Daniar Larasati

Daniar Larasati
Pertemuan Mengharukan



Sampai di rumah, tak di lihatnya sosok pengganggu yang merusak suasana penting bagi Adhitama, melebihi kontrak berharga triliunan rupiah.


"Loh,, apa Farel sudah pergi," tanya Daniar seraya melepas kaitan tangannya pada lengan Adhitama.


"Entahlah," Adhitama mengangkat kedua alisnya juga nampak kebingungan.


"Sayang,, sini," Adhitama menarik lengan Daniar. Menerobos sela lengan Daniar, memeluknya dari belakang. Punggung Daniar kini beradu dengan bagian tubuh depan Adhitama.


"Kita lanjutkan lagi ya. Aku tak tahan lagi menahan,"


Daniar tergelitik. Mendengar rintihan bayi besar seperti meminta makan pada ibunya.


"Kakak!!" teriak seseorang yang di kenali suaranya sebagai Nisa adiknya.


Refleks Daniar melepas pelukan hangat yang mengalungi pinggangnya. Berlari ke arah adiknya yang nampak baru memasuki pintu ruangan. Menghambur ke pelukan Nisa seraya berurai air mata. Rindu yang lama di tahan, kini meluap.


"Da--Daniar!"


Daniar segera menoleh ke arah sumber suara lain. Di dapatinya sosok Lia beriringan bersama Farel yang sedari tadi mereka cari.


"Lia!!"


Mereka ber-tiga meluapkan rindu bercampur bahagia. Tak akan terfikir oleh Daniar, adik dan sahabat kentalnya itu datang kepadanya.


Mengeratkan menguatkan pelukan mereka. Dan terdengar ucapan rasa syukur dari bibir Lia dan Nisa membumbung ke udara, akan keslamatan Daniar.


"Bos, maaf ya. Aku mengganggu waktu senangmu. Aku membawa mereka datang kemari sebagai hadiah pernikahan dariku untuk Daniar."


Farel mengerti sangat sisi lain dari kebahagiaan Daniar. Masih ada secarik kesedihan yang tersimpan di benaknya. Maka dari itu, Farel berusaha mengerti dan mengabulkan keinginan Daniar untuk bertemu keluarga yang saat ini ia miliki. Hanya Nisa yang tersisa dalam hidupnya. Dan Lia sahabat sehidup semati yang sudah ia anggap seperti saudara kandung sendiri.


"Nisa,, maafin kakak ya nggak nepatin janji makan malam bersama Nisa di rumah waktu itu,"


Bagi Nisa semua itu tidaklah penting. Dan Daniar tak perlu melontarkan permohonan maaf untuknya. Ia justru merasa sedih jika kakak perempuannya itu tak akan pernah lagi bertemu dengannya.


"Kak,, jangan minta maaf kepadaku. Melihat kakak saat ini cukup bagiku bisa bernafas lega kembali,"


"Aku juga senang melihat keadaanmu saat ini baik-baik saja Daniar," Lia menimpal.


"Ohh iya. Kak, selamat menempuh hidup baru ya. Berbahagialah selalu bersama kak Adhitama. Ja-jangan pernah


tinggalin aku sendiri ya kak," Air mata Nisa merembes membasahi pipinya. Daniar menyeka lembut air mata Nisa. "Nis,, kakak nggak akan pernah meninggalkanmu. Dimanapun kakak berada, Nisa akan selalu berada di sisi kakak," Daniar berusaha meyakinkan Nisa.


"Benar yang di ucapkan kakakmu, Nisa. Kini kakakmu juga kamu adalah tanggung jawab kak Adhitama," timpal Adhitama di sela pembicaraan Daniar.


"Nisa bukannya ingin lanjut kuliah ya," tanya Adhitama yang tiba-tiba teringat akan keinginan Nisa yang belum juga tersampaikan.


"Pilih di mana Nisa ingin kuliah. Nanti ngomong sama kakak. Biar kakak daftarkan ke Universitas yang kamu tunjuk,"


Sudut bibir Nisa melebar, tersenyum bahagia respon pendengarannya atas ucapan Adhitama. Sesekali, ia melirik Daniar yang berada di sampingnya, memastikan ekspresi kakaknya. Nampak berbinar di kedua sepasang matanya.


