Daniar Larasati

Daniar Larasati
HARI YANG KELAM DAN AWAL BAHAGIA



"Daniar, Daniar" teriak Lina nyaring dari luar kamar.


Sontak Daniar membuka lebar-lebar matanya.Melihat silau hangatnya sinar matahari pagi yang menerobos masuk ke celah-celah kamarnya.


"Brakkkkk" suara Lina membanting pintu kamar".


"Daniar apa kamu tuli???, dari tadi aku memanggilmu berulang kali.


Daniar hanya diam, memalingkan wajahnya dari tatapan sengit Lina.


"Bangunlah pemalas, jangan pikir kamu bisa merasa nyaman tinggal disini" ucap Lina sambil menarik daniar dan menghempaskanya ke lantai.


Lagi-lagi Daniar hanya membisu, diam tanpa melakukan perlawanan sedikitpun atas kekasaran Lina padanya.


"Cepat mandi sekarang ikutlah dengan kami pergi keluar untuk berbelanja" tutur Lina.


Sesampainya mandi daniar bersiap turun kebawah. Nurul dan Lina sudah sejak tadi menunggunya.


"Taaak taakk" suara kaki menuruni tangga.


"Cepat naik ke mobil" ujar Nurul dengan nada tinggi.


"Mau di ajak kemana aku?? Semoga mereka berdua tidak akan melakukan hal-hal yang aneh" batin Daniar.


"Pak kita pergi ke Trade Center" ujar Nurul pada pak sopir.


"Baik nyonya."


Suasana di dalam mobil pun menjadi canggung dan hening. Mobil melaju cepat dan terarah. Daniar yang sedari tadi hanya menatap kaca mobil melihat suasana padatnya jalanan kota.


Sesampainya di tempat tujuan, Nurul dan Lina turun dari mobil terlebih dahulu di susul Daniar yang kemudian ikut turun. Langkah kaki mereka berjalan begitu cepat, Daniar berusaha menyeimbangi mengikuti mereka dari belakang.


"Wooowww dress ini bagus sekali" ucap Lina sambil melihat-lihat koleksi baju merek ternama.


"Kamu cocok mengenakan yang ini" sahut Nurul sambil memegang dress berwarna merah hati.


"Ok aku mau yang ini dan ini juga" ujar Lina dan Nurul bersamaan.


" Baik nyonya, Apakah nyonya tidak mau sekalian mengambil tas nya juga?? Ini sangat serasi jika di pasangkan dengan dress yang nyonya pilih" kata penjaga toko.


"baiklah ok" jawab mereka serentak.


Lina dan Nurul mengeluarkan kartu ATM platinum milik mereka masing-masing.


"Ini belanjaanya nyonya, silahkan datang kembali lain waktu".


"Tolong serahkan ke pembantu kami" ujar Lina mengejek sambil melirik Daniar.


Dengan tega mereka menyuruh Daniar membawakan semua belanjaan yang sudah mereka beli. Keringat yang mengucur tumpah menetes membasahi dahi daniar. Nafas daniar terengah engah, lelah mengikuti mereka berjalan kesana kemari. Akan tetapi daniar tetap sabar mengikuti dan memenuhi perintah dari Nurul dan Lina.


"Kita duduk sini dulu ya Lina" ucap Nurul sambil duduk tergesa-gesa.


"Iya, kita istirahat dulu. Aku juga sangat lelah."


"Daniar, pergilah belikan minuman untuk kami" pinta Nurul.


"Huuffttt, baiklah" jawab Daniar dengan hembusan nafas panjang.


Daniar membalikan badanya, berjalan perlahan mencari stand penjual minuman.


"Sungguh kakiku terasa sangat lelah, seperti sudah tidak ada tenaga menopang tubuhku. Pada saat pergi tadi belum sempat sarapan pagi jadi energi serasa terkuras bersih" batin Daniar dalam hati.


