Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 36 : ENOAC



"Ayah? Siapa, Ayah? Apa yang kau bicarakan pada pengawal itu?" potong seseorang yang muncul dari depan mereka.


Fuji membeku ditempatnya saat melihat sosok yang tadi ingin ia temui, sekarang berada di depannya. Siapa lagi kalau bukan Alan. Bahkan ia ketahuan sudah bicara dengan Rey yang saat ini tengah menyamar sebagai pengawal. Bagaimana jika semua pembicaraan mereka didengar oleh Alan? Maka habislah ia. Tapi sepertinya pria itu hanya mendengar sedikit pembicaraan mereka. Tapi entahlah, karena hal itu tetap membuatnya tidak bisa bersikap tenang. Apalagi Rey sepertinya semakin curiga dengan dirinya.


"Al—kau di sa—"


"Yah... ini aku, kenapa?" potong Alan dengan cepat seraya berjalan mendekat ke arah Fuji yang saat ini sudah menghadap ke depan dan menatapnya terkejut.


Sementara Rey tetap diam dengan kepala yang menunduk. Berupaya bersikap sebagai bawahan yang patuh pada tuannya agar Alan tidak mencurigai keberadaannya di sana. Meski begitu, ia tetap mencuri pandang untuk melihat sikap keduanya. Karena ia sedikit curiga dengan Fuji yang keluar dari kamar Alan. Jangan sampai kecurigaannya menjadi kenyataan. Maka tanpa mempedulikan perintah Fuji, ia akan langsung melaporkan ini pada tuannya. Setidaknya hanya melapor pada tuannya, bukan pada tuan besar—Tuan Atsushi.


"Kenapa kau bisa di sini? Dan mengapa kau bicara dengan pengawal ini?" tanya Alan setelah berdiri tepat di depan Fuji.


Fuji yang mendapatkan pertanyaan demikian, terdiam sebentar untuk mencari jawaban.


"Kenapa tidak menjawab? Hm? Ayah siapa yang kau maksud?" tanya Alan lagi seraya menatap tajam pengawal yang diajak bicara oleh Fuji.


"Eh... kebetulan sekali kau ada di sini, Al. Aku memang sedang mencarimu sedari tadi. Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Fuji yang mencoba mengalihkan pembicaraan saat melihat Alan yang menatap tajam pada Rey. Hingga akhirnya, ucapannya berhasil membuat Alan kembali menatapnya dengan kening berkerut.


"Aku bertanya kenapa kau bicara pada pengawal ini? Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan," tegas Alan.


Gleg! Sepertinya dalam waktu setengah hari saja, pria di depannya ini sudah mampu menganalisa tentang dirinya. Ia mencoba menarik nafas dalam untuk menenangkan diri agar tidak membuat Alan curiga.


"Huh... baiklah jika kau berfikir aku mengalihkan pembicaraan. Padahal aku memang ingin bicara denganmu. Makanya aku bicara pada pengawal ini untuk menanyakan keberadaanmu," jawab Fuji dengan tenang. Bukankah ia memang tidak berbohong? Ia memang sedari tadi mencari Alan untuk membahas tentang kemungkinan kehamilannya. Tapi tiba-tiba malah bertemu dengan Rey dan berakhir berbicara dengan pria itu.


"Lalu ayah apa yang kau maksud?" tanya Alan kembali karena masih merasa curiga saat mendengar penggalan ucapan Fuji bersama pengawal itu.


Fuji sedikit bersyukur karena sepertinya Alan hanya mendengar sebagian ucapannya. Matanya sedikit melirik Rey sebelum berkata, "Ayah yang ku maksud itu—hmm... bisakah kita bicarakan ini berdua saja? Lagipula, aku sudah menemukanmu. Dan aku memang akan bicara tentang hal penting, jadi sebaiknya jangan di sini." Fuji mengulang ucapannya membuat Alan menghela nafas.


"Baiklah, ayo kita ke dalam!" ucap Alan seraya menggerakkan tangannya mengambil tangan Fuji. Menggenggam dan menariknya untuk mengikuti langkahnya yang perlahan jalan ke arah kamarnya.


Fuji mengikuti Alan dengan mata yang melirik ke Rey. Ia menatap tajam Rey saat tatapan mereka bertemu seolah memberikan peringatan agar Rey mendengarkan ucapannya tadi.


Sementara Rey memicingkan matanya saat melihat Fuji ditarik masuk ke dalam kamar Alan. "Sepertinya dia lebih mencurigakan dari pada keberadaanku di sini. Sebenarnya apa yang kau lakukan di sini, Fuji? Untuk pertama kalinya aku melihatmu menurut pada orang selain Tuan dan Tuan Besar. Mungkinkah kau ada hubungan dengan pria itu? Entah apa yang akan dilakukan oleh Tuan jika mengetahui hal ini," batinnya bermonolog sendiri.


