Daniar Larasati

Daniar Larasati
Penuh Nafsu



"Sial! Kenapa si br*ng*ek itu bisa berada di sana," batin Orlando kesal. Berulang kali memukuli setir kemudi meluapkan kekesalannya.


"Aku tak bisa membiarkan Adhitama merebut Daniar dari genggamanku. Ya,, aku harus segera membawa Daniar meninggalkan kota ini," pikir Orlando.


Orlando memacu kecepatan mobil yang ia kemudikan. Daniar masih saja menangis sepanjang jalan menuju vila.


Tinn,,


Pelayan segera membuka pintu gerbang setelah mendengar klakson mobil yang baru saja tiba.


Setelah memarkirkan dan mematikan mesin mobil, Orlando terdiam sejenak lalu menolehkan pandangannya ke arah Daniar yang juga masih duduk di sampingnya. Ia menghela nafas panjang "Daniar setelah ini aku akan membawamu meninggalkan kota ini untuk sementara waktu. Aku mohon menurutlah untuk saat ini. Semua ini aku lakukan demi kebaikanmu. Maafkan aku Daniar," ungkap Orlando lalu turun dari mobil meninggalkan Daniar sendiri.


Daniar tersentak saat mendengar ucapan yang terlontar dari mulut pria triliyuner tersebut. Hatinya semakin bertambah bimbang, akan keputusan yang harus ia ambil.


"Haruskah sampai seperti ini, meninggalkan kota menghindari Adhitama," batinnya berfikir keras.


Hatinya mulai ragu. Menimbang kembali bahwa Orlando ialah orang yang belum lama ia kenal. Tidak mungkin Daniar harus mengikuti perintah Orlando meninggalkan kota ini. Baginnya itu teralalu berlebihan.


Tokk,,tokk,,


Gea mengetuk kaca pintu mobil, membuyarkan lamunan Daniar. Akhirnya ia turun, keluar dari mobil yang sudah cukup lama ia berada di dalamnya.


"Non,, tuan muda memerintahkan saya kemari melihat non Daniar," ucap Gea.


"Baiklah mari kita masuk Gea," jawab Daniar.


Gea melirik raut wajah Daniar, di dapatinya ke dua kantung mata yang sedikit bengkak akibat terlalu lama menangis.


"Nona nggak papa??" tanya Gea yang mulai merasa khawatir.


Daniar menggeleng cepat "Saya nggak papa kok Gea," jawab Daniar berusaha menutupi kesedihannya.


Daniar melangkahkan kakinya memasuki vila bersamaan dengan Gea. Tatapannya nampak kosong memandang datar ke depan.


Gea mengantar Daniar ke kamarnya. Tak di sangka olehnya saat mereka pulang bukan kebahagiaan yang tersirat di raut wajah masing-masing, namun justru kesedihan.


"Gea aku ingin istirahat sebentar," kata Daniar berdiri di depan pintu kamarnya.


"Baik non. Selamat istirahat ya non," balas Gea lalu perlahan pergi meninggalkan Daniar.


******


"Jack segera urus penerbanganku dengan Daniar malam ini," perintah langsung dari Orlando.


Orlando menceritakan semua kejadian yang terjadi di restoran siang tadi kepada Jack. Apapun akan di tempuh untuk memisahkan Daniar dengan Adhitama. Bertemu dengan Daniar adalah nasib keberuntungannya. Tak bisa bersamannya adalah takdir yang ingin ia hindari.


Orlando.. pria tampan maskulin tak kalah dengan Adhitama. Harta, jabatan mereka sama-sama memilikinya. Namun sifat karakter mereka berbeda.


Adhitama pria obsesif, emosional, dan seenaknya sendiri. Sedangkan Orlando, pria lembut dan penuh keteduhan.


Sama-sama berjuang memenangkan hati satu wanita yang sama.


*******


Adhitama memberi perintah kepada semua anak buahnya melacak keberadaan Daniar. Menyisir rata seluruh kota sampai daerah terpencil sekaligus. Setidaknya saat ini hatinya sedikit merasa lega mengetahui Daniar masih hidup. Lalu siapakah seseorang yang tewas bersama ledakan bom saat itu. Mengapa terdapat cincin lamaran di dekat potongan tubuh yang di sangka Daniar. Semua akan terjawab saat Farel selesai melakukan penyelidikannya.


Adhithama dan Farel, dua orang yang memiliki insting sangat kuat.


Takk,,takk


Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah kamar Adhitama. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Luna masuk begitu saja tanpa ragu.


"Selamat sore Adhitama," sapa Luna.


Dengan gerakan cepat, kedua tangan mungil itu mendekap tubuh kekar Adhitama dari arah belakang. Adhitama refleks menurunkan rangkulan dekapan hangat dari Luna yang baru saja tiba.


"Lun,, berulang kali aku katakan. Tolong ketuklah pintu saat memasuki ruangan. Kamu juga jangan seenaknya masuk ke dalam kamarku," kata Adhitama memperingatkan.


"Aku khawatir sama kamu Adhitama. Semenjak kejadian tadi di restoran kamu nggak ada balik ke kantor," jawab Luna sembari memainkan ujung dasi yang di kenakan Adhitama. Luna selalu saja berusaha menggodanya. Walaupun Adhitama sudah berulang kali menjelaskan hubungan mereka tidaklah bisa melebihi sahabat.


Drrtt,,,drttt


Ponsel di atas nakas berdering. Adhitama segera meraih ponselnya.


"Bagaimana Farel? Katakan segera hasil penyelidikanmu. Jangan membuatku terlalu menunggu untuk hal ini," cecar Adhitama.


