
Hari ini ayah mengusirku keluar dari rumah. Entah apakah kesalahanku begitu fatal sampai ayah tega seperti itu.
Aku bergegas lari menuju kamar mandi, membasuh wajahku yang dipenuhi dengan aliran air mata. Bekas tamparan tangan ayah di pipiku masih terasa sangat panas aku rasakan. Aku tak ingin nisa melihat air mataku walau setetes saja. Aku harus kuat di hadapan nisa adikku. Aku takut jiwanya akan terguncang melihat pertengkaranku dengan ayah. Aku kembali ke kamar atas, berharap nisa tidak melihat dan mendengar kejadian yang tadi aku alami.
"Nisa kamu sedang apa??" tanyaku meyakinkan.
Nisa melepas headset yang ia kenakan di telinga.
"Kakak aku sedang mendengarkan lagu di Hp kak lia, kak lia memberitahuku lagu baru yang sangat enak di dengar".
"Benar daniar, aku memberitahu nisa top tangga lagu minggu ini" ucap lia sambil mengedipkan matanya.
Sekarang aku mengerti maksud dari perkataan lia. Ia sengaja melakukan hall itu agar nisa tak mendengar pertengkaranku dengan ayah di bawah.
"Lia terimakasih banyak, kamu memang yang terbaik. Lia aku di ..."
"Stttttt cukup aku sudah mendengar semuanya. Sahut lia nemotong perkataanku.
"Daniar kamu tak usah khawatir, pergilah bersamaku ke rumahku. Kebetulan ayah lagi tidak berada di rumah untuk waktu yang lama. Ia sedang sibuk di amerika mengurus urusan kantornya".
"Benarkah lia !!!, maaf kalau aku merepotkanmu lagi".
"Justru aku akan marah kalau kamu tidak mau ikut denganku daniar. Untuk apa gunanya sahabat jika dalam keadaan susah tidak ada untuk menemani. Daniar apa yang aku lakukan tak sebanding dengan hall penting yang kamu lakukan kepadaku di masa lalu. Ingatkah dulu sewaktu ibuku meninggal, kamulah yang selalu menemaniku saat aku sendirian tanpa siapapun yang peduli. Ayahku bahkan selalu hanya mementingkan urusan pekerjaanya tanpa tahu betapa terpuruknya aku saat aku kehilangan ibuku".
"Sini peluk aku lia. Selamanya kita harus seperti ini ya saling menguatkan satu sama lain".
"Daniar kamu sudah melebihi sahabatku, sudah aku anggap seperti saudara kandungku.Baiklah cukup bercerita untuk saat ini, sini aku bantu beres-beres pakaianmu".
Lagi-lagi aku dikuatkan oleh orang-orang yang aku sayangi. Sedikit demi sedikit kesedihanku hilang terkalahkan dengan keyakinan bahwa semua akan berjalan baik-baik saja.
"Kak kita mau kemana" tanya nisa kepadaku.
"Nisa untuk sekarang kakak belum bisa menjelaskan semuanya. Nisa apakah kamu ingat kakak pernah bilang kalau kakak akan selalu menemani nisa??".
"Iya kak aku sangat ingat".
"Kalau begitu sekarang bantu kakak merapikan pakaianmu, kita akan menginap di rumah kak lia dalam waktu yang lama".
"Baik kak".
Nisa maafkan kakak. Kakak membawamu pergi dari sini itu juga demi kebaikanmu. Kita selalu akan bersama dan tak akan terpisah.
Perlahan kami melangkah pergi keluar dari rumah. Berharap ayah akan menghentikan langkahku dan menyuruhku agar tetap tinggal. Tetapi harapanku tak sama dengan kenyataan bahwa ayah hanya melihat kami keluar dengan tatapan marahnya tanpa berucap sepatah kata apapun.
"Nisa cepat masuk ke mobil kak lia".
"Iya kak".
Akhirnya kami keluar dari rumah meninggalkan ayah sendirian. Aku berharap ayah baik-baik saja tanpa kami disampingnya. Semoga ayah lekas menyadari perbuatannya yang salah.
*********
"Farel selidik segera identitas wanita waktu itu" perintah adhitama kepada farel.
"Wahh bos baru kali ini kamu menyuruhku melakukan hal seperti ini, apakah wanita itu istimewa bagimu??".
"Sudah jangan banyak bertanya, lakukan saja apa yang aku perintahkan".
"Baik bos laksanakan".
Akhir-akhir ini adhitama sibuk mengurus clan tiger naunganya. Selain menguasai pasar-pasar ekonomi, adhitama juga di kenal menguasai beberapa wilayah gangster dan sedang berencana memperluas daerah kekuasaanya. Tentu setiap hari nyawa adhitama selalu terancam, karena banyaknya pimpinan gangster lain yang ingin menjatuhkanya. Tetapi tak semudah itu menjatuhkan atau mengalahkan adhitama karena ia di kenal sniper handal yang bergerak dengan cepat.
"Tuuuut tutt" suara adhitama menelfon.
"Luna tunda rapat pertemuan hari ini. Aku lagi kurang bersemangat. Aku akan pulang cepat hari ini" perintah adhitama kepada luna.
"Baik adhitama".
************
Sesampainya aku dirumah lia.
"Mari masuk daniar".
"Iya lia terimakasih".
"Mari aku tunjukan kamar tidur kalian".
"Waaah besar banget kamarnya" ujar nisa.
"Daniar tak perlu sungkan ya anggap ini rumah kalian sendiri".
"Terimakasih lia, terimakasih" .
Tak terasa 7 hari berlalu aku pergi dari rumah.Uang tabungan yang aku pegang hanya tersisa sedikit. Aku memutuskan untuk mencari perkerjaan agar bisa mendapatkan uang. Setidaknya aku ingin membantu lia dan tak ingin selalu bergantung hidup kepadanya.
"Lia aku keluar sebentar ya, ada hall yang ingin aku lakukan"
"Kamu mau kemana daniar??".
"Aku hanya ingin berjalan jalan sebentar saja, ok aku pergi dulu dada, lia dada, nisa".
Hari ini aku mencoba melamar pekerjaan dengan ijazah yang aku miliki. Mendatangi satu demi satu perusahaaan yang aku lihat di forum lowongan kerja. Tapi hasilnya selalu nihil. Satupun belum ada yang menerimaku.
Saat aku berjalan di pinggir jalan tiba-tiba...
"Hahahahhaaa, istriku yang manis lama kita tidak berjumpa".
Tak aku sangka tuan hendra menemukanku. Melihat kemunculanya aku sangat ketakutan.
Bagaimana ini ap yang harus aku lakakukan??
Apakah aku harus lari atau menghadapinya.
"Pengawal cepat tangkap dia bawa ke mobil" perintah tuan hendra kepada para pengawalnya.
Aku pun lari sekuat mungkin. Aku tidak mau kembali lagi kerumah neraka itu. Sudah cukup rasanya peyiksaan dan hinaan yang aku terima waktu itu.
Saat aku lari dan masuk kesebuah gang, yang aku lihat di depanku ternyata gang buntu. Aku bingung,ketakutan harus bagaimana. Tanpa dugaan tiba-tiba...
"Bagggg bagggg" suara pukulan perkelahian. Ada orang yang datang menyelamatkanku. Semua pengawal tuan hendra tergeletak di tanah dalam waktu sekejap oleh gerombolan laki-laki berpakaikan serba hitam dan berkaca mata hitam.
siapakah orang yang menyelamatkanku??
Dari ujung terlihat lelaki tinggi kekar berjalan menuju kepadaku.
Siapakah dia ????.
Bersambung****.