Daniar Larasati

Daniar Larasati
KACAU



Mendengar ucapan jawaban dari Daniar, membuat Adhitama tertawa terkekeh-kekeh. Mungkin Daniar berfikir Adhitama sedang jatuh hati pada wanita lain saat berbicara Via telefon dengan Farel. Padahal yang ia suka adalah Daniar, wanita yang sedang duduk bersamanya saat ini.


"Bos Adhitama siapa wanita yang sedang kamu sukai???"


"Suatu saat kamu akan mengerti Daniar, saat ini aku belum bisa memberitahumu."


"Oh begitu, apakah kamu sangat mencintainya??"


"Tentu, aku mencintainya melebihi nyawaku sendiri. Saat waktunya tiba aku akan mengenalkanya kepadamu Daniar, cepat atau lambat kamu akan tahu."


Daniar tertunduk lesu. Mengerutkan bibirnya dan Ekspresi wajahnya menjadi kosong seketika. Daniar menganggap ia salah mengartikan perlakuan Adhitama selama ini.


"Adhitama"


"Iya Daniar"


"Seperti apa pentingnya aku dalam kehidupanmu??"


"Eeem itu kenapa kamu bertanya seperti itu, kamu sangatlah penting bagiku karena kamu teman baikku sudah seperti adikku sendiri" jawab Adhitama terbata-bata.


"Ooh begitu ya.." Daniar lalu tersenyum.


"Semoga suatu saat kamu berbahagia bersama wanita yang kamu cintai ya


Adhitama ".


"Daniar wanita yang aku sukai itu kamu !!!, kenapa aku tidak mempunyai keberanian yang cukup untuk mengatakan perasaanku. Aku sangat takut kalau kamu akan menolakku. Aku tidak bisa menerima hal itu Daniar" batin Adhitama dalam hati.


"Adhitama aku salah mengartikan perlakuanmu selama ini kepadaku. Dari pertama pertemuan kita berdua sejujurnya hatiku sangat tertarik kepadamu, perlahan aku merasa nyaman dan sekarang aku jatuh cinta kepadamu. Tapi sayang hatimu tertuju bukan untukku. Hatimu sudah di isi oleh hati wanita lain. Betapa beruntungnya wanita yang bisa bersamamu itu Adhitama. Harusnya aku sadar diri, aku hanya wanita yang penuh dengan kemalangan. Dan kamu menolongku karena sekedar rasa iba terhadapku. Daniar kamu gadis yang sangat bodoh. kenapa bisa kamu terlalu berharap bahwa Adhitama akan menjadi milikmu." ungkap Daniar dalam hati.


Daniar meremas-remas telapak tanganya sendiri, menahan sekuat mungkin air matanya yang hampir saja terasa mau menetes. Hatinya serasa sangat sakit, seperti tertusuk duri beracun yang semakin dalam menusuk semakin sakit dan membuatnya sesak untuk bernafas.


"Ayo Daniar kita pulang" ajak Adhitama.


"Bisakah aku pulang naik Taksi saja? aku ada janji sebentar dengan Lia akan mengantarnya pergi ke Bandara karna ia akan pergi ke Amerika dalam waktu yang lama..Please aku mohon Adhitama???"


"Baiklah kalau begitu, hati-hatilah di jalan. Kabari aku segera kalau kamu sudah sampai di rumah Lia. Ok !!!!"


"Ok.." jawab Daniar sambil berusaha tersenyum.


Adhitama pergi meninggalkan Daniar sendiri. kebahagiaan yang sesaat tadi ia rasakan bersama Adhitama sirna begitu saja berganti dengan tetesan linangan air mata.


Daniar mengambil ponsel di tasnya dan segera memesan Taxi online. Tak lama mobil Taxi datang dan Daniar naik kedalam mobil.


"Non apakah benar tujuan anda adalah Perumahan Daun Village ??" tanya pak supir kepada Daniar.


"Iya pak benar" jawab Daniar lesu.


"Baik non".


Daniar pergi kerumah Lia. Dari awal menaiki mobil sepanjang jalan air matanya terus menetes. Ia berfikir pria yang sudah tidur bersamanya itu ternyata menyukai wanita lain.


"Non kita sudah sampai....Non..non" Ucap pak sopir berulang kali memanggil Daniar karena melamun.


"Ohh sudah sampai ya.. Maaf saya gak tahu kalau sudah sampai pak, ini uangnya pak. Kembaliannya ambil aja ya pak."


"Terimakasih banyak ya non"


"Sama-sama pak"


Daniar turun dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah Lia.


"Tinggg toonggg" Daniar memencet bell rumah Lia.


"klekkk" Lia membuka pintu rumahnya.


"Daniar kamu datang???"


"Aku pasti datang Lia, aku kan sudah janji sama kamu."


"Tunggu,, Daniar ini ada apa???? kenapa matamu kelihatan sembab seperti habis menangis??? "


"Tidak ada apa-apa Lia.. Mungkin hanya perasaanmu saja".


"Daniar jujurlah kepadaku. Ceritakan kepadaku ada apa dengamu?? "


"Liaaaa" .


