
Daniar mempercepat langkah kakinya. Walaupun ia membawa banyak beberapa tumpukan dokumen di tanganya. Ia tak ingin membuat Nisa menunggu lama di rumah.
Sesampainya di depan lift, ia menunggu pintu lift terbuka. kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Melihat keadaan sekitarnya. Hatinya terasa was-was, takut kejadian pagi tadi terulang kembali.
Huhh!! Mana mungkin ada Adhiatama di sekitar sini. Dia pasti sudah pulang dari tadi bersama luna. gumam Daniar.
"Daniar!" Terdengar suara seorang pria memanggil namanya.
Daniar buru-buru menoleh ke arah sumber panggilan itu. "Huhh ternyata kamu, Farel," ungkap Daniar sedikit gugup.
"Ada apa denganmu, Daniar. Wajahmu terlihat pucat sekali melihat aku datang," kata Farel sambil mengamati Daniar.
"Nggak!, nggak papa. Aku hanya kaget aja ada orang yang memanggil namaku saat suasana kantor sudah sepi begini," jawab Daniar sambil tersenyum kecil.
Ting,,,
Pintu lift akhirnya terbuka. Mereka bersama-sama masuk ke dalam lift.
Gedung kantor Tama Group ini menjulang tinggi ke atas. Perusahaan ternama ini memiliki ratusan staf pekerja. Tama Group sebuah perusahaan besar yang di impikan oleh banyak orang. Bisa bekerja di sini adalah peruntungan yang bagus karena gaji yang di terima cukup tinggi di tambah dengan cara Adhitama memanjakan para karyawannya.
Sesampainya di lantai dasar, Daniar segera melangkahkan kakinya keluar dari lift. Bawaan dokumen yang banyak, sangat menghambat gerakan langkah kakinya.
"Farel!, aku duluan ya. Sedang buru-buru," kata Daniar sembari tetap berjalan menuju luar kantor. "Ok." Jawab Farel singkat.
Daniar merogoh tasnya. Mencari ponselnya untuk memesan ojek online. Suara kendaraan berlalu lalang seperti alunan musik di telinganya.
Ojek online pesananya tak kunjung tiba. 10 menit sudah ia menunggu. Berdiri di tempatnya dengan bawaan yang begitu membuatnya kerepotan. Kakinya mulai terasa pegal. Sesekali Daniar melirik jam tanganya. Sudah pukul 05.30 sore.
Ckiiitt suara rem sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat di depanya. Daniar nampak bingung. ia memesan sebuah ojek online, tapi yang tiba justru sebuah mobil mewah yang kini berhenti tepat di hadapanya.
Nampak seorang pria berpakaian setelan jas rapi berwarna hitam turun dari mobil mewah tersebut.
Pria itu dengan cepat mendekat ke arah Daniar. Lalu membekapnya dengan selembar sapu tangan dan menyeret paksa tubuh Daniar masuk ke dalam mobil. Membuat dokumen yang ia bawa terjatuh begitu saja.
Ada apa ini, Siapa mereka. Apakah mereka menculikku.
Daniar memberontak. Berusaha berteriak meminta pertolongan. Namun apa daya kekuatan wanitanya tak mampu mengalahkan cengkraman kuat dari pria ini.
Tak lama Daniar menjadi tak sadarkan diri akibat obat bius yang di teteskan pada selembar sapu tangan itu.
Pukul 21.00 malam.
Nisa menunggu kakaknya yang tak kunjung sampai di rumah dengan perasaan cemas. Ia berulang kali menghubunginya namun tidak ada jawaban sama sekali. Muncul banyak hal buruk membayangi fikiranya.
Apakah sekarang kakak sedang bersama kak Adhitama! Tapi kakak tidak pernah seperti ini walau sedang dalam keadaan sesibuk apapun itu. Pasti ia menyempatkan menelfonku untuk memberi kabar.
Seperti itulah pergulatan batin Nisa. Beberapa kali ia menyibak tirai gorden jendela ruang tamu. Memastikan kemunculan kakak yang ia tunggu sedari tadi. Namun tak kunjung terlihat jua.
Akhirnya ia memutuskan memberanikan diri menelfon Adhitama. memastikan keberadaan Daniar.
"Ha--hallo kak Adhitama," sapa Nisa terbata-bata.
"Siapa?" jawab Adhitama singkat.
"Kak ini Nisa. Maaf sebelumnya, Nisa cuma mau tanya apa kakak sedang bersama kak Daniar saat ini? Nisa khawatir soalnya kakak belum pulang sampai sekarang," ungkap Nisa sedikit gugup.
"Tidak. Kakakmu tidak bersamaku saat ini."
Tuutt,, Tuttt,, Adhitama mengakhiri panggilan telefon dari Nisa.
"Kenapa kak Adhitama nggak seperti biasanya. Dan terasa dingin dari cara bicaranya. Kak Daniar!, kakak di mana! Nisa harus mencari kakak kemana!" batin Nisa.
Mendengar perkataan dari Nisa membuat Adhitama mulai gusar. Adhitama mengernyitkan kening dan memberhentikan tegukan secangkir kopi hangat di tanganya. Ia segera meletakan cangkir kopi itu di atas meja ruang bacanya.
Adhitama segera meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dan segera menghubungi Farel asisten pribadinya.
"Hallo!, bos."
