
Malam ini Adhitama datang menemui Louis di hotel XXX, sesuai dengan yang di katakan oleh Louis. Ia mengemudikan mobilnya tanpa di dampingi oleh pak Dedy, sopir andalanya itu. Mobil Ferarri F430 berwarna hitam itu meluncur menyusuri jalanan kota dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di depan hotel XXX, ia segera turun dari mobilnya.
Adhitama berjalan maju, melangkahkan kakinya menuju Loby hotel tersebut. Terlihat anak buah Louis datang meghampirinya. Mereka mengawal Adhitama menuju Sky Bar. Sepanjang jalan menuju kesana, semua wanita membicarakan ketampanan dari CEO Group Tama itu. Bagaimana tidak, pria ber-aura maskulin itu sangat sempurna di mata para wanita. Di tambah kemapanan jabatan yang ia miliki. Sekali menatapnya saja membuat para kaum lawan jenis tergila-gila padanya.
Saat memasuki ruangan terlihat dari kejauhan Louis sudah duduk di sana menunggu anak angkatnya tersebut.
"Adhitama!, ayah kira kamu tidak akan datang malam ini," ucap Louis.
"Mana mungkin aku tidak datang. Anda mengunjungiku pasti ada tujuan tertentu," jawab Adhitama.
"Rupanya selain pintar mengurus perusahaan, anakku juga pintar menebak watak ayahnya! Hahaha." Louis tertawa terkekeh.
"Cepat katakan kenapa anda kemari mengunjungiku!"
Prook. Louis menepukan kedua telapak tanganya, memberi perintah aba-aba kepada anak buahnya.
Louis menyodorkan beberapa lembar foto kepada ketika ia sedang bersama Daniar. Satu per satu, Adhitama melihat lembar demi lembar foto tersebut.
Brakkk. Suara tangan Adhitama menggebrak meja di depanya.
"Jadi selama ini anda repot-repot menyelidiki keseharianku!!!" Teriak Adhitama yang geram akan hal ini.
"Bukankah wajar jika seorang ayah mencari tahu tentang keadaan anaknya!!. Louis menyikapi kemarahan Adhitama dengan tenang.
Mengetahui hal ini membuat Adhitama tersulut rasa amarah.
"Bukankah aku sudah bilang, wanita hanya membuatmu menjadi lemah. Kamu itu ketua dari Klan Tiger. Beberapa langkah lagi kamu akan menguasai dunia Gangster di posisi puncak. Lebih baik kamu fokus dan jangan menaruh hati terhadap wanita."
"Bukankah ibu yang melahirkanku juga seorang wanita!!!, Ia istri dari ayahku seorang ketua Klan. Dan juga termasuk teman baikmu. Lalu kenapa anda mengaturku mengenai hal ini!!! Aku Adhitama, tidak akan tunduk oleh aturan siapapun."
"Heii, anak muda!, kamu tahu sekarang berhadapan dengan siapa. Aku tidak segan bermain kekerasan jika ada yang melawanku."
Adhitama mengerutkan keningnya. Ancaman dari Louis tak bisa di biarkan begitu saja.
"Jangan pernah berani menyentuh wanitaku. Aku tak akan membiarkan itu terjadi" kata Adhitama mengancam sambil beranjak pergi dari tempat duduknya.
Adhitama bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Ia sangat tahu sifat dari Louis, ayah angkatnya tersebut. Louis orang yang tidak akan bermain-main dengan ucapanya. Sekarang ia hanya khawatir pada hubungan dan keslamatan Daniar kedepanya.
Tak terasa 3 hari sudah Daniar tidak bertemu Adhitama, setelah kejadian di rumah sakit waktu itu. Sementara ia mengambil cuti kerja untuk merawat ayahnya di rumah. Terbesit rasa rindu di hati Daniar. Berulang kali ia mengechek smart phone miliknya, berharap Adhitama menghubunginya. Akan tetapi fakta berbicara sebaliknya. Adhitama sama sekali tidak menghubunginya. Hatinya merasa sangat sedih dan kecewa. Apakah Adhitama begitu saja melupakanya??. Apakah Adhitama benar-benar mencintai Luna??. Pertanyaan itu selau muncul di fikiranya.
Took..Tookk
Daniar lekas pergi membuka pintu rumahnya setelah mendengar seseorang mengetuk pintunya.
"Iya tunggu sebentar" ucap Daniar dari dalam rumahnya.
Klekk,,,
"Lia!!"
"Daniar!, kenapa lama sekali kamu membuka pintu!!, sudah 10 menit aku menunggu di sini."
"Baru 10 menit belum 1 jam Lia!!" ghumam Daniar kepada sahabatnya itu.
"Ayo!! masuklah."
"Bagaimana kondisi ayahmu, Daniar?" tanya Luna sambil berjalan masuk ke rumah.
"Ayah sedikit-sedikit sudah berangsur membaik, Lia. Asal ayah menurut akan anjuran Dokter, aku yakin ayah akan baik-baik saja."
"Syukurlah Daniar!!, aku ikut seneng mendengar hal ini. Ohh iya,, ada hal penting yang harus aku sampaikan kepadamu, Daniar!!"
Ada apa Lia!!, Kamu bikin aku deg-degan sekarang."
"Aku egak tahu, Lia. Yang jelas aku sangar kecewa sama Adhitama."
