
Adhitama menurunkan todongan pistol yang menempel di kening Farel. Lalu membalikkan arah badan membelakanginya.
"Bos!! lakukan saja. Aku ini sungguh tak berguna bos," ucap Farel dengan nada tinggi.
"Ini bukan kesalahanmu Farel. Ini sudah takdir yang tak dapat di hindari," balas Adhitama lesu.
Dengan tangan yang masih terluka, Adhitama pergi begitu saja ke kamarnya. Langkah kakinya perlahan mulai gontai. Darah segar merembes dari tangannya. Sepanjang ia berjalan bayangan sosok Daniar menghantui fikirannya. Merasa bersalah karena tak mampu melindungi calon istrinya itu.
Adhitama menghentikan langkah kakinya. Tepat di depan pintu kamar saat Daniar dulu tinggal bersamanya. "Daniar," ucapnya lirih. Adhitama memutuskan masuk ke dalam kamar itu.
"Kenapa kamu meninggalkan aku secepat ini sayang," batin Adhitama yang sedang duduk di atas ranjang tidur. Tangan kanannya meraih sebuah bingkai kaca di atas nakas. Foto kenangan mereka berdua saat Adhitama melamar Daniar.
Bulir-bulir air mata muncul di sudut mata pria dingin itu. Dan akhirnya ia kalah. Dengan janji yang tak akan pernah menangis lagi setelah kepergian orang tuanya. Air mata itu akhirnya longsor membasahi foto di genggamannya.
"Aku nggak bisa hidup tanpa kamu Daniar!!" teriak Adhitama. Teriakan Adhitama sampai terdengar di telinga Farel. Farel segera berlari ke arah sumber suara teriakkan itu. "Bos! ada apa?" tanya Farel sambil menatap Adhitama.
Adhitama tak menjawab sedikitpun pertanyaan darinya. Dia hanya menundukan kepala, memandang lekat lembaran foto gadis yang ia cintai. Menerima kenyataan atas kepergian seseorang yang kita sayangi, memanglah terasa sakit dan sulit. Farel mengerti dengan keadaan yang di alami bosnya saat ini. Ia memutuskan keluar dari kamar meninggalkan Adhitama sendiri.
******
Waktu menunjukan pukul 05.00 sore. Daniar sedari tadi menanti Orlando pulang dari kantor. Sudah hampir 2 jam Daniar menunggu di ruang tamu, namun tak juga muncul bayangan sosok dari Orlando. Sebelumnya, Gea bercerita kepadanya bahwa tuan mudanya itu seorang CEO di perusahaan besar dan ternama di kota ini. Jadi wajar, jika ia tak pernah pulang tepat waktu.
"Non! tunggu tuan muda di kamar saja. Nanti kalau tuan sudah sampai rumah saya kabarin non," kata Gea karena kasian melihat Daniar sedari tadi menunggu.
"Baiklah, Gea! saya kembali ke kamar dulu ya."
Daniar beranjak dari tempatnya sambil mengukir senyum lembutnya.
Gea diam-diam menelfon tuannya
"Hallo tuan," ucap Gea.
"Kenapa Gea?? apakah ada sesuatu yang terjadi? " jawab Orlando.
"Tidak tuan. Hanya saja saya mau ngasih tau non Daniar dari tadi menunggu kedatangan tuan muda."
Bibir Orlando mengembang mengukir senyuman. Dia senang mendengar gadis itu menunggu kepulanganya.
"Baiklah saya segera pulang,"kata Orlando.
"Jack! batalkan pertemuan nanti malam. Aku mau pulang sekarang," tegas Orlando sembari menutup layar laptop di hadapannya.
"Tuan, pertemuan dengan klien nanti malam sangat berpengaruh dengan kerja sama yang akan menguntungkan untuk perusahaan. Apakah tuan yakin akan mengundur pertemuan ini?" tanya Jack yang merasa terkejut karena keputusan dari tuannya.
"Tak masalah. Kita bisa mencari klien lain jika perlu."