"Farel!, segera perintahkan anak buah kita mencari Daniar sampai ketemu. Cepat!!" perintah Adhitama dengan nada tinggi.
"Ada apa dengan Daniar, bos! Sore tadi sepulang bekerja, aku masih bertemu dengannya di depan lift," jawab Farel dengan nada gelagapan mendengar teriakan dari Adhitama.
"Nisa menghubungiku. Mengatakan Daniar belum pulang sampai saat ini. Kabari aku segera mungkin jika kalian sudah menemukannya."
"Baik!, bos."
Farel segera pergi ke markas Klan Tiger tempat para anggotanya berkumpul. Ia mengerahkan anggota handalnya untuk pergi bersamanya mencari Daniar.
Farel memimpin pencarian. Anak buahnya di bagi menjadi 4 kelompok. Mereka berpencar. Sudut demi sudut kota di sisir rata oleh Farel dan anak buahnya. Seisi kota itu di ubrek-ubrek demi menemukan jejak gadis kesayangan bosnya tersebut. Namun hasilnya tetap saja nihil.
Saat menyusuri di sekitar jalan gedung perusahaan Tama, Farel menemukan beberapa dokumen yang terjatuh di pinggiran jalan raya. Ia mengambilnya dan seketika teringat pemilik dokumen ini ialah Daniar.
Insting kecurigaanya semakin kuat. Kecurigaanya menguat tertuju kepada Sean. Musuh sejati Adhitama.
"Cepat kalian chek rekaman CCTV hari ini di sekitar tempat ini. Cepat!!" perintah Farel pada anak buahnya.
Beberapa saat kemudian,,
Farel menerima laporan rekaman lengkap CCTV hari ini. Ia spontan membelalakan matanya. Nampak Daniar di seret masuk ke dalam mobil berwarna silver oleh seorang pria yang ia kenali identitasnya.
Ohh, musuh sudah berani mengusik serigala di kandangnya. Ciihh! gumam Farel.
Farel segera menghubungi Adhitama, melaporkan informasi penting yang ia dapat.
"Bos!"
"Ya! katakan, ada informasi apa."
"Gio ya!, oh orang kepercayaan Sean itu berani menyentuh gadis milikku. Ok sekarang, segera berkumpul di markas."
"Baik bos."
"Adhitama sangat pintar sekali mencari pasangan secantik ini." suara parau sosok lelaki mendengus di telinga Daniar.
"Lepaskan penutup mata dan lakban di mulutnya," perintah pria bersuara parau itu kepada anak buahnya.
Gio melaksankan perintah dari atasanya itu. Ia melepas kasar satu per satu penutup yang melekat pada Daniar.
"Aww!! sakit," kata Daniar mengerang.
"Wahh!! Luar biasa. Aku sangat takjub dengan paras cantikmu itu. Sayang sekali Adhitama lebih dulu mencicipimu," ungkap seorang pria dengan tatapan sengitnya.
"Siapa kamu!!, lepaskan aku. Lepaskan!!" teriak Daniar dan memberontak berusaha melepaskan ikatan tali yang mencengkram kuat kedua pergelangan tanganya.
"Sebentar lagi kamu akan tahu. Bersabarlah sedikit. Adhitama pasti akan menjemputmu kemari.Hahaha." Pria itu tertawa dengan nyaring membuat Daniar bergidik ngeri mendengarnya.
"Dasar pria sakit jiwa. Adhitama tidak akan kemari. Jadi lepaskan aku. Tidak ada gunanya kamu menculikku hanya karena memancing Adhitama datang kemari," teriak Daniar sambil melotot ke arah pria di hadapanya.
Plakk!!! Gio mendaratkan tamparan keras di pipi mulus Daniar. Nampak sudut bibirnya terluka dan berdarah.
Srekk!! Gio menarik kuat rambut panjang daniar ke belakang.
"Jaga ucapanmu gadis sialan," ucap Gio lirih.
"Gio!, lepaskan dia. Tak perlu kamu menyiksanya seperti itu. Nanti, ia juga akan tersiksa karena melihat pria yang ia cintai mati di hadapanya."
Daniar terkejut kontan mendengar perkataan dari pria yang belum ia kenal itu. Daniar memejamkan ke dua matanya, menundukan pandanganya.
*Adhitama aku mohon jangan berlaku bodoh demi mencariku. Aku mohon jangan kemari. Aku nggak mau kamu dalam bahaya*.
Air matanya jatuh berlinang. Perasaanya di penuhi dengan rasa takut. Bukan takut akan hal yang di lakukan orang\-orang itu kepadanya. Tapi ia takut jika Adhitama terluka dan mati di tangan musuhnya seperti ancaman dari musuh yang baru ia dengar.
Tak lama kemudian,,
Seorang pria berlari dari luar menghampiri pria yang di panggil *bos* itu.
"Bos!, Adhitama dan Farel datang. Ia sudah berada di depan."
"Hahaha!!!, suruh mereka masuk. Dan kalian tetap waspada dan berjaga."
"Baik bos."
**Bersambung,,,
Mohon Like, Komen, dan Vote seikhlasnya untuk mendukung author.
Saran dan kritik dari kalian pasti aku terima. Jangan lupa saranya agar aku bisa menyesuaikan diri dengan kalian para pembaca.
Terimakasih banyak author ucapkan.
Tunggu episode selanjutnya.
😘🙏**