Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 26 : ENOAC



Fuji tersenyum penuh kemenangan sambil berjalan menuju ruangan jacuzzi. Ia berjalan sambil mengingat kelakuannya yang memeluk asisten dari kakaknya. Ia tersenyum geli sendiri. "Huh, untung saja aku tau kalau pria itu pengidap OCD. Kalau tidak—" baru saja Fuji berucap, seseorang lebih dulu menyela ucapannya dengan terkejut.


"Kau sudah tau kalau dia punya penyakit OCD? Serius?" pekik Steven menyela ucapan Fuji. Bahkan kini, pria itu sudah mengambil langkah untuk berada di depan Fuji.


Fuji tampak bingung dengan keterkejutan Steven. Tapi ia lebih memilih menganggukkan kepalanya membenarkan. Lagipula, ia juga sedikit penasaran dengan maksud pertanyaan Steven. "Iya aku tau, memangnya kenapa?" tanyanya pada Steven.


Steven terkejut mendapatkan jawaban dari Fuji. "Bagaimana mungkin kau bisa tau kalau Alan mengidap OCD? Apa Alan yang memberitahumu? Siapa kau sebenarnya?" tanya Steven yang justru membuat Fuji juga terkejut.


"Alan OCD? Pada apa?" tanya Fuji terkejut. Tak pernah terpikir olehnya, kalau pria yang menggerayanginya semalam, ternyata mengidap penyakit OCD yang berarti ketakutan pada kuman atau hal lainnya. Ia bergumam kecil, "Bagaimana mungkin, Alan memiliki penyakit itu? Sedangkan semalam saja, ia begitu asik menyentuhku tanpa mengeluh sama sekali."


"Eh tunggu. Bukannya tadi kau bilang, kalau sudah mengetahuinya? Kenapa sekarang kau malah terkejut?" tanya Steven heran.


Fuji yang mendapat pertanyaan seperti itu, langsung mengalihkan pembicaraan. "Alan sudah menungguku di dalam. Sebaiknya aku masuk sekarang," ucapnya seraya melewati Steven dan meninggalkan Steven yang masih melongo di depan pintu masuk ruangan jacuzzi.


Steven yang tinggalkan oleh Fuji, kembali mencerna apa yang sudah ia dan Fuji katakan tadi. "Eh tunggu—ah sial! Apa aku melakukan kesalahan? Kenapa aku merasa seperti sudah membongkar rahasia Alan!" keluhnya karena merasa sudah dikelabui oleh wanita yang belum ia tau namanya.


Sementara Fuji, melemparkan senyumnya. Ia tidak menyangka akan mendapatkan informasi yang sangat besar. Sekarang ia sudah memasuki ruangan jacuzzi. Di sana sudah nampak Alan yang sedang merendahkan dirinya. "Ah... Alan... aku memegang satu rahasianya. OCD yah... masa bodo kalau dia OCD nya tidak berpengaruh padaku. Tapi pastinya, penyakitnya itu berpengaruh pada orang lain. Aku bisa memanfaatkan ini," batinnya tersenyum senang. Hari ini ia sudah mendapatkan Rey sebagai pionnya untuk kabur. Dan hari ini juga, ia mendapatkan informasi mengenai penyakit Alan yang ternyata sama dengan Rey.


Fuji terus berjalan menghampiri Alan yang sepertinya belum menyadari kehadirannya di ruang Jacuzzi itu, saking nyamannya merilekskan tubuh di dalam kolam itu.


Jacuzzi sebetulnya adalah kolam yang berukuran kecil, namun fungsinya berbeda dengan kolam renang. Kolam renang umumnya digunakan untuk berenang atau berolahraga renang. Sedangkan jacuzzi adalah bak mandi yang seperti kolam namun terbuat dari bahan fiber atau kaca.


Bak seperti kolam ini bisa ditanam di dalam tanah, bahkan sering juga disebut sebagai spa dengan jet. Kolam jacuzzi juga sering ditambahkan air yang menyembur dan menghasilkan gelembung-gelembung. Oleh karena itu, suasana jacuzzi bisa digunakan untuk merelaksasikan pikiran. Tidak hanya menimbulkan efek rileks, jet pada spa tersebut diyakini mampu menyembuhkan nyeri otot dan persendian hingga memperlancar aliran darah.


"Al," panggil Fuji yang sudah sampai di belakang Alan yang saat ini tengah bertelanjang dada.


Alan yang mendengar suara lembut Fuji, membalikkan tubuhnya menatap Fuji. "Kau sudah datang. Sini! Masuklah," perintah Alan.


Fuji hanya mengangguk dan langsung masuk. Tapi tangannya tiba-tiba ditahan Alan. Ia pun menatap Alan dengan penuh tanya.


"Kau mau masuk dengan pakaian?" tanya Alan menghentikan Fuji masuk ke dalam kolam.


