Daniar Larasati

Daniar Larasati
TINGGAL BERSAMANYA



"Ayo Daniar kita pulang bersama." Ucap Adhitama.


"Appaaa katamu pulang???". Jawab Daniar.


"Iya pulang kerumah kita."


Daniar tertegun mendengar Adhitama mengajaknya pulang bersama. Rasanya seperti susah untuk menelan air liurnya sendiri.


"Ia mengajakku pulang bersama kerumah kita seakan akan seperti layaknya kami sepasang suami istri?? ". Gumam Daniar lirih.


"Heiii kamu kenapa, jangan kamu pikir aku tidak mendengar gumamanmu itu. Telingaku tidak tuli. Jadi mulai sekarang berhati-hatilah kalau membicarakanku." Sindir Adhitama sambil tersenyum kecil.


"Wahhhhh kau mendengarnya. Maaf ya bukan begitu kok maksudku. Heheheheehee."


"Sudah ayo pulang sekarang, naik ke mobilku. Kalau kamu tidak lekas berdiri dari tempat dudukmu, maka aku tak akan sungkan untuk menggendongmu."


"Appaaa,,, tidak-tidak. Aku akan berjalan sendiri menuju ke mobil."


Daniar malu bukan kepalang mendengar semua celetukan ocehan Adhitama.


"Lelaki macam itu mencoba merayuku huhhhhh." Kata Daniar kesal.


Berjalan di sebelah Adhitama membuatnya sangat canggung. Semua mata pekerja di kantor itu tertuju kepadanya. Memandang hal langka yang terjadi di hadapan mereka. Selama ini Adhitama tak pernah berjalan bersampingan dengan wanita lain selain dengan Luna sekertarisnya.


"drtttttt drtttt" Hp Adhitama berbunyi.


"Ada apa farel???."


"Bos apakah hari ini anda menyetir sendri??."


"Iya aku akan bawa mobil sendiri,, ohh iya nanti malam datanglah ke club DJ House, ada hal yang ingin aku sampaikan."


"Baik bos nanti malam aku datang menemuimu."


"Tuttttt tuttt" panggilan telfon berakhir.


Beberapa hari ini Adhitama mendapatkan sedikit masalah di Clan naunganya. Markas Clan Tiger yang berada di kota selatan di serang oleh kelompok Geng Mafia Misterius. Beberapa senjata api yang mereka miliki di rampas habis oleh kelompok itu.


"Adhitama apakah nisa sudah berada di rumahmu???".


"Kau tak perlu khawatir Daniar."


"Tuuuuttt tutttttt" suara panggilan Hp Adhitama.


"Hallo bibik, panggil Nisa dan biarkan dia berbicara denganku."


"Baik tuan tunggu sebentar."


Tiga menit kemudian****


" hallo tuan."


"Nisa kakakmu ingin berbicara denganmu."


"Hallo Nisa ini kakak,,apa Nisa baik-baik saja?"


"Iya kak, Nisa baik-baik saja. Di sini sungguh enak kak, aku memiliki kamar sendiri dengan kamar mandi di dalamnya. Semua berwarna ungu violet kak seperti warna kesukaanku."


"Nisa kamu gak boleh berucap seperti itu, itu bukan rumah kita ingatlah itu."


"Baik kak nisa minta maaf."


"Maafkan kakak ya Nisa, kakak hanya ingin mengajarimu kebaikan. Jangan merasa bangga dengan apa yang bukan milik Nisa sendiri. Nisa mengerti???"


"Iya kak Nisa mengerti."


"Ok kakak sebentar lagi pulang. Sampai jumpa nanti ya Nisa."


Daniar tak habis pikir dengan apa yang telah di lakukan Adhitama untuknya. Nisa bukanlah anak yang mudah akrab dengan orang baru. Tapi mendengar suara bahagia Nisa tadi sepertinya Adhitama sudah dekat dengannya.


"Daniar benarkan apa kataku, kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah membereskan semua dengan baik. Bisakah malam ini kita mampir makan malam sebentar sebelum tiba di rumah ???."


"Baik lah Adhitama."


Adhitama menambah kecepatan laju mobilnya. Saking merasa bahagia karna Daniar tidak menolak ajakan darinya. Entah kenapa Adhitama selalu ingin memberikan yang terbaik untuk Daniar. Selalu ingin melihat Daniar bahagia saat bersamanya.


"Tuan adhitama suatu kehormatan bagi kami anda datang berkunjung di restoran kami." Ujar pemilik restoran.


"Aku ingin duduk di meja khusus untuk pasangan, siapkan tempat di atas di pinggir jendela agar bisa terlihat kerlipan lampu malam."


"Baik tuan mari silahkan ikut dengan kami."