"Bos,, tenang dulu. Aku mendapatkan fakta mencengangkan tentang identitas tuan Orlando. Bagaimana jika harga segelintir informasi ini seharga mobil ferari keluaran baru tahun ini? Hahaha," pinta Farel mengejek.


"Cepat katakan Farel. Aku tidak suka bertele-tele. Jika informasi yang kau berikan berguna, aku akan membelikan mobil ferarri sesuai keinginanmu," tegas Adhitama.


"Baiklah. Tuan Orlando adik kandung dari Sean bos, musuh yang tewas di tanganmu. Ia triliyuner pemilik perusahaan Mulya Group. Dan kemungkinan sederetan kasus hilangnya Daniar ia yang mengaturnya bos. Aku juga berhasil menemukan tempat tinggal dari Orlando,"


"Kita bergerak malam ini. Bawa anggotamu berkumpul di markas. Aku yakin orang seperti dia pasti memiliki banyak anak buah,"


"Mendengarnya aku jadi bersemangat bos. Aku tak sabar ingin membunuh adik dari Sean yang berani mempermainkan kita,"


"Cihh,, baiklah besok mobil ferarri yang kau inginkan akan di kirim ke apartementmu," ucap Adhitama di akhir panggilan telfonnya.


Luna merebut gelas kosong dari genggaman Adhitama. Lalu meraih botol whisky dan menuangkannya.


"Ini minumlah lagi," ucap Luna menyodorkan gelas kepada Adhitama.


Glegg


Adhitama meneguk whisky itu. Luna terus menuangkan cairan memabukkan itu setelah Adhitama meminumnya sampai habis.


Rasa tekanan bergejolak. Kemarahan Adhitama sudah mencapai puncaknya. Mengetahui Daniar berada bersama Orlando yang sudah berhasil mempermainkannya.


Dirinya mulai tak terkontrol. Menatap Luna mendapati wajah Daniar di sana.


"Daniar,," ucap Adhitama lalu mengelus wajah Luna yang duduk di hadapannya.


"Adhitama mabuk dan menganggap aku Daniar," gumamnya lirih.


Suatu hal yang menguntungkan untuk Luna. Menggunakan kesempatan berharga untuk sekedar merasakan hangatnya pelukan dari Adhitama.


"Adhitama, aku mencintaimu," rayu Luna menggoda Adhitama.


"Aku juga mencintaimu, Daniar. Ajari aku apa pun yang membuatmu bahagia. Asal jangan tentang bagaimana aku harus hidup tanpamu," ungkap Adhitama.


Luna menarik tangan kanan Adhitama. Menempelkannya pada pipinya yang putih.


Adhitama menatap lekat membuat ke dua pasang mata itu beradu tatap.


Pesona ketampanan Adhitama membius akal sehat Luna malam ini. Ia merayapi lengan kekar pria itu lalu membenamkan wajahnya di balik bahu Adhitama.


Dengan cepat Adhitama meraih ujung tulang rahang Luna dan mendaratkan kecupan hangat tepat di bibirnya. Kali ini Luna menang. Malam ini ia merasakan ciuman mesra dari Adhitama.


Adhitama melepaskan bibirnya. Luna terengah engah menghadapi ciuman penuh nafsu dari pria di hadapannya.


Belum sampai di situ, Adhitama menggigit leher putih Luna gemas. Merangsang keringat dingin Luna jatuh berkejaran.


"Bos,, ayo pergi ke mar,,--"


Ucap Farel yang tiba-tiba muncul begitu saja masuk ke dalam kamar Adhitama. Belum sampai menyelesaikan ucapannya. Farel membelalakan matanya, merasa shock dengan pemandangan menjijikan di hadapannya.


Kyaa,, Buggg


Adhitama tersungkur di lantai. Farel memberinnya tonjokkan tepat di pipinya.


"Boss!! lu gila ya. Lu bilang sayang cinta sama Daniar. Tapi kenapa malah nyosor Luna begitu. Jijik gua bos lihatnya," teriak Farel emosi.


Adhitama bangkit dari lantai "Cuihh,, apa-apaan lu Farel. Berani nonjok gua. Sini maju lo," tantang Adhitama.


Luna hanya diam, membisu merasa tak bersalah. Dengan santai menghisap batang rokok di sela jemarinnya.


Farel mengendus bau alcohol menyengat memenuhi ruangan kamar. Ia melirik ke arah meja, nampak botol whisky tergeletak di sana.


"Oh,, lu mabuk nggak sadar ngeliat Luna jadi bayangan Daniar ya,"


"B*c*t terus lu,"


"Sini," Farel menyeret kasar Adhitama ke arah kamar mandi.


Bugg


Tubuh kekar itu dengan mudahnya terlempar ke dalam bathup.


Farel meraih showwer di sampingnya lalu mengguyur Adhitama dengan air dingin dari atas rambutnya.


"Sadar bos,, Sadar woyyy," ucap Farel sembari terus mengguyurkan air dingin.


"Sudah, Farel. Arghh Kepalaku sakit banget sekarang,"


Tubuh Adhitama menggigil, Farel menyudahi tindakannya. Adhitama bangkit dari bathup dan segera melepas semua pakaiannya.


"Bos, aku keluar dulu. Baru kau bisa melepas pakaianmu," ucap Farel lalu pergi.


Bersambung*


Mohon like, komen, serta vote seikhlasnya untuk mendukung author.


Saran dan kritik dari kalian pasti aku terima.


Jangan lupa sarannya agar aku bisa menyesuaikan diri dengan kalian para pembaca.


Terimakasih banyak author ucapkan.


Tunggu episode selanjutnya.


Bye Bye*.