"Terus bagaimana lagi?"


"Lepas kacamatamu itu dan lepas kenanganmu itu—"


"What? Kenapa harus begitu?" potong Fuji.


Alan menatap Fuji dari ujung kepala hingga ujung rambut. Ia menyanggah tubuhnya dengan kedua tangannya di pinggir kolam Jacuzzi. Lalu ia berkata dengan lembut, "Aku ingin melihat kecantikanmu."


Wajah Fuji memerah malu. Baru kali ini ada pria yang berhasil membuatnya blushing hanya karena berkata ia cantik.


"Cepatlah... buka juga pakaian luarmu itu. Kau tidak mungkin masuk ke dalam kolam dengan pakaian kan?" tambah Alan yang membuat pipi Fuji semakin memerah. Berbeda dengan Alan yang malah menipiskan senyumnya melihat Fuji.


"Apakah harus membuka pakaian? Kalau begitu, aku tidak usah masuk ke dalam saja—" baru saja Fuji ingin melangkah mundur, tapi tiba-tiba Alan menahan tangannya dan malah berdiri.


Alan langsung menggendong tubuh Fuji hingga masuk ke dalam kolam.


Byur! Fuji segera mengusap wajahnya yang basah.


"Hei! Sialan! Apa yang kau lakukan!" pekik Fuji tidak terima.


"Tentu saja membantumu masuk ke dalam kolam," jawab Alan dengan entengnya.


"Itu bajuku," balas Alan singkat membuat Fuji mencibirkan bibirnya manyun.


"Ya, aku tau itu bajumu. Tapi... aku yang memakainya. Masa aku keluar dari sini tanpa pakaian atau cuma dengan handuk sih," keluhnya lagi yang malah semakin membuat Alan gemas.


Alan segera mendekatkan tubuhnya pada Fuji. Hingga tidak ada jarak lagi antara mereka. "Kau mau apa? Menjauhlah," ucap Fuji seraya menyilangkan kedua tangan di depan dada.


"Kau itu lambat sekali," jawab Alan seraya tangannya menyentuh kerah kemeja yang dikenakan Fuji.


Fuji terkesiap merasakan tangan kekar Alan sedang memegang kerah kemeja dan tangannya sedikit bergesekan dengan Alan. Fuji menatap Alan seraya menyentuh tangan Alan. "Kau mau apa?" tanya Fuji yang tidak melepaskan tatapan dan tangannya dari Alan.


Tapi Alan tidak mempedulikan dan malah memajukan wajahnya ke telinga Fuji. Ia lantas berbisik, "Biar aku yang membukakan bajumu."


Suara serak Alan membuat Fuji merasakan sesuatu yang hangat menjalar di tubuhnya. Hingga ia hanya terdiam tanpa menyadari kalau Alan siap untuk membukakan bajunya.


Crekk! Kemeja Fuji robek. Dan pelakunya siapa lagi kalau bukan Alan.


Alan menarik paksa kemeja Fuji hingga robek dan terlepas. Bahkan melempar kemeja itu sembarangan. Hingga kini, hanya menyisakan dalaman di bagian dada Fuji.


"Kau!" pekik Fuji mencoba mendorong Alan setelah sadar. Namun Alan dengan cepat menahannya. Ia sekarang hanya mengenakan pakaian dalam saja dan itu membuatnya sangat malu. Bahkan wajahnya sudah sangat merah.


"Kenapa wajahmu memerah seperti itu? Kok malu? Bukannya kita sudah melakukan hal lebih di atas—"


"Stop!" pekik Fuji yang langsung membekap mulut Alan dengan menggunakan tangannya.


Tapi Alan yang mengetahui pergerakan Fuji, dengan cepat memegang tangan Fuji lalu menarik dan kuncinya ke belakang. Hingga Fuji menempel tepat di tubuhnya dan bersandar di pembatas kolam.


Fuji kaget dengan reaksi Alan. Apalagi tubuh mereka berdua yang menempel dengan setengah telanjang.


Tangan kanan Alan menahan tangan Fuji di belakang sedangkan tangan kirinya membelai wajah Fuji. Ia mengambil kacamata Fuji Dan melemparnya ke sembarangan arah.


Baru saja Fuji ingin menyangkal, tapi Alan sudah lebih dulu berkata hal yang lain. "Kenapa menutup mulutku dengan tanganmu? Kenapa kau tidak tertutup saja dengan bibirmu ini? Aku lebih suka itu," ucap Alan sambil tersenyum sinis di dekat di dekat telinga Fuji.


Fuji terdiam seolah otaknya sulit bekerja saat ini. Apalagi suara Alan kembali berucap dengan kurang ajarnya. "Haruskah aku juga yang membuka celana panjang dengan banyak saku milikmu?"


"Tidak!" pekik Fuji lagi memberontak dari dekapan Alan.


.


.


.


.


.


.


.


.