Daniar dan Adhitama duduk ber dua di temani pemandangan indahnya kerlipan bola lampu malam. Daniar merasa sangat tersentuh akan semua hal yang di lakukan Adhitama kepadanya.


"Daniar apa yang ingin kamu pesan??."


Daniar membuka buku menu yang di sediakan.


"Aku pesan steak dan orange juice".


"Baiklah aku juga sama."


Adhitama memesan makanan dan minuman yang sama dengan Daniar. Mereka sudah persis terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang makan malam bersama.


"Wahh perempuan itu sangatlah beruntung bisa bersanding dengan tuan Adhitama." Sorak pegawai restoran sambil memandangi Daniar yang sedang makan.


"Lihatlah para wanita di sana sedang memandang ke arah kita terus menerus."


"Kenapa apa kamu cemburu???. "


"Keeennapppa aku harus cemburu, kita bukan seperti yang mereka lihat. Kan kita hanya sebatas teman!!!. "


"Oohhh teman ya". Adhitama langsung nampak lesu.


"Lekas habiskan makananmu, Aku tunggu kamu di mobil." Adhitama pergi meninggalkan Daniar makan sendiri di situ. Tanpa menoleh kepadanya, Adhitama betul-betul pergi meninggalkan Daniar sendiri."


"Kenapa dia tiba-tiba bersikap dingin seperti itu?? main pergi dan tidak menghabiskan makananya. Dasar orang kaya suka hambur-hambur uang. Membeli makanan tapi tidak di habiskan." Ghumam Daniar yang merasa sangat kesal.


Selesai menghabiskan makanannya ia lekas keluar dari restoran dan menaiki mobil Adhitama. Suasana terkesan hening. Adhitama terlihat tidak seperti tadi. Ia mengunci rapat mulutnya tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.


Sesampainya di rumah Adhitama, aku benar-benar takjub melihat rumah sebesar dan seluas itu. Saat aku turun dari mobil pengawal tiba-tiba menghampiriku. Tak bisa aku bayangkan, Adhitama pria muda yang sangat kaya raya. Yang terlintas di fikiranku "Bagaimana ia mendapat semua uang yang ia punya, dan kemanakah sosok ayah ibunya. Pasti di balik hebatnya seorang anak ada dukungan orang tua di baliknya."


"Nona perkenalkan saya bibi Eryati, saya yang bertanggung jawab mengurus non Nisa dan Non Daniar mulai sekarang."


"Bibi tidak usah terlalu begitu, apa yang bisa saya lakukan sendiri, akan saya kerjakan sendiri bik".


"Egak apa-apa non, bibik sudah lama ikut tuan Adhitama. Sudah kewajiban bibik mengurus semua kebutuhan keluarga di rumah ini."


"Terimakasih banyak ya bik kalau begitu."


"Mari non saya antar ke kamar atas milik non."


"Iya bik terimakasih."


Saat sesudah turun dari mobil, Adhitama tanpa mengucapkan kata apapun langsung pergi begitu saja dengan mobilnya. Entah apa ada yang salah denganku sehingga membuat ia marah padaku malam ini. Malam ini di mobil itu aku baru bisa melihat sisi lain dari Adhitama. Tatapan dingin yang jahat itu terasa membuatku takut.


"Bik maaf di manakah kamar nisa adikku??."


"Kamar non nisa ada di sebelah sana non". Jawab bibik sambil menunjuk sebuah kamar.


"Baiklah bik sebelum istirahat aku akan melihat nisa terlebih dahulu."


Daniar berjalan perlahan sambil menoleh ke kanan dan kiri melihat kumpulan lukisan yang tergantung di dinding-dinding rumah Adhitama.


Lukisan yang sangat bagus, gambar yang di lukis seperti terhubung dengan ekspresi sang seniman dan di tuangkan ke dalam kanvas dengan komposisi dan warna yang pas. Setelah aku perhatikan dengan jelas tak di sangka sang seniman pembuatan lukisan semua ini ialah Adhitama sendri. Di pojok kanan bawah tertulis "Tama."


Sejak dari tadi menyusuri ruangan di rumah ini tidak nampak terlihat satupun foto maupun lukisan orang tua dari Adhitama. Entah mengapa aku sangat penasaran akan hal itu selalu mengusik pikiranku.


"Krekkk." Suara Daniar membuka pintu kamar Nisa.


Nisa sudah tertidur lelap di ranjangnya. Aku menghampiri nisa, aku naikan selimut tidurnya yang melorot kebawah sambil aku cium kening adikku sembari mengucapkan


"Selamat malam Nisa."


Perlahan aku pergi meninggalkan nisa dan kembali ke kamarku.


Bersambung****