
...FLASHBACK BEBERAPA JAM YANG LALU...
"Ahh... " desah Fuji dengan masih menutup mata. Ia merasa sebuah benda asing memasukinya dan menggerayangi dirinya. Bahkan ia merasakan kepuasan. Tapi karena lelah yang ia rasakan, matanya terasa berat dan sangat sulit untuk bangun. Ia pun akhirnya menganggap semuanya hanya kenikmatan dalam mimpi.
Alan beranjak dari tidurnya setelah mencapai kepuasan dengan menggerayangi Fuji yang sedang tertidur lelap. Ia menggelengkan kepala sakin tidak percayanya dengan apa yang sudah ia lakukan.
Ia memandangi wajah Fuji yang nampak damai. Meski sempat mengalami pelepasan saat tidur. "Sepertinya dia sangat lelah. Sampai-sampai, tak sadar kalau aku menggaulinya. Tidurlah yang nyenyak," gumam Alan seraya mengecup kening Fuji dan pergi ke bathroom untuk membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri dan memakai pakaiannya, Alan membereskan pakaiannya yang semalam berantakan di lantai. Tangannya mengambil satu persatu pakaiannya, hingga tiba-tiba ia terhenti saat menemukan gaun pengantin. "Gaun pengantin? Apakah ini miliknya?" tanyanya dengan dirinya sendiri seraya menatap Fuji dengan kening berkerut.
"Ck, kalau ini gaun pengantin. Bukankah semalam aku dan dia seolah pengantin baru yang sedang melakukan malam pertama," gumamnya sedikit menarik sudut bibirnya.
"Aku akan mencaritahu tentang wanita ini," ucapnya seraya berdiri dan meletakkan semua pakaian ke dalam keranjang kotor. Kecuali gaun pengantin yang malah ia gulung dan masukkan ke dalam laci.
Tangan Alan kembali terhenti saat melihat dalaman wanita itu ada di dekat sofa. "Sepertinya aku harus membereskan kekacauan yang kubuat semalam," ucapnya mendengus kesal saat menyadari kelakuannya semalam hingga membuat dalaman wanita itu terlempar hingga ke sofa.
Alan merapikan dan membersihkan kamarnya sorang diri. Ia bisa saja memanggil Eiden untuk membantunya atau menyuruh pelayan yang mengerjakannya seandainya ia tak menyembunyikan kehadiran Fuji di dalam kamarnya.
Setelah hampir 30 menit, Alan usai juga membersihkan kamarnya. Dengan keringat yang bercucuran, ia duduk ke sofa dengan iPad di tangannya. Ia mengetik dengan serius di sana untuk menemukan informasi tentang Fuji setelah memfoto wajah wanita itu dalam keadaan tidur.
Lama Alan berselancar dengan iPadnya. Namun ia tak mendapatkan hasil yang ia inginnya. Tangannya kembali bergerak menekan tombol ikon telpon setelah menggunakan headphone di telinganya.
"Selidiki wanita yang ada dalam foto yang sudah kukirim!" perintah Alan pada seseorang team IT yang ia hubungi lewat iPadnya.
"Baik, Tuan. Segera laksanakan," jawab orang itu dengan hormat.
"Rahasiakan ini dari ketua kalian!" perintah Alan lagi yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Alan meminta agar team ITnya untuk tidak memberitahu Eiden yang merupakan ketua team, karena ia belum siap menjelaskan semua perkara yang terjadi padanya.
Ting! Tak lama menunggu, iPadnya sudah berbunyi lagi. Sudah bisa ia tebak, kalau itu berasal dari salah satu team ITnya.
"Maaf, Tuan. Server Error. Tidak ditemukan datanya sama sekali," kata yang terselip pada email yang baru saja dikirimkan oleh Team IT Alan beserta beberapa berkas kosong yang menyatakan identitas tidak terdeteksi.
"Semakin menarik. Siapa kau sebenarnya?" gumam Alan menyimpan iPadnya di meja. Lalu ia berdiri dan berjalan ke sisi kiri Fuji. "Siapapun kau, aku pasti akan mengetahuinya. Tapi sialnya, untuk mengetahui namamu saja sepertinya sulit. Padahal aku ingin mengejutkanmu dengan mengetahui semua identitasmu. Tapi malah kau yang membuatku terkejut," ucap Alan mengusap pucuk kepala Fuji.
