Daniar Larasati

Daniar Larasati
HARI PERNIKAHAN



Hari yang di takutkanpun akhirnya tiba. Hari ini Daniar akan melepas masa lajangnya dengan pria yang sama sekali tidak ia cintai.Daniar memantapkan hatinya, menata perasaanya, dan berharap semua ini lekas berlalu.


"Tak kusangka pernikahanku akan seperti ini.*Dulu saat aku kecil aku *mendambakan pernikahan mewah dan bahagia bagai putri sebuah kerajaan menikah dengan pangeran* yang di cintai. Baiklah daniar hari ini kamu harus bisa melaluinya *dengan tenang*. S*emua akan berjalan baik-baik saja" ucap Daniar menyemangati diri sendiri.


Daniar duduk manis di depan cermin meja riasnya. Ia memandang dirinya di cermin bagai wanita dengan topeng raut wajah bahagia. Butiran keringat yang mengucur tampak jelas di kerutan dahinya. Tanganya yang dingin bagai es dan perasaan jantung yang berdebar kencang membuatnya semakin grogi.


"Wah mb Daniar tampak sangat cantik sekali setelah di rias sangat mangklingi" ujar si tukang rias.


Daniar hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan tersebut.


"Daniar, anak ayah sangat cantik hari ini. Ayah bangga terhadapmu. Selama ini ayah berjuang membesarkanmu, dengan pernikahan ini kamu membalas budi kepada ayah" ucap sang ayah.


"Ayah aku rela menukar kebahagiaanku demi menutupi semua hutangmu. Satu pintaku kepada ayah , aku harap ayah berhenti bermain judi. Jangan pernah melakukan hal-hal bodoh itu lagi. Cukup aku yang menanggung derita dari ulah ayah ini jangan sampai Nisa ikut menangung beban di kemudian hari" Tegas daniar.


"Baik ayah berjanji asal hari ini kamu menjalankan acara pernikahan ini dengan baik sampai akhir aku berjanji akan menuruti kemauanmu" jawab sang ayah.


"Aku pegang janji ayah hari ini di hadapanku di hari pernikahanku"


"Daniar calon suamimu itu sungguh kaya, ia memberimu seserahan emas logam 50 gram sebanyak 5 biji serta mobil keluaran terbaru tahun ini. Akankah ia membelikanmu rumah besar setelah kalian menikah??"


"Cukup ayah sudah. Semakin ayah membahas ini semakin jijik aku merasakanya.Buang lah sifat rakus ayah mengenai harta.Tahukah ayah sedikit saja akan perasaan putrimu??"


"Baiklah ayah minta maaf" ucap sang ayah sambil pergi meninggalkan Daniar.


Daniar pun menyeringai sangat kesal akan perkataan ayahnya. Ia hanya bisa tertunduk dengan mata membelalang. Menarik nafas dan menghembuskanya dengan perlahan.


"Took took" suara ketukan pintu berbunyi pelan.


"Kak acara segera akan di mulai" ujar Nisa.


"Masuklah Nisa" jawab Daniar dari dalam.


"Ayo kak aku akan mendampingimu keluar menuju pelaminan"


Tepuk tangan para tamu bersorak ramai,menandakan mereka berdua telah sah menjadi suami istri. Permainan pernikahan ini semakin jelas sakitnya di hati Daniar.


Iya "Pernikahan Permainan" karna semua ini hanya paksaan tanpa di dasari rasa cinta.


Acara pernikahanpun telah usai. Tak terasa pagi berubah menjadi malam. Daniar resah dan risau takut jika tuan Hendra akan menyentuhnya di malam itu. Pada malam itu Daniar dan tuan Hendra menginap di sebuah hotel tempat acara pernikahan mereka di selenggarakan. Ia duduk gemetaran di atas ranjang tidurnya.


"Aku tidak *akan sudi melayani lelaki itu** malam ini*" batin Daniar .


"Istriku sayang, kenapa kamu hanya duduk di situ. Mandilah agar badanmu segar dan wangi" Ucap tuan Hendra dengan genit .


"Aku ingin tidur tuan tidak mau mandi, tubuhku sangat lelah setelah acara tadi pagi" Jawab Daniar.


"Capek dan tidaknya ini adalah malam pertama kita,vaku sudah tidak sabar memakanmu istriku, cepat turuti perintahku,pergilah mandi dan layani aku malam ini" Teriak tuan Hendra.


Karena takut dan kaget akan kemarahan suaminya, Daniar akhirnya pasrah memutuskan menuruti kemauan suaminya tersebut. Ia bergegas segera pergi ke kamar mandi. Saat akan memasuki kamar mandi di depan pintu tiba-tiba Daniar merasakan keram di perutnya, melilit sangat nyeri. Tetapi ia tetap berusaha berjalan memasuki kamar mandi. Perlahan saat Daniar melepas seluruh pakaianya terlihat noda darah segar di celana dalam yang ia kenakan.


"Ooh iya tanggal ini aku memang waktunya datang bulan, syukurlah datang di waktu yang tepat. Malam ini aku terselamatkan dari cengkraman si tua itu."


Bergegas Daniar keluar memberitahu tuan Hendra kalau dirinya tidak bisa menuruti kemauanya di karenakan datang bulan yang datang tiba-tiba.


"Tuan maaf malam ini saya tidak bisa menuruti kemauan tuan, tiba-tiba saya mendapat datang bulan."


"Aduh kenapa datang di waktu yang tidak tepat...hmmmmmmmm. Baiklah segera bersihkan dirimu dan tidurlah."


"Baik Tuan."


Malam ini keberuntungan berpihak pada Daniar. Selama ia datang bulan tuan Hendra tidak akan menyentuhnya. Tapi kesedihan masih terbesit di benak daniar. Tak selamanya ia akan datang bulan terus.Perlahan tapi pasti hal yang di takutkan daniar pun pasti akan terjadi dan ia tak bisa menghindari itu semua. Sangat tidak rela jika kesucianya harus di renggut di tangan orang yang tidak ia cintai.


Akankah suatu saat penderitaan ini bisa berakhir???


Bersambung****