Setelah mendapatkan minuman, Daniar tergesa-gesa kembali menghampiri Nurul dan Lina. Ia khawatir mereka akan marah karena menunggu lama. Saat Daniar berjalan cepat, tiba-tiba...


Minuman yang Daniar bawa tumpah mengenai Lina, membasahi baju yang ia kenakan. Daniar tidak sengaja melakukanya. Kaki nya terkilir karena berjalan terlalu cepat.


"Apa-apaan ini Daniar. Dasar wanita ****** kurang ajar. Lihatlah baju mahal yang aku kenakan basah akibat ulahmu" teriak Lina sambil melotot marah.


"Maaf Lina maafkan kecerobohanku. Kakiku tiba-tiba terkilir jadi tidak sengaja menumpahkan minuman ini dan mengenaimu" jawab Daniar ketakutan.


"Dasar wanita ceroboh, pembuat masalah" sahut Nurul.


"Plaaakkkkkkk" suara tangan Lina menampar wajah daniar sampai tersungkur di lantai.


"Buuggg buggg" kaki Lina menendangi daniar berulang kali.


"Ampun Lina ampun, sakit, cukup Lina" jawab Daniar lemah.


Adhitama dan Farel serta Luna, kebetulan sedang berada di tempat yang sama dengan Daniar, ia datang kesitu karena sedang menghadiri makan siang bersama orang-orang penting perusahaan yang akan bekerjasama dengan perusahaan miliknya.


"Apakah ada copet?? Kenapa sangat ramai orang berkerubung" tanya Farel kepada Adhitama.


"Mana aku tahu, lagian aku tidak peduli" jawab Adhitama sambil memalingkan pandanganya dan berjalan perlahan menjauh.


"Ampun Lina ampun" teriak daniar.


Mendengar teriakan Daniar, Adhitama menghentikan langkah kakinya, membalikan pandanganya dan berjalan cepat menuju suara teriakan Daniar. Adhitama tak menyangka di mall miliknya ada kejadian serendah ini.


"Ada apa ini, hentikan" teriak Adhitama sambil mendorong Lina dengan keras.


Adhitama spontan menopang Daniar, ia sungguh merasa sangat kasihan melihat keadaan Daniar.


"Heii beraninya kamu terhadap wanita. Ini urusanku denganya. Kamu tak usah ikut campur" tegas Lina lantang.


"Heii wanita iblis, berani nya kamu berkata kasar seperti itu kepada bos kami" jawab Farel sambil mencengkram keras mulut lina dengan jari tanganya.


"Lepaskan Farel, panggil penjaga dan usir mereka dari sini, jangan biarkan mereka kedepanya menginjakan kaki di mall ini lagi" perintah Adhitama.


"Kalian kurang ajar, memperlakukan wanita dengan tidak terpuji. Lepaskan tangan kami, Kami bisa pergi sendiri. Daniar tunggu pembalasanku nanti" Ucap Lina mengancam.


Adhitama perlahan pergi meninggalkan tempat itu, membopong tubuh Daniar dengan lembut menuju mobilnya. Matanya melirik wajah Daniar yang sedikit tertutupi oleh rambut panjangnya.


"Tuan turunkan aku" tutur Daniar lirih sambil menangis.


"Apakah kamu yakin??" tanya Adhitama.


Daniar menganggukan kepalanya berulangkali dan berkata "Aku ingin pulang tuan."


Adhitama perlahan menurunkanya. Merogoh saku celananya dan mengambil handphone miliknya.


"Hallo Farel datanglah ke parkiran mobil, segera" Perintah Adhitama.


"Baiklah aku segera datang" Jawab Farel.


Sesampainya Farel datang.


"Farel segera antar nona ini pulang."


"Baiklah, mari nona saya antar kamu pulang sampai rumah."


"Terimakasih."


Daniar tidak bisa menolak. Ia tidak bisa jika harus pulang sendiri karena kondisi badanya yang lemah dan juga ia tidak mempunyai uang sepeserpun untuk naik taksi.


Bersambung*****