
"Kau jangan berbohong padaku!" seru Alan tidak suka. Ia merasa ada yang berbeda dengan dirinya. Bahkan ia tidak percaya jika ada seorang wanita yang mampu mencuri barang dari Leonard yang terkenal sebagai mafia kejam.
"Aku tidak berbohong. Kenyataannya memang begitu," jawab Fuji memundurkan langkahnya kembali ke arah cermin.
"Kau tidak mungkin bisa mencuri dari pria seperti Leonard," sahut Alan tidak yakin.
"Kenapa kau seyakin itu? Kau kenal Leo?" tanya Fuji mencoba membantah keyakinan Alan. Lagipula ia juga harus tau hubungan antara Alan dan Leonard sebelum memberi jawaban yang tepat.
"Tentu saja aku mengenalnya. Kami bersahabat meski selama lima tahun ini, kami tidak pernah lagi saling berkabar," ungkap Alan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Huh... Leonard itu sangat terkenal di jalanan. Apalagi di kota Nagasaki. Apa kau tidak tau?" tanya Fuji sambil memakai kacamata yang memang ia bawa dari dalam sakunya.
"Maksudnya?" tanya Alan mengerutkan keningnya. Apalagi saat ini, ia sedikit terganggu dengan penampilan Fuji.
"Aku memang mencuri belatinya. Dan itu sudah sangat lama. Yah bisa dibilang, dia menjatuhkan belatinya di jalan dan aku menemukannya. Siapa yang tidak mengenal kekejaman pria itu di kota Nagasaki? Aku sudah pasti, takut untuk mengembalikan kembali belati ini bukan? Bisa-bisa, Leonard itu akan menggorok leherku dengan belati yang kutemukan," jawab Fuji begitu meyakinkan. Padahal saat ini, tangannya sedikit keringatan hanya karena mengetahui kenyataan bahwa Leonard adalah sahabat dari pria yang menghabiskan malam panas dengannya.
"Jadi kau menemukannya dan mencurinya? Begitu?" ucap Alan memastikan kembali. Sejujurnya ia tidak bisa percaya begitu saja. Tapi alasan Fuji kali ini sedikit masuk akal baginya.
"Yap. Itu benar. Aku menemukannya dan sekalian saja aku mengambilnya. Bukankah itu sama saja mencuri?" jawab Fuji membenarkan seraya mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Tapi lain kali, jangan panggil Leonard seperti tadi. Kau tidak seharusnya memanggilnya dengan nama Leo saja. Dia orang asing yang tidak seharusnya kau panggil akrab," cetus Alan masih merasa tidak suka karena Fuji yang menyebut sahabatnya dengan akrab.
"Bukankah kau juga orang asing? Tapi aku memanggilmu Al kan?" jawab Fuji dengan mata menyipit di balik kacamata tebalnya. Yah, penampilan Fuji saat ini begitu culun. Apalagi dengan rambut yang sudah ia kepang satu.
"Kau—" baru saja Alan mau menyanggahnya karena bertambah tidak suka saat Fuji menyamakan dirinya dengan pria lain. Namun Fuji lebih dulu memotong ucapannya.
"Sudahlah, Al. Lagipula, kenapa sedari tadi kita membahas tentang si Leonard itu? Bukankah kita akan pergi keluar kamar untuk melihat pemandangan kapal?" ucap Fuji mencoba mengalihkan pembicaraan. Sudah cukup pria di depannya ini mengorek informasi tentang hubungannya dengan Leonard. Karena yang pasti, ia tidak boleh sampai bertemu dengan Leonard.
"Dengan penampilanmu yang seperti ini?" ucap Alan memicingkan matanya menatap penampilan cupu Fuji.
"Kenapa lagi dengan penampilanku? Kau ini seperti desainer saja. Selalu mengomentari penampilanku," keluh Fuji sambil menatap dirinya di cermin seraya membenarkan kacamatanya. Ia memang selalu berpenampilan seperti ini sehari-hari. Ini ia lakukan untuk menyamarkan dirinya sendiri.
"Bukan seperti itu. Tapi kau sangat cupu dengan penampilammu sekarang," ungkap Alan.
"Aku setiap hari memang selalu berpenampilan seperti ini," jawab Fuji. Baginya, penampilan cantiknya tidak berarti kalau harus mengundang banyak mata lelaki mata keranjang. Karena itu sungguh membuatnya risih.
