
"Fuji... wanita yang menarik," gumam Alan tanpa sadar saat melihat ke layar iPadnya yang menampilkan tulisan kata 'service error'.
Sudah berapa kali ia mencoba mencari tahu tentang Fuji lewat foto yang berhasil ia ambil saat Fuji masih terlelap dalam tidurnya. Awalnya ia ingin memberi kejutan pada Fuji kalau ia sudah tahu nama wanita itu tanpa harus bertanya. Tapi ternyata semuanya tak sesuai ekspektasinya. Hingga ia harus bertanya langsung nama wanita itu.
"Bahkan setelah mengetahui namanya, informasi tentang identitasnya masih belum bisa aku ketahui. Sebenarnya siapa wanita ini?" tanyanya dalam hati. Ia bahkan sudah meminta tim IT yang ia miliki untuk mencari tahu tentang Fuji. Namun hasilnya tetap nihil.
"Tidak mungkin aku meminta Eiden mencari tau identitasnya. Ck, itu sama saja menghancurkan rencana yang sudah ku susun beberapa jam yang lalu," gerutunya. Ia memang tidak memberi tahu Eiden tentang Fuji. Bahkan ia membungkam mulut tim IT miliknya untuk memberi tahukan perintahnya pada Eiden.
Lama Alan berfikir, hingga tak menyadari kalau pintu bathroom sudah terbuka. Fuji berdiri di sana dengan handuk kimono putih yang dikenakannya.
"Al... " panggil Fuji seraya berjalan dengan sedikit kesusahan ke arah sofa yang diduduki Alan.
"Ha? Kau sudah selesai mandi? Kenapa tidak memanggilku?" tanya Alan yang segera menghampiri Fuji saat sadar kalau wanita itu kesulitan berjalan.
"Tidak apa-apa. Aku bisa berjalan sendiri. Tidak perlu digendong. Lagipula, aku sudah merasa baikan setelah berendam air hangat," jawab Fuji menahan uluran tangan Alan yang hendak menggendongnya.
"Biar aku gendong!" tegas Alan yang membuat Fuji tak berkutik hingga akhirnya hanya bisa pasrah. Entah kenapa ia tidak bisa melawan Alan. Padahal Alan hanyalah pria asing yang tak berarti apa-apa untuknya kecuali kejadian panas mereka.
"Lebarkan kakimu! Aku akan memakaikan salepnya," perintah Alan yang tanpa menunggu persetujuan, segera melebarkan sendiri kaki Fuji yang sudah ia dudukan di sofa. Ia langsung mengarahkan tangannya yang sudah ia beri salep ke arah inti milik Fuji.
"Ahh... " desah Fuji saat merasakan sensasi geli dan panas saat Alan menyentuh intinya.
Alan yang mendengar ******* Fuji, langsung mengalihkan tatapannya ke Fuji. "Apa kau ingin kita menikmati kegiatan panas seperti semalam?" tanya Alan dengan menarik salah satu sudut bibirnya.
"Tidak," jawab Fuji dengan cepat. Ia segera menahan tangan Alan dan menutup kembali intinya.
"Aku sudah pernah melihatnya, jadi untuk apa kau tutupi?" ucap Alan menatap lekat wajah cantik Fuji seraya menarik tangannya dan lekas duduk di samping Fuji.
"Makanlah. Sarapanmu pasti sudah dingin. Apa perlu aku menggantinya dengan yang lebih hangat?"
"Tidak perlu. Aku biasa makan makanan yang dingin. Jadi tidak masalah," tutur Fuji dengan cepat karena merasa sudah terlalu banyak merepotkan pria di sampingnya ini.
"Baguslah." Alan segera mengarahkan satu porsi makanan kepada Fuji.
"Kau tidak ikut makan?" tanya Fuji saat melihat Alan hanya memandangnya. Padahal masih ada satu porsi makanan lagi yang tersisa di meja itu.
"Makanlah juga. Itu masih ada satu porsi makanan," tunjuk Fuji seraya menyimpan makanannya dulu ke meja. Lalu ia mengambil makanan lainnya dan menyerahkannya pada Alan.
Alan hanya terus menatap Fuji dengan lekat meski di tangannya sudah terdapat makanan. "Liat makanannya. Aku tau aku cantik. Tapi kecantikanku ini tidak akan membuatmu kenyang," canda Fuji seraya melemparkan senyuman indahnya.
Alan melongo karena ketahuan menatap wanita yang selalu berhasil membuat jantungnya berdetak kencang. Ia dengan cepat dan sedikit gugup, segera memakan makanan di tangannya. Hingga melupakan sesuatu.
"Kau tidak mencuci tanganmu Al?" tanya Fuji membuat Alan berhenti makan dengan mulut yang masih terisi.