Daniar tak sanggup berbicara dengan hal menyakitkan yang ia alami ini. Ia hanya memeluk Lia dengan erat sambil terus menangis.


"Baiklah tak apa Daniar. Menangislah sepuasmu. Beban yang kamu tanggung sudah sangat banyak. Kamu pasti lelah dengan semua ini" ujar Lia.


"Terimakasih Lia.. pinjami aku sebentar saja pundakmu ya" jawab Daniar yang masih menangis di bahu Lia.


"Daniar aku akan ke Amerika, tapi kamu datang mengantarku dengan keadaan seperti ini."


"Maksudmu apa dia Adhitama??"


Daniar menganggukan kepalanya.


"Bagaimana kamu tahu kalau Adhitama tidak menyukaimu??"


"Dia mengatakan suatu saat akan memperkenalkan aku dengan wanita yang ia cintai itu. Bukankah sudah jelas bahwa wanita yang ia cintai bukanlah aku!! "


"Sabar ya Daniar.. jangan menangis hanya karena laki-laki yang tidak mencintaimu. Masih banyak laki-laki baik di luar sana yang suatu saat bisa membahagiakanmu."


Setelah lega menangis lama di bahu Lia, sedikit demi sedikit Daniar menyadari bahwa cinta sejati tak harus memiliki.


Lia bersiap-siap membawa turun semua koper bajunya. Pak sopir menghampiri Lia dan Daniar membawakan koper Lia masuk dalam bagasi mobil. Mereka bersama-sama masuk ke dalam mobil.


Setelah sampai di Bandara....


"Daniar terimakasih telah mengantarku. Aku berangkat ya Daniar. Jaga dirimu baik-baik. Ingat pesanku jangan menangisi lelaki yang tidak mencintaimu. Ingat itu ya Daniar!!! "


"Iya Lia.. Jaga dirimu juga ya disana. Kabari aku sesampainya kamu di Amerika."


"Ok..Baiklah aku masuk dulu Daniar..Sampai Jumpa lagi Daniar"


"Sampai jumpa lagi Lia".


Setelah Lia pergi, Daniar berencana pulang kerumah Adhitama. Tetapi tiba-tiba perutnya terasa sangat lapar sekali. Daniar akhirnya memutuskan untuk singgah terlebih dahulu ke Restoran.


"Pak pergi dulu ke Restoran terdekat dari Bandara ini ya pak" ucap Daniar.


"Baik Non" jawab pak sopir.


Mobil berjalan perlahan menyusuri jalanan. Seperti ingat jalanan yang di lewati adalah jalanan yang sama saat Daniar dan Adhitama pergi ke restoran malam itu.


"Pak berhenti di Restoran yang di depan itu ya" Pinta Daniar.


"Baik non".


"Pak nanti gak usah nungguin saya pak, saya pulang naik Taxi saja."


"Iya non".


Tiba di depan Restoran Daniar segera turun dari mobil. Menatap kenangan di Restoran ini, Ia dan Adhitama pernah makan bersama di sini.


Berjalan masuk kedalam Restoran,,,,,


"Selamat sore nona. Selamat Datang di restoran kami" Ucap pelayan penerima tamu.


"Iya terimakasih".


Daniar memutuskan untuk memilih meja di atas seperti tempat yang ia gunakan bersama Adhitama waktu malam itu.


"Taak..takkk.. suara langkah kaki Daniar menaiki tangga.


Sesampainya di atas Daniar tercengang melihat keberadaan Adhitama dan Luna yang sedang makan bersama. Perlahan Daniar bergerak mundur mencari meja makan yang berjarak jauh dari tempat duduk mereka berdua.


"Non silahkan di nikmati" kata seorang pelayan seraya menghidangkan makanan di meja Daniar.


"Terimakasih".


"Lapar yang melanda perut entah kenapa tiba-tiba menghilang. Seperti tak selera lagi untuk makan." Kata Daniar.


Tanpa sadar Luna mengetahui bahwa Daniar berada di Restoran yang sama denganya dan Adhitama. Akhirnya timbul trik kotor luna untuk membuat Daniar menjauhi Adhitama.


"Ehhmm Adhitama, Aku pergi ke toilet dulu ya sebentar. Mungkin sebentar lagi Farel akan tiba" .


"Ok pergilah".


Luna perlahan berdiri meninggalkan tempat duduknya. Tiba-tiba saat Luna berjalan...


"Awwww aduh sakit sekali" Ucap Luna bersandiwara.


"Luna kamu kenapa??" tanya Adhitama sambil menghampiri Luna yang terjatuh.


"Kakiku terkilir Adhitama karna High Heels yang aku pakai terlalu tinggi".


"Ayo aku bantu kamu berdiri".


"Awww sakit banget rasanya, sepertinya aku tidak bisa berdiri".


Tanpa basa basi Adhitama langsung membopong luna menuju mobil tanpa menunggu Farel datang. Luna berpegangan erat merangkul leher Adhitama sambil bersandiwara merasakan kesakitan. Daniar yang melihat hal tersebut merasakan kesakitan hati yang sangat mendalam. Ia berusaha tak ingin memikirkan kejadian yang diliatnya, akan tetapi hatinya tak dapat berpaling dari rasa sakit.


Bersambung ****