Daniar Larasati

Daniar Larasati
TRIK KOTOR



Tubuh kecil itu terlihat makin melemah.Berulang kali merasakan pukulan dan hinaan.Harga diri seperti sudah tak ada artinya lagi.


Hatinya masih berusaha bertahan sekuat mungkin, karena nasi sudah menjadi bubur.Semua sudah terjadi tak akan bisa di putar ulang kembali. Masa muda yang harusnya ia jalani dengan bersenang-senang bersama teman sebaya, nyatanya berjalan sebaliknya.


Hidup ibarat dalam cengkraman rantai besi menyakitkan mengikat erat lehernya, membatasi ruang gerak dan kebebasanya.


"Kepala itu selalu menunduk, tanganya bergemetar," batin Farel yang duduk menyetir di sebelah Daniar.


"Maaf nona apa kamu baik-baik saja," tanya Farel lirih.


"Iya tuan saya baik-baik saja," jawab Daniar.


"Nona!, bisakah aku bertanya sedikit kepadamu."


Daniar mengangguk.


"Siapakah wanita yang tadi memukulmu??, kenapa nona diam saja di perlakukan kasar seperti itu."


"Tadi itu istri pertama dan kedua dari suamiku tuan."


"Ap--appa, nona sudah bersuami??"


"Benar tuan. Tapi maaf saya tidak bisa menjawab lagi pertanyaan anda."


"Baiklah nona maafkan kelancangan saya."


Daniar membalas perkataan Farel dengan senyum manisnya. Ia tak mungkin menceritakan aib keluarganya sendiri kepada orang lain apalagi yang baru saja ia kenal.


"Tuan tolong berhenti saja di seberang pagar itu," pinta Daniar.


Daniar sengaja meminta Farel untuk berhenti di tempat yang agak jauh dari rumahnya. Ia takut kalau Lina dan Nurul akan mengetahui hal ini dan mengadu kepada tuan Hendra.


"Kenapa nona memintaku berhenti di sini!, di manakah rumahmu?"


"Rumahku tidak jauh dari sini tuan. Anda tidak perlu kawatir saya baik-baik saja dan terimakasih banyak saya ucapkan atas kebaikanmu. Ohh iya sampaikan juga rasa terimakasihku kepada pria yang tadi membopongku."


"Ok baiklah nona pesanmu akan aku sampaikan."


Daniar perlahan berjalan pergi pulang kerumah. Ketika sampai di depan pintu rumah ia merasakan keraguan untuk masuk kembali kerumah itu. Tapi!, jika ia tak kembali ia takut tuan Hendra akan menyakiti ayahnya. Daniar tak mempunyai pilihan lain selain menjalani semuanya dengan tegar.


Kreeekkk,,


suara pintu terbuka perlahan.


Daniar pelan-pelan membuka pintu rumah. Perlahan kakinya melangkah waspada, seperti seorang maling.


"Daniar, duduklah ada yang ingin aku katakan," Ucap Lina lembut perlahan.


Lina yang sengaja sedari tadi menunggunya di ruang tamu. Daniar menghentikan langkah kakinya, dan menghampiri Lina.


"Daniar!, maafkan kekasaranku selama ini kepadamu. Maafkan aku Daniar. Aku menyesali perbuatanku," ucap Lina dengan nada sedih dan menangis.


"Kenapa tiba-tiba kamu seperti ini," jawab Daniar.


"Maaf Daniar. Aku tahu aku salah dan tak pantas mendapatkan maaf darimu. Aku malu dan sadar akan perbuatanku. Aku mohon berilah aku kesempatan."


Baiklah aku pikir ini awal yang bagus. Lina menyadari kesalahanya dan kita hidup berdampingan satu rumah dengan damai.


"Baiklah Lina. Aku memaafkanmu."


"Sungguhkah itu Daniar!, terimakasih Daniar kamu memang gadis baik hati," ujar Lina sambil memeluk Daniar.


"Lina tidak perlu!, ini milikmu dan kamu sangat menyukainya."


"Tidak apa-apa Daniar ini rasa wujud sayangku terhadapmu."


"Emm!, baiklah aku terima pemberianmu. Terimakasih banyak Lina."


Daniar pergi meninggalkan Lina dan berjalan cepat menuju kamarnya.


Biiip,, biiip


Suara notifikasi whatsap.


Daniar mengambil ponsel nya melihat pesan whatsap dari Lia sahabatnya.


"Ohh iya hampir lupa dengan janji pertemuanku dengan lia," ghumam Daniar.


Daniar menengok ke arah jam dinding. Waktu menunjukan pukul 6 sore.


"Aku harus lekas bersiap-siap. Masih cukup waktu untuk datang kesana."


Perlahan Lina mengendap endap menuju kamar Daniar. Lina melihat Daniar sedang berada di kamar mandi.


"Bagus ia berencana keluar malam ini menemui sahabatnya," ungkap Lina.


Lina sudah merancang matang-matang semua drama yang ia lakukan. Ia mempunyai rencana buruk terhadap Daniar. Agar rencananya berjalan mulus, ia berusaha mencari hati, berpura-pura baik dengan Daniar.


"Hallo Ron!, persiapkan dirimu. Daniar akan segera menuju ke cafe pesona."


"Baik Lina semua akan aku jalankan dengan mulus."


Sebelumnya, Lina meminta Roni untuk menculik Daniar. Ia memberi Roni obat gairah agar Roni memasukan obat itu kedalam minuman Daniar.


"Lina!, maaf aku harus pergi keluar sebentar bertemu sahabatku" pamit Daniar.


"Waoww kamu sangat cocok memakai dress yang aku berikan. Baiklah pergilah sekarang dan bersenang-senanglah Daniar" Jawab Lina.


Sesampainya di cafe, Daniar duduk memesan minuman. Roni bersiap-siap menyamar sebagai pelayan cafe pengantar minum untuk Daniar. Di ruang pembuatan minuman, Roni memasukan obat yang di berikan oleh Lina.


"Nona cantik ini pesananmu," ucap Roni.


"Terimakasih," balas Daniar.


Daniar mengeluarkan Smart Phone miliknya dari tas, berniat mengirim pesan kepada Lia bahwa ia sudah sampai di cafe. Tetapi, ponselnya mati kehabisan daya karena ia buru-buru datang ke cafe. Di waktu yang sama Lia juga menghubungi Daniar tapi tidak tersambung. Lia ingin memberi kabar ia datang terlambat karna masih terjebak macetnya kendaraan di kota.


"Aiih ternyata ponselku mati. Aku terburu-buru dan lupa mengisi daya. Baiklah tunggu saja mungkin sebentar lagi Lia datang."


Sambil menunggu, tenggorokan Daniar mulai terasa kering. Ia meraih gelas yang berisikan orange juss di depanya dan meneguknya sampai habis.


Mengamati dari kejauhan "Bagus cantik!, minumlah dan habiskan. Sebentar lagi aku akan menerima uang yang banyak dari Lina," Ujar Roni licik.


Roni merogoh ponsel dalam sakunya dan menghubungi Lina saat itu juga.


"Hallo Lina!, Daniar sudah di cafe dan meminum obat yang kamu berikan kepadaku."


"Iya Ron, aku sudah berada di depan cafe."


Bersambung,,,