Alan menatap bingung dengan alis yang ia naikan. Fuji yang melihat itu segera berkata, "kau baru saja menyentuh anuku dan mengolesinya dengan salep. Apa kau langsung makan tanpa mencuci tangan dulu?"
"Uhuk! Uhuk!" Alan tersedak makanannya setelah mendengar perkataan Fuji. Bahkan kini matanya memerah.
"Hei Al. Minumlah... astaga... " ucap Fuji seraya menyodorkan air pada Alan dan menepuk punggung Alan.
"Aku tidak apa-apa... " ucap Alan lirih setelah rasa nyeri di tenggorokannya mulai menghilang.
"Itu karena kau mengejutkanku. Jika aku mati, kau juga sudah pasti mati." Alan menatap Fuji dengan mata yang masih memerah karena usai tersedak.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengejutkanmu. Aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan tadi. Lagipula aku lupa kalau kau makan pakai sendok. Jadi seharusnya tak masalah jika tidak mencuci tangan," ucap Fuji menjelaskan dengan merasa bersalah.
"Tapi apa kau sebegitu sukanya dengan ituku, sampai tak ingin mencuci tanganmu?" tanya Fuji dengan polosnya.
"Kau!" Alan merasa sangat kesal sekarang. Ia tau maksud perkataan Fuji. Tapi entah kenapa ia merasa bodoh jika didekat wanita itu karena ia tidak tau harus mengatakan apalagi.
Wanita di samping Alan sungguh membuat Alan tak berkutik dengan tingkahnya. Padahal mereka baru dua belas jam mereka bersama, tapi Alan sudah merasakan banyak hal berbeda dalam dirinya hanya karena wanita ini.
"Kenapa diam?" tanya Fuji bingung melihat pria itu terdiam. Apakah mungkin ucapannya sungguh keterlaluan hingga membuat pria yang menjadi penolongnya semalam menjadi diam seperti ini? Itu yang saat ini Fuji pikirkan. Tapi suara tegas dari Alan membuatnya kembali melebarkan senyumannya.
"Makanlah cepat. Setelah itu aku ingin berbicara denganmu," ucap Alan setelah lama terdiam memikirkan rencananya.
"Bukankah kita sekarang sudah bicara?" tanya Fuji dengan polosnya.
"Kau! Apa kau bodoh?! Ck... maksudku itu, nanti kita bicara hal serius. Bukan bicara yang tak ada artinya seperti sekarang ini," kesal Alan dengan mata abu-abunya yang menatap tajam Fuji.
"Oh... santai saja bicaranya, Pak. Aku kan cuma bertanya," ucap Fuji seraya melanjutkan kembali memakan makanannya.
"Kau!" Alan menghembuskan nafas kesal. Ia segera berdiri meninggalkan makanannya. Lalu berjalan ke arah tempat tidur. Mendudukkan tubuhnya dengan sedikit bersandar di tempat tidur.
"Kau tidak makan?" tanya Fuji saat melihat makanan Alan tidak dimakan lagi.
"Aku sudah tidak bernafsu memakannya." Alan menatap Fuji dengan kening berkerut. Ia tiba-tiba berucap, "selesaikan makananmu cepat. Nanti setelah kita bicara, kita akan keluar melihat pemandangan laut." Yah, Alan berfikir dan memutuskan untuk mengajak wanita itu keluar dari kamar untuk melihat-lihat pemandangan kapal dan laut agar bisa membuat pikirannya tidak ke arah kegiatan ranjang terus.
"Benarkah?" tanya Fuji masih dengan makanan di mulutnya. Ia bertanya untuk mencari kebenaran dari pendengarannya tadi.
Alan tersenyum tipis melihat mulut wanita itu yang penuh dan bertanya padanya. Ia pun mengangkat salah satu alisnya dan lantas berkata, "Apa kau ingin terkurung di kamar ini terus bersamaku? Jika itu kemauanmu, maka akan kukabulkan."
"Uhuk! Uhuk!" Fuji tersedak makanannya. Sesuai dengan harapan Alan. Bahkan Alan tidak berniat membantu Fuji yang saat ini berusaha minum sendiri.
Fuji menatap marah ke arah Alan yang hanya tersenyum sinis. "Cih, inikah aksi balas dendammu? Ah... sakit sekali tenggorokanku," keluh Fuji.
"Aku tidak bermaksud mengejutkanmu," jawab Alan yang mengulang perkataan Fuji tadi saat membuatnya tersedak.
"Kau!" Fuji nampak kesal sedangkan Alan tersenyum penuh kemenangan. Bahkan Alan merebahkan tubuhnya ke ranjang dan memunggungi Fuji.
.
.
.
.
.