Lia segera memeluk sahabat baiknya itu. Pelan-pelan berusaha menjelaskan hal yang sebetulnya terjadi, antara Luna dan Adhitama. Lia yakin bahwa Adhitama hanya mencintai Daniar. Hanya ada Daniar di hati Adhitama. Semua ini jelas hanya sekedar kesalahpahaman. Lia tak ingin Daniar berlarut dalan kesedihan.
"Daniar!, aku tahu apa yang terjadi dengan hubungan kalian sebelumnya. Beberapa hari yang lalu Adhitama menelfonku. Menjelaskan semuanya tentang kejadian hari itu di rumah sakit. Setelah mendengar penjelasan darinya aku yakin ini hanya kesalahpahaman. Intinya waktu itu Adhitama hanya berniat menenangkan Luna. Ia berniat bunuh diri menggunakan pisau buah yang ada di meja kamarnya. Adhitama hanya membujuknya. Memeluk dan merebut pisau di tangan Luna. Egak di sangka kamu kebetulan lewar dan melihat semua kejadian itu."
"Apa benar semua kebenaranya begitu, Lia!"
"Aku percaya pada Adhitama. Dia tidak mungkin menyakitimu, Daniar. Adhitama sangat mencintaimu. Ingatlah ia sudah melamarmu dan memilihmu untuk bersanding denganya."
Daniar merasa bisa bernafas lega mendengar semua penjelasan dari Lia. Tapi!, kenapa Adhitama tidak menjelaskan sendiri semua hal ini kepadanya. Dan sampai saat ini belum menghubungi maupun mencarinya. Apa yang terjadi dengan Adhitama?.
Tuutt... Tutttt
Berulang kali Daniar menghubungi Adhitama, tetapi tidak ada jawaban. Hal ini membuat Daniar semakin resah dan panik.
"Kenapa kamu terlihat gelisah, Daniar!!" tanya Luna.
"Aku khawatir terhadap Adhitama. Sudah 3 hari ia tidak menghubungiku setelah kesalahpahaman itu terjadi. Biasanya, Adhitama tidak seperti ini. Di telfon juga egak ada jawaban" Jawab Daniar panik.
"Tenang jangan panik dulu. Aku akan menghubungi Adhitama."
Tutt..Tuttt
Lagi-lagi tidak ada jawaban. Lia selalu berusaha menenangkan Daniar. Terbesit fikiran Lia untuk menghubungi Farel, sahabat sekaligus orang kepercayaan Adhitama. Farel pasti mengetahui kabar Adhitama saat ini.
Tuttt..Tuttt..
"Hallo!! Ada apa Lia!" Farel menjawab panggilan dari Lia.
"Farel!!, apakah ada sesuatu yang terjadi pada Adhitama?? Daniar dan aku berulang kali menghubungi Adhitama, tetapi tidak ada jawaban darinya. Daniar merasa khawatir. Ia merasa sangat sedih tidak karuan."
"Adhitama baik-baik saja. Kebetulan ia sedang bersamaku."
"Kalau begitu sampaikan padanya Daniar ingin berbicara denganya. Tolong ya Farel. Maaf merepotkanmu."
"Tak apa. Itu bukan hal yang merepotkan."
"Baiklah, terimakasih banyak Farel."
Lia menutup panggilannya. Farel pergi menghampiri Adhitama, menyampaikan pesan dari Lia kepadanya.
"Bos!!, Lia barusan telfon. Daniar berulang kali menghubungimu. Tetapi sama sekali bos tidak menjawab panggilan darinya. Lia mengatakan bahwa Daniar ingin berbicara denganmu. Ia sangat khawatir dengan keadaanmu saat ini."
Adhitama menunjukan ekspresi datar. Tidak merespon ucapan yang di sampaikan oleh Farel barusan kepadanya.
"Bos ada apa denganmu?? Daniar sedang mencarimu sekarang!! kenapa bos diam saja."
Farel merasa ada yang aneh dengan sifat acuh Adhitama kali ini. Apakah mungkin ini semua karena Louis??
"Farel!!, kalau kamu berada di posisiku saat ini apa yang akan kamu lakukan??. Apakah kamu terus melangkah maju dan menerima semua resiko atau mundur demi keselamatan wanita yang kamu sayangi?" tanya Adhitama penuh keseriusan.
"Aku pernah kehilangan seseorang yang sangat aku cintai dan sangat berarti dalam kehidupanku. Dan sampai saat ini aku masih di hantui perasaan bersalah setelah kepergianya. Aku merasa tidak bisa hidup tanpa adanya dia di sisiku. Cahaya yang menerangiku kini pergi berubah menjadi kegelapan."
Farel menjawab pertanyaan Adhitama dengan raut wajah sedih dan tatapanya terlihat kosong. Hatinya masih terasa sakit setelah kepergian dari wanita yang hampir bersanding menikah denganya. Pertanyaan Adhitama seperti mengorek luka lama yang sudah hampir kering baginya.
Mendengar perkataan jawaban dari Farel membuat Adhitama perlahan mengerti, dengan langkah yang harus ia lakukan kedepanya. Mungkin mencintai Daniar tanpa bisa memilikinya, itu menjadi jalan terbaik. Kehidupan seorang mafia memang tidak bisa menjamin orang di sekitarnya menjadi aman. Musuh selalu melakukan berbagai cara kejam untuk menjatuhkan lawannya. Bahkan menghabisi nyawa orang terdekat.
Bersambung~~~
**Mohon Like, Komen, dan Votenya ya kakak yang baik hati. Semua ini sangat mendukung dan ber'arti banget buat Author.
💓 Terimakasih 💓**