Berfikir tentang Fuji tidak pernah membuat Rey tidak pusing. Ia pasti akan selalu dibuat kalang kabut oleh tingkah wanita yang berhasil membuatnya tak berdaya itu. Dengan berat hati, Rey meninggalkan tempatnya setelah melihat pintu kamar Alan tertutup rapat. Sebenarnya ia sangat ingin berjaga di depan sana hingga Fuji keluar dari sana. Tapi itu tidak mungkin ia lakukan. Terlebih beberapa pengawal lainnya sudah mulai mengambil tempat di depan pintu.


.


.


.


.


.


.


"Jadi, katakan!" ucap Alan setelah melepaskan tangannya dari genggaman tangan Fuji.


"Hei! Kenapa kau melamun? Apakah lapar membuatmu sampai melamun seperti itu?" ucap Alan seraya berjalan ke arah pintu.


"Ah... tidak. Aku tidak melamun. Hanya sedang memikirkan perutku yang akan bertambah kecil karena tidak diberi makan oleh pemilik kapal," cibir Fuji cepat setelah melepas tangannya dari perutnya.


"Ck, aku tidak kekurangan seperti itu. Hingga bisa membuatmu kelaparan. Tunggulah di situ, aku akan meminta pelayan membawakan makanan kita." Alan membuka sedikit pintu dan berbicara sebentar pada pengawal yang berjaga di depan kamarnya.


"Kau, minta beberapa pengawal untuk membawakan makan siangku. Langsung masuk saja ke kamarku setelah mengetuk pintu. Usahan untuk tidak lama," perintah Alan sembari menutup pintu tanpa menguncinya.


Setelah itu, Alan kembali berjalan mendekati Fuji. Duduk di samping Fuji seraya memandang wajah wanita itu.


"Kau tak ingin menjelaskan tentang pembicaraanmu pada pengawal itu sekarang?"


"Tunggulah dulu, Al. Makanan saja belum datang dan masuk ke dalam perutku," jawab Fuji karena masih mengumpulkan alasan di otak cantiknya.


"Baiklah... kalau begitu, aku mau minta vitamin dulu sebelum kau mengunyah makanan," ucap Alan seraya menarik dagu Fuji untuk menghadapnya.


"Eh... lepaskan tanganmu, Al." Fuji melepaskan tangan Alan dari dagunya seraya menatap Alan dengan bibir mengerucut ke depan.


"Aku mau mengambil vitaminku. Karena tadi kau sudah membuat benda pusakaku kesakitan karena tendangan lututmu itu," jelas Alan gemas. Apalagi melihat bibir Fuji yang maju. Ingin rasanya Alan menghabisi bibir itu secepatnya.


Fuji menatap Alan dengan bingung. "Vitamin? Aku tidak punya vitamin seperti itu," ucapnya seraya mata yang melirik ke arah gumpalan di balik celana Alan. Ia merasa tak memiliki vitamin untuk menyembuhkan pusaka milik Alan. Jadi bagaimana ia mengobati pusaka Alan?


Alan yang mendengar ucapan Fuji, menunggingkan senyum geli. Ia mengerti arah ucapan Fuji. Sepertinya wanita itu salah paham dengan ucapannya. Apalagi sekarang wanita itu tengah menatap pusaka miliknya di bawah sana.


Alan menyentuh dagu Fuji kembali seraya mendongakkannya hingga mereka kini bertatapan. "Bukan vitamin itu yang ku maksud. Tapi yang ini," ucap Alan seraya memajukan wajahnya.


Sebelum Fuji mencerna ucapan Alan, bibirnya sudah di bungkam dengan bibir Alan. "Hmmm... Al," ucap Fuji saat Alan mulai menggigit bibirnya untuk mengambil akses penuh di dalam sana.


"Cap... cap... cap," cecapan bibir Alan menikmati manisnya bibir yang sudah membuatnya candu dalam setengah hari. Bahkan ia melupakan kalau ia tadi meminta pengawal langsung masuk bersama pelayan saja. Bagaimana jadinya jika pelayan melihat kelakuan tuannya yang memakan habis bibir Fuji?


Sementara Fuji mulai merangkul leher Alan dengan tangannya. "Ck, ternyata vitamin yang dia maksud adalah bibirku. Astagaaa... pria ini benar-benar membuatku gila," batinnya dan perlahan menutup mata menikmati buaian yang di tawarkan Alan untuknya.


.


.


.


.


.


.


Aduh gawat ini. si Alan pengen kasi tontonan gratis kayaknya buat pelayan sama pengawal 😂🙄💃


Dahlah