Daniar Larasati

Daniar Larasati
TAMPARAN SANG AYAH



POV Daniar.


Sesampainya aku di halaman rumah, terlihat Nisa adikku yang sangat aku cintai sedang sibuk menyirami tanaman.


"Nisa kakak pulang."


"Kakak !!, kakak aku sangat rindu kepadamu" Nisa berlari lalu memelukku.


"Iya kakak juga sangat merindukan Nisa, apakah ayah ada di rumah ??"


Nisa menundukan kepala tanpa menjawab pertanyaan dariku.


"Nisa kenapa tidak menjawab pertanyaan kakak?? apa yang sedang terjadi," kata Daniar sambil menatap Nisa.


"Kak setelah kakak menikah, ayah jarang pulang kerumah. Beberapa kali saja ayah pulang dan selalu dalam keadaan mabuk. Kak jujur Nisa merasa takut di rumah bersama ayah, ayah terkadang sangat kasar terhadap Nisa," jawab Nisa sedikit gugup.


Nisa meneteskan air mata kesedihanya. Ia sudah tak bisa lagi menutupi kesedihan dan ketakutanya.


"Sudah Nisa jangan menangis lagi. Kakak ada di sini bersamamu. Nisa adik kakak yang cantik hapus ya air matanya. Adik kakak kelihatan jelek menangis seperti ini," rayu Daniar menenangkan adiknya.


Sungguh ayah tidak menepati janjinya terhadapku. Aku tak menyangka ayah sangat tega. Apa yang akan ia perbuat lagi kedepanya?? Aku tidak akan membiarkan Nisa ikut merasakan penderitaan, sama seperti yang aku rasakan.


"Kak kenapa kamu membawa semua pakaianmu?? Apakah ada hal buruk yang sedang terjadi kak?"


"Nisa kakak pergi dari rumah tuan Hendra. Kakak ingin di sini menemani nisa."


"Kak!, aku bingung harus sedih atau senang mendengar hal ini. Aku senang kakak bisa bersamaku tapi aku juga sedih pasti ada sesuatu yang terjadi yang menyakiti kakak kan??"


"Sudah Nisa kakak baik-baik saja. Jangan terlalu memikirkan kakak ya, yang terpenting sekarang kakak gak akan biarin Nisa sendirian lagi."


Nisa adiku yang sangat aku sayangi. Dari kecil nisa mempunyai daya tahan tubuh yang sangat lemah, ia mudah terserang penyakit.


Sejak kecil perhatian ibu dan ayah selalu tertuju kepada Nisa, karena kondisinya yang selalu sakit-sakitan.


"Kak waktu itu kak Lia mencarimu kemari. Ia sangat kecewa sama kakak, karena tidak hadir saat kakak janjian bertemu denganya."


Aku hampir melupakan janjian bertemu dengan lia malam itu. Aku tak sadarkan diri dan berujung tidur dengan pria lain.


"Arghhhhhh sangat menyebalkan," gumamku.


"Kak kenapa tiba-tiba sangat kesal," tanya Nisa dan melirik melihatku.


"Gak papa nisa. Nisa bisa tolong kakak buatkan kakak teh ya, kakak sangat haus."


"Baik kak siapp."


"Aku harus menghubungi Lia. Ia pasti merasa kecewa kepadaku."


"Kleekk" suara charger Hp daniar.


Aku akan menghubunginya sambil mengisi daya ponselku.


"Hallo Daniar!, beraninya kau menghubungiku" teriak Lia yang sedang marah besar.


"Lia maafkan aku ya. Malam itu bukan aku tidak datang kesana tapi ada suatu hal yang terjadi. Aku tidak bisa menghubungimu karna ponselku habis batrai dan mati. Lia aku sungguh minta maaf, mari kita bertemu sekarang ya."


"Benarkah yang kamu ucapkan Daniar!! Baik aku akan menemuimu sekarang".