Orlando beranjak dari ruangan kantornya dan Jack mengekor di belakangnya. Orlando yang biasanya sangat mementingkan urusan perusahaan, kali ini melewatkan kesempatan emas begitu saja karena gadis itu. Lagi-lagi sosok gadis berparas ayu itu mampu menaklukan hati seorang CEO tampan dan mapan.
"Jack! tambah lagi kecepatan. Aku sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumah," perintah Orlando sembari melihatkan wajah cerianya.
"Baik tuan muda," jawab Jack sopan.
Sesampainya di depan vila, Orlando segera masuk ke dalam. Gea dan beberapa pengurus vila itu menyambut kedatangannya.
"Di mana Daniar, Gea?" tanya Orlando yang baru saja tiba.
"Ada di kamar, tuan muda" jawab Gea.
"Buatkan teh hangat aroma melati dan bawa ke atas," perintah Orlando sambil berjalan menuju lift.
"Baik tuan."
Di dalam kamar, Daniar duduk di kursi menatap pemandangan luar jendela. Burung-burung berterbangan kesana kemari. Hinggap dan terbang dari ranting pohon satu dan lainnya.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di iringi suara seorang pria "Daniar ini aku Orlando. Bolehkah aku masuk ke dalam?"
Daniar segera beranjak dari duduknya dan membuka pintu "Orlando! Ayo masuk ," kata Daniar.
Mereka duduk bersama di balcon kamar Daniar sambil menatap senja yang menggores apik bentangan langit di ujung bara.
"Permisi, ini pesanan tehnya tuan," ucap Gea sembari menaruh ke dua cangkir teh di atas meja.
"Terimakasih, Gea," balas Orlando.
"Sama-sama tuan," kata Gea dan membungkuk setengah badan.
Gea berjalan meninggalkan ruangan.
Orlando menatap Daniar. Pandangan Daniar lurus melihat senja sore itu. Hembusan angin sore memainkan poni rambut dari gadis itu.
Daniar yang sadar Orlando menatapnya langsung gugup dan salah tingkah "Eh,, kenapa? kok ngliatin aku kaya gitu. Ada yang aneh ya sama wajahku," tanya Daniar sambil meraba-raba kulit wajahnya.
"Nggak kok, bukan begitu Daniar. Aku hanya terheran melihatmu setenang itu melihat pemandangan senja sore ini," jawab Orlando sambil cengengesan.
"Oh iya,, Orlando aku ingin menghubungi Adhitama. Apakah kamu menemukan ponselku saat menyelamatkan aku waktu itu?" tanya Daniar sambil memiringkan arah wajahnya.
"Aku tidak menemukan ponselmu pada saat itu. Dan kalau bisa jangan hubungi Adhitama dulu untuk sementara. Kita nggak tahu bagaimana keadaan di luar sana. Takutnya musuh masih berusaha mengintai kamu. Kalau terlihat kamu masih hidup," terang Orlando meyakinkan Daniar.
"Kenapa harus Adhitama, Daniar. Kamu tak akan merasa aman jika terus bersamanya. Dan musuh yang ingin membunuhmu itu adalah Sean kakak kandungku. Ia sekarang sudah tewas di tangan Adhitama, musuh bebuyutannya," batin Orlando.
"Minumlah teh hangat yang sudah di buatkan oleh Gea," Orlando menyodorkan secangkir teh untuk Daniar.
"Ehmm,, aroma melati ya. Aku suka banget. Kok bisa pas ya Gea buatkan teh aroma melati yang aku suka," kata Daniar dan meneguk perlahan teh hangat di tangannya.
"Aku tahu semua yang kamu sukai Daniar. Bahkan latar belakangmu, semua aku tahu," batin Orlando.
"Aku dari tadi menunggumu pulang kerja, karena aku pikir kamu menyimpan ponsel milikku. Aku rindu sama Adhitama. Paling tidak ingin melihat fotonya di ponselku," ungkap Daniar dengan wajah lesu.
"Oh,, begitu ya. Jadi, nungguin aku karena masalah Adhitama?"
Air wajah Orlando seketika berubah. Ia merasa kecewa mengetahui kenyataan dari bibir mungil gadis di hadapannya itu. Mungkin Adhitama tak akan pernah bisa tergantikan di hati Daniar.
Bersambung***