Daniar Larasati

Daniar Larasati
TERKENA TEMBAKAN



Hari sudah larut sangat malam. Mata ini sangat sulit untuk aku pejamkan. Aku lihat jam di dinding menunjukan pukul 3 malam. Entah perasaanku sangat merasa tidak tenang malam ini. Pikiranku tertuju kepada Adhitama. Aku memutuskan untuk turun dan mencari bibik Eryati di kamarnya.


"Toook tokk" perlahan aku mengetuk pintu kamar bibi eryati.


"Non ada apa malam-malam di sini. Kok non belum tidur???"


"Bik maaf kalau aku mengganggu. Apakah Adhitama sudah pulang bik??"


"Sebentar non saya pergi chek ke kamar tuan Adhitama"


Sesaat setelah bibi memeriksa kamar Adhitama. "Non maaf sepertinya tuan belum pulang kerumah." Ucap bibik sambil menunduk.


"Baiklah bik, aku akan menunggu Adhitama di sini. Bibik kembalilah ke kamar.


"Biar saya aja non yang menunggu tuan Adhitama. Nanti kalau tuan sudah kembali saya akan memberitahu non."


"Tidak bik, biar saya aja ya. Bibik aku mohon kembalilah lagi ke kamar."


"Baik non kalau begitu, kalau ada apa-apa segera beritahu bibik ya non."


"Iya bik."


Rasa khawatir menghantui pikiran dan perasaanku. Semoga tidak terjadi hal yang buruk terhadap Adhitama.


**********


Adhitama mengemudikan mobilnya dengan kecepatan kencang menuju Club DJ House untuk bertemu dengan Farel. Sesampainya di sana,,,


"Bos ada hal penting apa yang ingin Bos bicarakan?? apa ada sesuatu yang sedang terjadi???"


"Kemarin waktu di kantor aku di telfon oleh ketua Gangster Bloods, Dygta Wang nama pemimpin Gangster tersebut. Mereka secara terang-terangan menantang kita untuk menyerahkan wilayah kekuasaan di Utara. Sebelumnya markas kita yang di Selatan telah di serang oleh anak buah Dygta. Mereka berhasil merusak markas dan merampas senapan api yang kita miliki. Jadi Farel aku memintamu menyelidiki kelemahan Dygta Wang secepat mungkin. Kumpulkan segala informasi dari berbagai sumber. Dan langkah selanjutnya segera bergerak cepat hubungi Ketua Gangster Yakuza. Aturkan waktu agar kami bisa bertemu. Aku akan bernegoisasi agar mereka bersedia bekerjasama bersama Clan Tiger."


"Baik bos, aku akan membawa beberapa anak buah kita yang terlatih untuk bersamaku menjalankan misi ini."


"Ok usahakan bergerak secepat mungkin, jangan sampai musuh menyadari rencana


kita ."


"Baik bos serahkan semua kepadaku."


"Ok aku akan pulang dulu Farel hari sudah larut malam."


"Bos marilah minum dulu bersamaku, besok hari libur kerja. Mari temani aku minum, lama kita tidak minum bersama."


"Baiklah, tapi aku tidak mau mengantarmu pulang kalau kamu sampai mabuk berat di


sini."


"Ayolah Bos sejak kapan Farel anak buah handalan Bos Adhitama ini mabuk tanpa mengontrol diri."


"Buktikanlah perkataanmu itu jangan merepotkan aku nantinya".


Farel menuang Scotch Whisky ke dalam gelas.


"Mari bos. Cherssssss."


Farel dan Adhitama bersulang bersama.


Malam itu Adhitama merasa kecewa dengan pernyataan Daniar. Entah kenapa mendengar pernyataan Daniar membuatnya sangat sakit hati. Serasa ingin menjalin hubungan yang lebih dari sekedar berteman.


"Farel apakah kamu pernah merasakan suka kepada seorang wanita???"


"Waahh bos, jangan bilang kalau sekarang bos lagi jatuh cinta!!"


"Cepat jawab saja pertanyaanku, bukankah kamu tau aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya!!!"


"Banyak wanita yang mengejarku tapi aku hanya mencintai seorang wanita. Tidak ada yang bisa menggeser posisinya di hatiku." Jawab farel sambil menunduk.


"Lalu apa hal yang di sukai wanita??."


"Semua wanita mempunyai kesukaan yang berbeda tergantung di lihat dari kepribadian masing-masing bos. Tapi yang jelas wanita suka di beri kejutan dan kehangatan serta perhatian yang lebih ."


" Arghhhh memang rumit kalau sudah merasakan namanya Jatuh Hati kepada seorang wanita." Gumam Adhitama.


Tiba-tiba "Dooor...doorrrr....dorrrrr." Suara tembakan menembaki ruangan di dalam Club.


"Farel awas.."


Adhitama dan Farel merunduk berlindung di balik meja Bar.


" Iya farel, sepertinya jumlah mereka lebih dari 10 orang."


"Farel apa kamu membawa pistol kesukaanmu hari ini??."