"Ok tunggu setengah jam lagi aku akan sampai. Jangan sampai kamu kemana-mana lagi ya."


"Baiklah Lia kamu tak usah kawatir."


Tak lama kemudian Lia datang menemuiku. Lama tak berjumpa denganya menjadikan pertemuan itu penuh dengan candaan dan air mata. Perlahan aku menceritakan semua masalah yang sedang terjadi dari awal alasan aku menikah dan hal yang terjadi pada malam itu.


"Daniar sungguh malang nasibmu" ucap Lia tertegun sambil menangis.


"Mau bagaimana Lia, mungkin ini sudah suratan takdir. Mau tidak mau sudah harus di jalani," jawabku dengan lesu.


Ini adalah alur jalan kehidupanku. Entah suatu saat apakah aku bisa merasakan kebahagiaan. Bahagia bersama orang-orang yang aku cintai contohnya menikah dengan pria yang aku sayangi dan merasakan memiliki seorang anak dengan suamiku suatu saat nanti. Argghhh aku menghayal terlalu tinggi. Hidupku tak akan semanis itu.


"Aku selalu ada di sampingmu Daniar. Aku selalu akan membantumu. Jika terjadi apapun tolong kamu jangan menyembunyikanya dariku ya."


Bersyukurnya aku masih memiliki sahabat yang baik dan adik yang sangat menyayangiku.


Walau rasanya dada ini terasa sangat sesak, merasakan semua beban yang aku pikul namun masih ada setitik cahaya terang yang selalu menyinari kehidupanku.


"Nisa!!, Ayah pulang."


"Kakak itu ayah pulang" ucap Nisa dan berlari menghampiri ayah.


"Ayah kemana saja kemarin tidak pulang kerumah??"


"Nisa ayah lelah ingin istirahat. Jangan membuat ayah marah dengan pertanyaan seperti itu."


Nisa berlari masuk ke dalam kamar memberitahuku bahwa ayah datang dan dalam keadaan mabuk.


"Kak, nisa takut. Ayah pulang dan sedang mabuk".


Aku bergegas menghampiri ayah. Melihat keadaanya yang seperti itu membuatku sangat kecewa. Air mata kekesalanku longsor tak bisa ku bendung lagi.


"Ayah inikah contoh yang engkau berikan kepada kami !! Apakah ayah ingin aku dan nisa menjadi seperti ayah ?? Tahukah ayah akan semua yang sudah aku alami!, tahukah ayah, hatiku hancur melihat ayah masih seperti."


"Dasar anak kurang ajar berani berkata seperti itu kepada ayahmu."


Plaaakkkkkk


"Teruskan ayah tampar aku ayo tampar lagi sampai aku mati. Aku rela mati di tangan ayah sekarang."


"Kamu tidak tahu balas budi kepadaku, aku membesarkanmu dengan susah payah berjuang untukmu dan adikmu."


"Bukankah itu kewajibanmu, membesarkan kami dan merawat kami !!!"


"Pergi sekarang pergilah dari rumah ini Daniar. Jangan kamu injakan lagi kakimu dirumah ini. Pergiii!!"


"Ayah mengusirku!, baik aku akan pergi sekarang dengan Nisa. Biarkan sekarang aku yang merawat Nisa."


Air mataku tumpah ruah terjatuh membasahi lantai. Ingin rasanya aku segera menyusul ibu agar tak merasakan semua kesakitan ini.


Ayah yang seharusnya memberi ketenangan dan perlindungan bagi anaknya. Cinta ayah yang seharusnya bagai laksana air yang mengalir tanpa henti. Aku berusaha membuang rasa benci terhadap ayahku. Aku sadar cinta seorang ayah mampu menguatkan anaknya. Ayah aku selalu berusaha membuatmu bangga dan bahagia, meski yang terjadi tak akan selalu bisa sama dengan harapanku.


Bersambung*****.