"Hmm,, boleh nggak ya??"


"Tentu boleh dong Nis," Daniar menjawab Antusias.


"Yeayy,, makasih ya kak. Akhirnya Nisa bisa kuliah kak," Nisa memeluk lagi tubuh Daniar dengan erat.


Ulasan senyum terukir di wajah mereka. Adhitama merasa puas, sekali lagi ia memberikan Daniar kebahagiaan.


"Ehemm,, bagaimana kalau nanti kita mendirikan tenda di pinggiran pantai. Menghabiskan waktu Bersenang-senang bersama merayakan pertemuan kita hari ini," ucap Farel tiba-tiba.


"Ide bagus," Jawab Adhitama di ikuti anggukan dari yang lainnya. Pertanda mereka menyetujui rencana Farel.


Adhitama segera memerintah asisten rumahnya untuk menyiapkan segala kebutuhan mereka yang akan di bawa. Nisa, Farel, dan Lia, berkumpul menunggu di ruang tengah. Daniar pergi masuk ke dalam kamar. Berniat mengganti bajunya yang sedikit basah akibat bersenang-senang bersama suaminya di pantai.


Daniar segera masuk ke dalam kamar mandi. Mulai menanggalkan pakaian yang menempel di tubuhnya. Klekk,, Adhitama memutar daun pintu kamar mandi, menyelonong masuk ke dalam begitu saja.


"Ihh sayang.. kaget tau akunya," ucap Daniar.


Adhitama terdiam. Hanya sepasang bola matanya yang nampak bergerak melihat kemolekan tubuh istrinya dari ujung rambut ke ujung kaki. Daniar tersipu malu, refleks menutupi gundukan kembar dengan ke dua telapak tangannya. "Sayang,, jangan di tutupi seperti itu. Kenapa malu-malu. Itukan milikku sayang," ucap Adhitama seraya menambah langkah kakinya. "Ihh,, kan it-itu,," Daniar kikuk menghadapi seekor singa jantan yang nampak lapar dan haus di hadapannya. Adhitama menangkup rahang Daniar, mengangkatnya perlahan lalu cupp mengecup bibir yang sedikit terbuka itu. Meluncurkan serangan french kiss yang sudah jadi andalan Adhitama. Puk! Daniar menepuk dada Adhitama. Sedikit memberontak agar Adhitama melepaskan kaitan bibirnya karena ia sulit bernafas.


"Sayang,, aku nggak bisa nafas," rengek Daniar manja.


"Tapi enak kan," Adhitama menggodanya.


"Sayang,, tak sabar rasanya ingin memakanmu," bisik Adhitama.


Daniar mengangguk lalu tersenyum manis. Toh, itu juga sudah menjadi kewajibannya sebagai istri. Daniar semakin mengeratkan pelukannya kepada pria yang kini berlabel halal baginya. Kini, ia yang bergerak melucuti pakaian yang menempel di tubuh suaminya. Nafas mereka memburu cepat. Adhitama memutar keran shower , mendinginkan hawa desiran darah panas tubuh tanpa busana dua sejoli penuh gairah. Tanpa banyak menit berselang, Adhitama menyerang gundukan di dada. Meremasnya bersamaan dengan lembut. Membangunkan kenikmatan di sekujur tubuh Daniar.


"Aku berharap segera ada Adhitama kecil menempati rahimmu, sayang," Ucap lirih Adhitama.


Daniar tertegun sejenak mendengar Adhitama menginginkan ia segera mengandung benih darinya. Tak di sangka Adhitama sudah jauh berfikir ke arah momongan. Bulir air mata bahagia jatuh membasahi pipi. Menerima kemauan Adhitama yang menaruh harapan padannya. Air mata itu tersapu percikan air shower yang kini sedang membasahinya.


Kali ini ritual pencetakan baby Adhitama sukses di laksanakan. Tanpa adanya gangguan seperti yang terjadi pagi tadi. Adhitama akan terus giat menanam benih di ladang Daniar sampai membuahkan hasil.


*BERSAMBUNG ***


Entahlah untuk naskah part ini semoga kalian suka.


Maaf jika kurang memuaskan.


Author berapa hari ini lagi nggak enak hati jadi terbawa suasana


Part selanjutnya author kenalin wajah karakter tokoh di novel ini.


Terimakasih*.