Tanpa menjawab Farel mengeluarkan pistol dari balik jaket yang ia kenakan. Begitupula dengan Adhitama, ia juga mengeluarkan pistol yang ia bawa dari balik jasnya.


"Farel majulah perlahan, mobilku ada di timur Club ini. Aku akan melindungimu dari belakang dan perlahan kita maju bersama menuju mobil dan pergi dari sini karena kita kalah jumlah dari mereka dan amunisi peluruku juga tidak banyak."


"Baiklah bos mari kita selesaikan semua ini."


Farel perlahan maju kedepan, mengendap endap membungkuk perlahan berlindung dari tiang ke tiang di ikuti dengan Adhitama di belakangnya.


"Door..dorrr." Adhitama menembak beberapa musuh dan terus bergerak maju.


"Jarak mobil sudah dekat Farel. Cepat maju dan masuklah terlebih dahulu."


"Dooor..dorrrr..doorrrr.."


Tak di sangka musuh menembaki dari belakang. Farel bergegas lari sambil menembaki musuh yang berada di depanya.


"Bos cepat." Suara teriakan farel dari dalam mobil.


Adhitama bergerak mundur dengan siaga sambil melihat kondisi di sekitar.


"Ok aman musuh yang tersisa sepertinya sudah mundur."


Mayat dari musuh bergeletakan dimana-mana di iringi darah yang mengalir di tempat kejadian. Tiba-tiba.....


"Doooorrrr."


"Arghhh." Musuh yang di sangka sudah mati, ternyata masih tersisa satu yang masih hidup dan menarik pelatuk pistolnya menembak Adhitama dan mengenai bahu kirinya. Setelah tertembak Adhitama ingin membalas tembakan terhadap orang yang menembaknya tadi, tapi sayangnya peluru pistol Adhitama sudah habis. Adhitama masih sanggup berdiri dan bergegas lari menuju ke mobil.


Farel menginjak pedal gas dan berkendara dengan kecepatan tinggi.


"Tuuutttt tutttt." Suara Farel menelpon Dokter Dony, Dokter kepercayaan Adhitama.


"Dokter segera pergi ke rumah, Adhitama tertembak di lengan kirinya."


" Apaaa!!!. Baiklah aku akan segera menuju kesana."


"Tutttttt,,,, tuttt." Telpon berakhir.


"Boss bertahanlah sebentar Dokter Dony sudah menuju kerumah."


"Jangan risaukan aku. Ini hanya tembakan kecil hanya mengenai bahuku. Masih bisa di katakan ini tidak terlalu berbahaya."


" Boss tapi kamu kehilangan banyak darah, sebentar lagi kita akan sampai bertahanlah bos."


Setelah sampai di rumah, Farel segera memapah Adhitama perlahan masuk ke dalam menuju ruang pengobatan. Dari dahulu Adhitama sangat tidak menyukai Rumah Sakit. Jadi ia memiliki ruang pengobatan khusus di dalam rumahnya dengan alat-alat yang sudah sangat lengkap dan canggih.


Daniar terbangun mendengar suara mobil berhenti di depan. Saat Farel membuka pintu rumah, Daniar kaget melihat kondisi Adhitama pulang dalam keadaan bersimbah darah.


"Apa yang terjadi???. Kenapa dengan Adhitama bisa sampai seperti ini???"


"Saat kami sedang berada di Club, kami di serang oleh gerombolan Gangster. Kami kalah jumlah. Amunisi peluru yang ada di pistol kami juga tidak banyak. Jadi aku dan Adhitama memutuskan mundur perlahan. Tapi saat akan menaiki mobil tidak di sangka Adhitama terkena tembakan di bahu kirinya. Tenanglah jangan khawatir bagi kami terkena tembakan seperti itu sudah biasa. Dulu Adhitama pernah mengalami hal yang lebih parah dari ini." Ucap Farel menenangkanku.


Beberapa jam kemudian Dokter Dony keluar dari ruangan Pengobatan. Peluru yang bersarang di bahu Adhitama sudah di keluarkan dan sekarang Adhitama sedang beristirahat.


"Dokter bagaimana keadaan Adhitama sekarang???" Tanya Daniar khawatir.


"Dia sudah baik-baik saja, tapi sekarang biar dia istirahat dulu. Luka nya untuk seminggu kedepan jangan terkena air dulu ya."


"Baiklah dokter saya mengerti."


"Baiklah kalau begitu saya pamit pulang dulu."


"Dokter Dony terimakasih. Kamu memang Dokter terbaik andalan Adhitama." Tutur Farel sambil mengacungkan jari jempolnya.


"Hahhaa, dari dulu kalau tidak Adhitama yang kena tembak terkadang juga kamu Farel yang aku tangani."


"Ahhhh Dokter bisa aja Haaahaaha."


"Baiklah besok aku akan datang kesini memeriksa Adhitama, sekarang aku pamit pulang dulu."


"Baiklah Dokter Dony."


Bersambung ******