"Benarkah? Tapi kau tidak seperti ini semalam," ucap Alan heran. Semalam ia melihat bidadari yang sangat indah tanpa pakaian sedang menggodanya. Tapi sekarang? Alan berjalan mengambil tempat di samping Fuji. Ia menatap Fuji lewat cermin. "Masih cantik, hanya saja lebih cantik semalam. Tapi ini malah membuatku semakin bertanya-tanya, siapa sebenarnya wanita ini?" batinnya.
"Semalam aku menggunakan make up dan semalam seharusnya menjadi malam pernikahanku bukan? Kau tau itu kan? Tapi aku malah memilih kabur dan terjebak di kapal sialanmu ini," ucap Fuji setengah emosi yang malah tak sadar kalau di akhir ucapannya, ia sudah mengumpat.
"Kau seharusnya merasa bangga. Kau sudah berhasil kabur dari pernikahanmu dengan pria tua itu. Dan kau juga mendapat jackpot karena bisa merasakan kenikmatan malam pertama denganku," ucap Alan sambil menyeringai.
"Kau— dasar mesum! Kenapa kau selalu mengingatkan aku tentang semalam?!" seru Fuji seraya memukul punggung Alan.
Alan menahan pergerakan tangan Fuji. "Haruskah aku mengantarmu kembali untuk menikah dengan pria tua mesum itu? Bukankah aku lebih baik dari dia?" ucap Alan membanggakan dirinya dan sedikit mengancam. Ia tidak menampik kalau saat ini dia memang mesum. Sifat ini terjadi juga karena Fuji yang membuatnya merasakan surga dunia.
"Ah sudahlah... aku akan memaklumi tingkat kemesumanmu itu," balas Fuji mengakhiri karena sedikit takut jika ancaman Alan benar-benar terjadi. Ia melepaskan tangannya dari Alan dan kembali merapikan penampilannya yang cupu.
Di sela-sela merapikan penampilannya, Fuji nampak berfikir sesuatu yang mungkin akan membebaskannya. "Hm... Alan," panggil Fuji untuk pertama kalinya dengan lengkap tanpa disingkat jadi Al.
"Hm?" jawab Alan menatap Fuji begitu tajam.
"Apakah penampilanku ini membuatmu risih? Hm... ataukan dengan penampilanku yang seperti ini, aku terlihat tidak baik untuk berada di sampingmu?" tanya Fuji yang juga membalas tatapan Alan dengan lembutnya.
"Memangnya kenapa?" jawab Alan yang malah bertanya balik. Ia tidak mau langsung membenarkan pertanyaan Fuji. Karena itu juga tidak sepenuhnya benar.
"Di dalam perjanjian kita, aku harus menuruti semua yang kau mau. Tapi aku sungguh tidak bisa merubah penampilan sehari-hatiku. Apakah sekarang kau berniat membatalkan perjanjian kita karena penampilanku?" tanya Fuji pelan seolah merasa tertekan. Padahal itu hanya sandiwaranya. Ia akan bersorak bahagia jika apa yang dipikirkannya ternyata terjadi.
Alan mengerutkan keningnya dan lantas berkata, "Tentu saja tidak. Perjanjian tetaplah perjanjian. Tidak masalah dengan penampilanmu. Yang penting, kau mengikuti kemauanku yang lainnya. Jadi ayo kita sebaiknya keluar," jawab Alan memutus percakapan diantara mereka. "Justru dengan penampilan seperti sekarang, membuatnya semakin menarik," batinnya. Ia berdiri dan berjalan lebih dulu meninggalkan Fuji yang kini tengah menatapnya.
Fuji menatap punggung Alan yang lebih dulu berjalan. Kemudian menghela nafas kasar. Ia tidak menyangka kalau Alan akan tetap kekeh dengan perjanjian yang ia buat. Bukankah seorang pria lebih suka wanitanya berpenampilan modis? Tapi ia malah jauh dari karakteria itu. "Pria ini sepertinya sangat ingin bermain-main denganku. Huh, baiklah... akan kutunjukkan dengan siapa dia ingin bermain-main," batinnya.
Fuji tidak menampik kecantikannya.Tapi ia memang suka menyamarkan dirinya semenjak kabur saat usia dua belas tahun. Dan karena keteledorannya waktu itu yang lupa menyamarkan penampilan, hingga ia berakhir ditemukan oleh Eiji.
.
.
.
.
.
.
.