, kalau aku ini hanya anak jalanan? Untuk masalah belati ini, aku memang mencurinya dari Leo. Ah... aku memang lebih senang memanggil seseorang dengan nama panggilannya. Seperti halnya namamu, Alan... aku panggil Al. Leonard... aku panggil Leo. Tidak ada yang spesial dari nama panggilan bukan? Jadi, berhenti menatapku seperti itu. Kau bersikap seolah aku adalah mata-mata dari mafia kejam itu," ungkap Fuji menenangkan Alan. Meski mulutnya sudah menjelaskan dengan panjang lebar, tapi batinnya berkata, "Sedikit berbohong tidak masalah bukan? Lagipula, aku memang bukan mata-mata."
.
.
.
.
.