Daniar Larasati

Daniar Larasati
Pengganggu



"Sini sayang," kata Adhitama. Lalu bergerak cepat segera membopong tubuh Daniar yang tergeletak di atas kasur.


Ahhhh


"Sayang,, aku bisa jalan sendiri," seru Daniar.


Adhitama tak merespon ucapan Daniar, terus kekeh membopongnya menuju ruang makan. Nampak di sana beberapa pelayan berbaris rapi di pinggir meja makan.


Kali ini, pagi pertama mereka dengan status baru. Adhitama sengaja bangun awal, memasak sendiri sarapan pagi special untuk istrinya.


Perlahan Adhitama mendudukkan Daniar di atas kursi. Ia juga segera duduk di kursi yang tersedia. Pelayan segera melayani, menuangkan susu di gelas masing-masing majikan mereka.


Daniar memperhatikan setiap hidangan sarapan di atas meja.


"Ini semua, sayang yang masak?" tanyanya meragukan kemampuan suaminya.


"I--iya sayang. Apa kamu tak suka? Kalau tak suka biar pelayan mengganti masakannya,"


"Tidak sayang. Justru aku berfikir, sangatlah hebat suamiku sanggup memasak semua ini. Terimakasih ya sayang,"


ke dua matanya nampak berbinar senang.


"Sama-sama sayang. Ayo cepat habiskan sarapannya. Setelah ini aku akan mengajakmu berkeliling," ucap Adhitama seraya tersenyum manis.


SEMPURNA. Satu kata itu mewakili tentang kehidupannya saat ini. Semua rintangan yang menguji dapat terlewati hingga sampai pada titik akhir. Daniar bermunajat ke depannya ia bisa menjalani hidup bahagia mengarungi rumah tangga bersama Adhitama.


Namun, berbeda bagi Adhitama. Justru perasaan was-was selalu merundung sela hatinya. Mengingat ayah angkatnya yang tak pernah menyetujui keputusannya menjalin hubungan dengan seorang wanita. Semua hal mencekam menanti mereka kedepannya. Dan Adhitama berjanji, tak akan membiarkan hal buruk terjadi menimpa gadis yang kini berstatus istrinya.


Selesai sarapan, Adhitama mengajak Daniar berkeliling. Ia menggandeng tangan Daniar, berjalan di atas hamparan pasir putih di pinggiran pantai. Hembusan angin memainkan rambutnya yang terurai, terombang ambing kesana kemari.


Adhitama menatap Daniar "Mau berenang, sayang," ajaknya.


Belum sampai menjawab ajakan suaminya, Daniar di buat terpana melihat Adhitama begitu saja melepas kaos hitam yang ia kenakan. Tubuh kekar dengan lekukan otot perut mirip sepapan coklat terpampang nyata di hadapannya.


Suamiku memang sangat tampan di tambah bentuk tubuhnya yang aduhai. Ahh,, mikir apa sih kamu Daniar.


Jujur, itulah yang menjadi daya tarik dari Adhitama selain paras ketampananya. Ini memang bukan yang pertama kali baginya melihat Adhitama bertelanjang dada.


Tak ingin membuatnya kecewa, akhirnya ia menuruti ajakan Adhitama. Di lain sisi ia juga ingin memanjakan suaminya dengan kebahagiaan yang terukir bersamanya. Daniar segera melepas dress yang ia kenakan, menyisakan pakaian dalam senada berwarna hitam menempel menutupi kelenjar dada dan organ intimnya.


Perlahan ia menapakkan kakinya, berjalan menghampiri Adhitama yang sedari tadi menunggu tak sabar di dalam air.


Adhitama merentangkan kedua tangannya, bersedia menyimpan tubuh Daniar dalam pelukan. Daniar menghambur ke pelukan Adhitama sembari meletakkan telapak tangannya di atas dada bidang suaminya. Jantung ke dua insan itu mulai bermaraton cepat. Adhitama membangunkan jemarinya, menelusuri punggung mulus itu.


Merespon sentuhan Adhitama, Daniar mendongakkan kepalanya, menatap wajah teduh penuh bahagia.


Adhitama semakin tak tahan. Melihat sorot mata istrinya saja sudah membuat dirinya gemas. Ia menagkap rahang Daniar. Mengecup bibir bak semanis chery lalu ******* dengan penuh kelembutan. Jemarinya bergerak, meraba mencari gundukan kembar di sana. Kemudian meremas lembut gundukan bergelantung yang masih terbungkus penutup itu.


Asshhh.. sayang,,


Daniar mendesah. Merasakan sentuhan belaian Adhitama. Adhitama makin bergairah, kala melihat ekspresi istrinya nampak menikmati semua gencaran yang ia beri.


Daniar berbisik manja "Sayang, jangan di sini. Takut di lihat orang,"


"Tak akan ada yang melihat sayang. Pulau ini sudah aku beli dengan mahal. Apa kamu melupakan hal itu, sayang!"


Daniar tersenyum manis, mengalungkan sepasang tangannya di leher Adhitama. Saat Adhitama bersiap melakukan serangan, tiba-tiba,,,


"Boss! ini masih pagi. Liat-liat tempat bos kalau mau begituan." Tamu tak di undang datang membuyarkan kemesraan mereka.


Adhitama segera menarik tubuh Daniar ke pelukannya, menutupi kemolekan tubuh Daniar dari pandangan Farel. Tak membiarkan Farel melihat miliknya walau sejengkal saja.


"Farel!! awas kamu ya, kupotong gajimu selama setahun," teriak Adhitama kesal.


Mendengar bosnya yang mulai kesal, Farel segera pergi meninggalkan mereka berdua.


"Sayang maaf, pengganggu datang tiba-tiba," ucap Adhitama memasang tampang lesu.


"Temui Farel dulu sayang. Dia datang jauh-jauh mungkin ada hal penting,"


Daniar segera memakai dressnya. Lalu kembali ke rumah bersama Adhitama.


BERSAMBUNG ***