Lalu Alan keluar dari kamarnya. Meninggalkan Fuji yang masih terlelap. Ia berjalan ke sisi kiri kapal untuk menemui pengawal penjaga pintu. Ia ingin menanyakan kenapa Fuji bisa masuk ke kapalnya lebih dulu.
Setelah menemui pengawal yang kebetulan bersama dengan Rojer yang sedang melatih mereka, akhirnya Alan bisa mendapatkan informasi tentang Fuji. Meski sebenarnya, informasi itu belum cukup untuknya. Karena identitas wanita yang ia tiduri benar-benar tersembunyi dan sulit untuk ia lacak. Tapi semua itu malah semakin membuatnya tertarik.
Saat berjalan menuju kamarnya, Alan teringat kalau ini sudah hampir jam 8 pagi. Ia dan Fuji belum sarapan sama sekali. Ia pun berinisiatif untuk meminta pelayan membawakan sarapan dua porsi ke kamarnya.
"Al... " panggil Staven berlari kearahnya dengan Eiden yang berada di samping.
"Aku meminta pelayan untuk membawakanku sarapan. Kau dampingi pelayan ini. Aku masuk ke kamarku lagi," ucap Alan seraya meninggalkan dua sahabatnya yang sedang menatapnya heran.
Eiden pun melaksanakan tugas yang diberikan Alan untuknya bersama dengan Steven. Sebenarnya ia sedikit heran karena tidak biasanya tuannya meminta sarapan sebanyak dua porsi setelah menanyakan pelayan itu.
Alan masuk ke kamarnya. Ia kembali duduk di sofa dan mengambil iPad di meja yang sempat ia tinggal tadi saat keluar kamar. Kembali ia mengetikkan sesuatu di sana. Ia berselancar dengan iPadnya begitu lama. Hingga notif pesan masuk terdengar .
Ting! Alan menyeringai saat melihat balasan dari layar iPadnya.
Tok Tok Tok!
Bersamaan dengan itu, suara pintu terketuk dari luar. Alan pun beranjak berdiri dan membuka pintu.
Terlihat Eiden membawa nampan yang berisi dua porsi makanan dan minuman. "Ini sarapan Anda, Tuan. Apa perlu saya bawa masuk?" ucap Eiden karena melihat Alan membuka pintu tidak seluas biasanya. Ini berarti ia harus meminta izin dulu.
"Tidak perlu. Sini makanannya. Biar aku saja," jawab Alan seraya mengambil nampan itu dan membawanya masuk setelah menutup pintu.
Alan meletakkan sarapannya di atas meja. Lalu kembali membuka pintu dan berkata, "mana map yang kuminta, Paman Lucas?"
Lucas yang berada di balik punggung Eiden, segera berjalan mendekat Alan. "Ini yang Anda minta, Tuan. Semuanya sudah di dalam," ucap Lucas yang merupakan firma hukum kepercayaannya.
Lucas memang jarang terlihat bersama dengan Steven, Eiden dan Rojer. Mungkin karena usianya yang tak muda lagi. Ia lebih suka menyendiri. Tapi tidak ada yang bisa meragukan kesetiaannya. Bahkan sebelah tangannya sudah tidak ada hanya karena kesetiaannya kepada keluarga Domenico selama bertahun-tahun.
Alan mengambil map yang diserahkan oleh Lucas. "Kerja bagus, Paman. Kau memang yang terbaik," puji Alan seraya meninggalkan tiga pria yang menatap pintu yang sudah ditutup.
Map itulah yang nantinya akan Alan serahkan pada Fuji. Map yang berisi surat perjanjian dadakan yang ia buat dengan bantuan firma hukumnya.
Sementara ketiga pria di depan pintu memiliki pandangan yang berbeda-beda.
"Map apa itu, Paman?" suara tanya itu memecahkan keheningan. Tentu saja itu bukan berasal dari Eiden. Tapi berasal dari Steven yang penasaran.
"Tidak terlalu penting. Saya pamit dulu," ucap Lucas sopan dan langsung beranjak pergi tanpa mengidahkan panggilan kesal dari Staven.
"Sial! Aku penasaran. Apa kau tidak penasaran Eiden?" tanya Steven pada Eiden.
"Tidak," jawab Eiden.
"Sebenarnya ada apa di dalam kamar Al? Aku sangat penasaran," ucap Steven di depan pintu kamar Alan.
...FLASHBACK OFF KEMBALI KE LEPTOPðŸ¤...