Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 24 : ENOAC



"Kenapa kau sangat ingin berasa di atas sini? Kapal sedang berlayar, matahari juga sudah mulai terik, anginnya juga sangat kencang. Jadi katakan padaku, apa alasanmu ingin ke atas sini?"


"Aku hanya menyukainya. Tidak lebih," jawab Fuji singkat. Ia sebetulnya memang memiliki maksud lain dengan menaiki menara paling tinggi di kapal ini. Tapi Ia harus menyembunyikan niatnya yang ingin memantau keadaan dan kondisi kapal itu pada Alan.


"Huh, duduklah di sana. Jika kita berdiri, kau bisa saja terjatuh." Alan menunjuk matras yang memang tersedia di ujung atas kapal itu.


Fuji melirik ke arah yang ditunjuk Alan. "Kau saja yang duduk. Aku ingin menikmati angin dulu," ucapnya beralasan karena tidak mungkin ia duduk di sana. Kalau ia duduk, maka ia tidak akan mampu memantau dengan benar.


Alan yang mungkin sudah lelah. Ia memilih untuk duduk di matras itu sesuai ucapan Fuji. Sementara Fuji tersenyum manis melihatnya.


Fuji berbalik, membelakangi Alan yang duduk di matras. Ia memegang pagar pembatas. Menelisik ke setiap arah di kapal itu, untuk mengetahui seluk beluk kapal ini. "Mungkin saja ada ruang untuk kabur—selain harus terjun dari kapal ini kan?" batinnya.


"Sebenarnya, apa yang kau cari?" tanya Alan tiba-tiba. Karena sedari tadi, ia sudah melihat dan membaca gerak gerik Fuji.


Fuji terkejut di tempatnya. "Itu—" gugupnya hingga tak tau harus menjawab apa. Baru kali ini ia tidak tau harus memberi alasan apa. Ia berpikir keras dengan otak cantiknya. Berupaya agar dapat menemukan alasan yang cocok untuk membuat Alan tidak curiga padanya.


"Kau sedari tadi, selalu memandang ke sana dan kemari. Seolah sedang mencari sesuatu. Kau tidak berusaha kabur dariku kan?" tebak Alan. Ia sedari tadi memperhatikan Fuji hingga membuat keningnya berkerut heran.


Bagaikan mendengar ledakan.


Duar! Tebakan Alan tepat sasaran, membuatnya sangat terkejut. Bahkan kini detak jantungnya tidak bisa dikondisikan. "Sial! Aku tidak menyangka, kalau orang kaya ini memiliki insting yang kuat. Dia benar-benar bukan orang yang bisa diremehkan," batinnya. Karena sejak awal, Ia berfikir kalau Alan hanyalah anak orang kaya yang akan menggunakan kekuatan dari kekuasaan hartanya. Ia tidak pernah berfikir kalau Alan sepertinya terlatih dalam memahami keadaan.


"Sudahlah, tidak usah mencari alasan. Sini, sebaiknya kau duduk di sebelahku. Lagipula... kalau kau ingin kabur, kau mau terjun ke laut? Kita ini masih sangat jauh dari daratan," tutur Alan tersenyum remeh.


Fuji yang mendengar itu, mendengus kesal. Ia tampak berfikir sebentar sebelum membalikkan badannya seraya tersenyum terpaksa pada Alan. "Aku hanya melihat-lihat. Jangan asal menebak. Karena tebakanmu salah besar," ucap Fuji seraya berjalan mendekat pada Alan. Ia mendudukkan tubuhnya di samping Alan sambil menarik nafas dalam.


"Yah, aku memang memindai sekeliling kapal ini. Tapi aku hanya sedang menikmati pemandangannya saja. Kenapa kau malah menuduhku ingin kabur? Bukankah kau sendiri yang mengatakan untuk keluar kamar agar bisa melihat pemandangan di luar kapal?" tambah Fuji dengan wajah sebal.


"Kalau begitu, bagaimana menurutmu—pemandangan kapal dari luar sini," ucap Alan mengalihkan pembicaraan karena ia merasa bersalah menuduh wanita di sampingnya ini.


Fuji tersenyum, karena berhasil membalik keadaan. Ia tau kalau Alan pasti merasa bersalah. Tapi sayangnya, pria itu sepertinya memiliki gengsi yang tinggi untuk mengakui kesalahan. Tapi tidak apa, setidaknya ia mampu menghindari masalah jika ia ketahuan sedang memindai kapal itu untuk membuat rencana pelarian. Atau bisa dibilang—kabur.


"Indah, mewah, dan sangat ketat. Kau memperkerjakan berapa pengawal untuk menjaga kapal ini?" jawabnya jujur.


"Kau begitu detail memperhatikan keadaan kapal ini yah," ujar Alan tersenyum sinis. Meski Fuji memang tidak berniat kabur, tapi ia bisa melihat kalau Fuji begitu terlatih dalam memindai kondisi dan situasi. "Dia memang benar-benar berbeda dari wanita yang sering ku jumpai. Ck, kenapa aku seolah takjub dengan semua tingkahnya? Sial!" gerutunya dalam hati.


"Aku hanya memperhatikan. Bukankah wajar jika aku bertanya begitu? Kau lihat saja di sana—di sana dan di sana... mereka semua nampak sangat mencolok dengan berdiri di sana," tunjuk Fuji ke segala arah yang terdapat pengawal. Sejujurnya ia memang harus mengetahui detail informasi pengawal yang menjaga kapal, untuk memastikan rencana awalnya.


"Kenapa kau malah menatapku seperti itu?" tanya Fuji dengan kening mengkerut heran.


"Jangan gunakan trik aneh untuk kabur dariku. Seperti saat kau masuk ke dalam kapal ini dengan mengelabui para pengawalku. Tapi kalau kau tetap nekat untuk melakukannya, maka—" Alan menatap Fuji dengan tajam seraya memberi jeda ucapannya.


Fuji kembali terkejut. Ia mulai bergerak gelisah untuk menghindari tatapan tajam Alan. Tapi Alan segera menarik dagunya untuk kembali saling bertatapan.


Gleg! Fuji menelan saliva yang serasa tersangkut di tenggorokannya. Apalagi saat Alan menghentikan ucapannya sejenak. "Maka, a—pa?" tanyanya gugup.


Sejujurnya pria ini sudah membuatnya merasakan banyak hal. Ia tidak pernah didominasi seperti ini sejak ia kabur dari ayahnya dan tinggal di jalanan. Tapi pria didepannya sungguh berhasil membuat jantungnya jungkir balik hanya dalam dua belas malam.


"Maka aku tidak akan pernah melepaskanmu. Jika aku menemukanmu," ucap Alan seraya berdiri dan berjalan turun dari menara. Tapi sebelum ia semakin jauh dari Fuji, ia lebih dulu berkata, "Jangan terlalu lama menikmati pemandangan kapal ini di sini. Matahari akan semakin terik. Jika sudah selesai, temui aku di ruang jacuzzi kapal ini. Tempat itu ada di arah barat. Kalau kau kesasar, tanya saja pengawal yang berjaga."


Fuji hanya bisa melongo menatap punggung kekar Alan dari kejauhan hingga sosok Alan menghilang dari pandangannya. Ia berdiri dan memegang pagar pembatas. Ia kembali menatap sekeliling kapal. "Jika dipikir-pikir, kapal ini memang didesain dengan sangat baik demi keamanan sang pewaris kekayaan seperti Alan. Tapi apakah Alan mempunyai banyak musuh, hingga di tengah laut begini pun, dia sampai harus menyediakan pengawal sebanyak ini," gumamnya pelan.


"Entahlah, lagipula itu bukan urusanku. Urusanku saat ini hanya bertahan sebelas malam di kapal ini bersama dengan pria itu," ucapnya lagi seraya membalikkan badannya dan berjalan untuk menyusul keberadaan Alan.


Fuji sudah turun dari menara itu. Lalu berjalan ke arah barat. Tapi karena takut kesasar, ia memilih untuk bertanya pada salah satu pengawal yang berjaga.


Baru saja Fuji ingin menghampiri pengawal itu, tapi tangan kekar sudah lebih dulu menarik tangannya dari belakang. Ia pun berbalik untuk melihat pelaku yang menarik tangannya. Namun tiba-tiba ia tersentak saat tau siapa orang yang menarik tangannya.


"Kau!" seru Fuji yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


.


.


.


.


.


.